
Rian terperanjat kaget saat tiba-tiba pintu yang ada di ruangannya terbuka lebar. Bahkan pintu itu membentur dinding dengan keras. Pelakunya adalah Teo. Rian mengernyit melihat Teo yang tidak biasanya bertingkah seperti itu. Tanpa berkata apapun, Teo berjalan masuk dan duduk di depan Rian. Namun, sebelumnya pria itu mengambil makanan ringan yang tersimpan di dalam laci meja kerja Rian.
“Sakit lo?” tanya Rian.
Teo hanya mengangguk sebagai jawaban. Lalu dia membuka makanan ringan itu dan melahapnya. Sedangkan Rian hanya menggelengkan kepala, dia kembali pada pekerjaannya melihat rekam medis pasiennya.
“Yan, dada gue sakit,” kata Teo.
“Ke dokter sana,” jawab Rian sekenanya.
“Gue sakit tapi nggak berdarah.” Teo masih berusaha untuk mengalihkan fokus Rian.
“Jantung kali. Sana minta CT Scan sama Pak Bowo.”
“Salah gue datang ke sini.”
Teo menyerah, dia pun berdiri dari duduknya. Melihat hal itu Rian pun menoleh. Pria itu mengkode agar Teo kembali duduk.
“Lo kenapa sih? Aneh banget.”
Akhirnya Teo menceritakan kisah cintanya yang sedang di ujung tanduk. Sementara Rian hanya mendengarkan saja. Baru kali ini tingkah Teo tidak seperti biasanya. Tingkah Teo seperti remaja tanggung yang ditinggal pergi sang kekasih. Namun, memang sebenarnya kasus Teo juga hampir mirip seperti itu.
“Putus berarti kalian?” tanya Rian menyimpulkan.
Teo menggaruk kepalanya mendengar pertanyaan Rian. Sebenarnya dia juga bingung dengan hubungannya saat ini. Apakah perkataan Fia saat itu maksudnya mengajak mereka putus? Tapi sepertinya tidak, Fia hanya meminta mereka untuk tidak bertemu sementara waktu.
“Nggak putus. Kita cuma lagi break,” jawab Teo.
“Lo ada salah sama dia? Gue tebak lo masih belum bisa move on dari temen SMA lo itu.”
Tepat sasaran! Teo melongo melihat kepintaran Rian dalam menebak masalahnya. Namun, tidak sepenuhnya benar. Akhir-akhir ini perasaan Teo pada temannya itu tidak seperti dahulu. Jika bertemu tidak seperti dahulu selalu berdebar, sekarang Teo tidak merasakan debaran apapun.
“Gue udah move on dari dia. Cuma mungkin gue suka tanpa sadar ceritain tentang temen gue itu dihadapan Fia,” ucap Teo mengusap dagunya.
__ADS_1
“Itu kesalahan lo. Jangan pernah ceritain cewek lain di depan pacar lo kalo nggak mau terjadi perang dunia.”
Teo terdiam meresapi dan mencoba memahami perkataan Rian yang sialnya lagi-lagi benar juga tepat sasaran. Berarti kesalahannya kemarin itu sangat fatal. Pantas saja sikap Fia seperti ini, pasti gadis itu merasa jika dirinya masih belum bisa melupakan perasaannya. Teo mengangguk paham. Dia sudah menemukan kesalahannya pada Fia. Pria itu berencana akan meminta maaf pada Fia setelah pulang kerja nanti.
“Gue dengar cerita dari Alice, kalian pacaran tapi cewek lo masih manggil ‘Dokter’? Lagi pacaran sama pasien lo?”
“Ckck, nggak usah ngeledek. Terserah dia mau panggil gue apa aja, dia nyamannya panggil gue begitu.”
“Bro, jangan terlalu ngelihatin aib sendiri. Gue tau seumur hidup lo nggak pernah pacaran, tapi jangan terlalu kaku juga. Pahami cewek lo. Nih gue kasih nasehat sebagai senior lo. Cewek itu makhluk yang susah di mengerti, jadi kita para cowok yang harus mengerti mereka. Cewek juga makhluk yang nggak konsisten, jangan mudah percaya sama apa yang cewek katakan. Kalau mereka bilang A, belum tentu maksud mereka itu A. Sampai sini paham?”
Teo mengangguk. “Ribet ternyata. Kenapa gue baru tau sekarang?”
“Mana gue tau,” jawab Rian mengedikkan bahunya.
BRAKK!
Suara pintu yang menjeblak terbuka membuat dua pria itu terkejut. Di ambang pintu berdiri sosok Arka dengan wajah kusamnya.
Rian maupun Teo menatap malas pada manusia satu ini. Arka berjalan masuk ke dalam runagan milik Rian, duduk di sebelah Teo. Sementara Rian mengernyitkan dahinya melihat gerak-gerik tangan Arka yang mencurigakan.
“Lo mau ngapain ke sini?” tanya Rian.
“Mau sarapan,” jawab Arka dengan wajah tanpa dosa, tangannya berhasil mencomot makanan ringan yang ada di laci meja kerja milik Rian.
“Sarapan di kantin sana,” usir Rian.
“Tadi kalian ghibah apa?” tanya Arka menatap Teo dan Rian bergantian. Dia sama sekali tidak mempedulikan ucapan Rian yang mengusirnya.
Teo memberi kode pada Rian untuk tidak memberitahu Arka perihal masalahnya. Bukan apa-apa, Teo hanya tidak ingin mendengar ledekan menyebalkan dari mulut manusia di sebelahnya, sudah cukup Rian yang tadi meledeknya.
“Teo lagi ada masalah sama pacarnya.”
Teo menatap datar pada Rian. Sementara pria itu hanya meringis, dia kembali pada layar komputernya untuk melanjutkan membaca rekam medis.
__ADS_1
“Kenapa? Putus kalian? Si Pia jomblo berarti dong sekarang?”
PLAK!
Suara nyaring itu berasal dari tangan Teo yang bergesekan dengan kepala Arka. Sementara si pemilik kepala bersungut kesal, kepalanya serasa hampir copot saat ini.
“Gue nggak putus sama Fia,” ucap Teo tajam.
“Ahelah si Tayo sensi amat, gue cuma tanya.”
Rian hanya menggeleng melihat interaksi kedua sahabatnya itu. Matanya tidak sengaja melihat jam di dinding, sudah waktunya untuk masuk ke poli. Dengan sangat hormat, Rian mengusir dua makhluk itu untuk keluar dari ruang kerjanya karena dia juga harus segera bekerja. Teo menurut dan segera keluar karena sebentar lagi juga dirinya akan ada operasi, sementara Arka masih betah berada di dalam ruangan ini.
“Kenapa lo nggak keluar?” tanya Rian yang sedang memakai snellinya.
“Mager gue mau balik ke ruangan. Numpang tidur bentar di sini,” jawab Arka dan memposisikan tubuhnya berbaring di atas kasur yang ada di tempat ini.
“Terserah lo,” kata Rian dan keluar dari ruangannya.
Namun, sebelumnya dia sudah mengunci laci mejanya agar tangan jahil Arka tidak terus mengambil makanan ringan miliknya. Setelah kepergian Rian, Arka membuka matanya. Wajah sumringah jelas terlihat. Pria itu berjalan mengendap-endap menghampiri meja kerja Rian. Tangannya dengan semangat menarik laci meja itu. Namun, seketika wajah sumringah itu berubah menjadi kelabu.
“Sial, dikunci. Ckck, punya temen pelit banget,” dumel Arka. Dia pun memutuskan untuk kembali ke ruangannya dan tidur di sana.
Sementara itu, Rian sudah bersiap di poli. Sebentar lagi poli akan dimulai, di luar sana sudah berjejer pasien yang mengantre hendak diperiksa. Sebelum satu pasien masuk, Rian menyempatkan diri untuk membuka roomchat. Jarinya mengetikkan beberapa kata yang dia tujukan untuk Alice.
Pagi tadi Alice pamit untuk pergi ke kedai milik mamanya, kemarin sang mama meminta bantuan Alice untuk ikut belanja bahan es krim. Rian tersenyum membaca balasan yang Alice berikan dan ditambah dengan stiker yang baru saja dikirim.
“Semoga hari ini cepet selesai,” gumam Rian meletakkan ponselnya saat seorang pasien memasuki ruangannya.
...🦋🦋🦋...
Tahu dong siapa teman Teo yang dimaksud 🤭 kalau kalian lupa bisa di refresh kembali novel Mantan Rasa Pacar dan lanjutkan ke Mantan Bad Guy.
Terima kasih atas dukungan yang kalian berikan 😘😘😘
__ADS_1