Butterfly

Butterfly
BAB 2


__ADS_3

" Jadi kamu masih anak sekolahan?”.


“ Kenapa? kecewa?’.


“ Tidak”, ujarku menggelengkan kepala.


Tiba-tiba terlintas dibenakku suatu ide yang sangat brilian menurutku. Aku pun menjentikkan jariku, lalu....... pakaian yang kupakai pun berubah.


“ Apa yang kamu pakai ini? Kenapa tiba-tiba berpakaian seperti siswi disini”, tanyanya heran.


“ Bukankah ini sekolah, harus pakai seragamkan, aku juga seorang murid”.


Revan hanya geleng-geleng kepalanya melihat tingkah Hana. “ Terserahlah lagian siapa juga yang lihat”.


“ Kamulah, kamukan bisa melihatku”, ujarku berdiri dihadapannya.


“ Minggirlah dan jangan bicara padaku disekolah”.


“ Apa!!!!”. Aku terkejut mendengar ocehannya padahal sedari tadi dia bicara padaku, sekarang malah melarangku. “ Oke, aku tidak akan bicara denganmu”, kesalku.


Aku mengikutinya dari belakang. Rasa-rasanya aku ingin memukulnya saja.


“ Kamu sekarang kelas berapa”.


“ Tiga”.


“ Ohhh”, ujarku. “ lalu ikut eskul apa?”.


“ Basket”.


“ Ohh. Lalu....”. tiba-tiba Revan berhenti berjalan dan itu membuatku terkejut.


“ Jangan bicara denganku sesuka hatimu, ingatkan perjanjian kita?”. Hana pun mengangguk. “ Apa aku harus melupakan janjiku?”. Hana pun menggelengkan kepalanya. “ Baguslah”.


“ Lagian bukan salahkukan, kamu saja yang mau menjawab apapun yang aku tanyakan”.


“ Hana!!!”.


“ Iya, maaf', ujarku. Marah mulu deh perasaan kayak cewek lagi dapat, gumamku dalam hati.


Tidak lama kemudian bel pun berbunyi dan pelajaran dimulai, jadilah aku sendirian disamping pintu melihat Revan dari luar.


Dari kejauhan aku melihat Revan terlihat serius walaupun sesekali dia selalu memandang ke luar jendela, entah apa yang dipikirkannya.


“ Haaa....”. Aku pun menghela nafas. “ Lebih baik aku keatas sajalah”.


Aku menunggu dan terus menunggu semuanya terasa lama. Aku pun melihat jam ditanganku. “ Argghhh!!!”, teriakku kesal. “ Udah berapa kali bel sih, kenapa belum pulang juga, aku capek!!!”.

__ADS_1


“ Percuma teriak nggak ada yang dengar juga!”. Mendengar suara itu untuk pertama kalinya aku merasa senang. “ Revan!!”.


“ Kenapa?”.


“ Akhirnya...kamu ada disini juga”.


“ Terus??”.


“ Ahh kamu payah, nggak peka sedikitpun”.


“ Dasar aneh”.


“ Siapa yang aneh”.


“ Mau ikut nggak?”, ajaknya.


“ Kemana?”, tanyaku.


“ Ke gedung olahraga”.


“ Buat apa?”.


“ Nggak usah banyak tanya, kalau nggak mau ya sudah”, ujarnya berlalu pergi.


“ Hei...hei.. Revan, tunggu”.


Aku pun mengikutinya ke gedung olahraga, ternyata disana ada pertandingan dan terlihat Revan juga ikut bermain. Aku tidak tahu kalau dia sangat hebat main bola basket, lihat aja cewek-cewek disini pada histeris berteriak memanggil namanya. Emangnya dia sekeren itu, kalian tidak tahu saja kalau dia itu resek seresek-reseknya.


Aku pun melihat sekitarku. “ Heii, namaku Hana, Ha...naa...., kalian tahu itu, Hana..., namaku baguskan tapi Revan selalu bilang aku hantu gila, kalian pikir itu tidak menjengkelkan. Kalau aku masih hidup, aku pasti menghajarnya, kalian pasti tidak akan bisa berteriak lagi karena dia, kalian tahu itu!!.


“ Dasar hantu gila”, ujar Revan geleng-geleng kepala melihat Hana bicara sana sini. “ Apa dia nggak capek”.


“ Hei... Van ”, sapa temannya.


“ Hei”.


“ Lihat apaan?? kayaknya ada yang buat kamu senang”.


“ Senang???”.


“ Iya, soalnya dari tadi senyum-senyum nggak jelas”.


“ Siapa yang senyum-senyum”, elaknya. “ Ayo latihan lagi”.


“ Hei....jawab dulu pertanyaanku, hei Revan!!”.


Setelah latihan usai, semua teman-temannya pun pulang, tapi tidak dengan Revan yang masih bertahan dilapangan. “ Hei, ayo pulang”.

__ADS_1


“ Iya”.


“ Nggak capek apa??”, tanya Hana yang tiba-tiba muncul dihadapannya.


“ Jangan sesukanya muncul tiba-tiba”, ujar Revan yang sama sekali tidak menjawab pertanyaan Hana. “ Kamu sendiri apa nggak capek?”.


“ Capek??? memang apa yang aku lakukan”.


“ Iya, apa nggak capek berbicara sana sini, padahal tidak ada yang dengar juga”.


“ Bukankah kamu sendiri dengar”.


“ Ha? sembarangan saja kalau bicara”.


“ Lagian tidak apa-apa mereka tidak mendengarkanku, tidak meresponku, tapi paling tidak kamu bisa mendengarkanku”.


“ Hana... apa kamu sudah gila”.


“ Mungkin”, ujar Hana yang membuat Revan terbengong. “ Revan tidak akan pernah mengerti karena kamu manusia yang bernyawa. Selama ini aku sendiri tidak tahu arah, aku selalu menunggu seseorang yang bisa melihatku agar bisa membantuku. Walaupun aku menunggu begitu lama, pada akhirnya aku bertemu denganmu walaupun itu tidak sengaja, mungkin sebuah kesialan buatmu, tapi...aku sangat senang, untuk pertama kalinya ada seseorang yang bisa mendengarku, berbicara denganku, bahkan bertengkar denganku, aku benar-benar senang”. Hana pun menatap Revan yang melihatnya penuh tanya. “ Kamu tidak akan mengerti perasaan seperti itu terlihat sepele tapi sangat berarti”.


“ Bagaimana kamu bisa jadi seperti ini?”.


“ Itu....aku juga bertanya-tanya apa penyebabnya, aku sama sekali tidak tahu, juga tidak mengingatnya. Tapi, terkadang kepalaku terasa sakit seperti ada bayangan, tidak tahu itu apa, tapi....mungkin itu bagian dari ingatanku. Itulah yang ingin aku cari tahu”.


“ Bagaimana caranya kalau tidak ada yang bisa kamu ingat?”.


“ Adik perempuanku, aku mengingatnya”.


“ Adik perempuanmu?”. Hana pun mengangguk. “ Apa kamu ingat dimana rumahmu?”. Hana pun menggelengkan kepalanya. “ Lalu?”.


“ Aku mengingat adikku, tapi tidak dengan rumahku, yang aku ingat adalah sekolah”.


“ Sekolah?? dimana?”.


“ SMA Harapan Nusa”.


“ Nggak salah?”. Aku pun menggelengkan kepala. “ Hebat, bukankah sekolah itu sangat terkenal, apa jangan-jangan kamu juga sekolah disana?”. Aku pun menganggukkan kepalaku. “ Wah....apa kamu sepintar itu”.


“ Apa kamu mau mati”, ujarku kesal. “ Tapi, hanya itu yang aku ingat. Adikku, sekolah dan juga....aku siswi disana,tapi......”. Aku pun terdiam sejenak.


“ Tapi apa?”.


“ Dia....aku tidak tahu dia siapa, selalu muncul dipikiranku”.


“ Apa dia orang yang sangat berarti untukmu”.


“ Mungkin, haaa....aku tidak tahu!!!”.

__ADS_1


“ Haaaa....”. Revan menghela nafas. “ Aku pastikan kamu harus membalas apa yang aku lakukan untukmu”, ujarnya melihatku, aku pun tersenyum senang.


“ Baiklah, apapun, aku sudah janjikan”.


__ADS_2