
Rian dan Alice sedang mengurus pernikahan mereka. Kini keduanya sedang mengurus berbagai berkas di kantor KUA. Berhubung tidak ada wali untuk Alice, Rian dan Alice sepakat untuk menggunakan wali hakim. Tentu tidak hanya kedua mempelai yang sibuk, Reni juga sangat antusias menyiapkan berbagai kebutuhan untuk anak-anaknya itu.
Seharian ini benar-benar dihabiskan Rian untuk bersama dengan Alice, pria itu meminta cuti satu hari penuh. Ponsel Rian berdering, membuat langkah pria itu terhenti. Sementara Alice yang berjalan di sebelahnya juga ikut menghentikan langkahnya.
“Siapa, Mas?” tanya Alice mengernyitkan dahinya, karena Rian sepertinya enggan menjawab panggilan itu.
“Sandra,” jawab Rian kembali memasukkan ponselnya ke saku, “Ayo!” ajak Rian menggenggam tangan Alice.
Panggilan itu kembali terdengar lagi. Alice menepuk lengan Rian pelan, mengisyaratkan agar pria itu menjawab panggilan telepon dari Sandra.
“Siapa tau penting,” ucap Alice.
Rian menghembuskan napasnya, lalu menjawab panggilan telepon itu tanpa melepaskan genggaman tangannya dengan Alice. Sementara Alice menunggu Rian selesai berbicara dengan diam seribu bahasa. Sebenarnya dalam hati juga gadis itu merasa was-was. Ada perlu apalagi Sandra menelpon calon suaminya ini?
“Apa?” tanya Rian, pria itu melirik pada Alice.
Selepas percakapan dengan Sandra di telepon tadi usai, Rian mengajak Alice ke suatu tempat. Kata pria itu, Sandra mengajak mereka berdua untuk menemuinya. Tentu keduanya merasa kebingungan. Mengapa Sandra ingin bertemu dengan mereka berdua. Alice masih diam, entah mengapa firasatnya terasa buruk.
‘Mungkin cuma perasaan gue doang,’ batin Alice mencoba menenangkan diri.
Kini keduanya sudah sampai di sebuah gedung. Rian tahu dimana ini. Apartemen Sandra. Keduanya pun menuju unit apartemen milik Sandra. Sejak tadi Rian benar-benar tidak melepaskan genggaman tangannya. Pria itu benar-benar bertekad untuk mengakhiri semuanya dengan Sandra malam ini juga.
“Benar yang ini, Mas?” tanya Alice memastikan kembali.
“Iya. Tapi aneh, kenapa pintunya tidak di kunci?”
BRAKK!
Suara yang terdengar seperti benda jatuh itu mengejutkan Alice maupun Rian. Mereka saling pandang sejenak dan kemudian menyeruak masuk kamar apartemen itu, pintu memang tidak terkunci.
Alice memperhatikan sekitarnya dengan mata membulat. Di dalam apartemen ini sangat berantakan. Barang-barang berserakan dan pecahan kaca ada dimana-mana. Sementara Rian mencoba mencari keberadaan Sandra. Alice juga membantu Rian. Dia berkeliling untuk mencari sang tuan rumah.
“Mas Rian!” pekik Alice histeris.
__ADS_1
“Ada apa, Al?” tanya Rian segera menghampiri Alice.
Tangan Alice bergetar, menunjuk sesuatu di depannya. Air mata Alice sudah mengalir dengan deras. Rian mengikuti apa yang ditunjuk Alice, seketika matanya membulat. Di depan mereka, sosok Sandra menggantung dirinya sendiri. Di bawahnya ada sebuah kursi yang sudah teronggok yang kemungkinan sebelumnya sebagai tumpuan.
“Mas Rian! Cepat selamatkan Mbak Sandra!” pekik Alice menyadarkan Rian yang masih terpaku.
Alice masih melihat pergerakan Sandra yang sedang merasakan sakit di lehernya. Seperti kerbau dicucuk, Rian segera berlari ke arah Sandra dan menyelamatkan wanita itu. Sementara Alice sudah jatuh terduduk, dia benar- benar syok melihat pemandangan di depannya. Ada apa sebenarnya dengan Sandra? Mengapa bisa wanita itu sampai berbuat senekat itu? Apa semuanya ini dikarenakan Rian?
Mereka bertiga kini berdaa di rumah sakit. Sandra sudah mendapat perawatan, Rian masih di dalam. Sementara Alice menunggu di luar seorang diri, tangannya masih gemetar ketakutan. Air matanya pun tidak mau berhenti mengalir. Seumur hidupnya baru kali ini Alice menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri percobaan bunuh diri. Sesulit apapun hidupnya setelah kepergian kedua orang tuanya, tak pernah terbesit di dalam kepalanya untuk mengakhiri hidupnya.
“Tenang, Al. Semuanya akan baik-baik aja. Lo cuma kaget,” gumam Alice masih mencoba berusaha menenangkan diri.
Sebuah botol air mineral terulur di depan Alice, membuat gadis itu mendongak untuk melihat siapa orang yang memberinya air. Alice mengernyit karena merasa asing dengan wajah itu, tapi tiba-tiba saja pandangannya mengabur. Lalu gelaplah yang menyergap Alice. Sementara orang tadi terkejut melihat Alice yang tiba-tiba pingsan.
“Mbak! Bangun, Mbak!” panggil orang itu menepuk pelan pipi Alice.
Sementara di lain tempat, Sandra sudah dipindahkan ke kamar rawat. Wanita itu masih belum sadarkan diri, beruntung kondisi janinnya baik-baik saja. Rian masih mendampingi Sandra sampai saat ini, duduk di samping ranjang Sandra.
Rian merutuki kebodohannya, bisa-bisanya dia meninggalkan Alice seorang diri. Pria itu segera bangkit dari duduknya dan hendak mencari keberadaan Alice. Namun, sebuah tangan menahan lengannya.
“To… tolong ak… aku, Rian. Ku… kumohon,” ucap suara lirih itu.
Rian berbalik, menatap wajah Sandra yang sudah berlinangan air mata. Pria itu mengacak rambutnya frustasi.
“Tolong bawa aku pergi dari sini. A… aku takut,” ujar Sandra masih dengan suara lemas.
Rian menatap manik mata Sandra, mencari sebuah kebohongan dari wanita itu. Drama apalagi yang wanita itu mainkan saat ini? Namun nihil, tidak ada kebohongan di mata itu. Mungkin.
“Sudah berapa kali gue bilang? Jangan lagi lo ganggu hidup gue! Kita sudah berakhir, San,” ucap Rian tajam.
Walaupun tidak terlihat adanya kebohongan, Rian masih belum mempercayai wanita licik seperti Sandra.
“Aku nggak bohong, Rian. Percaya sama aku kali ini saja,” kata Sandra kalap.
__ADS_1
Rian tidak lagi mendengarkan perkataan Sandra, pria itu berjalan meninggalkan Sandra. Namun langkahnya terhenti diambang pintu ketika mendengar ucapan Sandra sbeelum dirinya benar- benar pergi dari sana.
"Semua ini ulah Kevin. Pria iblis itu!”
...🦋🦋🦋...
Rian memukul stir mobilnya, melampiaskan semua emosinya. Kini Rian sudah tahu siapa dalang dibalik semua kejadian ini. Lagi-lagi Kevin, pria yang dulunya merupakan sahabat Rian. Entah mengapa kini Kevin sangat membencinya, seperti ada dendam di dalam diri pria itu. Rian masih memukul stir mobilnya. Dering ponsel menginterupsi kegiatannya. Rian mengernyit karena ada sebuah panggilan dari rekan kerjanya.
“Halo?” sapa Rian dengan dahi mengernyit.
“…”
Rian segera berlari menuju tempat dimana temannya tadi informasikan. Berkali-kali pria itu tidak sengaja menabrak beberapa orang.
“Maaf,” ucap Rian dan kembali berlari.
“Dokter Rian?” tanya seorang perawat bingung melihat keberadaan Rian.
“Lho? Rian? Bukannya hari ini dia cuti?” tanya Arka memiringkan kepalanya melihat Rian sepertinya sedang tergesa-gesa.
Tanpa mengetuk pintu, Rian langsung membuka pintu sebuah ruangan. Dua orang yang berdua di ruang itu serempak menoleh terkejut.
“Di mana Alice?” tanya Rian langsung.
“Itu,” tunjuk seseorang dengan snelli putih.
Rian langsung menghampiri ranjang yang tertutup tirai putih. Perlahan Rian menyibak tirai itu dan melihat gadisnya terbaring di sana. Perasaan bersalah kembali menghinggapi diri Rian. Lagi-lagi dia kembali menyakiti seseorang yang sangat berarti baginya. Tangan Rian terulur mengusap lembut pipi Alice.
“Ayo, Fi. Beri mereka ruang,” ajak seseorang yang berdiri di belakang Rian.
...🦋🦋🦋...
__ADS_1