Butterfly

Butterfly
Selesai


__ADS_3

Warning! Area 🔞 harap bijak dalam membaca, yang merasa belum cukup umur skip dulu.


...🦋🦋🦋...


Pagi telah menjelang. Tidur Alice terganggu saat silau sinar mentari masuk melalui celah jendela kamar hotel yang gordennya sedikit tersibak. Perlahan Alice membuka matanya. Pandangannya menelisik sekitar, mencoba mencari tahu dimana dia berada. Nyawa yang belum terkumpul membuat kernyitan dahi tercipta di dahi gadis itu.


Namun, tidak memerlukan waktu yang lama baginya untuk mengingat semua peristiwa kemarin. Alice menoleh ke kanan, dimana ada Rian yang masih tertidur pulas. Napas pria itu terdengar teratur dengan dengkuran halus. Ada rasa sesak yang kembali muncul saat melihat wajah tampan di depannya itu.


“Pagi, Sayang,” sapa Rian yang tiba-tiba membuka matanya.


Alice terlonjak kaget saat melihat sang suami tiba-tiba saja membuka matanya. Sebuah senyum terbit di bibir pria itu. Apakah Rian pura-pura tidur?


“Pa… pagi,” jawab Alice terbata.


Cup!


Sebuah morning kiss Rian berikan untuk Alice. Sementara gadis itu gelagapan karena mendapat serangan mendadak. Rian masih belum menjauhkan wajahnya, dia mengabsen setiap inci wajah Alice dari dekat. Deru napas keduanya saling beradu. Sementara wajah Alice sudah mulai memerah menahan malu, jarak mereka terlalu dekat.


Lagi, Rian ‘memakan’ bibir Alice yang terlihat sangat menggoda. Pria itu bagaikan kehausan, ia memperdalam ciumannya. Mencecap, menggigit-gigit kecil, dan menuntut Alice untuk membuka mulutnya karena Rian hendak mengabsen seluruh gigi gadisnya itu. Namun, tanpa di sangka Alice malah mendorong Rian cukup kencang membuat pagutan mereka terlepas begitu saja. Rian menatap Alice dengan tatapan protes. Sedangkan Alice sudah menunjukkan ekspresi kesalnya.


“Alice belum memaafkan Mas Rian,” ucap Alice hendak bangun.


Rian menghembuskan napasnya. Lalu dia menarik Alice hingga gadis itu kembali terjatuh ke ranjang, bahkan kini jatuh ke dalam dekapan hangat Rian.


“Aku akan ceritakan semua,” kata Rian memeluk erat Alice.


Sementara Alice menelan ludahnya susah payah. Dadanya bergemuruh hebat, dia sangat sadar jika posisi mereka saat ini akan menimbulkan alarm bahaya.


“Wanita kemarin itu adalah Luna, sahabatku sejak kita SMA dulu,” jelas Rian.

__ADS_1


Selanjutnya, pria itu mulai menceritakan kisah hidupnya. Mulai dari Luna yang pernah menyatakan perasaan padanya hingga balasan jahat yang Rian berikan untuk wanita itu. Alice hanya mendengarkan cerita Rian. Ia hendak melonggarkan pelukan erat Rian, tapi pria itu tidak mengizinkannya. Padahal Alice sangat ingin melihat bagaimana ekspresi Rian saat ini.


“Tapi, apa Mas Rian pernah suka pada Mbak Luna?” tanya Alice memberanikan diri.


“Sama sekali nggak pernah. Bahkan terlintas di bayangan pun tidak pernah,” jawab Rian tegas.


Ada perasaan lega sekaligus menyesal dalam diri Alice setelah mendengar semua cerita Rian. Lega karena ternyata Rian tidak memiliki perasaan yang sama dengan Luna, menyesal karena Alice harus membuka luka lama milik pria itu. Tadi Rian juga menceritakan tentang sang Papa yang pergi meninggalkannya beserta Reni.


“Aku sudah ceritakan semuanya. Kamu masih marah?” tanya Rian, kini dekapan itu sedikit melonggar dan ia bisa melihat wajah sang istri.


“Maaf, Mas. Alice terlalu kekanakan dan egois kemarin. Alice benar-benar minta maaf karena Mas Rian harus menceritakan luka masa lalunya.”


Rian tersenyum dan menggeleng. “Kamu juga berhak tau, Al. salahku juga yang berusaha menutupi. Kamu juga bisa ceritakan masa lalumu padaku jika kamu tidak keberatan. Aku sudah berjanji akan selalu melindungimu dan menjagamu.”


“Maaf, Mas.”


Rian menghembuskan napasnya, sepertinya memang Alice masih belum ingin bercerita. Alice memaksakan senyum terbaiknya dan mengangguk. Rian kembali membawa gadisnya ke dalam dekapan hangatnya.


“Ayo mandi lalu sarapan,” bisik Rian tepat di telinga Alice.


Alice mengangguk dalam dekapan Rian dan melepas pelukan mereka. Baik Alice maupun Rian turun dari ranjang, keduanya berjalan bersama menuju kamar mandi kamar ini.


“Mas Rian mau mandi dulu?” tanya Alice pada Rian yang berdiri di belakangnya.


“Ayo kita mandi bareng,” jawab Rian tersenyum.


“Ya?” tanya Alice dengan ekspresi blank.


Alice membulatkan matanya saat Rian mendorong tubuhnya masuk ke dalam kamar mandi. Bahkan pria itu langsung membantu Alice menanggalkan pakaiannya. Wajah Alice sudah merah padam. Entah apa yang selanjutnya akan terjadi, Alice tidak mampu untuk membayangkannya. Setelah menanggalkan pakaiannya sendiri, Rian menuntun Alice masuk ke dalam bathtub. Keduanya berendam di sana.

__ADS_1


Keduanya sama-sama terdiam, Alice benar-benar malu saat ini. Gadis itu terkejut saat tiba-tiba Rian melayangkan ciumannya pada tengkuk Alice. Kulit Alice dibuat merinding oleh permainan Rian di tengkuknya. Entah apa yang dilakukan oleh pria itu, tapi Alice menyukainya. Hal selanjutnya yang terjadi sudah dapat ditebak. Kedua insan itu menyatukan raga mereka.


“Sayang? Kamu masih…” Rian membulatkan matanya mengetahui fakta itu.


Alice menundukkan kepalanya mendengar pertanyaan Rian. Gadis itu hanya mampu mengangguk. Benar, Alice belum pernah terjamah oleh siapa pun. Bahkan Satria belum pernah melakukannya. Dahulu mereka hanya sebatas berciuman atau berpelukan. Walau sering tidur bersama, keduanya tidak pernah melewati batas.


“Aku sangat beruntung,” bisik Rian, lalu pria itu bertambah semangat memompa juniornya.


Suara gemericik air dari shower yang mengalir beradu dengan suara merdu Alice yang sedang merasakan kenikmatan dunia yang baru dia rasakan kali ini. Tidak hanya Alice, Rian pun merasakan hal yang sama. Keduanya mencapai puncak bersama setelah beberapa menit lamanya bermain. Alice terkulai jatuh dalam pelukan Rian, dia benar-benar lemas. Di bawah sana darah mengalir tersapu oleh air. Darah yang menandakan bahwa Alice sudah benar- benar menjadi seorang wanita.


“Terima kasih, Sayang,” ucap Rian mengecup bahu Alice yang tereskpos.


Kini keduanya melanjutkan ritual mandi mereka. Mandi yang benar-benar mandi. Beberapa jam berada di bawah guyuran air membuat Alice lama-kelamaan kedinginan. Rian yang mengetahui sang istri menggigil kedinginan pun segera memakaikan handuk pada tubuh gadis… ah sekarang Alice menjadi seorang wanita seutuhnya. Rian menggendong Alice dan membawanya keluar dari kamar mandi. Membaringkannya di atas ranjang lalu menyelimuti tubuh wanita itu.


“Maaf,” gumam Rian.


Alice menatap Rian, ada senyum di bibir wanita itu. “Kenapa minta maaf, Mas?”


“Pasti kamu kesakitan,” kata Rian, tangannya terulur mengusap dahi Alice.


“Alice nggak tau kalau rasanya sesakit ini,” ucap Alice, “Tapi sakitnya cuma sebentar,” lanjutnya.


Wajah Alice merah padam saat mengatakan hal itu. Dia menyembunyikannya dalam dada bidang Rian yang masih bertelanjang dada.


“Berarti kamu mau lagi?” tanya Rian mengerling jahil pada Alice. Alice hanya memukul dada Rian, sementara pria itu tertawa.


...🦋🦋🦋...


Hiks Othornya masih polos kok 🤧🤧 pas ngetik ini lagi kesurupan 🤸‍♀️🤸‍♀️🤸‍♀️

__ADS_1


__ADS_2