Butterfly

Butterfly
Rahasia Luna


__ADS_3

Langit sudah gelap. Jantung Luna sudah berdetak kencang. Saat ini dia masih dalam perjalanan ke rumah Kevin. Luna takut jika Kevin sudah sampai rumah terlebih dulu dan tidak menemukan keberadaannya.


Ia meremas kedua tangannya merasa cemas. Padahal saat ini Luna juga sedang menahan rasa takutnya berada di dalam taksi ini. Tiap kali Luna bepergian naik mobil seorang diri, ia pasti akan teringat lagi sikap kejam keluarganya.


Keringat dingin mulai mengucur deras membasahi dahi Luna. Sementara itu, sang sopir yang diam-diam memperhatikan dari spion mengernyitkan dahi. Merasa aneh dengan penumpangnya hari ini.


"Pak, bisa lebih cepat lagi?" tanya Luna dengan tatapan memohon.


Sopir tersebut hanya mengangguk dan kembali mempercepat laju mobilnya. Beruntung suasana jalan lebih lengang dari biasanya. Mobil tersrbut dapat meliuk dengan bebas di jalan raya ini.


Kini, napas Luna terasa sesak. Rasa paniknya kambuh saat ini. Namun, dia berusaha untuk bertahan hingga sampai di apartemen Kevin.


"Betul alamatnya di sini?" tanya sopir tersebut menghentikan laju mobilnya.


Luna menatap keluar jendela, ia mengangguk lemah dan segera keluar dari mobil. Wanita tersebut segera menepi dan terduduk di sebelah semak-semak. Perutnya terasa sangat mual. Luna berusaha untuk tenang, mencoba mengontrol napasnya.


"Tenang, Lun. Napas pelan-pelan, sekarang lo udah aman di sini," lirih Luna berusaha menyemangati diri sendiri.


Berhasil, walau membutuhkan beberapa menit. Akhirnya Luna dapat kembali tenang. Sekarang Luna hanya berharap semoga Kevin belum pulang.


Wanita tersebut segera masuk ke dalam. Jika saja sampai Kevin tidak menemukannya berada di rumah, keadaan akan sangat tidak baik bagi Luna. Otomatis ia akan ketahuan dan pengawasan pria itu akan lebih ketat lagi. Luna tidak mau hal tersebut terjadi.


Masih banyak hal yang harus dia lakukan. Dia masih harus balas dendam pada keluarga yang memperlakukannya layaknya binatang. Membuangnya begitu saja seperti sampah. Jadi, Luna berencana untuk membalas semua perbuatan keluarganya itu.


Walau jika Luna bercerita pada Kevin, dia yakin pria itu akan membantunya. Namun, Luna ingin membalas perbuatan mereka dengan tangannya sendiri. Untuk itu, tiap kali Kevin tidak berada di rumah, Luna akan menyelinap keluar.

__ADS_1


Terakhir kali Luna bertatap muka dengan keluarganya ketika mereka datang membuat keributan di rumah sakit tempatnya berada. Mereka meributkan harta warisan yang menjadi haknya. Mereka memaksa Luna untuk menandatangani surat perubahan ahli waris.


Sebenarnya surat warisan tersebut kakek Luna yang menulisnya sebelum beliau meninggal. Entah bagaimana sang kakek meninggal, sudah sejak lama Luna tidak mendengar kabar beliau.


Hanya kakek Luna saja yang selalu mendukungnya. Namun, tetap saja kuasa beliau tidak terlalu berpengaruh karena faktor usia. Walau begitu, harta serta kekayaan beliau masih dipegang erat.


Hingga akhirnya beliau meninggal dunia dan menulis surat wasiat yang mengatakan jika semua harta serta kekayaan miliknya akan diserahkan pada Luna.


Tentu mengetahui hal tersebut membuat keluarga besar menjadi berang. Mereka bergantian mendesak Luna agar segera menandatangani surat perubahan ahli waris tersebut.


"Luna adalah orang yang tidak layak mendapat warisan karena dia dalam keadaan 'sakit' sekarang," ucap paman Luna.


Setelah paman Luna berkata demikian, mereka semua bertambah semangat berusaha membuat Luna terbuang. Mereka menyewa kuasa hukum hebat yang dapat membantu dalam hal ini.


Orang-orang yang berada di belakangnya pun bertambah. Secara diam-diam Luna bekerja sama dengan pihak rumah sakit tempatnya di rawat dan ia dibantu oleh kuasa hukum sang kakek. Luna terus mengumpulkan orang-orang yang berpihak padanya.


"Lun?" panggil seseorang mengagetkan Luna yang sedang menyimpan kertas bertuliskan alamat Sandra ke dalam laci mejanya.


Beruntung Kevin belum pulang ketika dia sampai. Kini pria itu memanggil karena mencari keberadaannya. Luna menoleh ke belakang dan menatap pria itu.


"Kamu sudah makan?" tanya Kevin lembut, ia berjalan mendekat pada Luna.


Wanita itu memeluk tubuh tegap Kevin, membuat pria itu tersentak kaget. Lalu, Luna menggeleng dalam pelukan Kevin. Pria itu terernyum samar dan tangannya menepuk pucuk kepala Luna.


"Kalau gitu, ayo kita makan. Kamu masih harus minum obat," ucap Kevin mengajak Luna ke meja makan.

__ADS_1


Luna menurut dan dia duduk di kursi yang telah disiapkan pria tersebut. Kevin menyiapkan makan malam untuk wanita itu. Tadi, sebelum pulang dia sudah membeli makanan untuk Luna.


Kevin meletakkan piring di atas meja beserta segelas air. Luna segera memakan makanannya. Mereka makan dengan tenang, tanpa ada sepatah kata yang keluar. Hanya sesekali tangan Kevin yang terulur membersihkan noda di mulut Luna.


Selesai makan dan minum obat, Kevin menggiring Luna untuk masuk ke dalam kamar. Hari sudah sangat larut dan Luna diminta untuk segera tidur.


"Selamat tidur, Lun. Semoga bermimpi indah," ucap Kevin tulus.


Lalu, pria itu keluar dari kamarnya. Sementara Luna kembali membuka matanya, dia menatap langit-langit cukup lama. Beberapa saat kemudian, Luna bangun dan berjalan pelan keluar dari kamar.


Langkahnya terhenti melihat Kevin yang ternyata sudah lelap tidur di sofa. Di meja banyak sekali berserakan kertas-kertas. Luna meraih kertas tersebut dan membaca beberapa tulisannya. Matanya membulat melihat isi kertas itu.


Tatapan Luna beralih pada Kevin, ada air mata menggenang di pelupuk matanya. Hatinya merasa tersentuh dengan tindakan hangat pria itu. Kertas-kertas yang tadi Luna temukan adalah berkas berisi informasi saham milik keluarganya dan sepertinya Kevin berencana menghancurkan perusahaan milik keluarga Luna.


"Terima kasih, Kev. Lo sahabat gue paling baik, paling pengertian, dan yang paling gue sayang. Entah gue nggak tau gimana hancurnya kalo nggak ada pertolongan dari lo," ucap Luna terisak.


Hanya Kevin yang masih berdiri disisinya hingga detik ini. Dan pria itu terus membantunya ketika ia mengalami kesulitan. Mendadak Luna rindu dengan masa lalunya yang penuh kenangan. Dimana ketika mereka bertiga masih bersama.


Luna merindukan sosok Rian, pria yang namanya masih tersimpan di dalam lubuk hatinya. Nama itu terpatri terlalu dalam, hingga jika mengingatnya lagi tanpa sadar menimbulkan luka. Walau begitu, Luna masih mendambakan sosok Rian berdiri dihadapannya. Ia rindu dekapannya kala itu mereka berjumpa setelah sekian lama.


Luna memutuskan untuk kembali ke dalam kamarnya. Terlalu larut memikirkan Rian, membuatnya makin ingin bertemu dengan pria itu. Wanita itu merebahkan tubuhnya di atas kasur. Tiba-tiba terlintas ide dalam benaknya.


"Besok gue harus ketemu Rian," ucap Luna tersenyum sebelum akhirnya terlelap karena efek samping obat.


...🦋🦋🦋...

__ADS_1


__ADS_2