Butterfly

Butterfly
Bertemu Sahabat


__ADS_3

Sang surya sudah menampakkan kehangatannya. Sementara itu, di sebuah unit apartemen masih belum terlihat tanda-tanda penghuninya memulai aktivitas. Di dalam sebuah kamar terdapat sepasang insan yang sedang pulas tidur. Keduanya sama-sama kelelahan setelah pergulatan semalam suntuk.


Hingga sebuah dering ponsel membangunkan salah satunya. Rian membuka matanya begitu mendengar dering ponselnya berbunyi. Tangan kirinya mencoba mencari-cari keberadaan benda pipih itu. Tangan kanannya masih menjadi bantal untuk sosok yang masih pulas tidur.


“Halo?” sapa Rian.


Rian diam mendengarkan sang lawan bicara di seberang sana. Dia mendengarkan dengan seksama ketika sang penelpon menjelaskan secara detail dan rinci. Mata Rian melirik pada jam di dinding untuk melihat waktu saat ini. Lalu pandangannya beralih pada Alice yang sepertinya terlihat sangat lelah.


“Oke, gue ke sana dalam waktu satu jam.”


Rian mengakhiri panggilannya dan kembali meletakkan ponselnya. Lalu dia dengan perlahan memindahkan kepala sang istri. Alice masih pulas tidur hingga Rian beranjak dari tempat tidur. Sebelum meninggalkan wanita itu, Rian membenarkan letak selimut yang sedikit tersingkap dan memperlihatkan tubuh polos bagian atas Alice.


Rian tidak sempat mandi pagi ini. Dia hanya mencuci wajah dan menggosok giginya saja. Lalu dengan secepat kilat berganti pakaian dan mempersiapkan keperluan yang akan dibawanya ke rumah sakit.


“Aku berangkat dulu, Sayang,” bisik Rian pada Alice.


Sebuah kecupan Rian berikan untuk sang istri sebelum dirinya benar-benar pergi dari sana. Selepas kepergian Rian, beberapa saat kemudian Alice terbangun dari tidurnya. Ekspresi panik langsung terlihat dari wajah wanita itu.


“Duh, kesiangan,” pekik Alice, “Mas Ri….”


Ucapan Alice menggantung, kepalanya menoleh ke kanan dan kiri untuk mencari sosok Rian. Namun nihil, tidak ada siapa pun di sini. Alice pun memutuskan untuk mencari keberadaan Rian. Setelah berpakaian lengkap, Alice berjalan perlahan.


“Kok nggak ada? Apa udah berangkat, ya?” gumam Alice.


Dia memutuskan untuk kembali ke kamar dan netranya tidak sengaja menemukan sebuah note di meja sebelah ranjang. Alice membaca tulisan yang tertulis di sana.


“Maaf, Sayang. Aku pagi ini ada operasi darurat. Aku berangkat dulu. Love you.”


Begitulah isi pesan yang Rian tulis. Namun, dahi Alice nampak keriting setelah melihat tulisan di kertas itu.


“Ini bacanya apa, ya?” tanya Alice pada dirinya sendiri.


Alice mengabaikan tulisan yang terlihat seperti cakaran kucing itu. Dia menyimpulkan jika pasti Rian sudah pergi bekerja pagi tadi. Alice pun memulai aktivitasnya. Mulai dari membersihkan kamar hingga seluruh rumah. Mencuci pakaian, menyapu, hingga mengepel. Setelah semuanya selesai, barulah Alice memasak untuk dirinya sendiri. Makan sembari memainkan ponselnya.


“Gue kangen Fia,” gumam Alice.

__ADS_1


Wanita itu akhirnya memutuskan menelpon sahabatnya itu untuk menanyakan apakah hari ini mereka bisa bertemu. Senyum Alice mengembang saat Fia menyetujui ajakannya. Dengan semangat, Alice cepat-cepat menghabiskan sarapannya, mencuci piring kotor, lalu mandi.


Beberapa menit kemudian, Alice sudah rapi dengan pakaiannya. Dia membaca chat yang baru masuk. Chat dari Fia yang mengiriminya sebuah alamat tempat pertemuan mereka.


Wanita itu sudah sampai di sebuah tempat janjian. Sebuah café yang cukup ramai oleh para anak sekolahan. Alice masuk ke dalam dan mengedarkan pandangannya untuk mencari keberadaan sang sahabat. Tadi Fia memberitahunya jika dia sudah sampai di café ini.


“Al!” panggil sebuah suara.


Alice menengok dan menemukan Fia yang melambaikan tangan padanya. Wajah Alice berseri-seri dan berjalan menghampiri sahabatnya itu.


“Fia! Gue kangen sama lo!” heboh Alice memeluk Fia.


“Gue juga kangen sama lo. Kayaknya udah lama banget kita nggak ketemu.”


“Belum ada sebulan, Fi,” ucap Alice memutar bola matanya malas.


Namun, Alice juga tidak dapat berbohong jika dia sangat merindukan sahabatnya ini. Alice duduk di depan Fia dan memesan cemilan serta minuman.


“Gimana kabar lo, Al?”


“Kurang baik kabar gue,” jawab Fia lesu.


“Pantes lo mau diajak ketemu. Kenapa? Sini cerita sama gue.”


Akhirnya Fia menceritakan semua masalahnya. Ternyata hubungan Fia dengan Teo sedang tidak baik-baik saja. Ada sedikit pertengkaran kecil di antara keduanya. Semuanya berawal saat keduanya menengok bayi salah seorang teman Teo.


Fia baru tahu jika Teo ternyata dulu pernah menaruh rasa pada temannya itu. Setelah menengok bayi itu, mendadak Teo menjadi berbeda. Seperti ada rasa kecewa di wajah pria itu, sebenarnya Fia yang menyimpulkan demikian.


“Cemburu, ya?” tanya Alice menyimpulkan setelah mendengar cerita Fia.


“Nggak tau gue, sebelumnya gue belum pernah ngerasa kayak gini. Cuma gue rasa Dokter Teo berubah setelah kita jenguk temennya itu.”


“Lo masih panggil dia Dokter Teo?” tanya Alice menatap Fia tak percaya.


Fia mengangguk. “Iya, lagian dia nggak keberatan. Gue juga masih canggung kalo panggil dia dengan sebutan ‘Kak’ atau ‘Bang’.”

__ADS_1


“Astaga Fia, kalian beneran pacaran nggak sih?”


“Ya beneranlah,” jawab Fia ngegas, “Dia baik, perhatian, dan sikapnya dewasa banget. Itu yang gue suka dari dia.”


“Iya sih, kelihatan dari pembawaan dia.”


“Tapi satu hal yang gue baru tau tentang sifat dia, ternyata dia bisa konyol juga. Sayangnya bukan di depan gue,” jelas Fia, wajahnya terlihat sedih.


Sementara Alice mengernyitkan dahinya. “Terus? Dia tunjukin sama siapa?”


“Waktu sama temennya itu, gue yakin dia masih simpen perasaan. Masih ada rasa sama temennya itu.”


Alice menghembuskan napasnya, dia berpindah ke sebelah Fia. Ternyata hubungan sahabatnya juga tidak mulus. Namun hal itu wajar, tiap hubungan pasti akan ada pasang surutnya. Pasti ada cekcok didalamnya, tergantung bagaimana kita menyikapinya.


Memilih bersikap dewasa dan menyelesaikannya dengan tenang serta kepala dingin, atau malah memilih bersikap kekanakan dan bisa saja hubungan itu berakhir tanpa ada yang mau mengalah salah satunya.


“Coba lo bicarain baik-baik sama Dokter Teo. Biar lo juga dapat kejelasan dengan hubungan kalian dan lo juga nggak sedih terus kayak gini,” tutur Alice memberikan pendapatnya.


“Iya, Al. Nanti pasti gue omongin sama dia. Sorry, ya? Suasana jadi mellow gini.”


“Nggak apa-apa, Fi. Lo harus janji bakal selalu cerita apapun yang terjadi, gue akan bantu semampu gue. Seperti dulu lo selalu bantu gue.”


Fia tersenyum dan mengangguk. Lalu mereka melanjutkan perbincangan mereka. Perbincangan ringan yang membuat suasana hati keduanya menjadi lebih baik.


Cukup lama Alice menghabiskan waktunya bersama dengan Fia. Dia pun memutuskan untuk pulang. Fia juga tadi mendapat chat dari Teo, sepertinya hari ini mereka akan bertemu. Alice hanya bisa berharap semoga hubungan keduanya akan baik-baik saja, dia tidak mau jika sahabatnya itu tersakiti.


...🦋🦋🦋...


Hai... hai Othor balik lagi nih. Sebenernya masih mau hiatus, tapi kangen juga sama Rian n Alice 🤧


Jadi, Othor memutuskan untuk comeback. Tapi, Othor nggak bisa janji bakal up tiap hari karena masih ada kegiatan di RL juga.


Othor ucapkan terima kasih untuk kalian yang masih menunggu novel ini. Othor sangat berharap dukungan kalian, karena itu sangat berarti.


Salam kangen dari Othor kece 😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2