Butterfly

Butterfly
BAB 6


__ADS_3

Revan Dimitria, seorang siswa SMA dan juga pemain basket disekolahnya. Ia merupakan pemain andalan ditimnya walaupun dia bukan seorang kapten tapi kepopulerannya melebihi kaptennya sendiri. Jika ditanya kenapa dia tidak mau menjadi kapten, dia selalu mengatakan kalau menjadi kapten itu terlalu melelahkan dan menanggung beban yang berat ditim, walaupun begitu, dimanapun dan kapanpun Revan berada, pasti teriakan itu selalu ada. Contohnya seperti sekarang ini.


" Revan!!!!!". Teriakan itu memekakkan telinga.


“ Mereka pikir lagi lihat konser boyband!!! mereka itu berisik!”, itulah kata-katanya yang selalu diucapkannya.


“ Udah biar aja, bukannya tambah seru diteriakin gitu, berarti kita punya fans”, ujar Aldo kegirangan. “ Iyakan....”.


“ Dasar bodoh!”.



“ Haaa.....”. Aldo menghela nafas. “ Nggak ngerti lihat si Revan ini, aneh!!!”.


Revan memang tidak menyukai keriuhan, padahal seharusnya ia sudah membiasakan diri dengan situasi seperti ini, walaupun terkadang teriakan itu bisa membuat semangat, tapi disisi lain kalau mereka berisik ditempat yang tidak tepat pastinya membuatnya jengkel.


Sebenarnya ada alasan yang mendasarinya bersikap seperti itu. Waktu di sekolahnya dulu sebelum Revan pindah kesekolahnya ini, situasi seperti ini juga didapatkannya dulu, bedanya dia perlahan-lahan bisa menerima, tapi setelahnya itu membuatnya tidak nyaman dan menjadi masalah tersendiri untuknya.


Teman-temannya satu tim mulai tidak menyukainya dan mengucilkannya secara perlahan, bahkan saat bertandingpun kelihatan mereka tidak ingin Revan bermain seperti biasanya ia bermain. Awalnya Revan bersikap biasa dan masih bisa menerima serta mentolerir keadaan karena ia tahu mengapa mereka bersikap seperti itu, tapi disisi lain ada pertanyaan yang masih dia tidak mengerti, mengapa mereka bersikap seperti itu juga saat sedang bertanding.


“ Kenapa kalian seperti ini?”, tanyanya saat usai bertanding. “ Permainan tim kita kacau, kita hampir saja kalah”.


“ Tim? apa maksudmu dengan tim?”, ujar salah satu dari mereka.


Revan pun menghela nafas. “ Kita mewakili sekolah”,.


“ Lalu??”.

__ADS_1


Revan mengepal tangannya seraya menahan amarahnya. “ Haaa....baiklah, sekarang aku tidak akan segan berkata apapun pada kalian”, ujarnya. “ Bagaimana bisa kalian dikatakan pemain kalau masalah pribadi dibawa kedalam tim. Aku bisa mengerti kenapa kalian bersikap tidak menyenangkan padaku, tapi aku tidak mengerti kenapa kalian tidak bisa membuang rasa benci itu ketika bertanding. Apa kalian tidak melihat bagaimana reaksi mereka melihat permainan kita? kacau! satu hal lagi, aku tidak tahu siapa yang memulai perang ini, tapi yang jelas aku tidak mengambil apapun dari kalian atau berusaha mengambil sesuatu dari kalian”.


“ Apa kamu tidak merasa bersalah dengan apa yang sudah kamu lakukan!!”.


“ Wah.... akhirnya munculnya juga biang kerok dari semua ini, apa ini masalah Bianca?”, tanyanya. “ Aku tidak pernah mendekati pacarmu atau berusaha mendekatinya bahkan aku tidak punya niat sedikitpun, kalaupun kamu melihatku bersamanya itu hanya kebetulan dan satu hal aku tidak menyukainya sama sekali”.


“ Kau!!!”.


“ Kalian semua, ikatan persahabatan kalian memang sangat bagus, salut untuk yang satu itu, tapi kalian harus pintar bukan dibodohi-bodohi hanya dengan ucapan satu orang, seharusnya kalian melihat dari sisi orang yang bersangkutan juga bukan dari sisi orang yang sedang tidak rasional dengan pikirannya, mengerti!!!!”.


“ Apa kamu mau mati”, teriaknya ingin memukul Revan, tapi langsung dihalangi oleh teman-temannya.


“ Wahh....santai saja, jangan emosi seperti itu, bukankah kamu masih mau bermain, lagipula aku juga tidak akan lama disini, aku masih didalam tim karena permintaan pelatih, aku tidak tertarik dengan sekolah ini, jadi sampai ketemu dilain waktu, itupun kalau kalian bisa bertahan, oke!, ujarnya meninggalkan lapangan dan semua orang yang ada disitu cuma bisa diam mendengar ucapan Revan.


Benar saja seminggu setelah itu Revan pindah dari sekolahnya, bukan karena masalahnya dengan temannya saja, tapi karena Revan harus memilih pindah karena ulah orang-orang yang memfitnahnya bahkan teman yang sudah ditolongnyapun tidak membantunya sama sekali. Ia sangat kecewa dengan sikap temannya yang pengecut, tidak masalah untuknya untuk pindah, tapi melihat temannya berbuat hal seperti itu benar-benar membuatnya tidak habis pikir. Bukan hanya itu saja, ada satu orang yang jelas melihat semuanya, tapi tidak pernah menampakkan diri untuk menjelaskan perkara sebenarnya. Apa dunia ini sebegitu tidak adilnya? apakah ini pelajaran yang harus didapatkan untuk tidak mencampuri urusan orang lain sekalipun orang itu sedang dalam kesulitan, apa harus acuh saja? sama sekali tidak mengerti dengan semua pertanyaan ini, tapi pada akhirnya pilihan untuk acuh atau seharusnya lebih berhati-hati lagi melihat situasi karena pada dasarnya ia tidak ingin membuat kedua orang tuanya sedih, walaupun ayah dan ibunya mengerti, tapi melihat wajah mereka yang sedih karena anaknya diperlakukan seperti itu membuatnya sakit.


“ Hei Van, tangkap”, ujar Aldo melempar sebuah minuman. “ Latihan kali ini benar-benar melelahkan, haaa....”.


“ Buatku tidak masalah”.


“ Wah...”.


“ Yang jadi masalah, mereka itu...”. Revan menunjuk sekumpulan orang yang berkerumun melihat mereka latihan. “ Melihat saja sih tidak masalah, tapi teriakan mereka itu...., haaa.....”.


“ Wajarlah, lagian tambah semangatkan”, ujar Aldo. “ Kadang aku heran, punya fans seharusnya senang, ada yang perhatiin, gimana sih!!”.


Yaa...terkadang hal sepele untuk orang lain tapi buat Revan itu sama sekali tidak sepele untuknya. Mungkin dikarenakan masa lalunya, dia tidak ingin terulang lagi, sebisa mungkin dia tidak berurusan dengan mereka. Tapi sebenarnya dengan sikapnya yang seperti itu malah membuat cewek-cewek jadi suka karena penasaran dengan kepribadiannya, ternyata jadi serba salah juga.

__ADS_1


“ Terserah lah..”, ujar Nezu meninggalkan Aldo.


“ Hei Van, mau kemana?’.


“ Pulang”.


Saat perjalanan pulang kerumahnya, tiba-tiba Revan melihat seorang wanita yang ingin menyeberang padahal jalanan saat itu masih ramai dengan kenderaan yang lalu lalang. Spontan ia berteriak. “ Heii...apa kamu mau mati!!!”. Tapi, sialnya semua orang yang berada didekatnya melihatnya dengan pandangan penuh keanehan. “ Apa dia sudah gila, kenapa dia teriak-teriak seperti itu”. Saat melihat reaksi orang-orang Revan baru sadar kalau sebenarnya yang dia lihat bukan seperti yang dipikirkannya. Revan melihat orang itu sekali lagi dan benar saja dia dalam masalah, Revan pun cepat-cepat pergi meninggalkan tempat itu sebelum wanita itu menemukannya. Tapi sayang wanita itu menemukan Revan dan terus mencari perhatiannya, Revan terus bertahan untuk tidak memperhatikannya, tapi dengan segala usahanya, Revan pun kalah juga.


“ Aku ingin kamu membantuku”, pintanya


“ Kenapa aku harus melakukannya?”, tanya Revan ketus.


“ Karena kamu adalah orang yang selama ini aku tunggu”, jawabnya. “ Cuma kamu yang bisa melihatku, aku mohon”.


“ Aku tidak mau!”.


“ Aku mohon, aku akan melakukan apapun sebagai imbalannya, apapun akan aku lakukan, aku janji”, ujarnya.


Revan melihat serius dan bergumam dalam hatinya. Apa yang bisa dia lakukan, apa dia ini bodoh, dia bahkan tidak bisa menyentuh apapun, dilihat orang apalagi, ingin melakukan apapun untukku, aku rasa dia sudah tidak waras. Tapi, wajahnya yang memohon itu sangat serius sekali.


" Aku mohon".


“ Baiklah....baiklah, tapi dengan satu syarat, jangan bicara padaku sesuka hatimu, aku tidak ingin dalam masalah karena bersamamu”.


“ Oke, baiklah, aku mengerti”.


“ Apa dia benar-benar mengerti, aku ragu”, ujarnya pelan.

__ADS_1


Begitulah awal pertemuan antara Revan dan Hana, pertemuan yang tidak diinginkan olehnya. Tapi sangat dinantikan oleh Hana sendiri karena bagi Hana, Revan adalah penyelamatnya yang sudah lama ditunggunya.


__ADS_2