
Rian memparkirkan mobilnya di depan kedai milik sang Mama. Senyumnya mengembang saat netranya menangkap seseorang yang sedang sibuk melayani seorang pelanggan di dalam kedai. Rasa lelah setelah menyetir seorang diri selama berjam- jam terbayar saat melihat wajah itu. Pria itu pun turun dari mobil, berniat menyapa sang calon istri. Rian masih bimbang, apakah dia akan menceritakan perihal Sandra atau tidak?
“Sibuk, ya?” tanya Rian pada Alice yang kini berdiri di sebelah meja kasir.
Perempuan itu terlihat terkejut dengan kedatangan Rian. Namun, seulas senyum tipis tercetak pada bibir merah muda itu.
“Lumayan, hari ini kedai sedang ramai pengunjung,” jawab Alice.
“Kamu kelihatan capek, istirahat kalau capek,” ucap Rian menyeka keringat yang menetes di dahi Alice, hal itu membuat perempuan itu merasa sedikit tidak nyaman.
Beberapa pasang mata mencuri-curi pandang pada pasangan itu. Alice juga merasa tidak enak pada rekan-rekan kerjanya yang gigit jari melihat kemesraan yang Rian umbar.
“Namanya kerja pasti capek, Mas,” kata Alice.
“Ya udah nggak usah kerja.”
Alice memutar bola matanya malas mendengar penuturan Rian. “Udah sana jangan ganggu Alice. Mas Rian ke sini mau apa? Bu Reni nggak ada di sini.”
“Aku mau culik kamu,” jawab Rian tersenyum miring.
Tentu Alice tidak menyetujui perihal penculikan dirinya itu. Jam kerjanya masih lama dan dia tidak ingin meninggalkan tanggung jawabnya. Apalagi keadaan kedai sedang sangat ramai, juga kebetulan di shift ini salah satu rekan kerja mereka ada yang tidak masuk. Alhasil Alice menyuruh Rian untuk pulang terlebih dulu dan pria itu menyetujui apa yang Alice perintahkan. Sebenarnya dia juga penasaran mengapa hari ini Rian tidak bekerja?
“Tanya nanti aja, sekarang fokus,” gumam Alice.
Perempuan itu pun melanjutkan pekerjaannya yang tadi sempat tertunda akibat mengobrol dengan Rian. Rekan-rekannya merasa sungkan hendak menegur karena tahu siapa Rian.
“Silahkan pesanannya. Selamat menikmati,” ucap Alice meletakkan piring berisi salad buah di meja salah seorang pelanggannya.
“Terima kasih,” jawab pelanggan itu tersenyum di balik masker yang dipakainya.
Alice kembali ke tempatnya, dia merasa sedikit penasaran dengan pelanggan bermasker itu. Diam-diam Alice memperhatikan gerak-gerik pria itu. Pria yang duduk di pojok kedai melepas maskernya dan mulai menikmati makanannya.
__ADS_1
“Lihatin apa, Mbak?” tannya salah seorang rekan Alice.
“Itu, cowok yang duduk sendiri di pojok,” jawab Alice.
“Mbak Al, kenal?” tanyanya dan pandangannya mengikuti arah pandang Alice.
Alice menggeleng. “Aku nggak kenal dia.”
Memang benar Alice tidak mengenali pria itu. Alice dan rekan kerjanya mendadak gelagapan saat tertangkap basah sedang memperhatikan pria itu. Namun, tanpa di sangka ternyata pria itu menyunggingkan senyumnya pada mereka dan sedikit menganggukkan kepalanya bermaksud hendak menyapa mereka. Alice mengernyitkan dahi melihat pria yang masih tersenyum itu. Merasa aneh dengan tingkahnya.
“Ganteng, Mbak,” bisik rekan kerja Alice.
Alice geleng-geleng kepala mendengar ucapan rekan kerjanya itu. Dia pun menyuruh temannya itu untuk kembali pada posisinya dan fokus kembali. Begitu pula dengan dirinya juga kembali fokus pada pekerjaannya. Hingga tidak terasa jam kerjanya hampir berakhir, kurang lebih tigapuluh menit lagi. Alice bersama dengan yang lain mulai membersihkan kedai yang kini sudah sepi pengunjung. Di pintu juga sudah diberi tanda jika kedai sudah tutup.
“Mbak, tungguin sampe gue selesai hitung, ya?” pinta salah seorang yang berada di balik meja kasir dan sedang menghitung uang hasil penjualan hari ini.
“Iya tenang aja gue tungguin,” jawab Alice yang sudah berganti baju. Kini dia duduk di salah satu kursi, menunggu temannya hingga selesai menghitung, “Kalian kalo mau pulang duluan nggak apa-apa,” lanjutnya pada rekan yang lain.
“Oke, kita pulang dulu, Mbak.”
“Ayo, Mbak. Gue udah selesai.”
Alice masih mengunci kedai dan temannya tadi sudah pulang terlebih dahulu karena ada sebuah janji. Perempuan itu tidak keberatan, karena memang sudah tanggung jawabnya sebagai kepala pelayan. Lagipula yang membawa kuncinya adalah dia dan jika pagi Reni yang akan membuka kedainya. Ya, Reni lebih sering stay di kedai saat pagi hari.
“Udah tutup, Mbak?” tanya sebuah suara mengejutkan Alice. Spontan perempuan itu berbalik menatap seseorang yang berdiri di hadapannya.
“Iya, hari ini sudah tutup,” jawab Alice mengernyitkan dahi.
“Besok buka jam berapa?”
“Kedai buka jam setengah Sembilan pagi.”
__ADS_1
Orang itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Diam-diam Alice memperhatikan penampilan orang itu, pria bermasker dengan topi hitam. Pria misterius yang terlihat aneh dalam pikiran Alice saat ini.
“Terima kasih, Alice,” ucap pria itu dan pergi darisana.
Sementara Alice terkejut, darimana pria itu tahu namanya? Perempuan itu pun hendak mengejar pria tadi dan menanyakan apakah mereka pernah bertemu sebelumnya. Namun nihil, pria itu hilang entah ke mana. Padahal dia pergi belum lama.
Alice masih bertanya-tanya, siapa pria itu sebenarnya. Dia benar-benar tidak mengenalinya. Alice sampai di kos Fia, ternyata sahabatnya itu tidak berada di kosnya. Entah kemana sahabatnya itu pergi.
“Kenapa hari ini gue ketemu sama orang-orang aneh sih?” gumam Alice.
Ya, dirinya baru saja ingat. Tadi di kedai juga salah satu pengunjung menunjukkan gelagat yang aneh. Alice mengedikkan bahunya dan segera mandi untuk membersihkan tubuhnya yang terasa lengket oleh keringat. Hari ini dia sangat lelah, kedai benar-benar ramai pengunjung.
Beberapa menit kemudian tubuh Alice sudah bersih dan wangi. Dia pun duduk di atas ranjang dan meraih ponselnya. Mengirim sebuah chat pada Fia, menanyakan keberadaan sahabatnya itu. Beberapa saat dia menunggu, sebuah balasan chat dari Fia masuk ke ponselnya. Alice membaca deret tulisan yang ada di layar ponselnya.
“Ckck, lagi kencan ternyata,” gumam Alice.
Sebuah panggilan masuk, membuat Alice berjengkit kaget. Telepon dari Rian. Perempuan itu pun menggeser layarnya untuk menjawab panggilan dari Rian.
“Halo?” sapa Alice.
“Sudah sampai kos?” tanya Rian dari seberang sana.
“Udah dari tadi. Oh ya, hari ini Mas Rian nggak ke rumah sakit?” jawab dan tanya Alice yang sejak tadi penasaran.
“Hari ini aku cuti,” jawab Rian.
“Tumben cuti, ada apa memangnya?”
“Hmm, ada yang harus aku selesaikan hari ini.”
“Terus gimana kabar Mbak Sandra? Alice mau jenguk Mbak Sandra,” ucap Alice saat teringat wanita itu. Cukup lama Rian menjawab pertanyaannya itu.
__ADS_1
...🦋🦋🦋...