Butterfly

Butterfly
BAB 4


__ADS_3

Namaku Hana, aku bukan manusia, aku hanya roh yang terjebak didunia manusia. Aku tidak tahu kenapa bisa begitu, saat aku membuka mata tahu-tahu aku sudah ada ditempat ini. Awalnya aku berpikir kalau aku juga manusia, tapi setelah aku melihat cermin, betapa terkejutnya aku melihat “ tidak ada sama sekali bayangan dicermin!!”.


“ Hei...apa kamu sedang membuat prologue???”, tanya Revan yang melihat tingkah Hana yang aneh.


“ Apa kamu mau mati!”.


“ Ha...”. Revan menghela nafas. “ Aku sudah bilang jangan berurusan dengan hantu, apalagi hantu yang tidak waras, aku rasa selama hidupnya selalu membuat orang kesal”.


“ Aku dengar apa yang kamu katakan”.


“ Siapa yang perduli”, ujar Revan meninggalkan Hana yang masih terbengong.


 


“ Bagaimana denganku!! aku naik apa kesana”, tanyaku yang membuat langkahnya terhenti lalu berbalik menuju Hana.


“ Apa kamu ini manusia?”, tanyanya, Hana menggelengkan kepalanya. “ Lalu kamu ini siapa?”.


“ Hantu”.


“ Apa aku harus memberi tahu bagaimana caranya kamu sampai disana?”. Hana terdiam sejenak untuk berfikir lalu dia pun tersenyum kecil. “ Maaf”.


“ Aishhh.....itulah kenapa aku memanggilmu hantu bodoh, sekarang kamu mengertikan??”. Mendengar ucapan Revan , Hana hanya memonyongkan bibirnya.


“ Sekarang aku boleh pergi?”. Hana pun menganggukkan kepalanya.


“ Maaf sudah menyusahkanmu”, ujarku.


“ Memang selalu menyusahkan’, ujar Revan berlalu pergi.


“ Haaa....dia benar-benar, ucapannya itu selalu saja menusuk, kenapa dia bisa jadi orang keberuntunganku, ini benar-benar tidak bisa dipercaya, aku ingin......haaa....aku harus sabar, sabar, benar-benar harus sabar!!!”.


Dari atas loteng sekolah, Hana melihat Revan dan teman-temannya menuju bus yang akan membawa mereka ke tempat pertandingan. Mereka kelihatan sangat senang dengan pertandingan ini walaupun hanya latihan tanding tapi karena yang dihadapi merupakan sekolah yang sangat kuat, kesempatan ini membuat mereka lebih bersemangat. Apalagi dengan Revan, eksperesinya itu........” Kenapa ekspresinya itu sangat berbeda kalau berhadapan denganku!!!! apa tidak bisa lebih manis lagi kalau berbicara denganku!!Haaaaa!!!! Revan!!!!! kamu benar-benar sangat menyebalkan!!!!!. Ha.....aku menghela nafas akhirnya semua yang ingin aku katakan sudah aku utarakan. “ Beruntunglah aku ini hantu, apapun yang aku lakukan tidak ada yang tahu, ya....terkadang aku bangga juga”.


“ Apa dia sudah gila, dia pikir aku tidak mendengarnya”, ujar Revan berbicara sendiri setelah mendengar teriakan Hana tadi.


“ Van....apa kamu sudah gila bicara sendiri?”, celoteh Aldo.


“ Apa aku terlihat seperti itu?”, tanya Revan , Aldo pun mengangguk. “ Haa....benar-benar membuatku gila”.


“ Aku rasa memang begitu”, timpal Aldo menyetujui ucapannya.


Bus yang membawa mereka pun tiba ditempat tujuan, mereka pun keluar satu persatu lalu disambut oleh salah satu anggota panitia yang sudah menunggu mereka. Revan benar-benar takjub dengan sekolah ini, benar-benar sangat besar dan bagus. “ Aku masih tidak percaya kalau hantu gila itu sekolah disini”.


“ Kamu tidak percaya padaku?”, ujar Hana yang tiba-tiba muncul disamping Revan.


“ Kamu ini benar-benar hantu, muncul tiba-tiba, bicara seenaknya, wah...... dan aku harus percaya padamu kalau seorang Hana siswi disini, luar biasa”.


“ Aku memang luar biasa”.


“ Aku sedang tidak memujimu”.


“ Tapi.....”.


“ Tapi apa?”.


“ Entah kenapa saat aku memasuki tempat ini, aku merasa.......aku tidak tahu perasaan apa ini, benar-benar tidak bisa dikatakan, ada rasa seperti......aku membenci tempat ini”.


“ Kenapa seperti itu? bukankah kamu sangat menantikan hari ini, hari dimana kita bisa masuk ke tempat ini untuk mencari tahu tentang adikmu”.


“ Itu benar aku sangat menantikannya”, ujar Hana. “ Hemmm....mungkin ini hanya perasaanku saja, kita lupakan saja”.


“ Apa benar?”. Aku pun mengangguk. “ Baiklah, aku harus gabung dengan teman-temanku, kamu berkelilinglah”.


“ Oke”, ujarku. “ Oh iya pertandingannya jam berapa?”, tanyaku.


“ Sekitar jam dua”, jawab Revan. “ Apa kamu akan datang?”.


“ Aku akan datang”.


“ Oke, baiklah, aku harus pergi”.


“ Semoga menang”.


“ Tentu”, ujar Revan tersenyum lalu pergi meninggalkanku.


“ Haaa....”. sekali lagi aku menghela nafas. Perasaan apa ini? aku benar-benar tidak suka, rasanya sangat menyesakkan dan menyakitkan. Apa yang sebenarnya terjadi denganku dan sekolah ini? aku benci bayangan dikepalaku muncul kembali, ini benar-benar sangat menyakitkan untukku.


“ Hana”. Mendengar namaku disebut dengan spontan aku menolehkan kepalaku kearah suara itu. “ Bunga, itu artinyakan???”, ujarnya.


“ Benar, bukankah bunga sangat disukai banyak orang”.


Ternyata suara itu berasal dari siswi disini yang sedang belajar bahasa, ya....namaku bisa diartikan bunga jika dilihat dari bahasa Jepang. Aku sangat suka dengan namaku bila diartikan bunga, benar yang dikatakannya bukankah bunga sangat disukai oleh semua orang, ya....setidaknya aku ingin seperti itu, disukai banyak orang.


“ Tunggu....,kenapa?? sepertinya kata-kata ini tidak asing untukku, dimana aku pernah mendengarnya? Haa....sudahlah aku harus mencari Rena”.


Aku berkeliling mencari Rena disetiap sudut kelas, agak susah mencari Rena ditempat seramai ini, mungkin Rena ada kegiatan karena event ini atau mungkinkah dia tidak datang kesekolah? semoga saja tidak, ini satu-satunya kesempatan yang aku punya untuk bertemu dengannya. “ Dia...”. Aku menoleh kebelakang saat orang itu berjalan melewatiku. Aku terdiam terpaku sejenak melihatnya, perasaan yang tidak bisa aku ungkapkan. “ Dia....kenapa...sepertinya aku mengenalnya?”. Aku pun berlari mengejarnya sebelum dia benar-benar jauh. “ Gedung olahraga?”, gumamku. Aku pun tersadar dan melihat jam tanganku, hampir jam dua, aku pun bergegas masuk dan mencari keberadaan Revan. “ Ahhh....itu dia”. Aku pun melambaikan tanganku kearah Revan, berharap dia melihatku. Aku pun langsung tersenyum melihat reaksi Revan yang menggeleng-gelengkan kepalanya saat melihatku.


 


“ Revan!!! semangat!!!”. Terkadang ada untungnya kalau aku hantu, aku bisa melakukan apapun, tidak ada yang bisa melarangku, tidak ada yang melihatku sinis, apalagi membicarakanku, haaa.....kenapa tiba-tiba aku menjadi bangga??. “ Ahhh....Diakan!!!”, teriakku begitu melihat orang itu dilapangan.


 


“ JIN!!!!!”, teriak mereka. “ SEMANGAT JIN!!!


“ Jin”, gumamku mengulang namanya. “ Ahhhhh...”, erangku kesakitan. Kepalaku mulai sakit lagi, terlintas bayangan-bayangan masa lalu dikepalaku. “ Dia...dia siapa? kenapa dia....dia seperti orang itu, Jin???. Aku pun keluar dari tempat itu karena tidak tahan dengan sakit yang kurasakan saat aku melihat Jin. Untuk beberapa saat aku tidak memperdulikan Revan yang sedang bertanding dan tak terpikirkan pada akhirnya Revan panik karena tidak melihatku ditempat itu.


“ Revan”, panggil seseorang dan Ia pun menoleh melihat orang yang memanggilnya. “ Hai, namamu Revankan?”. Revan pun menganggukkan kepalanya. “ Namaku Jin”, ujarnya memperkenalkan diri.


“ Hai, terima kasih atas pertandingannya hari ini”, ujarku.


“ Ha...kalian benar-benar tim yang hebat”.


“ Ah tidak kami kalah hari ini”.


“ Itu cuma soal tekhnis, kalian benar-benar hebat”.


“ Terima kasih, kalian juga hebat, pertandingan kali ini benar-benar sangat menyenangkan”.

__ADS_1


“ Menyenangkan???”.


“ Iya, sangat menyenangkan, aku sangat menikmati pertandingan ini”.


“ Aku benar-benar suka dengan reaksimu soal pertandingan ini, kamu benar-benar pemain yang hebat”.


“ Aku tidak sehebat itu”, ujar Revan.


“ Kamu terlalu merendah". Revan hanya tersenyum " Oh ya sepertinya kamu sedang mencari seseorang, apa benar?”.


“ Iya, Hana....”. Tiba-tiba Revan terdiam. “ Ahh tidak, cuma melihat-lihat saja”.


“ Oh...aku benar-benar terkejut mendengarnya”.


“ Maaf???”, sela Revan mempertanyakan pernyataan Jin.


“ Ah tidak, silahkan melihat-lihat acara disini”.


“ Oke”, ujarnya dan Jin pun pamit kembali ke timnya. “ Aneh, reaksinya benar-benar aneh begitu mendengar nama Hana, ah...benar juga, Hana juga bersekolah disini, tentu dia tahu tentang Hana dan....aku pikir juga semua orang disini tahu, apalagi tentang Rena, kenapa aku tidak bertanya dengan orang-orang disini dimana Rena”.


Setelah berpikir seperti itu Revan pun menanyakan tentang Rena kepada siswa disini.


“ Rena?”.


“ Iya”.


“ Tadi aku lihat dia kearah sana”, ujarnya menunjuk sebuah gedung. “ Sepertinya dia bersama dengan seseorang, ahh...Maika, dia bersama dengan Maika”.


“ Maika???”.


“ Iya”.


“ Ohhh...terima kasih banyak ya”, ujarnya berlalu pergi”.


“ Eh, tapi...kamu ini siapa??”, tanyanya tapi Revan tidak menggubris pertanyaannya.


Setelah cukup lama berputar-putar mencari Rena walaupun sudah diberitahu keberadaan Rena tadinya, tetap saja Revan susah mencarinya karena bukan sekolahnya sendiri, tapi bukannya mendapatkan Rena, Revan malah melihat Hana.


“ Hana”, teriak Revan dari atas gedung, spontan Hana melihat Revan, tapi tanpa disadari Revan ternyata Hana tidak sendirian disitu, mereka yang mendengar teriakan Revan menatapnya penuh kebingungan.


“ Revan, itu Rena”, teriak Hana. Revan pun kabur dari tempat itu begitu tahu kalau itu Rena, dia berpikir kalau dia dalam masalah karena tiba-tiba berteriak memanggil nama Hana. Hana yang terkejut melihat Revan pergi lalu menyusulnya sebelum kehilangan jejak. “ Revan”, panggilku dan ia pun berhenti. “ Kenapa pergi???”, tanyaku heran.


“ Bagaimana aku tidak pergi, mereka melihatku setelah aku memanggil namamu”, jawabku dan Hana pun menganggukkan kepalanya seolah dia mengerti dengan ucapan Revan. “ Apa kamu mengerti maksudku?”.


“ Tentu aku mengerti, melihat reaksi mereka tadi, ada kemungkinan mereka akan mencarimu”.


“ Wahhh....kamu benar-benar pintar hari ini”, celetuknya yang membuat Hana sedikit kesal. “ Itu tidak masalah buatku, yang jadi masalah sekarang kenapa kamu menghilang tiba-tiba dari pertandingan dan aku tidak menemukanmu dimana-mana”.


“ Maaf’, ujarku. “ Entah kenapa aku merasa tidak nyaman ditempat itu, tiba-tiba bayangan-bayangan masa laluku tiba-tiba muncul saat aku melihat orang itu....”.


“ Orang itu???”.


“ Jin”.


“ Jin???”. Hana pun menganggukkan kepalanya. “ Bagaimana kamu tahu tentang Jin?”.


“ Kamu yakin?”. Hana pun menganggukkan kepalanya. “ Aku rasa Jin ada hubungannya denganmu”.


“ Kenapa kamu seyakin itu?”, tanyaku.


“ Soalnya saat aku tidak sengaja menyebut namamu didepannya, reaksinya benar-benar diluar dugaan”, jawabbya. “ Bukankah ini semakin menarik?”.


“ Apa hidupku semenarik itu, hidupku benar-benar aneh”.


“ Baru sadar”, sindirnya. “ Sudahlah lupakan.....”. Revan tiba-tiba terdiam.


“ Ada apa?”, tanyaku, ia pun menunjuk kearah yang dimaksudnya. “ Itu kan Rena dan wanita tadi, kenapa mereka tiba-tiba sudah ada disitu?”.


“ Rena dan Maika”.


“ Haaa...?? bagaimana kamu tahu?”.


“ Ssssttttt.....”. Mereka pun mendengarkan percakapan antara Rena dan Maika, betapa terkejutnya Revan dan Hana mendengarkan yang mereka bicarakan. “ Hana”.


FLASBACK ON...


“ Hana”. Hana pun menoleh begitu namanya dipanggil.


“ Maika ”, ujarnya.


“ Dari mana?”, tanya Maika. “ Dari tadi dicariin, nggak kelihatan”, ujarnya.


“ Dari perpustakaan”, jawab Hana.


“ Haaa....dasar murid teladan, mainnya diperpustakaan mulu”.


“ Apaan sih Mai”.


“ Lihat tuh...lihat tuh...si murid teladan kita”, celoteh seseorang. Mereka pun berbisik-bisik seraya melihat kearah Hana.


“ Heiiii!!!”, teriak Maika. “ Ngomong apa barusan!!!”.


“ Emang ngomong apaa!!! lagian kenapa situ yang marah, situ pacarnya!!!!’.


“ Jaga tuh mulut!!!”. Maika pun berancang-ancang mendatangi orang itu, tapi langsung dicegah oleh Hana. “ Udahlah Mai”.


“ Nggak bisa gitu Han, mulut mereka itu udah kelewat kalau ngomong, nggak bisa didiemin aja, mereka makin merajalela nanti”.


“ Lalu.... apa bisa nyelesain masalah?”.


Maika pun terdiam sejenak lalu menghela nafas. “ Lalu.... apa dengan diam apa bisa nyelesain masalah juga? setidaknya kamu membela dirimu sendiri Han”.


“ Sudahlah...., selagi aku punya sahabat paling oke sedunia, semua akan baik-baik aja, benarkan?”.


“ Haaa..., kamu ini....paling bisa”.


“ Sudah jangan kesal-kesal lagi”.


“ Iya”, ujarnya. “ Oh ya Han, benaran kamu udah jadian sama pemain basket itu?”. Hana pun mengangguk. “ Apa kamu yakin?”.

__ADS_1


“ Memang kenapa?”.


“ Nggak sih, cuma....ngerasa ada yang nggak beres aja sama dia”.


“ Dia baik kok Mai, lagian nggak usah kuatir gitu, semua pasti baik-baik saja”.


“ Iya sih..., namanya juga insting seorang sahabat, akukan maunya yang terbaik buat sahabatku”.


“ Iya sih, tapi dia baik kok, dia juga sering nolongin, percaya deh”.


“ Selama Hana senang, itu yang terpenting, tapi harus hati-hati juga”.


“ Beres bos”.


 FLASBACK OFF....


 


“ Hana...”, ujar Revan menepuk pundakku. Aku pun menoleh melihatnya, Revan pun kelihatan kebingungan dengan reaksiku.


“ Revan....yang bersama dengan Rena itu, dia sahabatku Maika”.


“ Kalau dia sahabatmu, kenapa antara mereka berdua kelihatan tidak akur?”.


“ Aku juga tidak mengerti mengapa mereka seperti itu”.


“ Sebenarnya apa yang kamu tahu”, tanyanya melirik Hana dan Hana pun menatapnya tajam.


“ Yang aku tahu kamu itu menyebalkan”.


“ Terima kasih”.


“ Tidak masalah”, balasku. “ Oh ya, kamu ingatkan, dulu aku pernah bilang kalau ada orang lain selain Rena diingatanku, dia seorang pria, masih ingat?”, tanyaku, Revan pun menganggukkan kepalanya. “ Aku rasa orang itu adalah pacarku”.


“ Haaaa???”.


“ Kamu mengejekku??”. Revan pun senyum-senyum melihat reaksi Hana yang lucu. “ Revan!!!”.


“ Oke oke, maaf”, ujarnya. “ Sekarang katakan, apa kamu mengingat tentang dia?”.


“ Dia.....”. Aku pun mencoba mengingatnya. “ Satu yang paling aku ingat, dia.... pemain basket”.


“ Jin”. Tiba-tiba nama itu terucap dari bibir Revan dan membuatku terperanga mendengarnya. “ Aku rasa itu Jin”.


“ Kenapa kamu bisa seyakin itu?”.


“ Hanya menyimpulkan pembicaraan kita, pertama kamu bilang kalau kamu merasa ada yang aneh kita bertemu dengan Jin, kedua ingatan pun tiba-tiba timbul saat melihat dia”. Aku pun mengangguk dengan pernyataannya. “ Lalu yang membuatku tambah yakin, saat aku tidak sengaja menyebut namamu didepannya, reaksinya benar-benar diluar dugaan, bukankah itu alasan yang sangat masuk akal?”.


“ Aku tidak tahu harus apa, ini benar-benar membuatku gila, kenapa semuanya jadi rumit seperti ini”.


“ Tenanglah, bukankah semuanya semakin menarik”. Aku pun meliriknya. “ Kamu ini benar-benar, apa ini sebuah permainan untukmu”, ujarku kesal.


“ Ayolah Hana”.


“ Terkadang aku benci dengan kenyataan”.


“ Apa?? apa maksudmu?”.


“ Pada kenyataannya aku menyadari kalau aku sama dengan Sira, pantas saja aku merasakan apa yang dirasakannya, mati-matian aku memintamu menolongnya karena aku tidak ingin dia merasa sendirian, bukankah aku makhluk yang menyedihkan?”.


 


“ Hana...apa yang sedang kamu bicarakan?”


“ Aku juga dibully sama seperti Sira, aku bukan murid yang banyak bicara, selalu duduk diperpustakaan dan aku.....bisa dibilang aku kebanggaan sekolah, mungkin mereka tidak menyukaiku karena itu”.


“ Apa yang salah dengan itu? bukankah kamu yang menjalani hidup dan tidak menyakiti mereka”.


“ Apa harus ada alasan yang kuat untuk membully seseorang? bahkan alasan sepele saja bisa jadi alasan yang kuat buat mereka”.


“ Sekarang aku jadi bertanya-tanya, apa kamu punya dua kepribadian atau sebenarnya inilah kepribadianmu sebenarnya?”.


“ Apa maksudmu?”.


“ Mendengar ceritamu dimasa lalu dan melihatmu sekarang ini bukankah sifatmu sangat berbanding terbalik, apa yang terjadi sebenarnya?”.


“ Karena sebenarnya aku tidak ingin mengecewakan orang-orang yang sudah baik padaku”.


“ Apa harus seperti itu?”.


“ Mereka bukan orang tua kandungku dan Rena bukan adik kandungku, apa kamu mengerti maksudku?”.


“ Hana.....”.


“ Aku tidak punya pilihan lain”. Mataku pun mulai berkaca. Untuk beberapa saat aku dan Revan pun tidak bicara dan hanya saling memandang.


“ Revan!!!!”. Revan pun menoleh begitu namanya dipanggil. “ Dari tadi dicariin, hp juga gak aktif, kita udah ditungguin, yang lain udah pada nungguin”.


“ Udah harus balik?”.


“ Ya iyalah”, ujarnya, Revan pun mengangguk-anggukkan kepalanya. Mereka pun bergegas keluar secepat mungkin, saat berada diluar Revan pun menghentikan langkahnya. “ Aldo”.


“ Ada apa lagi?”.


“ 10 menit”.


“ Apa??”.


“ Tunggu aku 10 menit lagi”.


“ Tapi, Revan....”.


Benar saja dalam 10 menit Revan sudah kembali dan bergabung bersama dengan rombongan. “ Kemana saja?”, tanya Aldo heran.


 


“ Pokoknya aku sudah kembalikan”, jawabnya tanpa menjawab pertanyaan Aldo sama sekali.


“ Dasar aneh”, gerutu Aldo

__ADS_1


__ADS_2