
Alice masih menunggu jawaban dari Rian, kernyitan di dahi perempuan itu timbul. Terdengar dari seberang sana suara hembusan napas keluar dari hidung pria itu.
“Kamu nggak perlu jenguk dia, Al. Dia udah keluar dari rumah sakit kemarin,” jawab Rian setelah sekian lama.
“Kita bisa jenguk ke rumahnya, Mas. Lagi pula kayaknya Mbak Sandra nggak punya siapa-siapa di sini, tapi itu menurut perasaanku aja sih.”
“Iya, Sandra memang tidak punya siapa pun di sini. Dia memutus hubungan dengan keluarganya sejak lama,” jelas Rian.
“Iya makanya Alice mau jenguk Mbak Sandra. Sepertinya kemarin itu masalahnya sangat berat sampai dia berbuat nekat seperti itu,” ucap Alice yang masih berusaha membujuk Rian agar memperbolehkannya menjenguk wanita itu.
Alice merasa jika nasib mereka sama, tidak mempunyai siapa pun. Namun, Alice lebih beruntung karena dia berusaha menikmati hidupnya.
“Nggak perlu, Al. Sebenarnya aku juga tidak tau dimana keberadaan Sandra saat ini, tiba-tiba saja dia menghilang.”
Mendengar penuturan Rian membuat dahi Alice mengernyit. “Menghilang?”
“Iya, aku sudah cari dia. Namun, nihil. Dia nggak ada dimana-mana, di rumahnya juga nggak ada.”
...🦋🦋🦋...
Bohong.
Rian menyenderkan punggungnya pada sandaran kursi kerjanya. Tangannya memijit pelipisnya yang terasa sakit. Setelah berbicara bohong pada Alice, mendadak ada rasa tidak tenang dalam diri pria itu. Dia bertanya-tanya apakah keputusannya berbohong ini sudah tepat? Rian menatap jam di dinding yang berada tidak jauh dari tempatnya. Jarum jam itu sudah menunjukkan angka dua dini hari dan Rian belum bisa memejamkan matanya sejak percakapan mereka di telepon tadi berakhir.
“Gue harus selesaikan ini secepatnya,” gumam Rian.
Benar, dia memang harus segera menyelesaikan masalahnya sesegera mungkin. Namun, Rian tidak tahu harus mulai dari mana. Pria itu hingga kini masih bertanya-tanya, bagaimana bisa Sandra mengenal Kevin. Rian bukannya tidak tahu jika Sandra berselingkuh dengan Kevin, hanya saja pria itu memang sengaja membiarkan. Sejak mengetahui perselingkuhan itu, rasa terhadap Sandra sudah sepenuhnya berubah. Rian hanya berakting jika semuanya baik-baik saja, dia lebih memilih untuk menutup mata dan berpura- pura tidak tahu.
Namun, tidak bisa dibohongi jika dulu Rian memang benar-benar mencintai wanita yang telah mengkhianatinya itu. Sungguh tidak mudah bagi pria itu menghapus nama Sandra dari dalam dirinya. Bahkan ada rasa kecewa saat mengetahui bahwa wanita itu mengandung. Sekarang berbeda, entah bagaimana awal mulanya nama Sandra benar-benar hilang dari hatinya.
__ADS_1
Mungkin. Suara alarm di ponsel Rian mengejutkan pria itu. Rian yang sedang terpejam, spontan membuka matanya. Tangannya meraih ponsel di meja, ternyata sudah pagi. Pria itu meregangkan kedua tangannya untuk melakukan sedikit peregangan. Berjam-jam duduk hingga tanpa sadar tertidur membuat seluruh tubuhnya terasa kaku. Setelah di rasa cukup, Rian pun memulai aktivitasnya untuk pergi bekerja.
Rian memutuskan untuk sarapan di kantin rumah sakit. Pagi ini dia harus visit ke beberapa pasiennya dan siang nanti akan ada operasi yang tentu saja akan memakan waktu berjam-jam lamanya. Setibanya di rumah sakit, pria itu langsung menuju kantin untuk sarapan dan tidak lupa membeli segelas kopi.
“Pagi, Dok,” sapa Arka.
“Pagi, tumben lo udah nongkrong di sini?” tanya Rian mengernyitkan dahinya.
“Gue baru selesai operasi, nih lihat mata gue udah kayak panda,” tunjuk Arka pada kedua kantong matanya yang menghitam.
“Butuh tidur ngapain ke sini?”
“Gue laper,” jawab Arka membawa nampan berisi makanan menuju salah satu meja.
Rian hanya menggelengkan kepalanya dan mengikuti langkah kaki temannya itu, dia duduk di depan Arka.
“Gue perhatiin, lo juga pagi kayaknya lemes. Kenapa? Belum dapet asupan kasih sayang dan cinta dari si ayang, ya?”
“Bener dugaan gue setelah melihat reaksi yang lo berikan,” ucap Arka sambil mengunyah roti di mulutnya dengan kepala mengangguk- angguk sok tahu.
Obrolan mereka terhenti saat ada salah satu teman ikut bergabung. Dia adalah Teo, dokter spesialis bedah toraks. Mereka bertiga dahulunya merupakan sahabat sejak di bangku kuliah dan kini bekerja di tempat yang sama.
“Yang satu wajahnya kusam, satunya lagi berbunga-bunga. Sungguh bertolak belakang kalian,” komentar Arka saat melihat wajah kedua sahabatnya.
“Nih buat lo,” ucap Teo menahan senyumnya dan menggeser gelas kopi lebih mendekat pada Arka.
“Ckck, wajah lo memang lebih bersinar dan glowing pagi ini,” lanjut Arka masih memuji Teo.
“Gue tambahin dagingnya,” kata Teo memindahkan beberapa potong daging ke piring Arka.
__ADS_1
Rian hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah mereka. Dia fokus pada sarapannya, sebentar lagi Rian harus memulai visit.
“Tayo memang the best. Gue boleh minta sosisnya?” tanya Arka hendak menusuk sosis di piring Teo menggunakan garpu.
“Tayo?” tanya Rian mengernyitkan dahi, pasalnya dia baru saja tahu nama panggilan itu.
“Gue denger temen dia masa SMA dulu panggil Tayo,” jelas Arka.
PLAK!
Teo memukul tangan Arka hingga garpu di tangan pria itu terlepas. Lalu Teo menjauhkan piringnya dari jangkauan pria itu, begitu juga dengan kopi yang tadi telah diberikannya. Rian yang mencium bau peperangan segera mengakhiri sarapannya dan pergi dari sana. Sementara di meja tadi Teo dan Arka sedang adu mulut, tidak peduli dengan pengunjung yang mulai berdatangan.
...🦋🦋🦋...
Rian baru saja menyelesaikan operasinya, kini dia sedang dalam perjalan menuju ruang kerjanya. Tangan dan matanya sama-sama fokus pada ponsel. Tadi ada sebuah chat dari Alice, ternyata perempuan itu hendak mengajaknya makan malam hari ini. Senyum Rian terbit, tentu tanpa berpikir dua kali dia langsung setuju dengan ajakan Alice.
Rian mendudukkan bokongnya di kursi ruang kerjanya. Pria itu masih asyik membalas chat dari Alice, sepertinya perempuan itu belum mulai bekerja. Tadi Alice memberitahu Rian jika dia baru saja sampai di kedai dan jam kerjanya belum mulai.
“Oke, nanti aku jemput kamu setelah pulang kerja.” Tulis Rian sebagai penutup chat mereka. Alice harus mulai bekerja sekarang.
Rian meletakkan ponselnya di meja, kini dia fokus pada layar komputernya. Mengecek sebuah rekam medis milik salah satu pasiennya. Dia berencana akan bertahan di ruang kerjanya hingga nanti Alice selesai bekerja.
Namun, suara ponsel yang berdering seketika menghentikan aktivitas Rian. Pria itu meraih ponselnya dan mengernyitkan dahi saat melihat siapa yang menelponnya. Rian menjawab panggilan itu dan ponselnya dia letakkan pada telinga kiri. Sementara matanya masih fokus pada tulisan-tulisan di layar komputer.
“Halo? Ada apa?” tanya Rian.
Seketika gerakan meng-scroll mouse terhenti setelah mendengar suara dari seberang sana. Rian terdiam di tempat, mendengar seseorang di seberang sana berbicara.
“Tunggu, gue segera ke sana,” ucap Rian dan mengakhiri perbincangan mereka. Pria itu segera mematikan komputernya dan bergegas pergi dari sana.
__ADS_1
...🦋🦋🦋...
Yang telpon Rian siapa? 🤔🤔