Butterfly

Butterfly
Terbuai


__ADS_3

Alice kembali bekerja di kedai setelah kemarin absen. Siang tadi dirinya menyempatkan diri menjenguk Reni, keadaan wanita itu sudah lebih membaik. Saat menjenguk tadi kebetulan Alice tidak bertemu dengan Rian. Kata Reni tadi, Rian sedang keluar untuk menebus obat. Sebenarnya Reni masih marah pada pria itu, karena sampai sekarang Rian belum menjelaskan perihal ucapan Sandra tempo hari.


“Mbak, ini pesanan meja nomor delapan,” ucap seorang rekan kerja Alice.


“Outdoor, ya?”


“Iya, Mbak.”


Alice membawa nampan berisi es krim dan salad buah, dirinya berjalan menuju meja yang ada di depan kedai. Di depan kedai ini terdapat tiga meja dengan dua kursi di masing-masing meja. Meja itu diperuntukkan untuk pengunjung yang bosan dengan suasana di dalam atau saat kedai sedang ramai dan kehabisan meja di dalam.


“Silahkan pesanannya,” kata Alice dengan senyum manisnya.


Ia berbalik hendak kembali masuk, tapi pandangannya melihat sosok yang dikenalnya. Alice memberikan nampan kosong pada temannya yang kebetulan lewat. Sedangkan dirinya izin sebentar untuk mengejar sosok tadi. Alice berdiri tidak jauh dari dua orang dewasa yang sepertinya terlibat percakapan yang serius.


“Gimana kalo ketahuan Ian, Kev?” tanya sang wanita.


“Nggak bakal ketahuan kalo lo nggak keceplosan.”


“Ta… tapi, lo harus bener tanggung jawab! Walau gimana pun dia anak lo.”


Pria itu menggeleng dengan senyum miring, membuat Alice yang masih menguping bergidik ngeri.


“Gue udah bilang buat gugurin kandungan lo! Masih kurang duit yang gue transfer ke lo?”


“Nggak, Kev! Gue nggak mau gugurin kandungan gue. Lo cuma perlu nikahin gue, gu… gue yang akan rawat anak ini!”


“Sorry, gue nggak bisa nikah sama lo,” ucap pria itu dan berlalu pergi darisana meninggalkan wanita itu.


“Kev! Lo udah janji sama gue! Lo nggak boleh langgar janji lo! Kevin!” teriak wanita itu, beruntung jalanan ini sangat sepi, “Gue bakal ngomong yang sebenernya sama Rian!” ancam wanita itu.


Alice terlonjak kaget mendengar ucapan wanita itu yang tak lain adalah Sandra. Ia menutup mulutnya, tidak menyangka jika ternyata Sandra telah membohongi Rian. Apakah wanita itu tidak sadar dengan apa yang sudah diperbuatnya?


“Gue harus kasih tau Mas Rian,” gumam Alice segera pergi darisana sebelum dirinya ketahuan.


“Sial! Gue nggak bawa ponsel,” ucap Alice merutuki kebodohannya, ponselnya berada di loker.

__ADS_1


Alice bergegas kembali ke kedai, untuk saat ini ia masih harus fokus pada pekerjaannya hingga nanti malam. Tidak terasa waktu berlalu dengan cepat, Alice bergegas berganti baju dan segera pamit pulang pada teman-temannya. Alice mencoba menghubungi Rian, tapi pria itu tidak menjawab.


“Apa masih sibuk ya?” gumam Alice sebelum melajukan motornya.


“Besok aja, deh.”


Gadis itu pun memutuskan untuk pulang ke kos Fia, tubuhnya terasa sangat lelah hari ini. Memang tadi banyak pelanggan yang berkunjung ke café. Kos Fia berada di gang sempit yang hanya bisa dilewati dua motor yang berlawanan arah. Alice memacu motornya dengan perlahan, ia tidak mau menabrak karena gang ini minim pencahayaan.


Beberapa saat kemudian Alice sampai di depan kos Fia. Namun Alice mengernyit saat melihat ada seseorang berdiri di bawah lampu yang berkedip, sehingga tidak terllau jelas siapa orang itu. Setelah memparkirkan motornya, Alice masih harus berjalan sedikit hingga sampai kamar kosnya. Sialnya ia harus melewati orang yang masih berdiri mematung itu.


“Alice,” panggilan seseorang itu membuat langkah Alice terhenti.


Alice menoleh dan spontan membulatkan mata terkejut melihat siapa yang kini ada didepannya. Rian berdiri didepannya dan menatap ke dalam manik hitam Alice. Dalam beberapa detik, Alice sempat terbuai oleh sorot tajam itu.


“Mas Rian? Ada perlu apa?” tanya Alice linglung.


Rian mengernyitkan dahinya mendengar pertanyaan gadis didepannya ini. “Loh? Bukannya kamu yang ada perlu sama aku? Tadi kamu telpon aku, ada yang ingin kamu bicarakan?”


“Oh iya, hmm itu… Sebenarnya Alice mau membicarakan soal Mbak Sandra.”


“Sandra? Dia kenapa?”


“Bohongin gimana?” tanya Rian mengernyitkan dahinya.


Akhirnya Alice menceritakan semua yang tadi siang didengarnya, sementara Rian mendengarkan tanpa memotong sedikit pun. Poisis mereka berdua masih berdiri berhadapan di bawah lampu yang remang-remang. Tidak ada niatan untuk mereka berpindah tempat.


“Jadi gitu, Mas. Memang sih Alice nggak ada bukti atau foto juga rekaman mereka, tapi Alice bicara jujur. Alice hanya mau me…”


Belum sempat Alice menyelesaikan perkataannya, tiba-tiba Rian menarik lengan gadis itu. Tidak lama ada sepeda melewati mereka dengan kecepatan tinggi. Rian mengurung Alice dalam pelukannya, jantung keduanya sama- sama berpacu dengan cepat. Namun Alice segera tersadar, ia segera melepas pelukkan hangat Rian.


“Sebentar saja, Al,” ucap Rian lirih.


Tangan Rian mengusap lembut punggung Alice, membuat Alice menghentikan gerakan agar terlepas dari kukungan pria itu. Alice dapat mendengar jantungnya yang berdegub kencang, wajahnya memerah.


“Dengar, Al. Kamu nggak perlu terlibat dengan masalahku dengan Sandra.”

__ADS_1


Rian melepas pelukkannya dan menatap manik hitam Alice. Pandangan teduh Rian membuat gadis itu terbuai.


“Sampai kapan pun aku akan menunggumu, Al. Karena aku sudah benar-benar jatuh hati denganmu.”


Alice masih diam, ia seolah terhipnotis mata itu. Perlahan Rian mendekatkan wajahnya, kini matanya tertuju pada bibir merah muda milik Alice. Gadis itu membulatkan matanya saat merasakan benda kenyal mampir dibibirnya. Rian menutup mata, menikmati cecapannya. Alice semakin terbuai dan ikut menutup matanya, tangannya reflek mengalung pada leher Rian.


...🦋🦋🦋...


Alice menyentuh bibirnya, gadis itu masih terbayang dengan kejadian beberapa jam yang lalu. Jantungnya juga masih berdegub dengan kencang, kedua pipinya pun ikut memerah semerah tomat.


“Apa gue beneran udah jatuh cinta sama Mas Rian?” gumam Alice berguling-guling di tempat tidurnya, Fia belum pulang.


Fia shift siang dan akan pulang tengah malam nanti. Saat ini Alice seorang diri di kos. Deringan ponsel membuat Alice terkeju, ia segera mengecek siapa si penelpon. Matanya membulat melihat nama yang tertera di layar ponselnya. Spontan Alice bangun dari tidurnya.


“Ehem,” dehem Alice agar suaranya tidak terdengar serak. “Halo?”


“Lho kamu belum tidur, Al?”


“Belum, Mas.”


“Kenapa? Nggak bisa tidur, ya?” terdengar suara tawa dari seberang sana, membuat pipi Alice menampilkan semburat merahnya.


“Kenapa Mas Rian telpon?” tanya Alice mengalihkan godaan Rian.


“Rindu kamu, Al.”


Alice memutar bola matanya. “Kenapa Mas Rian jadi gombal gini sih?”


“Siapa yang lagi ngegombal? Aku jujur, bener-bener rindu kamu.”


“Tadi juga baru ketemu. Kalau memang nggak ada perlu Alice tutup dulu telponnya.”


“Al…”


Alice memutus percakapan mereka, wajahnya sudah merah padam. Gadis itu membenamkan kepalanya di bantal dan berteriak dengan suara teredam.

__ADS_1


...🦋🦋🦋...


Ayo Rian... gas terus 🙈🙈🙈 buat Alice klepek-klepek sama kamu 😃😃😃


__ADS_2