
“Alice?” panggil Rian untuk memastikan seseorang yang duduk di depan ruangannya itu.
Gadis itu mendongak dan menoleh, matanya membulat melihat Rian berdiri tidak jauh darinya. Alice menggeser duduknya saat Rian hendak duduk di sana.
“Kenapa belum tidur, hm?” tanya Rian lembut, dalam hatinya masih merutuk atas perbuatannya tadi.
“Masih belum ngantuk, Mas,” jawab Alice lirih.
Rian mengernyit, ia merasa jika ada sesuatu terjadi pada gadisnya ini. Pria itu mengabsen seluruh wajah cantik di sampingnya ini. Alice menoleh saat merasa ada yang memperhatikannya sejak tadi.
“Ada apa?” tanya Alice mengerutkan dahinya.
“Al, kamu cantik. Pasti seseorang yang berhasil mendapatkanmu nanti akan sangat beruntung,” jawab Rian tersenyum.
Alice menahan napasnya melihat senyum menawan Rian. Hatinya bimbang, sejak tadi gadis itu memikirkan tentang kepergiannya. Waktu terus berjalan dan sepertinya ada seseorang yang berhasil menahannya untuk tetap tinggal.
Namun, ada rasa cemas jika Alice tetap tinggal di sini. Lagi-lagi masa lalulah yang Alice salahkan. Masa lalu yang amat kelam bagi gadis cantik itu. Hanya Fia yang tau bagaimana perjuangan Alice menghadapi masa lalu itu. Rian masih bertahan dengan senyum manisnya. Malam yang bertambah larut dan suasana rumah sakit yang hening menemani dua insan itu.
“Al, Mama minta kita menikah,” ucap Rian akhirnya setelah mengumpulkan semua keberaniannya.
Entah mengapa pria itu merasa sangat gugup mengatakannya, padahal dirinya tidak sedang melamar secara formal. Lalu bagaimana jika Rian benar-benar melamar Alice dengan nuansa romantis dan seikat bunga? Mungkin pria itu sudah pingsan saking groginya.
“Apa?” tanya Alice dengan ekspresi terkejut.
“Mama punya permintaan dan permintaannya agar kita menikah,” jelas Rian lembut.
“Jangan bercanda, Mas! Menikah bukan hal yang main-main. Mas Rian juga tau sebentar lagi Alice pergi,” ucap Alice lirih.
Wajah Rian kembali mendung. “Tidak bisakah kamu tetap tinggal, Al?”
“Alice terlalu takut untuk tetap tinggal.”
“Aku berjanji akan selalu di sampingmu, Al. Selalu menemanimu dan menjagamu. Apalagi yang kamu takutkan?”
“Masa lalu Alice terlalu menakutkan,” gumam Alice dengan pandangan kosong.
...🦋🦋🦋...
Flashback On…
__ADS_1
Beberapa tahun lalu, ketika Alice masih duduk di bangku sekolah menengah atas. Alice memiliki seorang kekasih, mereka berpacaran semenjak kelas sebelas hingga kini mereka hampir menuju kelulusan. Tidak ada masalah selama mereka menjalin hubungan, Alice sangat bahagia saat itu. Hingga saat Alice memutuskan untuk kuliah di kampus pilihannya dan berbeda dengan pilihan sang kekasih, hubungan mereka mulai dirundung masalah. Namun Alice masih bertahan, karena Satria –nama kekasih Alice– masih menunjukkan perhatiannya.
“Kamu dari mana, Al? Kenapa baru pulang?” tanya Satria yang ternyata menunggu kepulangan Alice di depan kamar kos gadis itu.
“Maaf, tidak mengabarimu. Ponselku kehabisan batteray, tadi aku sibuk dengan tugas kelompok bersama teman-teman,” jelas Alice dengan raut wajah ketakutan melihat Satria dengan wajah dingin.
Satria menghembuskan napasnya. “Sudah makan?”
Alice menggeleng pelan, membuat Satria menyunggingkan senyumnya. Akhirnya pria itu mengajak kekasihnya untuk makan malam.
Alice mengernyit saat ternyata Satria membawanya ke apartemen pria itu. Sebenarnya Alice sudah sering keluar masuk apartemen milik pria itu. Namun tadi Alice pikir Satria hendak mengajaknya makan di luar. Satria turun dari mobil dan membukakan pintu untuk Alice, gadis itu tersenyum dipelakukan amat manis oleh pria itu. Mereka berdua berjalan bersama menuju unit apartemen Satria.
“Ayo masuk! Aku rindu masakanmu, Al,” ungkap Satria tersenyum manis.
Alice terkekeh mendengar keinginan Satria. Ia pun meletakkan tasnya dan bersiap untuk memasak. Sementara Satria memperhatikan sang kekasih dari meja makan.
“Mau aku bantu?” tawar Satria.
“Nggak perlu, kamu nonton aku saja dari sana,” jawab Alice tersenyum.
Satria tertawa renyah, malam ini terasa indah bagi dua pasang anak Adam itu. Tidak butuh waktu yang lama masakan Alice matang. Bau harum menyeruak indera penciuman Satria.
Alice tertawa mendengar pujian dari Satria, tapi siapa sangka jantungnya berdegub kencang. Ia pun duduk di depan Satria dan ikut menikmati makan malam bersama Satria. Tawa canda malam itu terdengar di seluruh ruangan.
“Al, kamu nggak mau pindah kampus? Biar kita bisa satu kampus,” ucap Satria di sela makan mereka.
“Nggak bisa, Sayang. Aku nggak punya biaya…”
“Kamu nggak perlu pikirkan biaya. Aku yang mengurus semuanya.”
Alice terdiam mendengar perkataan kekasihnya. Satria memang anak orang kaya, Papanya seorang pejabat dan Mamanya pengusaha. Namun kedua orang tua Satria sangat baik padanya, Alice sudah pernah bertemu beberapa kali.
Setelah makan malam, Alice dan Satria menonton film. Biarlah tugas bisa menunggu nanti, pikir Alice saat itu. Alice menjatuhkan kepalanya pada dada bidang Satria, sementara pria itu menciumi puncak kepala Alice dengan gemas. Namun, mata mereka berdua sama-sama fokus pada layar televisi di depan.
“Oke, aku mau pindah kampus,” ucap Alice akhirnya, sejak sedaritadi masih memikirkan konsekuensi yang akan didapatnya.
Satria tersenyum senang mendengar keputusan yang kekasihnya ambil. “Bagus, nanti aku urus semua. Thank you, baby.”
Pria itu mengeratkan pelukannya pada Alice, sementara Alice hanya tertawa melihat tingkah sang kekasih yang merasa gemas padanya. Namun dalam hati, Alice berdoa semoga keputusan yang diambilnya ini sudah benar.
__ADS_1
“Kamu nginep aja, ya?” tanya Satria saat film yang mereka tonton sudah selesai.
“Aku nggak bawa baju ganti,” jawab Alice memberengut.
Sudah bukan satu dua kali Alice menginap di apartemen Satria, ia memang sering menginap. Bahkan Satria sudah pernah mengajaknya untuk tinggal bersama, tapi Alice masih membatasi diri untuk tinggal bersama dengan sang kekaih. Hingga detik ini, ajakan menikah belum pernah terlontar dari mulut pria itu. Jangankan menikah, ajakan bertunangan pun belum pernah diucapkan Satria.
“Kamu bisa pakai bajuku, Al.”
“Hmm, oke.”
Alice sudah berganti dengan kaos milik Satria yang kebesaran di tubuh, kini mereka sudah berbaring di kasur luas milik pria itu. Tangan Alice memainkan dada bidang Satria, membentuk pola abstrak di sana. Sementara tangan Satria mengusap punggung Alice dengan lembut, naik turun secara berirama seperti sedang menidurkan bayi.
“Besok kamu kuliah pagi?” tanya Alice.
“Hmm,” gumam Satria merasakan nyaman oleh tingkah Alice.
“Besok bisa jemput aku?”
Satria membuka mata dan mengernyit. “Kamu mau ke mana?”
“Mau cari barang untuk tugas Bu Dita.”
Satria memeluk erat Alice. “Maaf, besok aku nggak bisa.”
“Nggak apa-apa. Besok aku bisa pergi sama Adi,” ucap Alice dengan suara teredam.
Satria melepaskan pelukan mereka dan menatap Alice, sementara Alice mengernyitkan dahi dan mendongak untuk melihat wajah tampan kekasihnya itu.
“Besok aku antar kamu, tapi setelah urusanku selesai.”
Alice menggeleng. “Kalau kamu sibuk nggak apa-apa…”
CUP!
Satria mengecup kilat bibir merah muda Alice. “Aku nggak suka dibantah atau kamu mau dapat hukuman dariku.”
Alice mendengus dan hanya mengangguk paham. Ia pikir hukuman yang di maksud Satria hanya omong kosong belaka, tapi ternyata Alice salah.
...🦋🦋🦋...
__ADS_1
Hukuman apa yang di maksud Satria? 🤔🤔