
Sebelum pulang ke apartemen, Alice memutuskan untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari yang mulai habis. Wanita itu menuju supermarket dan berkeliling seorang diri. Namun, sebelumnya Alice sudah meminta izin pada Rian terlebih dulu. Alice tidak mau jika nanti Rian akan kebingungan mencarinya ketika pria itu sudah lebih dulu pulang.
“Kayaknya gue udah catat apa aja barangnya. Di mana, ya?” gumam Alice, matanya sibuk pada layar ponselnya.
Suasana supermarket hari ini tidak terlalu ramai oleh pengunjung, malah terlihat sangat lengang. Setelah menemukan catatannya, Alice pun melanjutkan langkahnya. Mencari semua barang yang dibutuhkannya.
Sembari mendorong troli yang mulai terisi, Alice masih berjalan mencari barang yang belum dia temukan. Namun, tiba-tiba saja ponselnya berdering. Wanita itu menghentikan langkahnya sejenak untuk menjawab panggilan itu. Alice melihat siapa yang menelponnya, setelah melihat nama yang tertera di layar ponselnya, dia segera menjawab panggilan itu.
“Halo?” sapa Alice, matanya masih sibuk memperhatikan deretan barang yang tersusun rapi di rak.
“Kamu masih di supermarket?” tanya suara dari seberang sana yang tidak lain adalah Rian.
“Masih, Mas. Masih banyak barang yang belum ke beli. Mas Rian sudah mau pulang?”
“Iya, ini lagi di jalan. Kalo gitu aku jemput kamu aja, ya? Biar nanti aku bisa bantu bawa belanjaannya.”
“Boleh. Alice tunggu di bagian sabun kalau begitu. Hati-hati di jalan.”
Pembicaraan mereka berakhir dan Alice kembali melanjutkan aktivitasnya. Mencari merek detergent yang biasa dia pakai. Matanya masih jeli melihat berbagai merek detergent itu.
“Terlalu kecil, yang dua kilogram nggak ada ya?” gumam Alice.
Tanpa sengaja mata Alice melihat ke rak paling atas. Detergent yang di carinya berada di sana. Namun, tangan Alice tidak dapat menjangkau detergent itu. Dia menoleh ke kanan dan kiri berharap ada seseorang yang dapat dimintai tolong. Namun, nihil. Tidak ada siapa pun di lorong ini.
“Nunggu Mas Rian sampai aja deh,” gumam Alice, tapi tangannya masih berusaha menjangkau detergent itu.
Tiba-tiba dari belakang ada seseorang yang berhasil menjangkau detergent yang Alice incar. Sementara Alice terdiam mematung di tempatnya. Wanita itu kira seseorang yang saat ini berdiri di belakangnya adalah Rian. Ternyata bukan. Setelah berhasil mengambil detergent itu, orang tersebut mundur beberapa langkah dan menyodorkan bungkusan detergent pada Alice.
“Terima kasih,” ucap Alice.
Alice mengernyitkan dahinya melihat penampilan orang di depannya ini. Dia adalah seorang pria dengan pakaian serba hitam. Mengenakan topi serta masker berwarna hitam, terkesan sangat misterius. Tanpa menjawab, pria itu melenggang pergi dari hadapan Alice. Sementara itu, Alice masih memperhatikan punggung pria itu.
__ADS_1
“Aneh,” gumam Alice.
“Maaf, kamu nunggu lama, ya?”
“Astaga, Mas Rian. Buat kaget aja,” kata Alice dengan ekspresi terkejut.
“Kamu lagi lihatin apa?” tanya Rian yang penasaran dengan arah pandang Alice.
“Bukan apa-apa, Mas. Ayo lanjut belanja lagi.”
“Masih banyak yang belum di beli?” tanya Rian.
Alice menunjukkan catatan di ponselnya pada Rian. Memang masih ada beberapa lagi barang yang belum di beli. Mereka pun melanjutkan langkah kaki menuju lorong selanjutnya.
Kurang lebih hampir satu jam lamanya mereka mengitari supermarket dan saat ini sedang mengantre di kasir. Tiba giliran mereka untuk membyaar, Alice bersama Rian menurunkan belanjaan dari troli ke meja kasir. Alice terlihat ragu dengan semua belanjaannya, sepertinya ini terlalu banyak. Dia kembali mengecek layar ponselnya, melihat kembali catatannya.
“Mas, ini kayaknya kebanyakan deh,” bisik Alice.
“Iya.”
“Segini nggak kurang emang? Buat sebulan lho.”
“Nggak, Mas. Malah Alice ngerasa ini terlalu banyak, bakal lebih dari sebulan.”
“Hmm, gitu? Kamu jangan terlalu hemat, Al. Beli saja semua yang kamu butuhkan dan inginkan, nggak perlu lihat harganya.”
Mendengar apa yang dikatakan oleh Rian membuat Alice bingung apa yang harus dilakukannya, apakah dia harus merasa senang atau malah sebaliknya? Jujur saja, Alice masih belum terbiasa menggunakan uang orang lain untuk keperluannya.
Semenjak kedua orang tuanya meninggal, Alice yang membanting tulang demi menghidupi dirinya sendiri. Demi bertahan hidup, Alice rela melakukan berbagai pekerjaan. Dia tidak terbiasa hanya menerima pemberian orang lain begitu saja. Jadi setelah menikah, Alice masih berlum terbiasa menggunakan uang yang diberikan oleh Rian. Alice hanya menggunakan uang gajinya saja selama ini.
“Simpan saja uang dari hasil kamu bekerja selama ini. Sekarang ada aku yang akan menanggung semua kehidupanmu, ada aku yang akan menafkahi, dan bertanggungjawab atas semua yang terjadi. Ada aku di sampingmu, Al. Jadi, kamu tidak perlu mengkhawatirkan apapun lagi,” kata Rian kala itu.
__ADS_1
Mendengar perkataan Rian saat itu membuat Alice lagi-lagi sangat bersyukur memiliki pria itu di sampingnya. Namun, tetap saja Alice tidak mau terlalu bergantung pada Rian. Dia juga harus bisa menjadi istri yang mandiri.
Maka dari itu, Alice memutuskan untuk tetap bekerja di kedai es krim milik mertuanya. Memang mertuanya itu sudah melarangnya, bahkan Rian juga tidak setuju. Namun, Alice berhasil memberi pengertian sehingga keduanya kini mengerti.
Selesai berbelanja, Rian dan Alice memutuskan untuk pulang ke rumah. Alice ingin memasak makan malam sendiri di rumah. Jarak dari supermarket sampai apartemen tidak terlalu jauh. Hanya membutuhkan kurang lebih selama duapuluh menit saja.
Namun, sialnya mereka terjebak macet karena bersamaan dengan jam pulang kantor saat ini. Jalanan sangat padat dengan kendaraan, walau begitu setidaknya mereka masih bisa bergerak maju tidak diam di tempat. Akhirnya mereka sampai apartemen setelah terjebak macet selama beberapa jam di jalan tadi.
“Kamu nggak capek, Al? Tetap mau masak sendiri?” tanya Rian. Saat ini mereka berada di dalam lift.
“Nggak, Mas. Sama sekali nggak capek, lagi pula Alice masaknya sederhana saja. Mas Rian nggak keberatan, 'kan? Atau ada yang mau Mas Rian makan?”
“Nggak ada, apapun yang kamu masak pasti aku makan,” jawab Rian dengan senyum hangatnya.
Mendengar hal itu membuat pipi Alice merona. Tentu hal itu tidak luput dari pengamatan Rian, sayang sekali tangannya membawa belanjaan. Jika saja tangannya kosong, Alice sudah habis oleh Rian yang sangat gemas dengan tingkah sang istri.
Sesampainya di unit apartemen, Alice segera menyiapkan bahan yang hendak dimasaknya. Sedangkan Rian, pria itu mandi terlebih dulu. Alice terlihat sangat senang saat ini. Hal baru baginya memasak untuk suami.
Sebelumnya memang Alice juga pernah memasak untuk Rian, tetapi tetap saja saat ini rasanya berbeda. Sembari menunggu masakan matang, Alice menata beberapa barang belanjaan. Rian juga belum selesai mandi. Pria itu memang sangat lama jika berada di dalam kamar mandi.
Kurang lebih membutuhkan hampir dua jam hingga masakan Alice matang. Dia segera menatanya di atas meja makan, bersamaan dengan Rian yang baru selesai mandi. Bau harum sabun menguar memenuhi indera penciuman Alice.
“Mau makan sekarang?” tanya Alice.
“Boleh. Aku juga sudah sangat lapar.”
Alice segera mengambil piring dan menyendok nasi beserta lauk untuk Rian. Sudah sangat lama Alice tidak merasakan kehangatan di meja makan seperti ini, dia benar-benar rindu dengan suasana seperti ini. Alice berharap kedepannya merekan akan sering makan bersama seperti ini.
...🦋🦋🦋...
Terima kasih atas dukungan yang kalian berikan 😘😘😘
__ADS_1