
Warning! Area 🔞 harap bijak dalam membaca, yang merasa belum cukup umur skip dulu.
...🦋🦋🦋...
Rian mengernyit mendengar ucapan Reni, di dalam hati ia juga penasaran apa sebenarnya permintaan sang mama. Reni memejamkan mata dan mengatur deru napasnya agar tetap tenang. Sementara Rian masih setia menunggu mamanya mengungkapkan yang ingin disampaikan.
“Nikahi Alice, Rian,” pinta Reni menatap putra semata wayangnya itu.
Rian membulatkan matanya mendengar permintaan sang mama, pria itu tentu senang. Namun mengingat gadis pujaannya itu hendak pergi sebentar lagi, membuatnya bersedih.
“Kenapa…”
“Mama terlanjur sayang pada Alice, jika kamu keberatan…”
“Rian tidak keberatan, tapi…”
Reni mengernyitkan dahinya. “Tapi apa?”
“Nggak ada, Ma. Baik, Ma. Rian akan berusaha mengabulkan permintaan Mama,” ucap Rian.
“Terima kasih, Rian,” kata Reni menggenggam tangan Rian.
Rian tersenyum dan mencium tangan Mamanya itu. Reni memejamkan matanya dengan senyum yang masih mengembang. Sementara Rian menatap wajah bahagia sang mama, tapi siapa sangka dalam hati kecilnya merasakan kekhawatiran.
‘Tapi, apa Alice setuju?’ batin Rian bimbang.
Suara dering ponsel membuyarkan lamunan pria yang masih asyik dengan berbagai pikiran rumitnya. Rian merogoh kantong celananya untuk mencari benda pipih itu. Rian mengernyitkan dahi saat melihat nama si penelpon. Seorang kenalan Rian dari bar yang sering pria itu kunjungi menelpon.
“Halo? Ada apa, Ron?”
“Gawat, bos. Sandra di paksa Kevin…”
“Bukan urusan gue, Ron,” potong Rian tak acuh.
__ADS_1
Namun, keributan di seberang sana juga mengusik pendengaran Rian, “Tunggu! Gue kesana, Ron.”
Rian segera menyambar kunci mobilnya dan segera keluar dari kamar rawat Reni. Saking tergesanya, pria itu tidak menyadari ada Alice yang berdiri di dekat pintu kamar rawat Reni. Alice mengernyit melihat Rian yang sepertinya sangat tergesa-gesa, seperti ada sesuatu yang sangat penting. Ia menghembuskan napas dan memutuskan untuk berbalik menuju ruangan milik Rian.
Sedangkan Rian sudah sampai di depan sebuah klub malam. Pria itu segera masuk dan mengedarkan pandangannya. Ia melihat Sandra yang sedang ditarik paksa oleh seorang pemuda yang kurang lebih seumurannya. Mereka menjadi tontonan beberapa pengunjung klub malam itu.
“Lepas, Kev. Gue nggak mau!” pekik Sandra histeris sambil berusaha melepaskan diri dari genggaman kuat Kevin.
“Jangan sok jual mahal lo! Ikutin perintah atau gue nggak akan tang…”
BUGGH!
Beberapa wanita dengan pakaian kurang bahan memekik terkejut melihat Kevin jatuh tersungkur menimpa meja hingga barang-barang di meja itu pecah berserakan. Kevin melihat siapa yang berani memukulnya dan tersenyum sinis, ia menjilat darah yang keluar dari sudut bibirnya.
“Kalo cewek lo nggak mau. Nggak usah maksa, bro!”
Kevin bangkit dan menatap tajam Rian, pria itu mengepalkan kedua tangannya. Emosinya sudah memuncak. Adu jotos pun tidak dapat terelakkan. Sandra menggigil ketakutan dengan tangis makin histeris. Beberapa pekerja bar mencoba memisahkan dua pria itu.
“Ian! Udah cukup! Stop!” pekik Sandra meraih lengan Rian dan memeluknya erat.
Rian mengantar Sandra pulang menuju apartemen wanita itu. Wanita itu masih menangis, tapi tatapannya mengarah ke luar jendela. Keheningan menemani mereka berdua, hanya suara hujan di luar sana yang menjadi pemecah. Mobil Rian memasuki basement apartemen dimana Sandra tinggal.
“Masuklah!” perintah Rian masih menatap Sandra dengan tatapan datar.
Hati Sandra sakit melihat perubahan pria di depannya ini, kemana Rian yang dulu sangat mencintainya itu? Mengapa secepat ini Rian berubah sikap padanya? Kemana hilangnya rasa cinta Rian untuknya?
“A… aku takut Kevin akan datang ke apartemenku,” gumam Sandra lirih, tapi masih terdengar di telinga Rian.
Rian menghembuskan napasnya, ia pun keluar dari mobil diikuti Sandra yang juga ikut keluar. Mereka berdua berjalan bersama menuju unit apartemen wanita itu. Wajah wanita itu masih menampilkan rasa takut juga gugup, masih terbayang bagaimana tadi Kevin memaksa dirinya untuk menemani tidur salah satu temannya.
Tangan Sandra bergetar menekan angka-angka di pintu apartemennya, sementara Rian masih sabar menunggu hingga wanita itu selesai. Pintu terbuka membuat dalam hati Rian bernapas lega, dirinya harus cepat kembali ke rumah sakit.
“Udah, kan? Gue mau…,” ucapan Rian terhenti saat tangan lembut Sandra menahan lengannya. Tangan wanita itu sangat dingin, kentara sekali jika masih merasa takut.
__ADS_1
“Te… temani aku malam ini, Ian. A… aku benar-benar takut sendirian,” ucap Sandra dengan wajah memohon.
Rian menghembuskan napasnya, ia pun menurut. Pria itu masuk ke dalam, membuat Sandra tersenyum senang.
“Mau minum apa?” tanya Sandra menatap Rian yang sudah duduk di sofa.
“Nggak perlu, gue nggak haus.”
“Hmm, oke. Aku ganti baju dulu,” ucap Sandra tersenyum lirih.
Rian hanya menganggukkan kepalanya, selanjutnya pria itu sibuk dengan ponselnya. Tidak lama Sandra keluar setelah berganti baju. Rian melirik sekilas, tapi langsung cepat-cepat mengalihkan pandangannya kembali pada ponsel. Sandra tersenyum melihat gerak- gerik Rian, ia menuju dapur untuk mengambil segelas air. Lalu kembali dengan segelas air, wanita itu minum di depan Rian dengan gerakan yang membuat pria manapun akan segera menerkam.
Melihat Rian yang masih belum berkutik membuat Sandra mendengus, ia meletakkan gelasnya di meja. Lalu tingkah Sandra selanjutnya membuat mata Rian membulat seketika. Wanita itu tanpa permisi duduk di pangkuannya.
“San, turun!” perintah Rian tajam.
Sandra menghiraukan perintah Rian, selanjutnya wanita itu memeluk erat leher Rian. Sandra memberi kecupan-kecupan kecil disekitaran leher Rian. Sementara Rian masih berusaha menolak perilaku menggoda Sandra. Namun pria itu tidak bisa berbohong, Sandra tersenyum di sela kecupannya saat merasakan sesuatu di sana gelisah.
“Sebentar saja,” bisik Sandra di telinga Rian.
Sandra semakin bersorak gembira saat Rian mulai menyerangnya. Udara dingin dengan hujan deras di luar sana menjadi saksi pertempuran mereka berdua. Namun saat hendak mencapai *******, tiba-tiba sekelebat raut wajah kecewa gadis yang Rian cintai terlintas. Membuat pria itu seketika tersadar. Rian mengerang frustasi, membuat Sandra mengernyit heran melihat Rian berhenti.
“Gue harus pulang,” ucap Rian membenarkan celananya dan bergegas keluar dari apartemen Sandra.
Sandra yang masih terbaring di sofa menatap sendu kepergian Rian, wanita itu meneteskan air matanya. Kini dirinya benar-benar menjadi wanita murahan, ia mengelus perutnya yang mulai terlihat membuncit.
“Maafkan Mama, Nak.”
...🦋🦋🦋...
Rian sampai di basement rumah sakit, tapi ia masih belum berniat turun dari mobilnya. Pria itu memukul stir mobilnya untuk meluapkan kekesalannya. Dia kesal dengan dirinya sendiri. Ada rasa bersalah pada gadis cantik itu. Rian merasa sudah mengkhianati Alice tadi.
Setelah sedikit tenang, Rian berjalan masuk ke dalam rumah sakit. Berjalan menuju ke ruangannya untuk melihat gadisnya itu. Namun kernyitan di dahi Rian tercetak, melihat seseorang sedang duduk di depan ruangannya seorang diri.
__ADS_1
...🦋🦋🦋...
Hayo lho Rian, minta maap sama Alice 🤧🤧