Butterfly

Butterfly
BAB 10


__ADS_3

“ Revan ”, panggil Irena. “ Apa yang sedang kamu lakukan? seperti sedang mencari seseorang”.


“ Tidak, aku tidak sedang mencari siapa-siapa”, ujar Revan. “ Ada apa, apa kamu mencariku?”, tanyanya.


“ Ahhh...tidak, sebenarnya ada yang ingin aku katakan padamu”, jawabnya. “ Memang ini sedikit pribadi, tapi aku ingin tahu jawabanmu”.


“ Tentang apa?”.


“ Tentang perasaanku. Aku menyukaimu, Revan”, ujarnya. “ Sudah lama aku menyukaimu, tapi aku takut mengatakannya karena kita sudah lama berteman. Aku ingin tahu bagaimana perasaanmu padaku”.


“ Irena, kamu gadis yang baik, cantik, juga pintar, pria mana yang tidak tertarik padamu, tapi aku hanya ingin berteman denganmu”.


“ Kenapa? apa ada seseorang yang kamu suka?”.


“ Ya. Aku tidak ingin kehilangan dia, bahkan untuk kedua kalinya”.


“ Maksudnya, dia cinta pertamamu”.


“ Aku tidak tahu apa bisa disebut seperti itu karena aku masih kecil saat itu, bahkan aku bicara seperti ini karena aku baru tahu kalau dia adalah orang itu. Walaupun sebelum aku tahu dia adalah orang itu, aku ingin bersamanya walau aku sadar itu tidak mungkin”.


“ Kenapa tidak mungkin”.

__ADS_1


“ Karena ada batas antara kami berdua”.


“ Dari caramu berbicara tentangnya, sebesar itukah kamu menyukainya”, ujarnya. “ Apa tidak ada kesempatan untukku?”.


“ Maafkan aku Irena”.


“ Ya....paling tidak aku sudah tahu bagaimana perasaanmu walaupun sangat menyakitkan, tapi kita masih bertemankan?”.


“ Tentu kita masih berteman”.


“ Baiklah, aku terima pertemanan ini”. Ia pun tersenyum mendengar ucapan Irena.


“ Kebetulan kamu muncul disini”, ujarnya. “ Apa kamu bersama Hana kemarin?”.


“ Soal itu iya”.


“ Kenapa tidak memberitahuku, aku mencarinya kesana kemari. Kamu tahu aku sangat khawatir, tidak tahu dia ada dimana dan sedang apa”.


“ Ponselku mati, tadinya hanya berjalan sebentar, tapi....”.


“ Tapi, tapi apa?”. Viran hanya diam mendengar pertanyaan Revan. “ Viran, apa kamu menyembunyikan sesuatu?”, tanyanya penasaran.

__ADS_1


“ Bukan seperti itu”, jawabnya. “ Revan sebaiknya kamu mengangkat ponselmu”, ujar Viran yang memang sedari tadi ponsel Revan terus berdering. Ia pun mengambil ponselnya itu.


“ Halo nek”, ujarnya. “ Ezu, lagi disekolah”.


Revan pun berlalu pergi dari Viran dan Irena sembari bertelepon. Viran seperti tidak asing dengan nama itu.


“ Ezu??”, gumamnya. “ Itukan....Hana, jadi Revan itu...wah...ini benar-benar ajaib, bagaimana bisa seperti ini, apa ini yang dinamakan takdir”.


“ Apa maksudnya?”, tanya Irena yang bingung dengan ucapan Viran. “ Apa wanita yang bernama Hana itu...apa dia wanita yang Revan suka?”.


“ Iya, dia Hana”, ujar Viran. “ Mereka sudah ditakdirkan bersama, bagaimanapun mereka terpisah, mereka akan bersatu pada akhirnya”.


“ Kenapa kamu seyakin itu, Revan bilang ada batas diantara mereka, dia tidak yakin akan bisa bersama”.


“ Karena Revan tidak tahu kalau batas itu sudah tidak ada”.


“ Kenapa aku merasa kalau kamu tahu semuanya, tapi kenapa kamu tidak memberitahukan padanya?”, tanya Irena. “ Apa jangan-jangan kamu menyukai Hana?”.


“ Karena Hana yang memintanya”, jawabnya. “ Aku memang menyukainya walaupun aku belum lama mengenalnya, andai saja aku bertemu dengannya lebih awal, pasti semuanya tidak akan seperti ini. Aku tidak akan merebut apapun dari mereka karena mereka berdua adalah temanku, aku juga ingin yang terbaik untuk mereka. Itu bagian dari kebahagianku juga”.


“ Mendengar mu bicara seperti itu membuatku lega, aku menyukai Revan, tapi aku rasa aku tidak bisa memaksakannya untuk menyukaiku, berteman juga baguskan”. Viran pun mengangguk lalu tersenyum mendengar ucapan Irena.

__ADS_1


__ADS_2