
“ Irena”, sapa Viran saat melihat Irena ada didepan pintu ruang olaraga. Irena pun tersenyum saat melihat Viran. “ Sedang apa?”, tanyanya.
“ Melihat anak basket latihan”, jawab Irena. “ Walaupun aku sudah menyerah, tapi setidaknya aku ingin melihat Revan”.
“ Revan?”. Irena pun mengangguk. “ Revan ada disini?”. Irena pun mengangguk lagi.
“ Kenapa reaksimu seperti itu?”.
“ Apa yang dilakukannya disini”, celotehnya tanpa memperdulikan pertanyaan Irena. Irena pun semakin bingung ketika melihat Viran mendatangi Revan yang sedang latihan.
“ Revan!!”. Ia pun menoleh.
“ Sedang apa kamu disini”.
“ Seharusnya aku yang bertanya seperti itu”.
“ Bisakah kamu meninggalkan lapangan, kami sedang latihan”.
“ Revan, kamu pikir ini sudah jam berapa?”.
“ Jam 3”.
“ Kalau kamu sudah tahu kenapa kamu masih disini, Hana pasti menunggumu disana”.
“ Aku tidak bilang akan pergikan”.
“ Revan aku tahu kamu marah karena kamu cemburu melihatku bersama dengan Hana, tapi percayalah setiap yang keluar dari mulut Hana selalu membicarakanmu. Sekarang ini ada yang benar-benar Hana ingin katakan padamu”.
“ Lalu?”.
“ Revan, kamu pasti akan menyesal”.
“ Tidakkah kamu melihat kalau orang-orang sedang memperhatikan kita, tolong pergilah dari lapangan”.
“ Hana masih hidup”, ujar Viran yang membuat Revan terkejut.
“ Apa?”.
“ Kita pernah membicarakan ini kan, kecurigaanmu dan juga kecurigaanku terbukti benar, Hana masih hidup. Inilah yang ingin dia katakan padamu”.
“ Kenapa hal sebesar ini kamu sembunyikan dariku”, tanyanya seraya menarik baju Viran.
“ Tidak ada gunanya kamu marah padaku”, jawabnya.
Mendengar ucapan Viran, Revanpun bergegas pergi menemui Hana. Orang-orang yang ada disekitar mereka menjadi bingung dengan apa yang mereka lihat tadi.
Revan terus melihat jam tangannya, sudah lewat dari waktu yang diucapkan oleh Hana. Revan terus berdoa semoga Hana masih ada ditempat itu. Tapi apa daya saat ia tiba, Hana sudah tidak ada. Revan mencarinya kemana-mana dan terus memanggil namanya tapi Hana tidak muncul. Tidak ada yang bisa diperbuatnya dan hanya penyesalan yang tersisa, Hana tidak akan muncul lagi.
“ Hana!!!!!!”, teriaknya.
10 TAHUN KEMUDIAN.......
__ADS_1
“ Itukan dokter Revan”, ujarnya. “ Wah....dia benar-benar keren”.
“ Dokter Revan memang keren, semenjak dia ada dirumah sakit seperti ada aura yang baik dirumah sakit ini”.
“ Iya, tapi lihat aja banyak suster ganjen yang terus cari perhatian”.
“ Iya, kita cuma bisa lihat dia dari tempat ini”.
“ Dokter Revan udah punya pacar belum ya??”.
“ Dari gosip yang aku dengar kalau dokter Revan sudah punya pacar sejak masih SMA”.
“ Apa?? nggak salah udah selama itu?”.
“ Iya, awet”.
“ Wah....beruntung banget tuh cewek, pengen lihat seperti apa cewek yang sudah membuat dokter Revan seperti itu”.
“ Kamu benar”.
Sudah 10 tahun terlewati dan sekarang Revan sudah menjadi dokter seperti apa yang dikatakannya waktu itu. Hana....sejak Hana menghilang, Revan tidak tahu harus bagaimana dan sewaktu Viran menceritakan semuanya, Revan mencarinya kerumah sakit, tapi Hana sudah tidak ada begitu juga dengan rumahnya. Hana seperti menghilang tanpa memberitahu apa-apa. Saat bertemu dengan Maika, Maika hanya mengatakan kalau mereka pindah ke Australia, mendengar itu ia tidak mengatakan apa-apa lagi, mungkin ini waktunya dia menunggu sama seperti Hana dulu menunggunya.
“ Dokter, sepertinya dokter harus istirahat, dokter kelihatan capek”.
“ Iya, terima kasih suster atas sarannya”,
ujarnya.
Dari kejauhan terdengar suara anak yang sedang menangis. “ Suara apa itu suster”.
“ Begitu, apa ada dokter yang menanganinya?”.
“ Dokter Nila, tapi sepertinya dokter Nila masih diruang operasi”.
“ Benarkah”. Revan pun keluar melihat situasi diluar. Betapa terkejutnya ia begitu melihat wanita itu yang mirip dengan Hana. Anak yang bersamanya terus menangis dan dia pun menenangkannya.
“ Rubi”, seru seseorang dan anak yang bersama dengan wanita itu pun mendatanginya dan memeluknya dengan erat. “ Mama”, ujarnya menangis.
“ Ibu Hana, ibu tidak apa-apa”, tanyanya.
“ Tidak apa-apa”, jawabnya.
“ Ibu Hana Yefrianda”, panggil seorang suster yang membuat Revan semakin yakin kalau itu adalah Hana.
“ Hana”, gumam Nezu.
Hana pun mengikuti suster yang memanggilnya.
“ Suster, apa dokter Nila sudah keluar dari ruang operasi?”.
“ Belum dokter”.
__ADS_1
Revan pun bergegas menuju ruang tempat Hana berada.
“ Dokter”.
“ Kalau menunggu dokter Nila terlalu lama, serahkan padaku”.
“ Baik dokter”.
Revan pun mulai membersihkan tangan Hana. “ Bagaimana bisa seperti ini?”, tanyanya memulai pembicaraan.
“ Karena menyelamatkan muridku, tanganku terkena pecahan kaca”.
Sejenak mereka diam lagi. Revan terlihat sibuk mengobati tangan Hana.
“ Kamu sudah jadi dokter yang keren”. Sejenak Revan terpaku. “ Revan, ah tidak dokter Revan”. Hana pun tersenyum begitu melihat Revan menatapnya.
“ Kamu juga menjadi guru yang sangat keren”.
Hana pun tersenyum.
“ Tentu”, ujar Hana.
“ Aku sangat merindukanmu, Hana. Kamu menghilang begitu saja, aku mencarimu dan Maika bilang kamu ada diluar negeri, sepertinya aku harus merasakan apa yang kamu rasakan dulu, aku harus menunggumu disini”.
“ Maafkan aku, begitu aku sadar, keesokan harinya kami sudah pergi, begitu tergesa-gesa, tapi itulah yang harus kami lakukan karena pekerjaan ayahku. Hal yang terberat untukku adalah melupakan apa yang terjadi antara aku, jin dan Rena, aku tidak ingin mengingatnya lagi.Ada hal yang ingin kulupakan tapi ada hal yang ingin aku ingat yaitu tentangmu dan juga orang-orang disekelilingku saat aku tertidur. Aku terus berusaha mengingatmu, tapi aku rasa itu bukan hal yang mudah. Dua tahun lalu aku kembali kesini, dasar memang takdir aku bertemu dengan Viran, entah bagaimana dia masih mengingatku, dia memberitahuku tentangmu semuanya dan juga tempat ini. Aku sudah memperhatikanmu sejak lama, tapi aku tidak memberitahukanmu karena aku ingin melihatmu, mengingatmu, ya....mengingat semuanya”.
“ Dasar hantu bodoh”. Revan pun memeluk Hana erat.
“ Entah mengapa aku rindu dengan kata-kata itu”, ujar Hana.
“ Aku tidak akan membiarkanmu pergi lagi”.
“ Lalu aku harus bagaimana”.
“ Menikahlah denganku”. Hana terdiam terpaku. “ Hana, menikahlah denganku”.
“ Revan, kamu benar-benar tidak romantis, tidak bisakah ada sebuah bunga atau cincin atau ditempat yang indah”.
“ Hana, apa kamu tidak bisa tidak memulai pertengkaran”.
“ Tidak”. Hana pun tersenyum lalu memeluknya. “ Kapan kita akan menikah”.
“ Setelah aku selesai mengobati tanganmu”. Hana pun melepaskan pelukannya dan memandanginya lalu sedetik kemudian mereka pun tertawa.
“ Hana, ini memang tidak seromantis yang kamu inginkan, tapi aku serius denganmu”, ujarnya.
Revan pun mengambil sehelai perban lalu merobeknya dan melingkarinya ke jari Hana.
“ Hana, menikahlah denganku”.
Hana pun menganggukkan kepalanya. “ Iya”.
__ADS_1
Revan pun tersenyum bahagia begitupula dengan Hana yang begitu terharu melihat sikapnya. Revan mengecup kening Hana lalu kedua matanya lalu menatap Hana kemudian memeluknya.
Diawali dengan pertemuan mereka yang tidak disangka-sangka, perjalanan kebersamaan mereka dengan segala macam cerita, lalu kepergian Hana yang begitu saja tanpa ada kabar dan sekarang pertemuan mereka kembali setelah sekian lama berpisah. Inilah yang dinamakan takdir, takdir yang memang digariskan untuk Hana dan Revan.