Butterfly

Butterfly
Baby Blues


__ADS_3

Mobil yang dikemudikan Rian melaju membelah jalanan yang cukup ramai. Sepulang dari rumah sakit, Rian memutuskan untuk pergi menemui Sandra.


Dia sangat terkejut melihat panggilan tak terjawab juga chat dari wanita itu. Tidak menyangka jika jadwal melahirkannya akan maju dari tanggal yang telah ditentukan oleh Dokter Widi.


Rian langsung menuju rumah sakit tempat Sandra dirawat. Pria itu memarkirkan mobilnya di area rumah sakit yang berada di pinggiran kota. Bukan rumah sakit besar.


Pria itu masuk ke dalam dan bertanya pada seorang perawat yang berjaga di meja pelayanan. Setelah mengetahui informasi mengenai kamar rawat Sandra, dia segera menuju ke sana.


Sayup-sayup Rian mendengar suara tangis bayi yang terdengar hingga luar kamar. Juga suara Mbok Inem yang sepertinya sedang menenangkan. Dia mengetuk pintu didepannya dan tidak lama pintu tersebut dibuka oleh Mbok Inem dengan menggendong bayi yang masih menangis.


"Ada apa, Mbok? Kenapa bayinya nangis?" tanya Rian.


Mbok Inem yang terkejut melihat kedatangan Rian segera tersadar dan mempersilakan tuannya itu masuk ke dalam.


"Bayinya nangis mungkin lapar, tapi Mbak Sandra belum mau gendong bayinya," jawab Mbok Inem sembari masih berusaha meredakan suara tangis sang bayi.


Rian mengarahkan pandangannya pada Sandra yang sedang tiduran memunggunginya. Tubuhnya yang tertutup selimut itu terlihat bergetar. Pria itu mengambil alih bayi dalam gendongan Mbok Inem dan ia berjalan mendekat pada Sandra.


"San," panggil Rian.


Sandra berjengkit kaget, dia membuka selimut yang menutup kepalanya. Air mata yang sejak tadi mengalir keluar bertambah deras mendengar suara sosok yang sangat dinantinya.


"Ian," lirih Sandra.


"Lo nggak mau kasih makan anak lo?" tanya Rian duduk di sebelah Sandra.


Pandangan Sandra beralih pada bayi yang masih menangis dalam gendongan Rian. Tangan wanita itu terulur dengan gemetar. Melihat hal tersebut, Rian pun menyerahkan bayi itu. Namun, dia membulatkan matanya ketika hampir saja bayi itu jatuh dari gendongan Sandra. Sementara Mbok Inem sudah memekik histeris.

__ADS_1


Sandra menggelengkan kepalanya berkali-kali dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Beruntung Rian sigap menangkap bayi mungil itu. Pria itu sayup-sayup mendengar gumaman dari mulut Sandra, walaupun lirih. Namun, masih dapat terdengar ke telinganya.


"Nggak, kenapa bayi itu sangat mirip dengan pria iblis itu? Kenapa?" gumam Sandra dengan air mata berderai.


Rian menghembuskan napasnya, kini dia paham apa yang sedang terjadi dengan Sandra. Pria itu menatap bayi dalam gendongannya yang kini telah tertidur. Sepertinya kelelahan karena menangis sejak tadi. Rian menatap wajah lekat bayi mungil itu.


Memang wajah bayi itu mirip dengan Kevin, tapi tidak sepenuhnya mirip. Hanya beberapa bagian saja, seperti hidung dan mulutnya. Selebihnya bayi itu lebih mirip seperti Sandra, mata yang jernih seperti wanita itu.


Karena kemungkinan Sandra masih tidak mau melihat anaknya, akhirnya Rian meminta Mbok Inem untuk membelikan susu formula untuk keadaan darurat seperti ini. Namun, sebelumnya Rian sudah bertanya terlebih dulu pada Widi.


Mereka memang telah bersepakat untuk merahasiakan perihal ini. Widi yang diam-diam juga mengidolakan Rian tentu mau-mau saja menjalin kerjasama dengan pria itu. Rian juga tidak mungkin bertanya pada Arka atau dokter spesialis anak yang seharusnya lebih paham masalah ini.


Suasana kembali hening. Sandra tertidur kelelahan begitu juga dengan sang bayi. Mbok Inem sedang keluar membeli susu beserta semua peralatan yang dibutuhkan. Sementara Rian masih betah memperhatikan wajah bayi dalam gendongannya itu.


"Ternyata gini rasanya gendong bayi," gumam Rian.


"Padahal baru kemarin gue ngomong sama Alice kalo nggak mau punya anak dulu."


Ada rasa menyesal dalam diri Rian setelah mengatakan hal tersebut. Pria itu menghembuskan napasnya. Tangannya menepuk-nepuk pelan paha bayi itu.


Suara notifikasi chat mengagetkan Rian yang masih larut dengan ekspresi menggemaskan bayi yang sedang tidur itu. Ia pun segera mengambil ponsel di dalam saku celananya. Rian membaca chat tersebut yang ternyata dari Widi.


"Bu Sandra sedang mengalami baby blues, itu hal yang wajar dan memang sering terjadi pada ibu-ibu pasca melahirkan."


"Baby blues? Ah ya, gue pernah denger Arka singgung soal itu," gumam Rian dan kembali melanjutkan membaca chat Widi.


"Jadi, Baby Blues Syndrome atau Postpartum Distress Syndrome biasanya tandanya sang ibu mengalami kesedihan atau kecemasan secara berlebih, cepat merasa lelah, mengalami gangguan tidur. Ya, pokoknya mengalami mood swing yang hebat. Pasti Dokter Rian juga pernah dengar, 'kan?"

__ADS_1


"Dan, agar bayinya tetap mendapat nutrisi. Selama kondisi ibu belum pulih, boleh untuk sementara diselingi dengan susu formula."


Rian mengangguk-anggukkan kepalanya paham dan dia menutup chat tersebut dengan ucapan terima kasih. Sebagai bayaran atas informasi yang diberikan serta bantuan dari Widi selama ini adalah Rian harus mau bekerja sama dengan wanita itu melakukan sebuah operasi yang akan diadakan lusa.


"Mas, ini susunya," kata Mbok Inem memberikan botol berisi susu hangat pada Rian.


Bersamaan dengan bayi tersebut membuka matanya dan bersiap hendak menangis lagi. Rian pun segera menyumpal mulut mungil itu dengan botol ditangannya.


'Ah ya, anak ini bakal panggil gue ayah mulai sekarang,' batin Rian teringat janjinya dengan Sandra.


"Oh ya, Mbok kalau mau pulang dulu. Biar saya yang jaga di sini. Setelah beres-beres di rumah selesai, Mbok bisa langsung kemari."


Mbok Inem mengangguk patuh. Rian pun juga telah memesan taksi online untuk Mbok Inem. Beliau segera pamit setelah diberitahu jika taksi yang dipesan Rian tiba.


Sama dengan Widi, Mbok Inem juga diminta untuk tutup mulut perihal Sandra dan kondisi Rian saat ini. Beliau sudah tahu jika tuannya itu memiliki istri. Namun, Mbok Inem tidak tahu menahu perihal istri Rian. Karena beliau belum pernah sekalipun bertemu dengan istri sang majikan.


Walau terasa lelah, tapi Mbok Inem juga merasa bahagia melihat bayi mungil yang tampan itu. Hanya saja saat ini beliau khawatir dengan keadaan Sandra.


'Semoga Mbak Sandra dan bayinya diberi kesehatan,' batin Mbok Inem.


Tidak berapa lama, mobil yang ditumpangi Mbok Inem memasuki pekarangan rumah. Dahi Mbok Inem berkerut ketika melihat seseorang berdiri di pintu depan rumah. Beliau merasa asing dengan sosok tersebut. Seorang wanita dengan rambut panjang sepinggang berdiri membelakanginya.


Mbok Inem turun dari mobil tersebut dan berjalan mendekati wanita tersebut. Dari raut wajahnya terlihat wanita itu kebingungan. Wanita tersebut melihat antara secarik kertas digenggamannya dan pintu rumah secara bergantian. Terkadang juga memperhatikan sekitar seperti sedang memastikan sesuatu.


"Maaf, Mbak siapa, ya?" tanya Mbok Inem dan wanita itu langsung menoleh ke belakang dengan ekapresi kaget.


...🦋🦋🦋...

__ADS_1


__ADS_2