Butterfly

Butterfly
Baku Hantam


__ADS_3

Kevin tersenyum miring melihat raut wajah Rian yang terlihat tak bersahabat. Sebuah kebetulan dirinya bertemu dengan dua orang ini. Kevin pikir Alice datang seorang diri, ternyata perkiraannya salah. Pria itu lalu berjalan mendekat pada meja wanita itu. Awalnya Alice tidak mengenali Kevin. Namun, pria itu segera menjelaskan siapa dirinya.


“Gue teman Rian. Gue juga pernah ke kedai es krim nyokap Rian beberapa waktu yang lalu,” jelas Kevin menjawab rasa penasaran Alice.


Alice mengangguk dan seketika teringat dengan pria di depannya ini. Pria yang dianggap aneh oleh Alice beberapa waktu yang lalu saat ada di kedai es krim. Namun, yang mengganjal di dalam hati Alice adalah mengapa Kevin tidak diundang ke pernikahan mereka.


Jika memang Kevin adalah teman Rian, pasti pria itu akan datang ke pesta pernikahan Rian dan Alice. Tapi yang Alice lihat kemarin, Kevin datang bersama dengan Luna. Ya, Alice melihat semuanya walau percakapan mereka terdengar samar di indera pendengarannya. Kini, di antara Alice terdapat dua pria yang sedang adu tatap. Entah mengapa sepertinya hubungan keduanya terlihat kurang baik.


“Kalo gitu gue permisi dulu,” pamit Kevin beranjak dari kursinya.


“Tunggu!” tahan Rian.


Baik Kevin maupun Alice manatap Rian bersamaan. Namun, tatapan keduanya mengandung arti yang berbeda. Kevin menaikkan satu alisnya, tatapannya seolah bertanya pada Rian.


‘Ada apa?’


“Di mana Luna?” tanya Rian menatap tajam pada Kevin.


Alice tidak menduga jika Rian akan mempertanyakan keberadaan wanita itu. Ada sesuatu yang menyakitkan menusuk dada Alice setelah mendengar pertanyaan Rian untuk Kevin itu. Sementara Kevin tidak langsung menjawab, matanya melirik pada Alice yang sedang menundukkan kepala..


“Sepertinya sekarang lo nggak berhak mempertanyakan keberadaan Luna,” jawab Kevin tersenyum miring.


“Gue mau ketemu sama dia,” kata Rian mengabaikan ucapan Kevin tadi. Bahkan tanpa sadar juga mengabaikan perasaan Alice.


Alice masih diam, saat ini dia tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Resto ini cukup ramai dan pastinya sebentar lagi mereka akan menjadi bahan tontonan para pelanggan resto. Sepertinya Rian menyadari hal itu, ia pun mengajak Kevin untuk berbincang di luar resto. Alice yang ditinggalkan begitu saja, akhirnya berlari mengekori dua pria itu. Dia juga penasaran apa yang akan dibicarakan oleh dua orang itu.


Rian dan Kevin berdiri berhadap-hadapan. Terlihat jelas bahwa Rian sedang menahan emosinya. Rian sangat mengenal siapa itu Kevin. Seorang pria playboy yang hobi mempermainkan perasaan wanita. Bahkan pria itu berhasil menggaet Sandra yang notabene mantan kekasih Rian. Semenjak tahu hubungan gelap antara Kevin dan Sandra, pertemanan di antara Rian dan Kevin mulai retak.


“Lo yang bawa Luna pergi kemarin, di mana dia sekarang?” tanya Rian.


Kevin tertawa mendengar pertanyaan yang sama dari mulut Rian. “Kenapa baru lo cari sekarang, hah?”

__ADS_1


“Sial, lo pikir selama ini gue nggak cari keberadaan dia? Gue selalu dihantui oleh rasa bersalah…”


“Lo pantas mendapatkannya,” potong Kevin masih dengan ekspresi yang menyebalkan.


“Apa lo bilang?”


“Lo pantas dihantui oleh rasa bersalah, bahkan selama sisa hidup lo. Lo nggak pantas menerima maaf dari Luna, Brengs*k!”


Rian terkejut mendengar umpatan yang dilontarkan oleh Kevin untuknya. Emosi Rian mulai tersulut, spontan dia mencengkeram kerah kemeja yang Kevin kenakan.


“Apa ucapan gue barusan salah?” tanya Kevin yang masih terlihat santai.


“Lo…” Rian menunjuk tepat di depan wajah Kevin.


“Kenapa? Lo sadar sekarang? Semua ucapan gue tadi benar. Lo nggak akan pernah mendapat maaf dari Luna.”


BUKK!


“Lo nggak berhak menghakimi gue, Brengs*k!” bentak Rian, “Setelah apa yang lo rebut dari gue,” lanjutnya.


Tawa Kevin makin menjadi, dia mengusap darah di sudut bibirnya dengan kasar. Matanya menatap tajam pada Rian, tatapan yang dapat menghunus.


“Ah, si wanita jal*ng itu yang lo maksud?” tanya Kevin terkekeh.


“Brengs*k!”


Kevin tidak menghindar saat pukulan itu datang. Pria itu seolah pasrah mendapat berbagai bogeman pada ulu hati juga wajahnya. Tentu melihat sang suami yang lepas kendali, Alice segera menghampiri mereka. Berusaha melerai dengan suaranya, bahkan tangis Alice sudah pecah melihat bagaimana ekspresi Rian yang kesetanan menyerang Kevin.


PRITTT!


Sebuah bunyi peluit nyaring berhasil menghentikan ulah Rian. Dua orang polisi yang kebetulan lewat menghentikan perkelahian itu. Dua polisi itu sepertinya hendak makan malam di resto ini.

__ADS_1


“Mari ikut kami ke kantor,” ucap salah satu polisi itu.


“Tapi, Pak.” Alice berusaha menahan polisi yang hendak membawa Rian itu.


“Anda siapa?” tanya polisi itu pada Alice.


“Saya…”


“Al,” potong Rian, pria itu menggeleng pelan.


“Silahkan, anda juga ikut ke kantor sebagai saksi.”


Mendengar hal itu, Rian memberontak. Pria itu tidak terima jika Alice juga harus terlibat. Namun, Alice segera menenangkan Rian yang memang emosinya masih belum terkontrol. Perbuatan Rian tentu akan sangat merugikan diri sendiri. Akhirnya mereka bertiga dibawa ke kantor polisi terdekat untuk dimintai keterangan karena telah dianggap menganggu ketertiban umum.


Di sini Kevin menjadi korban penyerangan, pria itu yang memiliki bukti konkret bahwa dia diserang. Namun, Kevin memilih jalur damai dan tidak memperpanjang masalah. Pria itu diperbolehkan meninggalkan kantor polisi lebih dulu. Baru kemudian Rian dan Alice diperbolehkan meninggalkan kantor polisi.


Rian masih terlihat sangat kalut, terlihat dari wajahnya yang berantakan. Alice melihat tangan Rian yang terluka, wanita itu menyentuh tangan Rian. Sentuhan tangan Alice membuat pria itu terkejut.


“Al, maaf,” ucap Rian merasa sangat bersalah pada Alice.


“Obatin dulu lukanya, baru nanti cerita,” balas Alice.


Walau terlihat tenang, tapi dalam hati Alice juga merasa khawatir dengan keadaan Rian saat ini. Baru pertama kali ini Alice melihat sosok yang berbeda dari Rian. Dimana Rian terlihat sangat kalut da nada secercah rasa putus asa. Sepertinya.


Tangan Rian sudah diobati oleh Alice. Tadi mereka singgah terlebih dulu di sebuah apotek yang berada tidak jauh dari sana. Kini mereka sedang dalam perjalanan untuk pulang. Malam sudah sangat larut dan keduanya gagal makan malam. Rian menoleh ke samping, dimana ada Alice yang sedang tertidur. Jelas terlihat wajah lelah di sana. Rian mencengkeram stir mobilnya erat.


“Maaf, Al. Lagi-lagi aku mengecewakanmu, apakah sampai saat ini aku berhak berada disisimu?” gumam Rian.


Dia mengacak rambutnya frustasi. Mengapa masalah selalu datang silih berganti, bahkan di saat masalah yang lalu belum terselesaikan. Masalah yang kian lama makin menumpuk tanpa ada solusi penyelesaiannya.


...🦋🦋🦋...

__ADS_1


Tambah gemes sama Rian ga kalean 🤔🤔


__ADS_2