
Rian menepuk-nepuk punggung Alice, sementara gadis itu masih terbatuk-batuk. Ucapan Reni tadi benar-benar tidak terduga sama sekali, air yang baru masuk tenggorokkan seakan menyangkut di sana. Alice memberi kode pada Rian jika dirinya sudah tidak apa-apa.
“Kalau kamu terbebani, biar nanti aku ngomong sama mama,” ucap Rian dengan wajah sedih.
Alice terdiam, entah mengapa hatinya berdenyut sakit melihat wajah murung Rian. Namun, Alice masih belum berani membuka hatinya, walau jujur dirinya merasakan gelenyar aneh saat berdekatan dengan pria itu. Alice tidak bodoh untuk mengartikan perasaan anehnya itu, jelas dirinya telah jatuh cinta pada pria itu.
“Beri Alice waktu, Mas,” kata Alice.
Rian mendongak dan menatap gadisnya itu, senyum terbit di wajah tampannya. Senyum itu menular pada Alice.
“Tentu aku akan tunggu kamu, Al. Aku juga nggak bisa memaksamu.”
“Alice hanya masih takut untuk menjalin hubungan lagi,” gumam Alice.
Rian mengernyit, apa ada sesuatu di masa lalu gadis itu? Pria itu kini penasaran dengan kisah hidup Alice di masa lalu. Namun, melihat ekspresi wajah Alice yang terlihat enggan bercerita, membuat Rian membuang napas.
“Sepertinya memang aku harus bersabar lagi, Al,” gumam Rian.
Setelah sarapan, Alice berpamitan pada Reni. Pagi ini ia ada kursus bahasa, tapi Alice tidak memberitahu kemana dirinya akan pergi pada Reni. Alice melajukan kendaraannya menuju tempat kursus. Namun baru saja sampai, Alice dikejutkan dengan keberadaan Sandra. Alice memparkirkan motornya dan Sandra yang melihat kedatangannya segera menghampirinya.
“Gue mau ngomong sesuatu sama lo,” kata Sandra to the point, “Ayo ke café depan,” tunjuk Sandra dengan dagunya dan berjalan meninggalkan Alice.
Alice mendengus sebal, masih saja wanita itu sombong. Namun, Alice juga mengikuti langkah wanita itu.
‘Lumayan dapet kopi gratis,’ batin Alice bersorak gembira.
Alice duduk di depan Sandra, mata Alice tidak sengaja melihat perut Sandra yang terlihat membuncit. Dalam hati ia juga merasa kasihan terhadap Sandra.
“Silahkan pesanannya,” ucap seorang pelayan meletakkan dua cangkir kopi dan teh di meja.
“Mbak Sandra mau ngomong apa?” tanya Alice setelah menyeruput kopinya.
“Please, gue minta tolong sekali ini sama lo. Lepasin Rian! Gue bener-bener cinta sama dia, ini semua demi anak yang ada di perut gue,” pinta Sandra dengan wajah memelas.
‘Hilih, pret,’ batin Alice.
Alice tidak langsung menjawab, dia kembali meminum kopinya. Sementara Sandra masih menunggu gadis didepannya ini. Dalam hati Sandra menahan emosinya melihat Alice yang seperti sengaja mengulur waktu.
“Nggak bisa, Mbak,” jawab Alice.
__ADS_1
“Kok nggak bisa?” tanya Sandra mengernyitkan dahinya.
“Alice, 'kan, masih kerja sama Mas Rian.”
“Gue udah pernah bilang sama lo, ya! Gue bakal cariin kerja lain, agar lo bisa menjauh dari Rian,” ucap Sandra yang tersulut emosi.
“Mbak Sandra sama Mas Rian menikah, memang Bu Reni merestui?”
SKAKMAT!
Wajah Sandra sudah merah padam karena emosi, sementara dalam hati Alice sudah tertawa terpingkal-pingkal. Namun, Alice mengatur ekspresinya untuk sedatar mungkin.
BRAK!
“Pokoknya gue nggak mau tau! Lo harus jauhin Rian!” bentak Sandra menunjuk wajah Alice.
Setelahnya Sandra berlalu pergi, membuat Alice menggelengkan kepala melihat tingkah wanita itu. Namun setelahnya Alice menyadari sesuatu.
“Lah? Mbak Sandra! Ini kopi sama tehnya nggak di bayar dulu?” panggil Alice yang tentunya sia- sia, karena Sandra telah menghilang.
Alice melirik pelayan yang berdiri tidak jauh darisana, gadis itu memamerkan gigi putihnya.
Akhirnya Alice tidak masuk kursus akibat waktunya di sita oleh Sandra tadi. Ia pun memutuskan untuk ke kos Fia. Sesampainya di kos Fia, Alice mengernyit melihat sang pemilik kamar ternyata ada di tempat. Namun Fia sudah terlihat cantik, entah mau kemana gadis itu.
“Lo mau kemana, Fi?” tanya Alice.
“Eh? Lho lo nggak ada kursus?”
“Tadinya mau masuk gue, tapi ada orang nggak waras tadi. Jadi gue bolos,” jawab Alice merebahkan diri di kasur, “Lo belom jawab pertanyaan gue tadi, lo mau ke mana?”
“Gue mau pergi ketemu orang."
Mata Alice memicing. “Lo punya pacar, Fi?”
“Hah? Pacar apaan? Gue baru kenal dia kok.”
“Kenapa lo dandan kalo dia bukan pacar lo? Lo biasanya cuma dandan kalo kerja doang,” interogasi Alice.
TING!
__ADS_1
Fia melirik ponselnya yang menampilkan sebuah notifikasi chat masuk, cepat-cepat gadis itu mengamankan ponselnya sebelum Alice mengambilnya.
“Gue pergi dulu, dia udah nunggu di depan. Bye Alice,” pamit Fia buru-buru.
“Aish, gue kepo, 'kan,” gumam Alice memejamkan matanya.
Kini hanya Alice seorang, gadis itu memejamkan matanya merasakan kepalanya yang berdenyut. Sungguh banyak sekali masalah yang datang silih berganti padanya. Alice kembali membuka matanya, mencari sebuah benda yang sangat berarti baginya. Sebuah buku rekening suatu bank. Ia membuka-buka lembaran buku itu, lalu menghembuskan nafas pasrahnya.
“Udah cukup,” gumam Alice.
Alice merebahkan tubuhnya, menatap langit-langit kamar yang terlihat kusam. Hatinya kini terasa berat untuk meninggalkan semua orang yang ia sayangi. Apalagi ketika teringat wajah tampan dengan sorot mata tajam itu. Seketika wajahnya bersemu merah, Alice mengipasi wajahnya yang terasa gerah.
“Huh, apa bisa sekarang gue pergi?” gumamnya dengan raut wajah sedih.
Suara ponsel yang bedering dengan layar berkedip membuat khayalan Alice buyar. Gadis itu meraih ponselnya dan melihat siapa yang menelpon, ternyata pria yang sedaritadi berseliweran dalam pikirannya.
“Halo?”
“Alice bisa nanti temani mama? Kamu menginap saja di rumah mama. Mama minta pulang hari ini. Nanti siang aku ada operasi, mungkin akan sampai malam. Apa kamu keberatan?”
“Nggak, Mas. Nanti Alice temani mama.”
“Oke, aku jemput ke kosmu.”
“Nggak per…”
Sambungan sudah terputus, Alice mendengus sebal. Namun, setelahnya senyum samar terbit di bibir gadis itu.
...🦋🦋🦋...
Setelah makan malam, Reni langsung masuk ke kamarnya untuk beristirahat. Sementara Alice masih membereskan peralatan makan dibantu dengan ART di rumah ini. Padahal Mbok Jum –nama ART Reni– sudah melarang Alice untuk bersih-bersih, tapi memang Alice sendiri yang ingin membantu. Setelah selesai, Alice tidak langsung masuk kamar.
Gadis itu duduk di halaman belakang. Malam ini langit terlihat cerah, banyak bintang berterbaran di langit itu. Alice mendongak memandangi bintang itu.
“Apa mama dan papa sudah bahagia di sana?” tanya Alice dengan senyum dipaksakan.
Angin malam berhembus, membuat malam ini terasa dingin. Alice memutuskan untuk masuk ke kamarnya. Namun, lagi-lagi gadis itu tidak langsung tidur. Duduk di depan jendela yang tertutup tirai.
...🦋🦋🦋...
__ADS_1