Butterfly

Butterfly
Sandra


__ADS_3

Pintu dibuka dengan kasar sehingga menimbulkan suara nyaring membuat Sandra spontan menoleh ke sumber suara. Mata wanita itu membulat sempurna saat mengetahui siapa yang datang kemari. Raut wajah takut dan cemas tercetak jelas di wajah itu. Kevin tersenyum miring melihat keadaan Sandra yang terbaring di atas ranjang rumah sakit. Pria itu berjalan mendekat pada Sandra, hal itu membuat wanita itu mencengkeram pinggiran selimut dengan kencang.


“Ternyata lo turutin apa kata gue,” ucap Kevin masih dengan senyum yang dimata Sandra terlihat sangat menakutkan.


“Kali ini, lo harus bisa taklukin pria brengsek itu…”


“Nggak! Gue nggak mau! Lebih baik gue mati…”


“Itu tujuan gue! Ajak mati sekalian kalo perlu. Lebih bagus kalau kalian mati bersama, kalian bisa sama-sama berada di akhirat. Itu yang lo inginkan, kan? Selalu bersama dengan pria brengsek itu,” potong Kevin, matanya menatap tajam pada Sandra. Namun, bibirnya masih menyunggingkan senyuman.


“Rian nggak bakal bisa takluk, dia udah temuin orang yang dia cinta.”


“Lo salah! Setidaknya dia masih ada rasa peduli sama lo, karena bagaimana pun pria brengsek itu pernah suka sama lo.”


“Kenapa lo bertindak sejauh ini?” gumam Sandra menatap sendu pada Kevin.


“Tentu gue punya alasan,” jawab Kevin terkekeh.


Setelah kepergian Kevin, Sandra masih termenung. Kata-kata pria iblis tadi masih terngiang di dalam kepalanya. Sampai detik ini Sandra masih belum tahu apa motif Kevin bisa bertindak sangat kejam seperti itu. Dia hanya tahu jika Kevin dan Rian dulunya pernah bersahabat. Namun, Sandra tahu hal itu dari mulut Rian yang memang pernah menceritakan sedikit kisah hidupnya. Berbeda dengan Kevin yang tidak pernah menyinggungnya sama sekali.


Pertemuan Sandra dengan dua pria itu sangat mengubah hidupnya. Pertemuannya dengan Kevin merupakan sebuah kesalahan yang sangat Sandra sesali hingga saat ini. Bagaimana dulu dia sudah mengkhianati Rian yang memberi kepercayaan padanya. Dahulu memang pria itu pernah sangat mencintainya. Akibta dari kebodohannya, kini Sandra menjadi terjerumus dalam lingkaran setan milik Kevin dan sepertinya tidak akan pernah bisa keluar dari sana.


“Gimana keadaan lo?” tanya sebuah suara membuyarkan Sandra dari lamunannya.


Sandra menoleh dan mendapati Rian dengan pakaian operasi berdiri di ambang pintu dengan tangan bersedekap. Wanita itu menatap sedih pada pria yang hingga kini masih sangat dia cintai. Hidup sangat tidak adil baginya, mengapa pria itu dapat berubah dengan cepat? Sementara saat ini, dirinya sangat tersiksa dengan rasa cinta yang kian hari kian tumbuh.


“Udah mendingan,” gumam Sandra lirih.

__ADS_1


Rian berjalan mendekat pada Sandra. Sementara rasa bersalah terus terasa menyesakkan dada wanita itu.


“Lo sadar apa yang lo lakuin kemarin?” tanya Rian menatap tajam pada Sandra.


Sandra menundukkan kepalanya, air matanya menetes keluar dari kedua matanya. Hidupnya benar-benar sudah hancur. Kini tidak ada seorang pun di sisinya dan hal itu membuatnya takut, apalagi ada beban sangat berat yang saat ini harus dia tanggung. Ada kehidupan lain di dalam dirinya.


“Tolong bawa aku pergi, Ian.” Hanya kata itu yang mampu keluar dari mulut Sandra.


Sandra benar-benar putus asa, setidaknya saat ini dia harus bisa terbebas dari cengkeraman Kevin terlebih dulu. Saat ini wanita itu akan berusaha untuk melupakan perasaannya pada pria didepannya yang sedang menatap dengan kernyitan di dahi.


“Sebenarnya apa yang Kevin lakukan?” tanya Rian.


Sandra menggeleng, dia tidak ingin menceritakannya pada Rian. Wanita itu tidak mau menyakiti hati Rian. Walau bagaimana pun semua ini salahnya dan dia tidak ingin Rian sakit hati, juga tidak ingin pria itu marah lalu menjauhinya. Terdengar egois memang, Sandra masih tidak rela jika Rian menjauhinya. Melihat Sandra yang hanya diam, membuat Rian menghembuskan napasnya.


“Sekarang lo jawab jujur! Anak yang ada di kandungan lo itu bukan anak gue, 'kan?” tanya Rian.


“Lo jawab pertanyaan gue atau gue nggak mau bantu lo,” ancam Rian tajam.


Sandra mendongak. “Dia bu… bukan anak kamu,” jawab Sandra dengan terbata.


Sandra menatap nanar melihat ada guratan lega di wajah tampan Rian. Wanita itu memejamkan matanya menahan rasa sakit yang menghunus dadanya. Terasa sangat perih dan ada luka yang menganga di sana. Namun, setidaknya hal itu dapat membuatnya terlepas dari jerat seorang Kevin.


Rian bersedia membantunya, membawanya ke sebuah tempat terpencil yang berada di pinggiran kota setelah nanti keluar dari rumah sakit. Ada sedikit angin segar yang berhembus untuk Sandra. Wanita itu bertekad untuk hidup lebih baik kedepannya, membesarkan anaknya seorang diri. Walaupun dia sendiri juga sangsi, apakah mampu atau tidak.


...🦋🦋🦋...


Sandra menatap sebuah rumah yang berdiri kokoh di depannya. Sebuah rumah sederhana dengan pekarangan yang cukup luas. Desain rumah pada umumnya yang ada di pedesaan. Senyum Sandra terbit, wanita itu dapat menghirup udara sejuk yang terasa menyegarkan. Sementara di belakangnya ada Rian yang sedang menurunkan koper-koper milik wanita itu.

__ADS_1


Hari ini Rian membawa Sandra ke sebuah rumah miliknya yang dia beli beberapa tahun lalu. Rumah yang biasanya menjadi tempat untuknya mencari ketenangan dari hiruk pikuk perkotaan yang bising. Tidak ada yang tahu tentang rumah ini, entah itu Bu Reni atau Alice. Mengingat tentang Alice, membuat Rian merasa bersalah. Pasalnya pria itu tidak menceritakan apapun perihal keputusannya ini. Rian hanya tidak ingin gadisnya itu terlibat masalah rumit hidupnya dan tidak ingin menjadi terbebani nantinya.


“Ian, aku ada satu permintaan lagi,” ucap Sandra menoleh pada Rian.


Sementara Rian mengernyitkan dahi, tapi ekspresinya seakan bertanya pada wanita di depannya itu.


“Tolong jadi ayah buat anak ini nanti,” kata Sandra.


Rian membulatkan matanya mendengar permintaan Sandra itu. Pria itu hendak melayangkan ketidaksetujuannya. Namun, sudah lebih dulu dipotong oleh Sandra.


“Kamu nggak perlu menikah denganku. Hanya sebagai sosok yang bisa dia panggil ayah,” jelas wanita itu. Rian terdiam, menimang-nimang sebelum menjawab.


“Oke,” jawab Rian akhirnya.


GREP!


Sandra spontan memeluk Rian. Sementara pria itu terkejut dan hendak melepas pelukan Sandra. Namun, wanita itu memeluknya sangat erat.


“Terima kasih banyak, Ian,” ucap Sandra yang terdengar tulus di telinga Rian.


Sandra menatap kepergian Rian, wanita itu terlihat sangat bahagia saat ini. Bebannya terasa sedikit berkurang. Setelah mobil yang Rian kendarai benar-benar hilang dari penglihatannya, barulah Sandra masuk ke dalam rumah.


“Jadi begini rasanya bisa bebas?” gumam Sandra tersenyum bahagia, “Akhirnya gue bisa terlepas dari bayang- bayang pria iblis itu,” lanjutnya.


...🦋🦋🦋...


Apakah Sandra bener-bener bisa bebas? 🤔🤔

__ADS_1


__ADS_2