
Suara nyaring seperti benda jatuh dan pecah membuat Rian bergegas meninggalkan rumah sakit. Pria itu mengemudikan mobilnya membelah jalanan yang ramai oleh para pengendara yang beberapa di antara mereka pulang dari bekerja. Rian tadi mendapat telepon dari Sandra, wanita itu berkata bahwa dirinya mendadak demam tinggi dan di sekitar rumahnya tidak ada dokter.
Lagi pula memang rumah yang Rian pinjamkan pada Sandra jauh dari keramaian. Setelah menempuh perjalanan kurang lebih hampir dua jam lamanya, akhirnya Rian sampai di rumahnya. Langit sudah menggelap sejak beberapa waktu yang lalu. Pria itu keluar dari mobilnya dan segera masuk, di tangannya membawa kantong plastik berisi obat-obatan yang mungkin saja nanti diperlukan.
“Sandra!” panggil Rian saat mendapati rumahnya sangat gelap.
Pria itu menyalakan lampu. Betapa terkejutnya saat mendapati rumahnya yang berantakan. Rian bergegas mencari keberadaan wanita itu. Walau bagaimana pun mental Sandra pastinya masih terguncang dan dia masih membutuhkan bantuan medis dan dampingan seseorang.
Rian bernapas lega saat mendapati Sandra sedang meringkuk di atas tempat tidur. Benar apa yang dikatakan wanita itu di telepon tadi. Sandra memang sedang demam tinggi, keringat dingin mengucur dari dahinya dan wanita itu mengigil kedinginan.
Rian segera memberi pertolongan pertama, dia membuat kompres untuk Sandra. Tangan dingin Rian yang tidak sengaja bersentuhan dengan kulit Sandra, membuat wanita itu berjengkit kaget. Matanya perlahan terbuka mengernyit saat hal pertama yang dilihatnya adalah wajah Rian.
“Ke rumah sakit, ya? Demam lo tinggi,” ucap Rian saat berhasil menempelkan handuk hangat di dahi Sandra.
Sandra menggeleng pelan sebagai penolakan atas ucapan Rian itu. Dia takut jika saat di rumah sakit nanti, bisa saja Kevin akan datang menemuinya.
“Aku mau di rumah aja,” jawab Sandra lirih.
“Tapi gue nggak bisa jaga lo…”
“Nggak apa-apa, kamu tinggalin aja obat-obatan di rumah ini. Aku bisa jaga diri,” potong Sandra.
Sungguh mendengar perkataan Rian membuatnya sedih, dia berharap pria di depannya ini bisa tinggal dan merawatnya hingga sembuh. Namun Sandra sadar diri, dia sekarang bukan siapa- siapa di hidup Rian. Pria itu mau segera datang saja sudah sangat menghiburnya.
...🦋🦋🦋...
Rian duduk di kursi yang menghadap ranjang tempat Sandra tidur. Wanita itu tertidur setelah makan malam dan meminum obatnya, efek obat yang membuatnya dapat tertidur. Pria itu memandangi wajah wanita di depannya, ada rasa bersalah yang timbul dalam dirinya.
Bersalah pada dua wanita yang telah dia bohongi dan satu wanita di depannya ini. Dering ponsel di saku Rian membuatnya sedikit terkejut. Pria itu segera keluar dari sana untuk menjawab panggilannya. Dadanya bergemuruh hebat saat tahu siapa yang menelponnya.
“Halo?” sapa Rian.
__ADS_1
“Mas Rian di mana? Jadi, 'kan, makan malam bareng?” tanya dari seberang sana.
Rian mengacak rambutnya frustasi. Lagi-lagi dia melupakan Alice, melupakan janjinya bersama dengan gadis itu.
“Maaf, Al. Mendadak aku ada urusan, lain kali kita makan malam bersama,” jawab Rian.
“Mas Rian masih sibuk, ya? Iya nggak apa-apa, Mas. Kita bisa keluar lain kali.”
“Maaf, Al.” Hanya kata itu yang mampu terucap dari mulut Rian saat ini.
“Iya, Mas. Nggak masalah. Kalo gitu Alice tutup teleponnya, ya? Jangan lupa makan malam,” ucap Alice mengakhiri penggilan mereka.
Rian terduduk di kursi yang berada di teras rumah. Kepalanya tertunduk lesu. Kebohongan yang dia buat makin besar dan kini dia merasa menyesal juga takut. Namun, Rian lebih takut jika dia berkata jujur Alice akan meninggalkannya. Kebohongan-kebohongan kecil yang semakin lama menjadi kebohongan besar dan bisa saja menjadi fatal nantinya.
“Gue belum siap jujur sama Alice,” gumam Rian.
Rian kembali masuk ke dalam rumah, dia mengecek kembali keadaan Sandra. Demam wanita itu sudah sedikit turun membuat Rian bernapas lega. Pria itu meninggalkan sebuah catatan yang dia letakkan di meja bersama dengan obat-obatan yang dibutuhkan. Lalu Rian pergi dari rumah itu.
Rian pun segera melajukan mobilnya menjauh dari rumahnya. Dia memutuskan untuk pulang ke apartemennya. Hari ini terasa sangat melelahkan baik pada fisiknya maupun mentalnya. Rian benar- benar membutuhkan istirahat untuk saat ini.
Sementara di lain tempat, Alice baru saja sampai di kos Fia. Sedikit kecewa sebenarnya ketika tiba- tiba saja Rian membatalkan janji mereka. Tadi Alice sudah sampai di sebuah resto setelah pulang dari bekerja, cukup lama dia menunggu di resto itu.
Namun, Rian tidak juga menampakkan batang hidungnya. Alice juga sudah sengaja tidak membawa motornya, dia berangkat bekerja naik angkutan umum. Walau tadi Alice sempat kebingungan saat hendak pulang, karena hari sudah larut malam dan kendaraan umum sudah banyak yang tidak beroperasi.
“Lo dari mana, Al?” tanya Fia yang ternyata ada di kos malam ini.
“Lo belum tidur, Fi?”
“Gue baru pulang kerja. Lo belum jawab pertanyaan gue, lo dari mana? Kenapa baru pulang?”
“Abis makan di luar,” jawab Alice berbohong.
__ADS_1
“Sama Pak Dokter?”
“Nggak, gue sendiri tadi.”
“Tumben, terus tadi lo kerja nggak bawa motor?”
“Iya, sengaja. Pengen naik kendaraan umum gue. Udah, ya? Gue mau mandi dulu.”
Fia menatap sahabatnya dengan tatapan curiga, Alice terlihat sangat mencurigakan saat ini. Namun, Fia tidak mau terlalu kepo pada hidup sahabatnya itu. Alice sudah dewasa saat ini dan sudah menemukan kebahagiannya sendiri. Saat ini tugas Fia hanya akan terus berada di sisi sahabatnya itu apapun yang terjadi.
Beberapa saat kemudian, Alice keluar dari kamar mandi. Hidungnya mencium bau wangi micin dari mie instan yang barus dimasak oleh Fia. Alice segera menghampiri sahabatnya itu. Benar saja, Fia sedang memakan mie instan. Mendadak perut Alice menjadi keroncongan, karena sejak tadi belum di isi. Alice berbohong jika sudah makan malam.
“Gue minta, Fi,” ucap Alice berusaha merebut sendok di tangan Fia.
“Katanya lo tadi udah makan malam?” tanya Fia mengernyitkan dahinya.
“Gue laper lagi,” jawab Alice dan melahap mie yang berhasil direbutnya dari Fia.
“Ckck, dasar perut karet. Sana lo masak sendiri, gue laper belum makan tadi.”
“Ahelah gue cuma minta sesuap,” gumam Alice dengan wajah kesal.
“Mulut lo kalo mangap lebar. Sesuap bisa satu porsi mie masuk semua ke mulut lo,” ucap Fia.
“Pelit lo,” balas Alice dan dia berjalan menjauh dari sana.
Alice merebahkan diri di atas ranjang, meraih ponselnya berharap ada sebuah chat dari Rian. Namun nihil, ponselnya sangat sepi. Tidak ada satu pun chat yang masuk ke dalam ponselnya. Perempuan itu pun meletakkan kembali ponselnya dan dia mendesah kecewa.
...🦋🦋🦋...
__ADS_1