
Pagi yang indah untuk mengawali hari. Cuaca hari ini sangat cerah sehingga sangat cocok untuk beraktivitas di luar ruangan. Namun, berbeda dengan seorang gadis ini. Wajahnya sudah tidak bersemangat sejak pagi tadi hingga siang hari ini. Gadis itu memutuskan untuk makan siang di kedai es krim tempat sahabatnya bekerja.
“Fia? Lo mau ke sini nggak kabarin gue dulu,” kata Alice terkejut melihat sahabatnya tiba-tiba sudah berada di depannya.
“Mau kasih kejutan buat lo,” jawab Fia memaksakan senyumnya.
“Lo mau makan apa? Gue traktir deh.”
“Karena lo yang traktir, terserah lo aja mau traktir gue apa,” kata Fia menyunggingkan senyumnya.
Alice mengangguk paham dan memilihkan beberapa menu untuk sahabatnya itu. Lalu mereka duduk di salah satu meja yang dekat dengan jendela besar. Posisinya berada di belakang dan tidak aka nada yang bisa mendengar jika pengunjung hendak mengobrol serius.
“Lo lagi jam makan siang? Kenapa pergi sejauh ini?” tanya Alice mengernyitkan dahinya.
“Gue lagi pengen makan yang manis-manis,” jawab Fia.
Alice sangat tahu jika Fia sedang dalam keadaan yang tidak baik-baik saja. Nampak jelas terlihat dari raut wajah gadis itu. Wajah manis Fia tertutup mendung kelabu. Juga tidak biasanya Fia lebih tertarik memandang jalanan di luar sana.
“Lo mau cerita ke gue?” tanya Alice membuka obrolan mereka.
“Gue bingung sama hubungan ini,” ucap Fia, matanya masih enggan lepas dari suasana jalanan di depannya.
“Dokter Teo? Bukannya kalian udah bicara?”
“Iya, kita udah pernah bahas ini. Cuma menurut gue dari apa yang kita bicarakan belum ada titik terang.”
Obrolan mereka terinterupsi ketika pesanan sudah datang. Alice meminta Fia untuk makan terlebih dulu. Sebelumnya wanita itu sudah memperingatkan Fia untuk makan nasi setelah ini.
Sahabatnya ini mempunyai magh kronis, sehingga pola makannya harus benar-benar dijaga. Sementara Fia hanya mengangguk dan dia mulai menikmati cemilannya.
“Enak, Al. Gue bakal sering ke sini,” ucap Fia.
__ADS_1
Fia menghabiskan waktu jam makan siangnya di kedai es krim ini. Setelahnya dia pamit untuk kembali bekerja. Dia tidak mengindahkan peringatan Alice mengenai makan siangnya. Setelah dari kedai, Fia langsung melanjutkan pekerjaannya hingga sore hari.
Bahkan dia juga lembur hingga pukul tujuh malam. Begitu pulang, Fia memutuskan langsung tidur dan tidak mengisi perutnya sama sekali. Akibatnya, dikeesokan hari ketika baru bangun tidur.
Fia merasakan perutnya sangat sakit dan ada rasa mual. Gadis itu segera berlari ke kamar mandi untuk menuntaskan rasa mualnya itu. Semua makanan yang kemarin dimakannya keluar begitu saja.
“Duh, gara-gara nggak nurut apa kata Alice nih,” gumam Fia.
Fia memutuskan untuk segera mandi, karena pagi ini dia harus pergi bekerja. Selesai mandi, Fia meminum obat yang biasanya dia stok di kamarnya. Lalu, Fia segera berangkat kerja. Namun, sebelumnya dia berbelok ke minimarket untuk membeli roti sebagai sarapannya pagi ini.
Namun makin siang, Fia merasakan jika tubuhnya bertambah tidak enak. Keringat dingin mengucur di seluruh tubuhnya. Rasa mual itu kembali menyerangnya, bahkan mulutnya terasa asam. Teman kerja Fia yang melihat gadis itu seperti kurang sehat pun menyuruhnya untuk pergi ke ruang kesehatan.
“Nanti aja, tanggung udah mau selesai ini,” kata Fia.
“Lo udah pucet banget lho. Mana badan lo dingin semua, ayo gue anter sekarang ke ruang kesehatan. Kerjaan lo biar di pegang yang lain.”
Berkat paksaan dari temannya itu, akhirnya Fia menurut. Tubuhnya juga sudah benar-benar lemas. Belum sampai di ruang kesehatan, Fia sudah ambruk. Hal itu membuat teman kerjanya itu panik.
“Makasih, ya? Kalo lo mau pulang nggak apa-apa, biar Fia gue yang jaga,” ucap Alice.
Teman Fia itu pun pamit untuk pulang, sedangkan Alice menatap sahabatnya yang masih terbaring lemah di atas brangkar. Tiba-tiba Alice teringat akan Teo, dia segera memberitahu keadaan Fia kepada Teo lewat Rian. Alice tidak memiliki nomor Teo, sehingga Rian sebagai perantaranya.
“Fi, kenapa lo bandel banget sih?” gumam Alice, matanya memanas melihat sahabatnya yang tidak berdaya ini. “Udah gue bilang jangan telat makan, lo bener-bener keras kepala.”
Mata Alice membulat melihat Fia yang sudah sadarkan diri. Gadis itu terlihat kebingungan, dia memperhatikan sekitarnya.
“Udah bangun, Fi? Sebentar gue panggil dokter dulu,” kata Alice segera bangkit dari duduknya.
Alice kembali dengan seorang dokter dan dokter itu segera memeriksa keadaan Fia. Dokter itu berkata jika Fia diharuskan menjalani perawatan selama beberapa hari di rumah sakit. Fia menahan tangan Alice yang hendak menuju tempat administrasi guna mengurus perawatan gadis itu.
“Tolong jangan kasih tau keluarga gue, Al,” pinta Fia dengan suara lirih.
__ADS_1
“Kenapa, Fi? Pasti mereka khawatir kalo ….”
Fia menggeleng. “Gue nggak mau buat mereka khawatir. Pelase, jangan kasih tau mereka.”
Alice menghembuskan napasnya dan akhirnya mengangguk walau terasa berat. Tirai yang disibak dengan kasar membuat dua perempuan itu spontan menoleh. Ekspresi Fia benar-benar terkejut melihat siapa yang berdiri di belakang Alice.
“Fia,” panggil Teo yang langsung berjalan mendekat.
Sementara Alice memutuskan untuk mundur, memberi kesempatan untuk mereka berdua. Ternyata tidak hanya ada Teo saja, ada Rian juga di sana. Pria itu sepertinya baru selesai melakukan operasi.
“Apa yang terjadi, Al?” tanya Rian.
Alice mengajak Rian untuk keluar dari UGD agar dapat berbicara dengan leluasa. Meninggalkan Teo dan Fia.
Sementara itu, Teo menatap cemas sang kekasih. Sedangkan Fia, gadis itu memejamkan matanya. Ada air mata menetes dari pelupuk matanya. Merasa sangat bodoh saat ini. Akibat tindakannya yang ceroboh, membuat semua orang kerepotan. Melihat Fia berlinang air mata, pria itu membawa sang kekasih ke dalam dekapannya. Ada rasa tertusuk dalam dadanya melihat air mata itu.
“Maaf, Fi. Semua ini salahku, maafkan aku,” ucap Teo.
Fia tidak menjawab apapun, dia mendekap Teo erat. Ada rasa rindu dalam dirinya tidak bertemu dengan pria ini selama beberapa hari. Mereka benar-benar tidak ada komunikasi setelah pembicaraan beberapa waktu yang lalu.
Memang Fia yang memutuskan agar mereka rehat sejenak dari hubungan ini. Namun, nyatanya hal itu hanya menyiksa kedua belah pihak. Fia yang tiap harinya selalu terlihat lesu dan Teo yang selalu uring-uringan selama bekerja.
SREK!
Suara tirai yang dibuka lebar membuat Teo maupun Fia terkejut. Di sana berdiri Arka dengan gelengan kepala. Lalu pria itu melempar sandal pada Teo.
“Panik sih panik, tapi nggak nyeker juga,” ucap Arka dengan wajah dongkolnya. “Dasar anak jaman sekarang, bucinnya kelewatan,” gerutunya dan pergi dari sana.
...🦋🦋🦋...
Jangan lupa tinggalkan jejak, say 😘
__ADS_1