
“ Lihat bukankah mereka terlihat serasi”, ujar seseorang, Hana yang tidak jauh dari orang yang bicara itu pun penasaran siapa yang sedang dibicarakannya.
“ Revan....”, ujar Hana saat melihat orang yang sedang dibicarakan orang-orang tadi. “ Ahh....dia kan Irena, jadi.....mereka....”. Sejenak Hana berpikir. “ Bukankah aku harus membantu Revan, bukankah aku sudah berjanji, bukankah memang harus begitu, baiklah....”.
Hana pun mengikuti mereka secara sembunyi-sembunyi. Revan dan Irena terlihat sangat akrab dan sekali-kali melemparkan senyum satu sama lain. Hana memperhatikan mereka dari atas, tepat disebelanya ada sebuah pot bunga mawar dan Hana mengambilnya.
“ Harusnya Revan membawakannya bunga”, ujarnya tersenyum, tapi entah mengapa tiba-tiba Hana seperti kesetrum dan tanpa sengaja menjatuhkan pot bunga yang ada ditanganya lalu jatuh kebawah. Hana sampai tidak memperhatikan apa yang terjadi setelahnya, dia hanya memandangi tangannya.
“ Irena, kamu tidak apa-apa”, ujar Revan, Irena pun mengangguk. Melihat pot bunga itu jatuh, Revan memandang keatas dan Hana berada disana.
Setelah menyelesaikan urusannya dengan Irena, Revan pun bergegas menuju tempat Hana berada.
“ Hana, apa yang kamu lakukan tadi?”, tanyanya, tapi Hana hanya diam. “ Hana!!! yang kamu lakukan itu berbahaya”.
“ Aku tidak tahu apa yang terjadi, tiba-tiba tubuhku seperti terkena setrum”, ujarnya. “ Aku benar-benar tidak sengaja”.
“ Aku tidak mengerti denganmu”.
“ Tadinya aku ingin membantumu, tapi entah kenapa....”.
“ Kamu mengikutiku?”, tanya Revan memotong ucapan Hana. Hana pun mengangguk. “ Apa aku memintamu?”. Hana menggelengkan kepalanya. “ Lalu kenapa kamu melakukannya, haa!!!”.
“ Bukankah aku pernah berjanji padamu, aku ingin melakukannya, kamu selalu membantuku, kali ini aku ingin membantumu”.
“ Apa hanya itu yang ada dipikiranmu??”.
“ Revan, aku....”.
“ Sudahlah, kamu benar-benar membuatku marah”.
“ Revan, aku tidak bermaksud.....”.
“ Hana, aku mohon, kalau ingin membantuku, tolong bantu aku untuk tidak melihatmu memaksakan dirimu melakukan sesuatu, oke”, ujar Revan meninggalkan Hana yang masih terdiam terpaku, tanpa sadar air matanya menetes.
“ Maafkan aku, tolong jangan benci aku”, teriak Hana.
Aku benar-benar tidak tahu kenapa tiba-tiba aku melepaskan pot bunga itu dari tanganku, seperti ada sesuatu terutama dijantungku, kenapa sepertinya jantungku........., apa aku....masih hidup, aku tidak mengerti.
Tiba-tiba tangan Hana digenggam dan membuatnya terkejut. “ Revan”, ujar Hana menatapnya.
“ Maafkan aku”, ujarnya. “ Seharusnya aku tidak marah-marah seperti tadi padamu”.
“ Aku mengerti kenapa kamu seperti itu”.
“ Tidak, kamu tidak mengerti sama sekali Hana”, ujarnya yang membuat Hana bingung dengan ucapan Revan . “ Kenapa tanganmu gemetaran”. Hana hanya menggelengkan kepalanya. “ Hana, berapa kalipun kita bertengkar, marah ataupun berteriak, aku tidak akan membencimu, kamu harus tahu itu”.
Ucapan Revan benar-benar membuatku terkejut, terkadang dia membuatku serba salah dengan sikapnya. Aku tahu dia menyukai seseorang dan aku juga bukan seorang manusia, aku tidak boleh terbawa perasaan, aku hanya ingin bersamanya seperti ini.
“ Revan...”, ujarku. “ Seperti ada yang melihat kita tadi”.
“ Apa?? dimana?”.
“ Disana”. Aku pun menunjuk kearah gedung olahraga karena memang tempat kami berada langsung mengarah ke gedung olahraga.
“ Apa dia anggota basket?”.
“ Tidak mungkin, akukan sering disana, tidak ada satupun temanmu yang melihatku’.
“ Jadi......”. Revan pun berfikir sejenak. “ Hari ini ada latihan, kamu perhatikan siapa yang selalu melihatmu”. Aku pun menganggukkan kepala.
Kami bergegas ke gedung olahraga dan seperti biasa Revan latihan basket bersama dengan teman-temannya. Aku pun mengambil tempat memantau orang-orang yang ada disekitar tempat ini. Setelah aku melirik sana sini tidak ada satupun orang itu disini.
“ Haaa.....”. Aku pun menundukkan kepalaku. Saat aku mengangkat kepalaku lagi, tiba-tiba aku menangkap mata seseorang yang sedang melihatku, aku pun melihat tanpa memalingkan pandanganku dan tanpa disadarinya dia pun memalingkan wajahnya.
“ Revan”, teriakku dan Revan melihatku. “ Itu, orang itu, yang keluar itu, dia orangnya”, tunjukku dan ia pun melihat orang yang baru saja keluar dan bergegas mengejarnya.
“ Hei Revan mau kemana?”, tanya teman-temannya yang bingung dengan sikap Revan yang meninggalkan latihan.
“ Sebentar”, jawabnya singkat. Setelah mencarinya kesana kesini , pada akhirnya aku dan Revan kehilangan jejaknya.
“ Bagaimana ini?”.
“ Sepertinya aku mengenalnya, walaupun tidak begitu yakin, tapi tidak ada salahnya untuk mencobanya”.
“ Maksudnya?”.
“ Besok kita ke kelasnya”.
“ Apa??”.
“ Tenanglah”, ujarnya. “ Aku harus kembali latihan”.
“ Oke”.
Sepertinya Revan sudah yakin dengan apa yang dilihatnya dan memutuskan untuk menemuinya, bisa dikatakan ini seperti berjudi, kalau benar dia, berarti kita menemukan orang yang selama ini meresahkan hidupku, tapi kalau tidak, Revan pasti dianggap aneh oleh orang itu. Tapi, selama aku mengenalnya, apapun yang sudah diputuskannya, biasanya memang itu yang terbaik pada akhirnya, aku berharap itu memang benar.
__ADS_1
Keesokan harinya, Revan benar-benar menemui orang itu dikelasnya. Setelah melihat orang itu ada ditempat duduknya, Ia pun masuk dan menemuinya. Diapun melihat Revan yang sudah ada dihadapannya.
“ Ada apa?”, tanyanya heran.
“ Boleh kita bicara sebentar”.
Dia pun menatap Revan sejenak seakan sedang berfikir, apa yang sebenarnya yang diinginkan olehnya. Dia pun menganggukkan kepalanya. “ Diluar”, ujar Revan. Dia pun mengikuti kemana ia pergi.
“ Apa yang ingin kamu bicarakan?”, tanyanya.
“ Apa kamu bisa melihatku?”.
“ Apa maksudmu?”, tanyanya heran. Tiba-tiba Hana menampakkan dirinya dan berdiri tepat dibelakang Revan dan tanpa disadari oleh orang itu, matanya sejenak tertuju dengan sosok Hana.
“ Kamu bisa melihatnya?”, tanya Revan seakan mendapatkan waktu yang tepat setelah Hana datang.
“ Melihat apa? aku tidak mengerti maksudmu, jangan membuang waktuku hanya untuk mendengar leluconmu”.
“ Oh benarkah”.
“ Apa kamu sedang mengejekku?”.
“ Tidak, aku hanya ingin mengujimu”.
“ Mengujiku”.
“ Tadinya aku sedikit ragu, tapi sekarang aku yakin, jadi berapa kalipun kamu menyangkal, itu tidak berarti apa-apa karena matamu tidak bisa berbohong”.
Sejenak diapun terdiam. “ Kita sama sekali tidak saling kenal, tapi kamu seperti orang yang ingin mencari musuh”.
“ Namaku Revan dan aku yakin kamu sudah tahu karena sepertinya kamu sering datang melihat latihan anak basket”.
“ Lalu?”.
“ Haaa.....”. Revan pun menghela nafas. “ Aku lelah dengan obrolan kita, dulu aku juga sepertimu, menyangkal dengan apa yang aku lihat, apa lagi dengan orang yang dibelakangku ini”.
“ A..aapa?”.
“ Orang yang dibelakangku ini, dia seorang wanita dan namanya Hana, orang yang selalu kamu perhatikan, bukankah itu benar”.
“ Kenapa....”.
“ Aku tahu kamu bisa melihatku”, ujar Hana tiba-tiba dan dia pun melihat Hana.
“ Haaa....”. Diapun menghela nafas. “ Baiklah, aku sudah ketahuan”.
“ Maafkan aku, aku tidak bermaksud menakutimu”.
“ Tapi, aku benar-benar merasa takut, seperti nyawaku akan dicabut lagi”.
“ Aku benar-benar tidak bermaksud seperti itu, aku hanya penasaran dengan sosokmu ditambah lagi ternyata ada orang yang bisa berkomunikasi denganmu, aku benar-benar jadi ingin tahu tentang kalian”.
“ Namamu siapa?”, tanya Revan.
“ Viran”, jawabnya. “ Bagaimana kamu bisa tahu kalau orang itu aku?”.
“ Terkadang aku melihatmu datang ke lapangan untuk melihat latihan anak basket dengan laptopmu karena aku merasa aneh dengan sikpamu yang beda dari yang lain, hanya itu, tapi saat Hana berteriak dan menunjukmu, aku mengenalimu dari laptop yang ada ditanganmu, soal kelas aku tahu karena salah satu temanku mengenalimu saat melihatmu ada dilapangan”.
“ Oh begitu, aku sampai tidak menyadarinya”.
“ Begitulah”.
“ Hana, namamu Hana”. Hana pun mengangguk. “ Biasanya aku tidak pernah tertarik dengan apa yang kulihat, tapi sosokmu membuatku penasaran, sekian banyak roh yang pernah kulihat, entah kenapa aku merasa kamu itu aneh”.
“ Dia memang aneh”, celetuk Revan, spontan Hana memukulnya. “ Kamu ini”.
“ Viran, kita bisa jadi temankan”, ujar Hana.
“ Tentu”.
“ Wah....bukankah ini sangat menyenangkan, dulu aku merasa sendiri, tapi sekarang ada dua orang yang bisa aku ajak bicara, aku benar-benar senang”.
“ Apa penderitaan orang yang bisa melihatmu menjadi kebahagiaan untukmu”.
“ Revan!!!”.
Revan pun tertawa melihat reaksi Hana dan Viran pun tersenyum melihat tingkah mereka.
---------
Kapan tepatnya kamu merasakan ada seseorang yang sedang memperhatikanmu?”, tanya Viran.
“ Ohhh....beberapa hari yang lalu, kadang aku merasa merinding setiap kali aku memasuki sekolah padahal sebelumnya tidak pernah seperti ini”, jawabku.
__ADS_1
“ Sebenarnya saat pertama kali aku pindah kesini dan saat pertama sekali melihatmu, aku pikir kamu siswi disini karena kamu berpakaian seperti ini, tapi setelah beberapa kali aku melihatmu, ternyata ada yang aneh denganmu, tidak ada yang bicara denganmu, kamu hanya berdiri diantara orang\-orang dan hanya mendengarkan mereka dan sesekali kamu menanggapi mereka, aku pikir itu aneh dan mulai menyelidikimu. Pada akhirnya aku melihatmu bicara dengannya, aku benar\-benar terkejut melihatnya karena kalian benar\-benar bicara dan terkadang bertengkar. Haaa.....itu membuatku semakin tertarik dengan kalian berdua, tapi sepertinya aku kurang hati\-hati dan akhirnya tertangkap oleh kalian. Aku benar\-benar minta maaf padamu sudah membuatmu takut”.
Hana pun menggelengkan kepalanya. “ Biarpun begitu aku juga senang”.
“ Apa kamu menyelidiki bagaimana kamu bisa seperti ini?”. Hana pun menganggukkan kepalanya. “ Apa sudah menemukan titik terang?”.
“ Belum, yang aku tahu aku punya adik, punya sahabat dan juga pacar, tapi ada yang aneh dengan mereka bertiga. Aku juga penasaran kenapa aku bisa seperti ini”.
“ Aku juga penasaran karena aku merasa Hana lain dari yang lain”.
“ Maksudnya?”.
“ Aku tidak bisa menjelaskannya karena aku sendiri belum yakin”.
“ Oh begitu”.
“ Bukankah itu Revan?”, ujar Viran menunjuk kearah yang dimaksud. “ Dia dengan siapa?”.
“ Irena”.
“ Irena, apa mereka pacaran?”.
“ Entahlah, tapi aku rasa mereka saling suka”.
“ Bagaimana kamu bisa seyakin itu?”.
“ Terakhir kali Revan marah padaku karena hampir mencelakai Irena, dia sangat marah sekali, bukankah itu bukti yang menyakinkan”.
“ Bukan berarti dia sukakan, mungkin dia akan seperti itu seandainya itu bukan Irena”.
“ Benarkah?”.
“ Kenapa? apa kamu menyukainya, sepertinya kamu merasa lega saat aku mengatakannya”.
“ Aku tidak menyukainya, bagaimana bisa aku menyukainya, aku punya pacar dan dia....menyukai seseorang”.
“ Haaa.....feelingku mengatakan ada sesuatu diantara kalian, walaupun bukan sekarang pasti suatu hari nanti”.
.
“ Viran....kamu ini bicara apa, tidak lucu sama sekali”.
“ Percayalah padaku”.
“ Haaa.... kalian berdua sama saja, sama\-sama menyebalkan”.
__ADS_1
Yang dikatakannya itu sama sekali tidak benar, aku tidak menyukainya, lagian aku punya pacar dan Revan juga menyukai Irena. Aku yakin tidak ada yang seperti itu diantara kami dan aku juga yakin karena mereka terlihat sangat serasi. Setiap kali aku melihat mereka berdua, mereka saling tertawa dan sangat menikmat saat mereka sedang bicara, sedangkan kalau bersamaku, kami selalu bertengkar dan dia selalu mengeluarkan kata\-kata yang menyebalkan, aku benci itu....., tapi kalau tidak melihatnya atau bertengkar dengannya seperti ada yang kurang, haaaa.....entahlah aku tidak mengerti dengan semua ini, aku benar\-benar tidak mengerti.