
Sandra memekik tertahan, hampir saja dia terkena lemparan gelas yang dilempar oleh Kevin. Wajah pria itu merah padam menahan emosi yang sudah memuncak, rahangnya mengeras.
PYAR!
Kembali gelas itu hancur lebur menghantam tembok yang berada dekat dengan Sandra berdiri saat ini. Sementara Sandra sudah jatuh terduduk, kakinya lemas. Wanita itu benar-benar takut melihat Kevin murka.
“Lo bener-bener nggak becus!” umpat Kevin menatap manik mata Sandra.
“Gu… gue udah berusaha. Ta… tapi… Argh.”
Kevin mencengkeram rahang Sandra, kuku-kukunya menancap hingga menyebabkan wanita itu berteriak kesakitan.
“Gue nggak sangka lo sebodoh ini! Otak lo tumpul, Ha? Gunain otak lo agar Rian tunduk!”
“Sa… sakit, Kev,” rintih Sandra.
“Hah!” Kevin melepas cengkeramannya dan kembali berdiri.
Kevin berjalan mondar-mandir untuk memikirkan cara bagaimana menghancurkan kehidupan Rian, seperti bagaimana pria itu menghancurkan hidupnya dulu.
“Ini peringatan gue yang terakhir!” tunjuk Kevin pada Sandra.
Pria itu melangkah hendak meninggalkan Sandra, tapi langkahnya terhenti dan berbalik melihat Sandra yang masih bersimpuh di lantai dengan pecahan beling di sekitarnya.
“Kalo lo gagal lagi, mending mati aja,” ucap Kevin menusuk.
Sandra yang mendengar hal itu menggeleng dengan berlinangan air mata. Wanita itu mengejar Kevin dan menahan pria itu, bersujud meminta belas kasihan. Sandra benar-benar membuang harga dirinya saat ini, semua itu agar dia dan bayinya bisa tetap hidup.
“Lo nggak bisa gini, Kev! Lo udah janji sama gue. Ingat dia anak lo!” pekik Sandra kalap.
Kevin tersenyum miring melihat kakinya yang ditahan oleh Sandra, dengan kejam pria itu menendang Sandra hingga cekalan di kakinya terlepas.
“Akh!” pekik Sandra menahan sakit.
__ADS_1
“Sampai gue mati, nggak akan sudi menikahi cewek gobl*k kayak lo!”
Setelahnya Kevin benar-benar pergi dari rumah itu, meninggalkan Sandra yang masih terisak dengan memegangi perutnya untuk melindungi kandungannya.
“Maaf,” lirih Sandra.
Wanita itu mencoba bangkit dan berjalan perlahan dari rumah yang sudah seperti neraka ini. Penyebab Kevin murka, dikarenakan pria itu sudah mendengar bahwa Rian akan segera menikah dan itu berarti rencana Kevin sudah gagal.
Sementara itu, Kevin sedang menuju ke suatu tempat. Mobilnya berhenti di depan sebuah bangunan. Kacamata hitam yang menutupi matanya ia turunkan, melihat sekeliling. Lalu pria itu turun dari mobilnya. Ekspresi wajahnya berbeda ketika dirinya bertemu dengan Sandra tadi. Kevin berjalan memasuki bangunan itu, begitu masuk dia disambut oleh beberapa orang.
“Bisa bertemu dengan Luna?” tanya Kevin pada seorang perawat di sana.
“Ah, ya. Silahkan. Dia sedang duduk di bawah pohon itu,” tunjuk sang perawat pada seorang wanita.
“Terima kasih.”
Kevin berjalan menghampiri wanita itu, tatapannya menjadi sendu. Pria itu bersimpuh di depan wanita yang sedang menatap kosong ke depan. Perlahan Kevin meraih tangan wanita itu, membuat sang wanita mengalihkan pandangannya.
Tidak ada jawaban, hanya tatapan kosong yang Luna berikan pada Kevin. Kevin menatap sedih pada pergelangan tangan dan kaki Luna yang terlihat memerah, seperti bekas ikatan yang sangat kencang.
“Pasti sakit, ya?” tanya Kevin mengusap lembut pergelangan tangan Luna.
Masih belum ada kata yang keluar dari mulut Luna, wanita dengan rambut panjang sepunggung itu masih bungkam.
Kevin menunduk di hadapan Luna, masih dengan genggaman tangannya. Namun Kevin merasakan sentuhan lembut di kepalanya, membuat pria itu mendongak. Dilihatnya Luna tersenyum dengan tangan mengusap lembut rambut Kevin.
“Rian? Kenapa kamu baru datang?” tanya Luna dengan suara parau.
Mendengar pertanyaan dari Luna, membuat hati Kevin bagai tertusuk ribuan jarum. Namun demi melihat senyum Luna, pria itu meleburkan semua emosinya.
“Maaf, pasti kamu lelah menunggu,” jawab Kevin.
“Aku rindu kamu, Ian,” ucap Luna memeluk Kevin.
__ADS_1
Kevin membalas pelukan Luna, tangannya sudah mengepal kuat untuk menahan semua emosinya. Sementara Luna terlihat sangat nyaman memeluk Kevin yang dikiranya adalah Rian. Selama bertahun-tahun Kevin berpura-pura menjadi Rian, semua itu dia lakukan demi Luna. Wanita yang sangat dia cinta dan sayangi. Juga wanita yang saat ini sedang sangat hancur akibat ulah seseorang. Wanita yang terjebak di neraka ini.
Luna seorang wanita cantik dan anggun, dulunya. Sangat ceria tanpa kesedihan. Ramah dengan siapa pun. Benar-benar wanita yang sangat diidam-idamkan banyak pria di luar sana. Namun kini hidupnya hancur. Luna harus menjalani perawatan di sebuah rumah sakit jiwa. Wanita itu dibuang oleh keluarganya. Kini Luna sendirian di tempat ini, sepi yang menemaninya. Namun dalam pikirannya, Luna masih menunggu seseorang yang sangat dia cinta dan sayang.
“Ian, tolong bawa aku pergi dari sini,” pinta Luna dengan berlinangan air mata, “Aku takut berada di sini.”
“Iya, sabar. Aku janji akan segera membawamu pergi dari neraka ini,” jawab Kevin mengusap pipi Luna yang sudah basah oleh air mata wanita itu.
“Neraka? Di mana itu?” tanya Luna terkekeh.
“Aku berjanji akan membawamu ke tempat yang indah. Jadi, bertahanlah sedikit lagi.”
Luna tertawa mendengar ucapan Kevin. Sementara Kevin menatap sendu wanita itu. Hatinya benar-benar sakit melihat bagaimana tersiksanya Luna.
Selama beberapa jam Kevin berada di tempat ini, masih bersama dengan Luna. Kini wanita itu tertidur di sebelahnya, sepertinya lelah setelah menjalani terapi. Kevin dengan setia menemani Luna menjalani terapi untuk kesembuhan wanita itu. Seorang perawat menghampiri Kevin, hendak memindahkan Luna ke kamar.
“Biar saya,” ucap Kevin.
Kevin menggendong Luna menuju kamar rawat wanita itu. Kamar dengan naunsa putih, tanpa ada perabot di dalamnya. Hanya sebuah ranjang dengan kasur yang terlihat tidak nyaman jika ditiduri. Perlahan Kevin merebahkan tubuh Luna di tempat tidur itu. Luna tidak terlihat sedang sakit ketika tertidur seperti ini. Wajah cantiknya masih sama seperti dulu. Sebelum meninggalkan Luna, Kevin mengecup sebentar kening Luna.
“Nice dream, Baby,” ucap Kevin lirih di telinga Luna.
Kevin berjalan keluar dari kamar yang sedang di kunci oleh perawat. Pria itu masih memperhatikan perawat yang mengunci kamar Luna.
‘Bersabarlah sebentar lagi, aku pasti akan mengeluarkanmu dari tempat ini. Kamu harus bahagia, Lun’ batin Kevin.
Kevin masih belum beranjak dari rumah sakit itu. Dia masih berada di tempat parkir, merenung. Memikirkan berbagai cara untuk membalaskan dendamnya pada Rian. Pria yang sudah membuat Luna sangat menderita seperti sekarang ini. Kevin tidak bisa membiarkan Rian hidup bahagia, selagi seseorang terluka akibat ulahnya. Kevin bersumpah akan membuat hidup Rian hancur dan merasakan karma atas perbuatannya dahulu.
“Gue bersumpah, hidup lo nggak akan bisa tenang. Lo harus bayar semua perbuatan lo,” geram Kevin mencengkeram stir mobilnya.
...🦋🦋🦋...
Wadoh 😱 Kepin mo ngapain 😱
__ADS_1