
Alice membuka matanya dan seketika mengernyitkan dahi, merasa asing dengan ruangan ini. Dia menoleh ke samping dan didapatinya Rian yang sedang menggenggam tangannya dengan kepala menunduk. Alice pikir Rian tertidur, ternyata perkiraannya itu salah. Rian mendongak begitu merasakan pergerakan dari Alice.
“Kamu sudah bangun, Sayang?” tanya Rian.
Alice mengangguk pelan. “Tapi ini di mana, Mas?"
“Di ruang temanku. Maaf, pasti kamu syok.”
“Nggak apa-apa. Bagaimana dengan Mbak Sandra?”
“Ssst, pikirkan dulu kondisimu.”
Rian membawa Alice ke dalam dekapan pria itu. Alice tidak menolak, dia malah menenggelamkan wajahnya di dada Rian. Dia benar-benar takut tadi, memikirkannya kembali saja mampu membuat Alice gemetar.
“Tenang, ada aku di sini. Semuanya akan baik-baik saja,” bisik Rian mengusap punggung Alice agar gadisnya merasa tenang.
“Ehrm,” deheman seseorang membuat Alice terkejut, spontan dia melepas pelukkan Rian.
Sementara Rian mendengus kesal pada orang yang berdiri di ambang pintu itu. Tatapan tajam dilayangkan untuk orang itu.
...🦋🦋🦋...
Mata Alice membulat sempurna setelah mendengar cerita Fia. Sebelumnya Alice bertanya-tanya, mengapa ada Fia juga di sini. Ternyata tadi ketika pingsan, yang membawa Alice adalah dokter yang dulu pernah merawatnya. Memang sepertinya takdir sedang mempermainkannya. Fia dan sang dokter kini menjalin hubungan.
“Ja… jadi?”
“Maaf, gue nggak cerita ke lo,” ucap Fia merasa bersalah.
“Iya, nggak apa-apa. Gue cuma nggak sangka aja.”
“Ternyata kamu calon istri Dokter Rian?” tanya Teo –nama dokter itu–.
“Iya dan lo orang pertama yang tau siapa calon istri gue,” jawab Rian dengan dengusan sebal.
“Ehm, kalo gitu gue mau anter Fia balik dulu. Jaga tuh calon istri lo.”
Teo dan Fia pun berlalu pergi dari sana, meninggalkan Rian dan Alice. Mereka berada di kantin rumah sakit. Hari sudah larut dan Rian tadi meminta Alice untuk mengisi perutnya terlebih dulu.
“Mau aku suapin?” tanya Rian.
__ADS_1
“Nggak perlu, Mas.”
“Ya udah kamu aja suapin aku. Aaaa…”
Alice mendengus, tapi menurut juga. Keduanya tertawa bersama, sedikit melupakan peristiwa yang baru saja terjadi.
Setelah selesai makan malam, Rian dan Alice pun memutuskan untuk pulang. Sebenarnya tadi Alice ngotot ingin menjenguk Sandra, gadis itu hendak melihat bagaimana keadaan Sandra. Namun, Rian melarang dengan alasan jam besuk sudah usai. Akhirnya dengan berat hati Alice menurut. Kini keduanya sudah sampai di depan kos Alice.
Namun, ternyata Alice tertidur selama perjalanan. Rian masih asyik menikmati wajah cantik calon istrinya itu. Senyum manisnya terukir di bibir. Pria itu tidak berniat membangunkan Alice, dia akan menunggu sampai Alice bangun.
“Love you, Dear,” bisik Rian mengecup dahi Alice cukup lama.
Lalu pria itu ikut memejamkan matanya. Ikut menjelajah ke alam mimpi bersama Alice. Dua pasangan itu tertidur di dalam mobil yang terparkir di pinggir jalan. Namun baru sebentar Rian memejamkan matanya, seseorang mengetuk jendela mobilnya. Orang itu menyuruh Rian untuk memindahkan mobilnya, karena menghalangi jalan.
Akhirnya tidak ada pilihan lain, Rian pun pergi dari sana. Alice masih nyenyak tidur, bahkan tidak merasa terganggu ketika mobil berpindah tempat. Rian memutuskan membawa Alice ke apartemennya, membiarkan Alice menginap di sana. Mobil sudah masuk basement gedung apartemen dan terparkir rapi. Perlahan Rian membangunkan Alice, mengusap pipi gadis itu dengan pelan.
“Hmm? Udah sampai?” tanya Alice masih setengah tersadar, membuat Rian gemas.
“Udah, ayo masuk!” ajak Rian.
Alice turun dari mobil, memperhatikan sekitarnya. Merasa asing dengan tempat ini. Alice mengucek matanya.
Rian mengajak Alice untuk masuk ke dalam. Keduanya menuju unit apartemen milik Rian. Suasana apartemen sudah sangat sepi. Maklum karena sudah tengah malam. Lift pun hanya berisikan mereka berdua.
“Eh?” kaget Alice ketika ada dua lengan kokoh yang memeluk dari belakang.
“Dingin,” gumam Rian.
“Mas Rian aja yang pakai ini,” ucap Alice hendak melepas snellinya.
“Nggak, lebih hangat begini.”
Pintu lift terbuka dan mereka sudah sampai. Rian masih belum melepaskan pelukannya, sementara Alice sudah panik. Dia takut jika ada yang melihat mereka berdua. Spontan Alice melepas pagutan tangan Rian yang melingkar di perutnya ketika melihat ada seseorang tiba-tiba muncul. Rian hendak melayangkan protesnya, tapi tidak jadi karena melihat Alice terdiam. Alice memperhatikan seorang pria yang baru saja melewatinya. Sepertinya dia pernah melihatnya di suatu tempat.
“Kamu kenal?” tanya Rian menoleh ke belakang untuk melihat pria dengan pakaian serba hitam itu.
“Nggak kenal,” jawab Alice menggelengkan kepalanya.
“Ayo masuk!”
__ADS_1
Alice mengangguk dan mengekori Rian masuk ke dalam. Beberapa hari Alice tidak berkunjung ke apartemen Rian terasa ada yang berbeda. Sebelumnya Alice menduga jika apartemen Rian akan terlihat sangat berantakan seperti biasa. Namun ternyata dugaannya salah, apartemen Rian sangat bersih dan rapi.
“Mas Rian sewa housekeeper lain?” tanya Alice dengan pandangan menyelidik.
“Housekeeper-ku cuma kamu. Kamu mau mandi dulu?”
“Alice nggak bawa baju, Mas.”
“Pakai bajuku, sebentar aku ambilkan.”
Alice hanya mengangguk dan menunggu di sofa ruang tengah. Gadis itu terdiam, merasa seperti pernah megalami hal seperti ini. Tiba-tiba kembali teringat masa lalunya.
‘Semoga nggak terulang lagi,’ batin Alice.
Alice duduk di pinggir ranjang, dia sudah selesai mandi. Menunggu Rian yang belum selesai. Gadis itu sibuk dengan ponselnya, ada beberapa chat dari Fia yang masuk. Alice meringis, tidak tahu harus membalas apa ketika Fia menanyakan keberdaannya. Akhirnya chat itu tidak Alice balas. Belum ada tanda-tanda Rian selesai, Alice memutuskan untuk bermain game di ponselnya.
“Kok belum tidur, hm?” tanya Rian yang tiba-tiba sudah berdiri di belakang Alice.
Alice yang terkejut menjatuhkan ponselnya. Mendengus pada Rian yang tertawa tanpa dosa. Pria itu merebahkan tubuhnya di ranjang dan menarik Alice agar ikut rebahan di sebelahnya juga.
“Letakkin ponselnya, tidur!” perintah Rian.
“Ckck, iya-iya.”
Rian tersenyum dibalik punggung Alice. Gadis itu masih memunggunginya. Sementara Rian sudah mengkode agar Alice menghadap kearahnya. Alice pun berbalik, menatap wajah tampan Rian. Pria itu memejamkan matanya, tapi sepertinya belum terlelap.
“Tidur, Sayang,” gumam Rian masih dengan mata terpejam.
Alice berusaha memejamkan matanya. Hari ini dia sudah banyak tidur. Matanya sulit untuk terpejam. Diam-diam Alice masih memperhatikan wajah Rian.
CUP!
Kecupan tidak di sangka-sangka itu membuat Alice terkejut. Ternyata Rian belum tidur, pria itu membuka matanya dan menatap manik hitam Alice. Perlahan wajah Rian mendekat, napasnya menerpa lembut wajah Alice. Bibirnya meraup bibir Alice dan mencecapnya secara perlahan.
Alice memejamkan matanya, tangannya mengusap rahang kokoh Rian. Gadis itu terbuai dengan cecapan di bibirnya. Namun tiba- tiba Rian melepas pagutan mereka, mengusap bibir Alice yang sedikit bengkak akibat gigitan-gigitan kecilnya tadi.
“Sekarang tidur, kita lanjutkan setelah sah nanti,” ucap Rian mengerling jahil.
...🦋🦋🦋...
__ADS_1