Butterfly

Butterfly
Masa Lalu Membawa Petaka


__ADS_3

Rian mencari keberadaan Alice. Sedari tadi pria itu belum bertemu dengan gadis yang baru dinikahinya pagi tadi. Acara pesta sudah berakhir dan para tamu undangan sudah mulai meninggalkan tempat pesta.


Bahkan para pegawai hoel sedang membereskan peralatan serta perlengkapan yang tadi digunakan di pesta ini. Mata tajam Rian menemukan sosok Alice yang sedang duduk di salah satu kursi. Dari punggung gadis itu, Rian sudah dapat menebak jika Alice sedang dalam keadaan tidak baik- baik saja. Rian berjalan menghampiri gadis itu.


“Al,” panggil Rian menyentuh bahu Alice.


Alice yang dari tadi asyik melamun terlonjak kaget mendengar panggilan itu. Spontan dia menoleh ke belakang dan mendapati wajah Rian yang sedang menatapnya. Ekspresi pria itu terlihat sangat merasa bersalah. Namun, Alice masih bungkam. Dia ingin Rian sendiri yang menjelaskan kejadian apa yang tadi baru terjadi dan siapa sebenarnya wanita yang tiba-tiba datang hingga menyebabkan Rian berekspresi sangat terkejut.


“Maaf, Al,” gumam Rian menundukkan kepalanya. Dia bersimpuh di depan Alice, meraih tangan gadis itu dan menggenggamnya erat.


“Mas Rian bisa jelaskan siapa tadi yang Alice lihat?” tanya Alice.


“Maaf, Al. Nanti akan aku ceritakan. Sekarang ayo kita masuk ke dalam, hari sudah mulai gelap,” ajak Rian.


Alice menggeleng. “Nggak, Mas. Mas Rian jelaskan dulu.”


“Nanti aku jelaskan di dalam. Aku butuh waktu, karena ini menyangkut masa laluku,” kata Rian menatap Alice penuh harap. Pria itu berharap jika Alice akan mengerti keadaannya.


“Alice cemburu, Mas. Tadinya Alice mau tidak peduli, tapi melihat Mas Rian dan wanita itu berpelukan, hati Alice mendadak sakit. Bagaimana Alice mau memaafkan Mas Rian, jika Mas Rian tidak mau menjelaskan?” ucap Alice, matanya memerah menahan air yang sudah mengumpul di pelupuk mata.


“Lalu bagaimana dengan kamu? Kamu juga tidak mau menceritakan masa lalu kamu. Kamu sendiri mneutup rapat tentang hidup kamu. Aku bukannya tidak mau menjelaskan, hanya saja beri aku waktu. Ya?”

__ADS_1


Alice tidak menjawab, dia melepas genggaman tangan Rian dan pergi meninggalkan pria itu. Berjalan memasuki hotel tanpa mempedulikan pria yang baru saja menjadi suaminya pagi tadi. Air mata Alice sudah mengalir keluar, dia berjalan menunduk dengan langkah lebar. Berharap cepat sampai ke kamarnya. Memang sebelumnya, Rian dan Alice akan menginap di hotel ini semalam selepas acara pesta resepsi dan menghabiskan malam bersama berdua. Namun, sepertinya rencana itu harus gagal total mengingat bagaimana hubungan mereka sekarang.


“Alice?” panggil seseorang. Namun, Alice tidak menghiraukan panggilan tersebut. Gadis itu masih terus berjalan hingga menghilang di dalam lift.


Alice menyenderkan tubuhnya di dinding lift yang membawanya naik menuju kamar tempatnya menginap. Berkali-kali gadis itu menyeka air mata yang tidak mau berhenti mengalir. Alice merutuki dirinya sendiri yang menganggap terlalu egois, tidak seharusnya dia memaksa Rian untuk berbicara. Namun, melihat bagaimana tatapan Rian untuk wanita tadi membuat Alice terbakar cemburu.


“Masa lalu sialan,” umpat Alice, dia menutup mulutnya agar suara tangisnya teredam.


Alice berjalan gontai memasuki kamar tempatnya menginap. Gadis itu benar-benar berantakan. Make up luntur dan sisa-sisa air mata di wajahnya membuat siapa saja yang melihatnya akan spontan menjerit histeris. Alice segera membersihkan diri, jiwa dan raganya benar-benar lelah. Gadis itu masuk ke dalam kamar mandi, berendam di bathtub dan merenungi apa yang baru saja terjadi.


Sementara itu, Rian masih bertahan di taman tempat pesta resepsi berlangsung tadi. Pria itu terlihat sangat kacau. Merutuki semua kebodohannya. Sebenarnya Rian ingin menceritakan semuanya pada Alice, tapi pria itu masih terkejut dengan kedatangan mendadak Luna. Wanita yang pernah Rian cari keberadaannya selama beberapa tahun lamanya. Wanita yang telah dia sakiti dahulu.


Langit sudah benar-benar gelap, cahaya lampu hotel menyala remang-remang di taman ini. Mendadak suasana menjadi terlihat romantis. Rian bangkit dari duduknya dan berjalan masuk. Pria itu bertekad akan memperbaiki hubungan mereka. Langkah Rian terhenti saat Reni menahan langkahnya.


“Nggak, Ma. Rian masuk dulu,” jawab Rian.


“Tunggu!”


Fia menahan langkah Rian yang tadi sudah hendak meninggalkan mereka. Alhasil mau tidak mau Rian kembali terhenti. Dengan malas pria itu berbalik dan menatap Fia.


“Gue lihat tadi Alice nangis. Lo apain dia?” tanya Fia menatap tajam Rian.

__ADS_1


“Gue bilang nggak ada apa-apa. Ini masalah gue sama Alice, jadi akan gue selesaikan sendiri.”


Final, Rian pergi dari sana. Meninggalkan Reni dan Fia yang menatap punggung itu. Fia menghembuskan napasnya. Dia hanya tidak ingin sahabatnya kembali terluka. Terlebih terluka karena seorang pria.


“Sebenarnya Tante juga khawatir, tapi biarkan mereka mencoba menyelesaikan masalahnya,” ucap Reni menghibur Fia yang terlihat cemas. Akhirnya Fia hanya bisa mengangguk dan mereka pergi darisana.


Rian memasuki kamar hotel tempatnya menginap. Hal pertama yang pria itu lihat adalah gelap. Lampu tidak ada yang menyala. Rian menekan saklar lampu dan netranya menatap sekitar. Pandangan Rian terhenti pada sosok yang sedang berbaring di tempat tidur. Pria itu pun hanya menghembuskan napasnya, dia berjalan menghampiri Alice. Ingin memastikan apakah gadis itu tidur atau tidak.


******* kecewa lolos dari mulut Rian, Alice sudah tidur. Rian pun memutuskan masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Mengguyur tubuhnya dengan air dingin di bawah shower.


Cukup lama Rian terdiam di bawah guyuran air dingin itu, dia tak mengacuhkan tubuhnya yang mulai menggigil kedinginan. Kurang lebih satu jam lamanya Rian berdiam diri di dalam kamar mandi. Setelah berganti pakaian, pria itu ikut merebahkan diri di sebelah Alice yang tidur memunggunginya.


“Sleep well, Dear,” bisik Rian pada Alice.


Sebenarnya malam belum terlalu larut, tapi entah mengapa Rian merasa sangat mengantuk. Tubuhnya terasa lelah, begitu pula dengan jiwanya. Permintaan Rian harus ditunda hingga nanti Alice mau mendengarkan semua penjelasannya.


Alice dan Rian tidak dapat menyalahkan masa lalu yang telah terjadi. Tiap orang memiliki masa lalu mereka sendiri dan di antara masa lalu itu pasti ada yang terasa sangat menyakitkan jika teringat kembali. Namun, perlu diingat bahwa masa sekarang tidak akan ada tanpa adanya masa lalu.


Jangan jadikan masa lalu sebagai kambing hitam dan terus menyalahkannya. Dari masa lalulah seseorang diajarkan untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama dan dapat terus maju melanjutkan hidup. Jadi jangan hanya terfokus pada masa lalu yang telah berlalu, karena masih ada hari esok yang harus di sambut.


...🦋🦋🦋...

__ADS_1


Masa lalu oh masa lalu 🤦‍♀️🤦‍♀️


__ADS_2