Butterfly

Butterfly
Kawan Atau Lawan


__ADS_3

Kevin duduk di dalam kedai es krim milik Reni. Tujuan pria itu datang kemari adalah hendak melihat secara langsung perempuan yang dipilih Rian. Sejak datang ke kedai ini, matanya selalu mengawasi pergerakan Alice. Emosi pria itu tersulut saat kedatangan Rian.


Matanya memerah melihat bagaimana ekspresi Rian yang terlihat sangat bahagia bersama dengan perempuan itu. Dibalik masker yang dikenakannya, gigi Kevin bergemelatuk menahan amarah yang memuncak.


“Gue nggak akan biarin hidup lo bahagia,” bisik Kevin pada dirinya. Dia berusaha memberi sugesti pada diri sendiri untuk terus membuat Rian sengsara.


Mata tajam Kevin masih memperhatikan Rian yang tidak sadar akan kehadirannya. Sandra menghilang tiba- tiba dan Kevin yakin Rian ada dibalik menghilangnya wanita itu. Wanita yang seharusnya menjadi kartu AS dalam menaklukkan Rian. Tidak lama kemudian Rian keluar dari kedai, entah pergi kemana.


Setelah kepergian Rian, Kevin pun memesan sebuah menu. Dia ingin melihat Alice dari dekat. Benar saja, perempuan itu berjalan mendekatinya. Kevin tersenyum miring. Dilihat dari wajahnya saja dia sudah dapat menebak jika perempuan ini sangat lugu dan bisa saja dia gunakan suatu saat nanti. Alice kembali ke meja Kevin dengan membawa pesanan yang tadi di pesan oleh pria itu.


“Silahkan pesanannya. Selamat menikmati,” ucap Alice meletakkan piring di atas meja.


“Terima kasih,” jawab Kevin tersenyum di balik masker yang dipakainya.


Alice meninggalkan meja pria itu, sementara Kevin masih mengekori pergerakan perempuan itu dengan matanya. Kevin melepas maskernya dan mulai menikmati makanan yang tadi di pesannya. Bukannya pria itu tidak tahu jika sejak tadi ada yang mengawasinya. Sepertinya seseorang berhasil jatuh keperangkapnya. Kevin mendongak dan melihat tepat pada Alice yang tertangkap basah sedang menatapnya. Dia tersenyum pada perempuan itu, senyum licik yang bisa dia sembunyikan dengan sangat apik.


“Kita tunggu tanggal mainnya,” gumam Kevin.


Setelah puas melihat langsung wajah perempuan yang kini Rian cintai bahkan sebentar lagi akan pria itu nikahi, Kevin memutuskan untuk pergi dari sana. Namun, dia menyuruh seseorang untuk mengawasi pergerakan Alice. Dari kedai, Kevin bertolak menuju tempat Luna. Tiba-tiba saja tadi dia mendapat telepon bahwa saat ini Luna tidak terkontrol. Luna mengamuk seperti biasa, tapi tadi wanita itu benar-benar mengamuk hebat bahkan sampai hendak menyakiti diri sendiri.


Kevin segera membanting stirnya dan menuju tempat Luna. Wajahnya mendadak menjadi khawatir dan gelisah setelah mendapat telepon tadi. Kini Kevin yang bertanggung jawab sepenuhnya atas Luna, wanita yang dibuang oleh keluarganya sendiri dan sekarang tidak memiliki seorang pun di sisinya.

__ADS_1


Beberapa jam Kevin harus menempuh perjalanan, akibat macet ketika dalam perjalanan tadi. Pria itu dapat bernapas lega saat sampai di tempat ini. Kevin segera masuk dan menemui Luna. Seorang perawat berkata pada Kevin jika saat ini keadaan wanita itu sudah tenang kembali setelah dokter memberinya obat dan Luna terpaksa dibawa ke ruang isolasi. Kevin tidak dapat bertemu Luna, dia hanya bisa menatap nanar dari balik jendela.


“Kenapa tiba-tiba Luna mengamuk?” tanya Kevin pada perawat yang mengantarnya.


“Tadi ada salah satu yang mengaku keluarganya berkunjung dan sepertinya mereka terlibat obrolan yang cukup serius. Luna masih tenang hingga keluarganya itu pergi, setelahnya tiba-tiba saja Luna mengamuk dan tadi sempat memecahkan vas di meja lalu hendak menyerang dirinya sendiri,” jelas perawat itu.


Kevin mengepalkan tangannya dan menonjok dinding di depannya, membuat perawat yang berdiri di belakang pria itu membulatkan matanya. Mata Kevin kembali menatap pada tubuh yang terbaring lemah di atas ranjang dengan kedua tangan dan kaki terikat di sisi ranjang. Sungguh pemandangan yang membuatnya pilu, rasa sesak menghinggapi dada Kevin saat ini.


...🦋🦋🦋...


Kevin bertanya-tanya, siapa gerangan yang berani mengusik Luna lagi? Keluarganya? Bukankah mereka sudah membuang Luna ke tempat ini dan resmi mencoret nama Luna dari daftar keluarga. Lalu, mau apalagi mereka datang kemari? Ponsel Kevin berdering, membuat fokus pria itu teralihkan. Seorang tangan kanannya yang tadi dia suruh mengawasi Alice yang menelponnya.


Saat ini pria itu masih bertahan di depan rumah sakit walau hari sudah gelap. Bahkan saat ini sudah hampir tengah malam, suasana sekitar benar-benar sunyi. Telinga Kevin mendengarkan kata demi kata yang disampaikan oleh orang suruhannya itu. Dahinya sempat mengernyit saat mendengar sebuah laporan yang menurutnya aneh.


“Seorang pria? Siapa?” tanya Kevin dengan dahi berkerut.


“Bahkan tau nama perempuan itu? Aneh, coba lo selidiki pria itu!” perintah Kevin pada orang itu.


“Oh ya, satu lagi. Lo selidiki satu orang lagi, nanti gue kirim detailnya lewat email.”


“Oke, kerja bagus. Gue tungu laporan lo selanjutnya.”

__ADS_1


Percakapan mereka selesai, Kevin terdiam mencerna semua obrolan mereka tadi. Ada seseorang lagi yang aneh dan mengenal Alice, begitu kata orang suruhannya tadi. Pria itu sangat penasaran siapa orang itu sebenarnya. Kevin memukul kemudi mobilnya.


“Sial! Kita lihat nanti, apakah orang itu akan menjadi kawan atau lawan,” gumam Kevin terkekeh.


“Gue harus berhasil hancurin hidup lo, Rian. Lo nggak bisa terus hidup dalam kebahagiaan sementara ada orang lain yang menderita akibat perbuatan lo.”


Kevin melajukan mobilnya menjauh dari rumah sakit. Membelah jalanan yang sangat ramai pada malam hari ini. Jalanan masih padat oleh lalu-lalang kendaraan walaupun sudah lewat tengah malam. Setelah ini dia harus menyusun strategi secara matang agar tidak kembali gagal. Kevin harus bisa menggunakan orang- orang itu sebaik mungkin.


“Pertama, gue harus temuin wanita licik itu dulu,” gumam Kevin mencengkeram stir mobilnya erat.


Ya, Kevin harus menemukan keberadaan Sandra terlebih dulu. Wanita itu juga bisa menjadi alat untuk membuat Rian hancur. Kevin akan memerintahkan seseorang lagi untuk melacak keberadaan Sandra.


Mobil Kevin memasuki sebuah basement apartemen mewah di kota ini. Pria itu turun dari mobilnya dan masuk ke dalam apartemen itu. Menaiki lift dan sampai pada sebuah unit apartemen miliknya. Kevin melempar kunci mobilnya di atas meja begitu saja dan dia langsung masuk ke dalam kamar mandi. Saat ini dia membutuhkan sesuatu yang dingin agar pikirannya dapat berpikir jernih.


Beberapa saat kemudian Kevin keluar dari kamar mandi dengan sebuah handuk yang melilit tubuh bagian bawahnya, menampilkan tubuh sempurnanya. Kaki pria itu berjalan menuju jendela besar dengan pemandangan kota di malam hari terpampang di luar sana. Tangannya meraih sebotol wine dan menuangkannya dalam gelas.


“Gue harus memikirkan strategi dengan matang kali ini,” gumam Kevin menyesap wine yang terasa sangat enak di mulutnya. Sebuah seringai muncul di wajahnya, terpantul oleh bayangan dari jendela kaca di depannya. Seringai yang terlihat sangat mengerikan.


...🦋🦋🦋...


Strategi apa yang mau dibuat si Kepin? 🤔

__ADS_1


__ADS_2