
Perut yang kian lama makin membuncit membuat Sandra lebih mudah merasa lelah. Seperti pagi tadi, tiba-tiba saja Sandra merasakan rasa sakit kepala yang hebat. Dia sendiri di rumah ini karena memang orang yang menjaganya tidak menginap. Seorang wanita kurang lebih berusia empat puluhan tahun yang mengingatkan Sandra pada ibunya. Beliau diminta Rian untuk menemani serta membantu Sandra selama tinggal di rumah ini.
“Nduk, kamu kenapa?” tanya Mbok Inem yang baru sampai rumah yang Sandra tinggali.
Sandra memang sudah menganggap Mbok Inem sebagai ibu kandungnya sendiri. Begitu pula dengan Mbok Inem yang telah menganggap Sandra seperti putri kandungnya. Menurut Mbok Inem, Sandra adalah wanita yang baik.
Hanya saja pergaulannya yang salah dan melewati batas. Memang pergaulan di kota besar sangat mengerikan jika diri sendiri tidak bisa menjaga diri dengan baik, salah-salah malah menjadi terjerumus ke dalam jurang kehancuran.
“Sepertinya hari ini Sandra mau ke rumah sakit, Mbok. Mau periksa dan konsultasi,” jawab Sandra lemas.
Wajah wanita itu pucat. Mbok Inem hanya mengangguk dan segera membantu Sandra menyiapkan keperluan wanita itu.
Sandra memesan taksi online yang akan membawanya ke rumah sakit untuk memeriksakan diri. Tadi Mbok Inem bersikeras ingin mengantar, tetapi Sandra menolak. Dia tidak mau merepotkan Mbok Inem. Juga Sandra masih mampu menjaga dirinya sendiri. Sandra memakai masker untuk menutup hidung serta mulutnya. Dia tidak mau jika nanti ada yang mengenalinya. Jalanan yang macet membuat perjalanan sampai ke rumah sakit menjadi sangat lama.
Kurang lebih dua jam lamanya hingga akhirnya wanita itu sampai di rumah sakit. Sandra segera mendaftar ke bagian administrasi dan menunggu gilirannya di poli kandungan. Sudah banyak beberapa pasien di sana yang juga sedang menunggu giliran. Ada rasa sedih jika melihat pasien- pasien yang kebanyakan di antar oleh suami masing- masing. Sandra mengelus perutnya yang membuncit itu dengan wajah yang sendu.
Tiba giliran Sandra untuk diperiksa. Tidak membutuhkan waktu yang lama untuk memeriksa kandungan Sandra. Kurang lebih limabelas menit Sandra berada di dalam ruangan praktek, berkonsultasi dengan Dokter Widi. Sandra dapat bernapas lega ternyata sakit kepala yang tadi dideranya tidak akan mempengaruhi perkembangan janinnya. Juga keadaan janinnya baik. Hal itu membuat Sandra dapat tersenyum kembali.
Wanita itu tidak langsung kembali ke tempat perasingannya. Dia memutuskan untuk berjalan-jalan sebentar menghirup udara perkotaan yang beberapa waktu dia tinggalkan. Kini Sandra duduk di sebuah taman yang tidak jauh dari rumah sakit. Sandra melepas maskernya saat setelah memeriksa keadaan sekitar.
“Boleh saya duduk di sini?” tanya sebuah suara membuat Sandra terkejut dan segera memasang ekspresi waspada, “Maaf jika kehadiran saya membuat terkejut,” lanjut orang itu.
__ADS_1
“Ah tidak, silahkan duduk. Tadi saya hanya terkejut.”
Sandra diam-diam memperhatikan seseorang yang duduk diam di sebelahnya. Seorang wanita dengan paras cantik serta pembawaan yang anggun. Namun, jika diperhatikan lebih dalam ada guratan kesedihan di wajah ayu itu.
“Hamil berapa bulan?” tanya wanita itu menunjuk perut buncit Sandra.
“Empat bulan,” jawab Sandra. Wanita itu hanya mengangguk setelah mendengar jawaban dari Sandra.
Tidak ada percakapan lagi setelah itu. Keduanya sama- sama terdiam dengan pikiran masing-masing. Namun, tiba-tiba saja wanita yang duduk di sebelah Sandra berdiri membuat spontan Sandra menoleh.
“Saya permisi,” pamit wanita itu berjalan menjauh dari Sandra sebelum dia sempat menjawab.
Namun, langkah wanita itu terhenti. Lalu berbalik ke belakang dengan senyum manis yang bahkan membuat Sandra terpesona.
Tanpa sadar Sandra hanya mengangguk dan belum sempat dirinya memberitahukan namanya, Luna sudah pergi dari sana. Kernyitan di dahi Sandra muncul setelah bertemu dengan Luna. Wanita cantik yang aneh, kurang lebih seperti itu apa yang Sandra pikirkan.
Setelah puas berdiam diri menikmati udara kota, Sandra memutuskan untuk pulang. Dia tidak mau keberedaannya terendus oleh Kevin. Kemungkinan-kemungkinan itu bisa saja terjadi, mengingat jarak antara taman dengan apartemen pria itu tidak terlalu jauh. Sandra kembali memesan taksi online yang akan membawanya pulang. Hari sudah sore tanpa di rasa, langit dengan warna jingga menemani perjalanan Sandra.
Lagi-lagi wanita itu harus kembali terjebak kemacetan di kota besar ini. Mata Sandra tidak sengaja melihat sebuah gedung pencakar langit yang berdiri angkuh tepat di sebelah taksi yang ditumpanginya. Sebuah gedung perusahaan yang sangat Sandra kenali siapa pemiliknya.
‘Gue nggak akan pernah biarkan anak ini bertemu dengan papanya,’ batin Sandra, matanya masih tidak melepaskan gedung itu walau taksi sudah kembali berjalan menjauh dari sana.
__ADS_1
‘Gue bener-bener akan menjauhkannya dari pria iblis itu,’ batin Sandra mencengkeram tali tasnya.
Mata wanita itu memanas mengingat semua kenangan serta beban hidupnya yang sangat berat. Tentu dia tidak mengulangi hal bodoh seperti tempo hari. Sandra akan terus mempertahankan malaikat kecilnya apapun yang terjadi. Dia sudah menyusun strategi setelah kelahiran buah hatinya nanti.
Suara dering ponsel mengejutkan Sandra yang sejak tadi melamun. Kini masih setengah perjalanan hingga smapai di rumah pengasingannya. Senyum Sandra terbit tatkala mengetahui siapa yang menghubunginya. Dia segera menjawab panggilan itu.
“Halo?” sapa Sandra.
“Kok kamu tau?” tanya Sandra terkejut mendengar pertanyaan dari snag penelpon di seberang sana.
“I… iya, maaf aku nggak kasih tau kamu dulu. Tadi aku bertemu dengan Dokter Widi,” jelas Sandra.
Akhirnya Sandra menceritakan apa yang tadi terjadi padanya. Percakapan di akhiri oleh si penelpon. Sandra masih menatap layar ponselnya, wajahnya mendadak sedih. Hembusan napas keluar dari mulut wanita itu. Dia kembali ponselnya dan matanya menatap jalanan yang makin ramai oleh kendaraan yang lalu-lalang. Taksi yang ditumpangi Sandra sudah keluar dari kota dan sedang menuju tempat tujuan. Langit sudah gelap, kerlip lampu menemani perjalanan Sandra malam ini.
Kurang lebih selama hampir satu jam akhirnya Sandra sampai. Jalanan tidak semacet pagi tadi sehingga dia lebih cepat sampai. Sandra melihat Mbok Inem yang sedang berdiri di teras rumah. Beliau segera berjalan menghampiri Sandra begitu wanita itu turun dari taksi. Ada raut cemas dari wajah sepuh itu. Hal itu membuat hati Sandra menghangat. Ternyata masih ada seseorang yang mengkhawatirkan serta sayang padanya.
“Mbok, kenapa belum pulang? Ini sudah malam lho?” tanya Sandra.
“Bagaimana bisa Mbok pulang terlebih dulu sementara Mbak Sandra belum sampai rumah? Sekarang Mbok lega setelah melihat Mbak Sandra sampai dengan selamat, ayo masuk. Mbok tadi masak makan malam,” ucap Mbok Inem menuntun Sandra masuk ke dalam.
...🦋🦋🦋...
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak, yeu 😘😘😘