
Rian mendengarkan suara dari seberang sana. Sandra yang menelponnya, wanita itu juga yang mengirim chat padanya pagi tadi. Ternyata Sandra hendak meminta bantuannya untuk membeli sesuatu, karena di sekitar rumah tidak ada yang menjual.
Terpaksa Rian menuruti permintaan Sandra, dia berjanji akan membawakan barang itu setelah nanti pulang dari rumah sakit. Setelah percakapan itu, Rian memutuskan untuk mengakhiri olahraga paginya. Dia kembali ke apartemen untuk bersiap ke rumah sakit.
Pria itu memasuki apartemennya dan segera mencari keberadaan sang istri. Rian berjalan menuju dapur berharap Alice berada di sana. Namun, yang Rian temukan adalah penampakan dapur yang berantakan. Mendadak rasa panik mulai menyerang Rian, dia segera mencari keberadaan Alice.
“Al?” panggil Rian berjalan menuju kamar mereka.
Namun, di kamar tidak ada siapa pun. Lalu pria itu membawa langkahnya menuju kamar mandi. Ada suara gemericik dari dalam sana. Rian menjeblak pintu kamar mandi membuat sosok di dalam sana terkejut.
“Al? Kamu baik-baik saja?” tanya Rian berjalan menghampiri Alice yang sedang berdiri di bawah keran air.
“Oh? Mas Rian sudah pulang?” Alice menoleh ke belakang dan terkejut mendapati sang suami sudah berdiri di belakangnya.
“Tangan kamu kenapa?”
Rian melihat tangan Alice yang melepuh dan sedang diguyur oleh air keran. Alice pun menceritakan apa yang terjadi padanya. Tadi Alice sedang menggoreng ayam dan tiba-tiba wajan yang digunakan untuk menggoreng tersenggol dan jatuh. Cipratan minyak goreng itu mengenai tangan serta sedikit di kaki Alice.
“Ke rumah sakit aja, ya?” ajak Rian dengan ekspresi khawatir melihat keadaan tangan dan kaki Alice.
“Obati di rumah saja, Mas. Sepertinya Alice pernah lihat Mas Rian punya salep buat…”
“Ke rumah sakit aja, luka kamu serius. Cuma salep nggak cukup.”
Rian pergi dari hadapan Alice tanpa mendengarkan jawaban dari sang istri. Beberapa saat kemudian pria itu sudah kembali lagi dan mengajak Alice ke rumah sakit. Sementara Alice tidak bisa berbuat apa-apa, dia hanya menurut. Padahal lukanya tidak seserius itu, mengapa suaminya ini sangat berlebihan?
Alice di bawa ke rumah sakit tempat Rian bekerja. Dia segera ditangani begitu tiba di UGD. Sementara Rian berdiri di sampingnya memperhatikan perawat yang sedang mengurus luka Alice.
__ADS_1
“Loh? Ngapain lo di sini?” tanya seseorang pada Rian.
“Nganter istri gue. Lo ngapain ke sini pagi-pagi?” jawab dan tanya Rian.
Arka tidak menjawab, dia hanya menunjuk dengan dagunya ke sebuah brangkar yang tertutup tirai. Rian mengangguk paham. Arka segera pamit, sebelumnya dia sempat menyapa Alice terlebih dulu. Pagi ini Arka memang ada pasien gawat darurat dan segera membutuhkan dokter spesialis untuk penanganan.
Setelah selesai dengan lukanya, Rian mengajak Alice untuk sarapan terlebih dulu. Mereka menuju kantin rumah sakit yang sudah ramai oleh dokter dan perawat yang bertugas pagi ini, ada juga beberapa keluarga pasien yang juga mencari sarapan.
Alice duduk di salah satu meja, sementara Rian sedang mengambil sarapan untuk mereka. Wanita itu menatap tangannya yang terbalut perban. Semua ini salahnya, salahnya yang tidak fokus mengerjakan pekerjaan rumah. Tadi memang dia sedikit melamun dan akibat dari keteledorannya itu membuatnya hampir celaka.
“Lo bener-bener bodoh, Al,” gumam Alice.
Alice masih memikirkan chat yang dikirim oleh Sandra pagi tadi. Benaknya masih penuh dengan berbagai pertanyaan yang membuatnya menjadi tidak fokus. Juga Rian yang tidak menjelaskan apapun padanya. Alice tidak mau memiliki pikiran negative terhadap sang suami. Namun, jika Rian saja diam seperti ini bagaimana Alice bisa tetap memiliki pikiran positif?
Alice mendongak ketika melihat Rian sudah kembali dengan nampan berisi dua piring serta dua cangkir minuman hangat. Pria itu meminta Alice segera menghabiskan makanannya. Wanita itu hanya menurut dan segera menyantap sarapannya. Raganya memang di sini bersama Rian, tetapi pikirannya masih berkelana entah kemana.
“Kamu istirahat saja di rumah, nanti nggak usah ke kedai,” ucap Rian disela makannya.
“Nggak apa-apa gimana? Kamu pasti kaget tadi, pokoknya untuk hari ini istirahat saja di rumah.”
Alice hanya mengangguk, sedangkan Rian menyunggingkan senyumnya melihat sang istri menuruti permintaannya.
“Nanti aku usahakan langsung pulang setelah operasi selesai,” ucap Rian.
...🦋🦋🦋...
Mendadak Rian menyesali ucapannya pada Alice pagi tadi. Dia benar-benar lupa jika sudah ada janji dengan Sandra. Pria itu kini sedang berada di ruangannya, memijit pelipisnya yang mendadak terasa berat. Dia baru saja menyelesaikan operasinya yang berjalan cukup lama.
__ADS_1
Rian bimbang, akan pulang seperti janjinya pada Alice dan membatalkan janjinya pada Sandra atau malah sebaliknya. Namun, Rian tidak mau membuat Alice kecewa lagi padanya. Dia sangat sadar telah banyak menyakiti dan membuat kecewa Alice.
“Tapi, barang yang diminta Sandra nggak bisa dikirim ke sana,” gumam Rian masih mencari jalan keluar.
Kebingungan Rian itu tidak sengaja terlihat oleh Teo yang kebetulan lewat. Pria itu pun masuk ke dalam ruangan Rian, bahkan sang empunya ruangan tidak menyadari ada penyusup yang masuk.
“Nggak pulang lo?” tanya Teo.
Rian terkejut mendapati Teo sudah berdiri didepannya dengan dahi mengernyit. Rian tidak menjawab Teo, dia segera membereskan barang-barangnya. Tanda jika bersiap untuk pulang.
Tidak mungkin Rian menceritakan kebingungannya dengan Teo. Selama ini tidak ada yang mengetahui perihal Sandra. Mereka semua hanya tahu jika wanita itu tiba-tiba menghilang bak ditelan bumi setelah keluar dari rumah sakit.
Rian sangat menjaga rapat rahasia itu, semua itu dia lakukan juga demi wanita itu. rian tidak mau jika nanti Kevin akan bertindak lebih jauh pada Sandra. Hingga sampai basement rumah sakit, Rian masih belum menemukan solusi untuk masalahnya.
“Atau suruh orang kirim ke sana aja, ya? Tapi siapa?”
Sayang sekali, Rian tidak memiliki seseorang yang dapat dipercaya untuk dia mintai tolong. Akan berbahaya jika dia meminta tolong pada temannya yang bekerja di bar, karena dia juga mengenal Kevin.
“Sorry, San. Lo harus nunggu sebentar,” gumam Rian.
Pria itu segera mengeluarkan ponsel dari dalam sakunya. Menggulir layar dan setelah menemukan sebuah nomor, dia menghubungi nomor itu. Ditempelkannya benda pipih itu di telinga kiri, menunggu panggilannya dijawab oleh seseorang di seberang sana. Hanya beberapa saat menunggu hingga panggilannya terhubung.
“Sorry, hari ini gue nggak bisa ke sana. Mendadak ada sesuatu jadi gue nggak bisa ke sana. Besok gue bakal ke sana,” ucap Rian.
Hembusan napas lega keluar dari mulut Rian. Setidaknya masih ada solusi untuk masalahnya ini. Pria itu pun menghidupkan mesin mobilnya dan segera pergi dari basement untuk pulang ke apartemennya.
...🦋🦋🦋...
__ADS_1
Arigathanks 🙇♀️