Butterfly

Butterfly
Percaya


__ADS_3

Alice menggeliat dan tidak lama matanya terbuka. Pemandangan pertama yang tertangkap oleh matanya adalah wajah tampan Rian. Alice tersenyum melihat wajah Rian yang sedang tertidur di depannya.


“Nyenyak tidurnya?” tanya Rian dengan suara serak khas seseorang yang baru bangun tidur.


“Iya,” jawab Alice tersenyum.


“Masih pagi, tidur lagi,” gumam Rian mempererat pelukannya.


Alice memutar bola matanya malas. Pagi dari Hongkong. Matahari sudah bersinar terang, dari mana Rian bisa menyimpulkan jika hari masih pagi? Suara dering ponsel milik Rian yang mnejerit-jerit membuat pria itu spontan membuka matanya. Tanpa melepas dekapan pada tubuh Alice, tangannya meraih ponsel yang layarnya berkedip-kedip itu.


“Halo?”


Terdiam cukup lama, hingga akhirnya tanpa sengaja Rian terperanjat. Sikunya mengenai wajah Alice hingga gadis itu memekik.


“Agh!” pekik Alice memegangi dahinya yang terkena siku lancip Rian.


“Astaga! Maaf, Sayang. Mana yang sakit?” tanya Rian terkejut, mengusap dahi Alice.


“Nggak apa-apa, cuma kaget tadi.”


Dengan langkah tergesa-gesa, Rian bersiap-siap menuju rumah sakit. Sementara Alice membantu menyiapkan keperluan yang Rian butuhkan. Pria itu sedang berganti pakaian, sedangkan Alice sedari tadi berkutat di dapur menyiapkan bekal bagi Rian. Gadis itu yakin Rian tidak akan sempat sarapan di rumah.


“Ini, buat sarapan di rumah sakit,” ucap Alice memberikan tas lunch box.


“Thank you, Dear. Aku berangkat dulu, ya? Maaf nggak bisa antar kamu pulang. Atau kamu di sini aja? Kamu juga masih perlu banyak istirahat.”


“Nggak apa-apa, nanti aku pulang aja. Kasihan Fia pasti dia nyariin,” jawab Alice tersenyum.


CUP!

__ADS_1


“Aku berangkat, bye,” pamit Rian setelah mencuri satu kecupan di bibir Alice.


Sementara Alice hanya mendengus melihat tingkah Rian. Kini gadis itu di apartemen seorang diri. Alice memutuskan untuk membersihkan rumah sebelum pulang ke kos. Senyum gadis itu mengembang kala melihat apartemen yang sudah bersih serta rapi. Lalu dia segera bergegas untuk pulang. Sebenarnya Alice cukup cemas jika Fia menanyakan keberadaannya semalam.


“Alah, pikir nanti,” gumam Alice, berusaha mengenyahkan kecemasannya itu.


...🦋🦋🦋...


Alice baru saja selesai mandi, kos Fia kosong. Sang empu sepertinya sudah pergi bekerja pagi tadi. Hal itu membuat Alice dapat bernapas lega, setidaknya Fia tidak akan menginterogasinya. Alice duduk di atas ranjang, kepalanya masih tertutup oleh handuk. Gadis itu sedang bermain dengan ponselnya, sejak semalam Alice memutuskan untuk menonaktifkan data seluler. Alice meringis melihat betapa banyaknya chat dari Fia yang menanyakan dimana keberadaannya semalam. Pasti sahabatnya itu sangat cemas, apalagi kemarin kondisi Alice juga tidak baik.


“Sorry, Fi. Semalam HP gue kehabisan batteray. Lo tenang aja, gue sekarang udah di kos kok.” Tulis Alice dan mengirimkannya pada Fia.


“Oh iya, kursus gue gimana, ya?” gumam Alice saat teringat dia masih terdaftar di tempat kursus bahasa itu, “Atau keluar aja?”


Mendadak Alice bimbang, dia merasa belum rela meninggalkan kursus yang sudah diikutinya selama hampir dua tahun lamanya. Jika mendadak dirinya keluar, Alice merasa sayang dengan perjuangannya selama ini. Lagipula, dalam diri gadis itu keinginan untuk pergi sangatlah besar.


Namun, sekarang Alice sadar jika dia memiliki Rian di sisinya. Sebentar lagi mereka bahkan akan menikah. Sungguh kisah yang tidak pernah Alice bayangkan sebelumnya, kisah percintaan yang sangat singkat. Bagaimana tidak? Alice baru bertemu dengan Rian beberapa bulan yang lalu dan dengan waktu yang singkat, pria itu melamarnya.


Rasanya sangat menyesakkan jika tahu Alice masih satu negara dengan orang-orang yang telah menyakitinya. Tidak mudah bagi gadis itu untuk melupakannya begitu saja. Traumanya masih bisa kambuh kapan saja dan hal itu membuat Alice sendiri merasa takut. Dia tidak ingin menyakiti orang-orang yang baik padanya.


“Huft, tenang Alice,” gumam Alice berusaha mengatur napasnya.


Sedikit merasa tenang dan Alice memulai aktivitasnya hari ini. Namun, tiba-tiba saja gadis itu teringat oleh Sandra. Wanita yang kemarin nekat hendak bunuh diri. Lagi-lagi Alice bergidik ngeri saat teringat tragedi kemarin.


“Apa gue jenguk aja, ya?” gumam Alice, “Tapi hari ini gue mager,” lanjutnya merebahkan tubuhnya di ranjang.


“Tapi gue kasihan sama dia. Kayaknya dia juga nggak punya siapa-siapa.”


Alice masih bermonolog dengan dirinya sendiri. Gadis itu bimbang, apakah akan menjenguk Sandra atau tidak. Jujur saja, Alice merasa hatinya memanas saat melihat bagaimana raut panik Rian kemarin. Bahkan pria itu melupakannya sejenak kemarin.

__ADS_1


“Astaga! Nggak, gue nggak cemburu,” ucap Alice menggelengkan kepala untuk mengusir pikiran yang tidak-tidak.


Akhirnya Alice memutuskan untuk tetap berada di kos Fia. Mengurung diri di dalam kamar kos sembari menunggu jam kerjanya di kedai es krim. Hingga saat ini Alice masih bekerja dengan Bu Reni, padahal beliau sudah meminta Alice untuk berhenti. Namun, Alice menolak. Gadis itu ingin tetap bekerja di sana membantu Reni. Pintu kos terbuka membuat Alice yang sedang tiduran spontan menoleh. Fia masuk dengan ekspresi terkejut. Sahabatnya itu langsung berjalan menghampiri Alice.


“Kemana aja lo semalam, Hah?” tanya Fia, “Chat gue lo kacangin, beraninya lo!”


Alice mengubah posisinya menjadi duduk berhadapan dengan Fia. “Maaf, lagian tadi gue udah jelasin lewat chat.”


“Iya, gue tau. Gue juga udah baca chat lo tadi, tapi yang gue tanyain sekarang, semalem lo nggak pulang. Lo nginep di mana?”


“Di apartemen Rian,” jawab Alice meringis.


“Astaga Alice, lo buat gue bener-bener khawatir. Hampir aja gue telepon polisi,” ucap Fia.


Alice benar-benar merasa bersalah pada sahabatnya. Dia pun mendekat dan memeluk sahabatnya itu untuk menenangkannya.


“Gue baik-baik aja, Fi. Maafin gue yang buat lo khawatir, gue janji nggak akan ulangi lagi.”


“Maaf, Al. Gue terlalu berlebihan, padahal lo udah dewasa dan gue yakin lo bisa jaga diri. Gue cuma khawatir karena keadaan lo semalam lagi nggak baik-baik aja,” jelas Fia.


“Nggak, Fi. Gue belum dewasa dan gue nggak bisa jaga diri gue sendiri. Jadi, tolong tetep bantu jagain gue. Gue masih butuh pertolongan lo. Lo nggak brelebihan, gue tau lo khawatir kalo kejadian itu terulang lagi. Makasih, Fi, udah mau terus perhatiin gue.”


Fia menggeplak punggung Alice dan sedikit melonggarkan pelukan mereka. Geplakan Fia itu membuat Alice meringis. Alice yang hendak protes harus kembali menelan kata-katanya kala melihat Fia yang berlinangan air mata.


“Lo ngomong apa? Gue udah anggap lo seperti saudara gue sendiri. Gue yang berterimakasih sama lo karena mau percaya sama gue dan gue janji akan jaga kepercayaan yang udah lo beri.”


“Astaga Fia, kenapa lo malah nangis kejer gini sih?” tanya Alice terkekeh, tangannya mengelap air mata yang menetes di kedua pipi sahabatnya itu. Sementara tanpa sadar mata gadis itu juga mulai berkaca-kaca.


“Aish, lo ngerusak suasana aja,” ucap Fia sebal dan segera menyeka air matanya dengan kasar. Malu juga ketahuan menangis di depan Alice.

__ADS_1


...🦋🦋🦋...


Karena sebuah kepercayaan itu mahal harganya 😇


__ADS_2