Butterfly

Butterfly
Undangan Mertua


__ADS_3

Suasana kedai tidak seperti biasanya. Hari ini kedai sangat ramai dikunjungi oleh pembeli. Alasannya adalah karena khusus hari ini ada promo serta menu baru di tempat ini.


Alice sudah sangat sibuk sejak pagi tadi membantu menghadapai para pelanggan yang datang silih berganti.


"Ini buat meja nomor 7," ucap seorang pegawai pada Alice yang bertugas mengantar pesanan para pelanggan tersebut.


Dia segera melakukan tugasnya. Alice membawa nampan berisi beberapa piring berisi es krim dan ada dua gelas yang juga berisi es krim.


"Silahkan pesanannya. Selamat menikmati," kata Alice ramah setelah meletakkan semua pesanan itu ke atas meja.


"Mbak, saya mau pesan," ujar seorang pelanggan memanggil Alice.


Wanita itu segera menghampiri meja tersebut dan sudah bersiap dengan catatannya untuk mencatat pesanan. Kesibukkan Alice beserta pegawai lain terus berlanjut hingga siang. Bahkan, kedai bertambah ramai ketika jam makan siang. Ditambah suasana di luar sangat panas.


Sehingga banyak yang mencari makanan dingin untuk meredakan hawa panas. Alice mengusap peluh yang membasahi dahinya.


"Mbak, istirahat dulu. Kita gantian."


Alice hanya mengangguk dan masuk ke dalam ruang khusus pegawai untuk beristirahat. Dia duduk menyelonjorkan kakinya, tangannya terulur untuk mengambil ponsel. Selama bekerja, Alice menyimpan ponselnya di dalam loker. Memang ada peraturan selama jam kerja dilarang memegang ponsel.


"Mas Rian pulang telat hari ini," gumam Alice membaca chat dari Rian.


Memang selama beberapa hari belakangan pria tersebut sering terlambat pulang. Namun, Rian selalu memberi kabar jika akan pulang terlambat.


"Mungkin memang lagi sibuk banget," ucap Alice pada dirinya sendiri.


Alice kembali menyimpan ponselnya dan memutuskan untuk makan siang terlebih dulu sebelum melanjutkan bekerja hingga waktu shiftnya selesai.


Hari ini Reni juga tidak berada di kedai. Mengingat tentang mertuanya, Alice kembali ingat tentang pemberian beliau. Memang akhirnya baik Alice maupun Rian mengkonsumsi pemberian beliau, walau begitu sepertinya Rian belum ada niat memiliki anak.


Alice hanya bisa menurut, padahal dia pun juga mendambakan buah hati hadir di tengah mereka. Setelah menyelesaikan makan siangnya, Alice kembali ke depan.


"Udah selesai, Mbak?"


Alice mengangguk. "Sekarang udah mendingan, ya? Nggak seramai tadi."


Wanita itu memperhatikan seluruh penjuru kedai. Suasana sudah lebih lengang, tidak seramai tadi. Kini hanya menyisakan beberapa pelanggan saja. Sebentar lagi jam kerja Alice selesai.


Sembari menunggu jam, Alice membantu membersihkan meja yang sudah ditinggalkan pelanggan. Suara bel di pintu membuatnya menoleh dan bersiap menyambut pelanggan datang.


"Eh?" kaget Alice.

__ADS_1


Ternyata Rian yang baru saja masuk ke kedai. Pria itu tersenyum melihat sang istri yang tampak terkejut karena kehadirannya.


"Kok Mas Rian di sini?" tanya Alice mengernyitkan dahi.


"Sengaja mau jemput kamu," jawab Rian.


"Katanya hari ini pulang telat?"


"Mendadak urusannya dibatalin. Sebentar lagi jam kamu pulang, 'kan? Aku tunggu di ruang mama, ya?"


Alice mengangguk sebagai jawaban, pandangannya masih mengekor punggung Rian yang berjalan menjauh. Lalu, hilang di balik dinding. Ia pun kembali melanjutkan pekerjaannya yang tadi sempat tertunda.


Begitu selesai, Alice langsung menghampiri Rian. Tadi Alice juga sudah bertukar tugas bersama temannya. Wanita itu mengetuk pintu dan masuk setelah mendengar jawaban dari Rian.


"Sudah selesai?" tanya Rian.


Alice menganggukkan kepala. Pria itu pun berjalan menghampiri Alice.


"Mama undang kita makan malam di rumah," ucap Rian.


Ucapan Rian tersebut membuat dahi Alice berkerut. Mengapa mendadak mertuanya itu mengundang mereka makan malam? Tentu berbagai pertanyaan muncul dalam benaknya.


Rian mengangkat bahunya. "Nggak tau, tiba-tiba mama telpon tadi."


Akhirnya mereka keluar dari kedai. Mobil Rian melaju menuju rumah Reni. Namun, sebelumnya Alice membeli sesuatu untuk menjadi buah tangan.


"Bawa ini nggak apa-apa? Soalnya mama undang kita mendadak banget, jadi nggak ada persiapan," kata Alice kembali masuk ke dalam mobil.


Rian memang tidak ikut turun tadi, dia menunggu di dalam mobil. Lagi pula Alice hanya sebentar ke toko tersebut.


"Nggak apa-apa. Harusnya nggak usah beli juga nggak apa-apa."


"Nggak enak, Mas. Masa' nggak bawa apapun ke rumah mama."


Pria itu menyerah dan kembali melajukan mobilnya. Perjalanan terasa cepat karena jalanan pada siang ini cukup lengang. Beberapa saat kemudian, keduanya sampai.


Mendengar suara mesin mobil, Reni pun keluar dari rumah. Beliau terlihat berpakaian rapi, sepertinya baru saja keluar.


"Mama kenapa tiba-tiba undang kita makan di rumah?" tanya Rian begitu keluar dari mobil.


"Memangnya kenapa? Nggak boleh?" tanya balik Reni sewot.

__ADS_1


"Bukannya nggak boleh, tapi terlalu mendadak. Nanti kalo Rian nggak bisa datang, Mama ngomel kayak biasa," jawab Rian.


Alice berdehem untuk mengakhiri cek-cok antara ibu dan anak itu. Dia pun menyerahkan buah tangan yang tadi dibelinya pada Reni.


"Duh, Alice. Harusnya nggak perlu repot-repot."


Reni pun mengajak mereka masuk. Karena jam makan malam masih lama, Alice dan Rian pun memutuskan untuk ke kamar terlebih dulu.


"Mau mandi dulu, Mas?" tanya Alice membuka lemari pakaian.


"Iya," jawab Rian yang sudah merebahkan tubuhnya di kasur.


Alice pun memgambil baju ganti untuk sang suami. Memang mereka meninggalkan beberapa baju di rumah ini. Reni juga beberapa kali meminta keduanya menginap. Tentu baik Rian maupun Alice akan meluangkan waktu.


Setelah Rian maupun Alice mandi dan beristirahat sebentar, mereka pun kembali ke bawah untuk menemui Reni. Ternyata beliau sedang sibuk di dapur bersama dengan asisten rumah tangganya. Alice berinisiatif membantu.


"Kamu tata makanannya di atas meja aja, Al," ujar Reni.


Alice menurut dan segera mengambil beberapa piring yang sudah terisi dengan masakan. Sementara Rian, pria tersebut duduk di meja makan sembari memperhatikan aktivitas para wanita.


"Mama masak apa?" tanya Rian pada Alice.


"Ini," jawab Alice menunjukkan isi piring yang dibawanya.


Rian hanya mengangguk. Sementara itu, Alice kembali ke dapur untuk mengambil sisa menu yang belum tersaji di meja makan. Rian memperhatikan piring dan mangkok tersebut.


Ada kernyitan di dahi pria itu melihat menu yang dimasak Reni untuk makan malam hari ini. Meja makan di depan Rian hampir didominasi oleh sayuran hijau, walau begitu ada juga masakan dari ikan dan tiram.


Menu yang jarang dimasak oleh Reni. Rian mendongak ketika mendengar mamanya dan Alice berjalan menghampirinya.


"Sudah semua, 'kan?" tanya Reni tersenyum memperhatikan semua makanan di meja makan.


"Sudah, Ma," jawab Alice.


"Ayo, kita makan. Kalau dingin nggak enak," ajak Reni pada anak dan menantunya.


Mereka pun mulai menikmati makanan tersebut dengan sesekali berbincang. Hingga sebuah pertanyaan dari Rian membuat Reni berdehem.


"Tumben Mama masak makanan kayak gini?" tanya Rian yang memang sudah curiga sedari tadi, sedangkan Alice menatap tidak paham.


...🦋🦋🦋...

__ADS_1


__ADS_2