Butterfly

Butterfly
Permintaan Reni


__ADS_3

Alice berlari menyusuri koridor rumah sakit, tadi dirinya di telpon oleh Nina –salah satu karyawan di kedai–. Nina mengabarkan bahwa Reni kembali masuk rumah sakit. Beruntung pekerjaan Alice di apartement Rian sudah selesai. Alice mengatur nafasnya sebelum memasuki ruang rawat inap Reni. Setelah mengetuk pintu dan Nina membukakan pintu untuknya, Alice masuk ke dalam. Di dalam sana Reni tengah terbaring lemah di bed. Selang infus dan oksigen juga di pasang.


“Ibu kenapa, Nin?”


“Drop lagi, Mbak. Tadi Mbak Sandra ke kedai, tapi Nina nggak tau mereka ngobrol apa,” jelas Nina, membuat Alice terkejut.


‘Mau apalagi Mbak Sandra menemui Ibu?’ batin Alice.


“Ya udah, lo pulang aja. Biar Ibu gue yang jaga, hari ini gue izin dulu. Ngomong Mbak Dewi ya? Biar dia yang handle dulu.”


“Iya, Mbak. Kalau begitu Nina pulang dulu.”


“Makasih ya, Nin.”


“Iya, Mbak.”


Alice berjalan mendekat kearah bed Reni, ia mengusap tangan kanan Reni yang terbebas dari infus dengan lembut. Alice merasa tidak tega melihat tubuh lemah Reni. Beliau merupakan wanita yang baik dan tangguh.


Reni membuka matanya, beliau melihat sekeliling. Reni tersenyum samar saat melihat Alice duduk di sebelah bednya. Alice yang melihat Reni sudah bangun berdiri dari duduknya.


“Bagaimana keadaan Ibu? Ada yang sakit?” tanya Alice, menggenggam tangan kanan Reni.


“Panggil Mama ya, Alice?” pinta Reni.


Mendengar permintaan Reni membuat Alice merasa tidak enak. Alice teringat bagaimana awal pertemuan mereka dulu.


“Iya, Ma,” jawab Alice dengan senyumnya.


“Terima kasih, sayang.”


Alice tersenyum, ia merasa kembali mendapat kasih sayang orang tua yang sudah lama tidak ditemukannya.


“Mama mau apa? Minum? Atau mau makan?”


“Nggak, sayang. Cukup kamu di sini menemani Mama.”


Tanpa keduanya sadari, di luar kamar Rian berdiri mendengarkan obrolan kedua orang yang paling ia sayangi. Rian berniat mampir menjenguk sang Mama sebelum dirinya melakukan operasi. Senyum Rian tercetak dibibirnya, pria itu pun berlalu dari sana.


...🦋🦋🦋...


Sampai malam hari, Alice masih bertahan di rumah sakit menemani Reni. Gadis itu akan pulang jika Rian sudah kembali. Tadi dirinya mendapat informasi dari salah seorang perawat jika Rian masih melakukan operasi sejak siang tadi. Reni sudah tidur, sementara Alice sedang belajar. Tadi dirinya pamit pulang sebentar untuk mengambil baju ganti juga buku-buku. Reni belum tahu jika Alice hendak pergi. Alice menguap, merasakan kantuk. Namun, gadis itu masih memaksakan diri untuk membaca bukunya.


“Lama juga operasinya, daritadi siang padahal,” gumam Alice melihat jam di dinding yang sudah menunjukkan pukul sepuluh malam.


Lama-kelamaan, Alice jatuh tertidur dengan posisi duduk. Kepalanya ia tidurkan di meja dengan buku masih berserakan. Beberapa menit kemudian, pintu ruang rawat Reni terbuka. Dan tidak lama Rian masuk dengan wajah lelahnya, kedua matanya pun sudah berkantong. Matanya tidak sengaja menatap Alice yang terlihat tidak nyaman dengan posisi tidurnya.

__ADS_1


Pria itu menghampiri gadis itu dan ikut duduk disebelahnya. Ia merapikan anak rambut yang jatuh menutupi wajah cantik Alice. Rian pun memindahkan Alice ke sofa agar tidurnya lebih nyaman, tapi tiba-tiba gadis itu terbangun.


“Oh? Mas Rian, udah selesai?” tanya Alice mengucek matanya.


“Iya, baru selesai tadi.”


“Kalo gitu Alice pulang dulu, Mas,” ucap Alice membereskan barang-barangnya.


“Udah malem, Al. Kamu nginep di sini aja. Kamu bisa pake ruanganku, di sana ada bed.”


Alice mendengus mendengar tawaran Rian, tidur di ruangan pria itu? Lalu bagaimana jika tiba-tiba ada yang masuk? Dirinya bisa terkena masalah nanti.


“Nggak usah, Mas. Alice pulang aja…”


Belum sempat Alice menyelesaikan ucapannya, gadis itu dikejutkan dengan wajah Rian yang tiba-tiba mendekat.


“Nurut atau aku cium?”


Wajah Alice sudah pucat. “Jang…”


“Ssst, nanti mama bangun.”


Rian tersenyum miring melihat tingkah Alice yang menggemaskan, gadis itu spontan melirik melihat keadaan Reni.


“Ayo aku antar kamu ke ruanganku,” ajak Rian.


CUP!


Sebuah kecupan mendarat di sudut bibir Alice, membuat gadis itu membulatkan matanya. Sementara Rian tersenyum bahagia.


“Mau jalan sendiri atau aku gendong?” goda Rian.


Alice mendengus sebal, ia pun segera berdiri dan menatap Rian jengkel. Ia sudah tidak bisa menolak lagi.


“Sebentar ya, aku cek keadaan mama dulu.”


Satu hal yang baru saja Alice ketahui tentang pria itu. Rian merupakan pria yang nekat. Tentu Alice memilih menyelamatkan diri daripada menjadi korban pria itu.


Rian mengecek keadaan sang mama. Mulai dari selang infus hingga selang oksigen, semua tidak luput dari pemeriksaan Rian. Sepertinya Reni kembali mengalami syok dan stress. Sampai saat ini Rian masih belum mengetahui apa motif Sandra menemui Reni.


“Ayo, Al,” ajak Rian setelah selesai memeriksa kondisi Reni.


Alice hanya mengangguk dan mengikuti langkah Rian dari belakang. Jalannya menunduk saat beebrapa kali mereka berpapasan dengan perawat atau dokter jaga yang menyapa Rian. Alice merasa kesil di samping pria itu.


“Masuk, Al.”

__ADS_1


Rian membuka pintu sebuah ruangan dan mempersilakan Alice masuk. Gadis itu masuk dan memperhatikan sekeliling ruangan itu. Ternyata ruangan milik Rian ini rapi, tidak seperti wujud apartemennya.


“Kok di sini rapi?” tanya Alice masih memperhatikan sekelilingnya, memang benar kata Rian tadi ada sebuah bed di ruangan ini.


“Tadi baru aku bereskan, udah sana istirahat,” suruh Rian sedikit mendorong Alice.


“Kunci kamu aja yang bawa.”


“Lho? Terus Mas Rian dimana?”


“Ya aku di kamar rawat mama,” jawab Rian.


Alice memejamkan matanya menyadari pertanyaan bodoh yang keluar dari mulutnya.


Sementara Rian tersenyum berniat menggoda Alice. “Kenapa? Kamu mau aku di sini?”


“Nggak! Udah sana keluar!” Alice mendorong punggung lebar Rian.


“Hahaha, oke-oke. Kalau ada apa-apa telpon aku aja.”


“Iya.”


...🦋🦋🦋...


Rian masuk ke dalam ruang rawat inap Reni. Pria itu mengernyit melihat Reni yang ternyata belum tidur. Rian mengusap tengkuknya canggung, berarti sejak tadi Mamanya itu mendengar semua pembicaraannya bersama Alice. Juga kecupan singkat tadi pun pasti mamanya itu melihat.


‘Astaga. Nyokap gue pinter akting ternyata, padahal pas tadi gue periksa keliatan udah tidur,’ batin Rian berjalan mendekati bed Reni.


“Mama belum tidur?” tanya Rian duduk di sebelah bed Reni.


“Rian, tadi Sandra datang ke kedai. Dia mengancam Mama,” ucap Reni memalingkan wajahnya.


Sementara Rian berusaha keras untuk tetap tenang dan tidak tersulut emosi. Kedua tangannya terkepal kuat dan rahangnya mengeras.


“Sandra mengancam akan bunuh diri jika Mama tidak merestui hubungan kalian,” lanjut Reni, air mata wanita itu meluncur keluar.


“Tentu Mama terkejut mendengar ancaman Sandra, dia putus asa sekali Rian.”


“Tapi dia bukan anak Rian, Ma,” ucap Rian membuka suara.


“Bagaimana kamu tau?”


“Rian tidak pernah melewati batas bersama Sandra,” aku Rian.


Reni terlihat terkejut. “Benarkah? Lalu sekarang kamu bisa mengabulkan permintaan Mama?”

__ADS_1


...🦋🦋🦋...


Alice udah dapet lampu ijo 😃😃😃 Kira-kira apa permintaan Bu Reni, ya? 🤔🤔


__ADS_2