
Suara pintu yang terbuka membuat Luna memutar kepalanya ke arah pintu masuk. Wanita itu sejak tadi sedang duduk di depan televisi yang menyala. Luna tidak menonton acara yang ada di televisi itu, melainkan hanya menatap kosong pada layar hitam itu. Kevin memasuki apartemennya dan dia disambut oleh tatapan Luna yang mengarah padanya. Pria itu terdiam mematung di depan pintu.
“Sial, gue lupa beli makanan buat Luna,” gumam Kevin saat netranya bertubrukan dengan Luna.
Akhirnya Kevin kembali keluar dari apartemennya. Memang tadi pria itu keluar hendak membeli makan malam untuk Luna. Ternyata malah ada sebuah insiden tak terduga, menyebabkannya lupa. Kevin pun mencari warung makan disekitaran apartemennya yang masih buka. Maklum hari sudah sangat larut, Kevin merasa kesulitan mencari warung makan yang masih buka dan menyediakan menu yang masih lengkap.
“Dia mau nasi goreng nggak, ya?” gumam Kevin menemukan sebuah warung tenda yang menjual nasi goreng.
Karena sudah putus asa juga khawatir Luna akan kelaparan, Kevin pun memutuskan berhenti di warung penjual nasi goreng itu. Dia memesan seporsi nasi goreng pada sang penjual.
Kevin menunggu selama beberapa menit hingga pesanannya selesai dimasak. Pria itu sudah melupakan rasa sakit di wajah serta sekujur tubuhnya, yang terpenting saat ini baginya adalah Luna. Kevin spontan berdiri saat snag penjual itu memberikan nasi goreng yang sudah dibungkus dengan kertas pembungkus dan dimasukkan ke dalam kresek hitam.
“Berapa, Pak?” tanya Kevin.
“Nggak usah, Mas. Nggak apa-apa untuk Masnya saja, saya juga kasih minum itu,” jawab sang penjual.
Jawaban dari penjual nasi goreng itu membuat dahi Kevin berkerut. Apakah penampilannya saat ini seperti seorang pengemis? Memang wajahnya babak belur dan mungkin saja bajunya juga kotor, tapi seseorang tidak bisa hanya melihat penampilan luarnya saja.
Kevin pun mengeluarkan dompetnya dan meletakkan selembar uang ratusan ribu di atas meja. Selanjutnya tanpa patah kata, pria itu pergi dari warung nasi goreng itu. Sementara si penjual nasi goreng terdiam melihat lembaran uang itu, dia menggaruk kepalanya yang plontos.
“Kalau bukan karena terpaksa gue juga nggak mau beli di situ,” gumam Kevin.
Pria itu merasa tersinggung dengan perkataan si penjual nasi goreng itu. Bahkan Kevin bersumpah jika rasa nasi goreng yang dibelinya ini tidak enak, dia akan menuntut si penjual. Kevin sampai di unit apartemennya, dia segera memasukkan password dan masuk ke dalam.
“Maaf, Lun. Tadi aku lupa beli makan malam untukmu,” ucap Kevin begitu dirinya masuk ke dalam.
__ADS_1
Kevin pikir Luna masih berada di tempatnya, tapi ternyata dugaannya salah. Luna sudah tidak duduk di depan televisi. Kevin pun mencari keberadaan wanita itu.
“Luna,” panggil Kevin sembari kakinya melangkah menyusuri ruang-ruang di dalam apartemennya, “Lun ….”
Ucapan Kevin terhenti saat melihat Luna sedang berusaha mengambil sebuah kotak yang berada di lemari atas. Pria itu pun membantu Luna mengambil kotak itu. Dahi Kevin mengernyit melihat kotak ditangannya.
“Kamu luka, Lun?” tanya Kevin memeriksa tubuh wanita didepannya.
Luna menggelengkan kepalanya. “Kevin.”
Kevin terdiam membatu mendengar suara Luna yang menyebut namanya. Pria itu menatap pada Luna, memastikan bila wanita di depannya benar-benar menyebut namanya tadi. Baru kali ini Kevin mendengar Luna menyebut namanya, semenjak keluar dari rumah sakit Luna hanya tahu Rian.
Bahkan Luna pikir yang membawanya keluar dari rumah sakit adalah Rian. Lalu apakah pengobatan Luna selama ini berhasil? Memang setelah keluar dari rumah sakit Luna tetap harus mendapat pemantauan dari dokter.
Sudah beberapa kali Luna menemui psikiaternya dan Kevin belum mendapat laporannya hingga kini. Sepertinya besok dia harus menemui dokter itu. Lamunan Kevin buyar saat tiba-tiba Luna menyentuh lukanya. Spontan dia meringis menahan perih di pipi sebelah kanan.
Tidak ada kata terucap dari keduanya, Kevin yang terpaku oleh wajah cantik Luna yang sedang serius mengobatinya. Sementara Luna fokus pada luka-luka Kevin. Namun, masih ada raut wajah sedih di paras Luna. Guratan kesedihan itu masih sangat jelas terlihat.
Cukup lama hingga Luna selesai mengobati luka milik Kevin. Mungkin karena sudah sangat lama wanita itu tidak menangani luka-luka seperti ini, jadi dia sedikit kesulitan. Bahkan tadi Kevin juga harus turun tangan, membantu Luna yang salah memasang plester untuk lukanya.
“Kamu tau aku, Lun?” tanya Kevin.
Hanya anggukan sebagai jawaban atas pertanyaan yang dilontarkan oleh Kevin. Melihat hal itu membuat Kevin menghembuskan napasnya.
“Sejak kapan?” tanya Kevin lagi.
__ADS_1
“Maaf,” lirih Luna menundukkan kepalanya. Bahu wanita itu bergetar tanda jika ada air mata jatuh dari kedua mata indah itu.
Melihat hal itu, Kevin segera membawa Luna ke dalam dekapan hangatnya. Membisikkan kata-kata penenang bagi wanita itu.
“Nggak apa-apa, bukan salah kamu. Aku hanya tidak menyangka jika kamu tidak melupakanku. Terima kasih, Lun.”
Kevin melonggarkan dekapannya dan menatap wajah sendu Luna. Tangannya terulur menyeka air mata yang masih mengalir itu.
“Sekarang makan, ya? Pasti kamu sudah sangat lapar.”
Luna hanya mengangguk sebagai jawaban. Kevin pun mengambil piring dan menata nasi goreng yang tadi dibelinya untuk Luna. Luna menerima nasi goreng pemberian Kevin dan mulai menyantapnya.
“Enak?” tanya Kevin masih setia menatap wajah cantik itu.
Luna hanya mengangguk sebagai jawaban. Namun anggukan Luna membuat Kevin ragu, pria itu juga ingin mencicipi sendiri nasi goreng buatan penjual tadi.
‘Untung enak. Jadi gue nggak perlu repot tuntut dia,’ batin Kevin setelah merasakan nasi goreng di dalam mulutnya.
Nasi goreng di piring Luna sudah tandas. Selesai makan, Luna tertidur di kamar milik Kevin. Hanya ada satu kamar di apartemen ini. Selama Luna berada di sini, Kevin hanya tidur di sofa yang ada di depan televisi. Pria itu benar-benar menjaga Luna, sama sekali tidak menyentuhnya. Kevin masuk ke dalam kamarnya untuk melihat apakah wanita itu sudah benar-benar tidur.
“Sleep well, Dear,” bisik Kevin dan mendaratkan kecupannya di dahi Luna.
Setelah membenarkan selimut, Kevin keluar dari kamarnya. Pria itu merebahkan tubuhnya di sofa, matanya menatap langit-langit dan pikirannya melayang. Ada rasa bahagia di dalam hatinya. Ternyata Luna mengingatnya, mengingat namanya, dan mengucapkannya. Hal sederhana itu mampu membuat Kevin berbunga- bunga. Kini hanya satu harapan Kevin, semoga saja Luna dapat melupakan semua kenangan pahitnya dan mau membuka lembaran baru bersamanya. Harus bersamanya.
...🦋🦋🦋...
__ADS_1
Si Kepin lagi seneng nih, berflower-flower hatinya ☺☺☺