Butterfly

Butterfly
Bab 11


__ADS_3

Sudah dua hari aku tidak melihat Hana, aku tidak mengerti kenapa sepertinya dia menghilang begitu saja padahal ada yang ingin aku katakan padanya tentang sesuatu yang tidak sengaja aku tahu dari Maika, tentang panti, masa kecil dan juga Ezu.


Inilah yang ingin aku katakan kalau Ezu itu adalah aku, nama kecilku, nenek sering memanggilku dengan nama itu. Di panti itu pertama kali kita bertemu, saat itu aku datang ke tempat nenek karena sedang berlibur. Nenek memperkenalkanku pada kalian, tapi aku tampaknya sangat tidak perduli saat itu,itu karena aku tidak terlalu suka dengan keramaian, aku juga bukan tipe orang yang bisa akrab dengan seseorang.


“ Kenapa tidak bermain dengan lain”, tanyamu waktu itu. Itu pertama kalinya ada yang berbicara padaku sejak aku datang. “ Ayolah jangan sendirian seperti ini, apa kamu tidak ingin bermain”. Aku hanya diam mendengar pertanyaanmu. Kamu hanya melihatku tanpa reaksi sedikitpun saat kamu bicara. Kamu pun duduk disampingku. “ Baiklah kalau tidak ingin bermain, aku akan menemanimu disini”. Saat mendengar itu aku langsung menoleh melihatmu dan kamu melihatku dengan tersenyum, saat itu aku tidak mengerti dengan sikapmu yang menurutku aneh. Hari\-hari berikutnya kamu juga seperti itu, terus menemaniku walaupun aku tidak pernah bicara apapun padamu.



“ Apa kamu sudah gila”, ujarku yang membuatnya langsung menoleh dan tersenyum padaku. “ Aku rasa memang benar, kamu terus bicara padaku walaupun aku tidak meresponmu sedikitpun”.



“ Aku tidak perduli soal itu, tapi akhirnya kamu bicara padaku juga, kamu tahu kalau semua anak\-anak disini membicarakanmu”.



“ Aku tidak perduli”.



“ Tapi aku perduli”.



“ Kenapa?”.



“ Aku ingin mereka tahu kalau sebenarnya kamu bukan seperti yang mereka katakan, kamu hanya perlu waktu untuk menyesuaikan diri dengan orang\-orang baru. Aku tahu seperti apa rasanya seperti itu”.



“ Aku rasa kamu salah paham”.



“ Benarkah”.



“ Aku tidak terlalu suka keramaian, aku lebih suka sendiri”.



“ Kenapa kamu suka sendiri? apa kamu tahu bagaimana sebenarnya sendiri itu, kata\-kata itu terlalu mudah kamu ucapkan, tapi kamu tidak pernah benar\-benar merasakannya. Kalau ini yang kamu sebut sendiri kamu salah, kamu lihat anak\-anak itu, dia masih kecil tapi dia sudah sendiri didunia ini, sedangkan kamu ingin sendiri karena tidak suka keramaian, kami disini tidak ingin sendiri karena kami sangat takut dengan kata\-kata itu”. Aku langsung terdiam mendengar ucapanmu saat itu dan hanya melihatmu pergi. Itu untuk pertama kalinya ada seseorang yang memarahiku langsung didepanku.



“ Ezu”, ujar nenek duduk disampingku.



“ Nenek”, ujarku. “ Nek, apa semua anak\-anak disini seperti dia”.



“ Siapa?”, tanya nenek.



“ Itu, Ha...na”, jawabku mengingat namanya.


__ADS_1


“ Hana, dia anak yang baik, kenapa? apa dia membuat cucu nenek marah”.



“ Aku hanya ingin sendiri, tapi dia malah memarahiku, kenapa aku suka sendiri? apa kamu tahu rasa sendirian itu? aku tidak mengerti dengan sikapnya, dia membuatku kesal”. Nenek tersenyum melihatku lalu mengusap kepalaku lembut.



“ Hana seperti itu bukan ingin membuatmu marah, buatnya kata\-kata sendiri itu terlalu sensitive untuknya, kamu tahu kenapa dia selalu menemanimu?”. Aku menggelengkan kepalaku. “ Karena anak\-anak mengolok\-olokmu yang tidak mau bicara atau bermain dengan mereka, dia ingin pastikan kalau kamu tidak seperti itu”.



“ Tapi aku membuatnya marah”.



“ Hana tidak marah padamu, Ezu. Hana mengatakan itu agar kamu mengerti bagaimana seharusnya bersosialisasi, ada kalanya kita memang ingin sendiri, tapi kamu juga harus bertemankan”. Aku pun mengangguk lalu memeluk nenek.



Aku mulai memberanikan diri mendekati mereka dan bermain dengan mereka walaupun awalnya sedikit canggung tapi lambat laun berjalan lancar.



“ Nek, itu Ezu kan?”, tanya Hana, nenek pun mengangguk. Hana pun tersenyum senang melihat suasana seperti ini. “ Baguslah, Hana ikut senang”.



“ Terima kasih Hana”.



“ Kenapa nenek mengatakan itu?”.




“ Hana”, sapaku tiba\-tiba. “ Maaf yang kemarin, aku seharusnya tidak mengatakan hal\-hal yang bodoh”.



“ Baguslah kalau kamu sadar”, ujar Hana lalu tertawa. “ Maaf, aku juga minta maaf”. Aku pun mengangguk mendengar ucapannya. Sejak saat itu aku dan hana menjadi akrab, tapi aku harus pulang kerumah karena liburanku sudah selesai.



“ Kamu akan datang lagikan?”.



“ Tentu”. Hana hanya tersenyum lalu melambaikan tangannya melihat kepergianku. Aku bahkan tidak bisa datang lagi karena kami pindah ke Negara lain saat itu, aku tidak tahu bagaimana mengatakannya padamu, tapi aku yakin kalau nenek sudah mengatakannya padamu. Lalu aku mendapat kabar kalau kamu sudah tidak tinggal dipanti lagi, sudah ada keluarga yang menjagamu, aku senang mendengarnya sekaligus sedih karena aku tidak bisa melihatmu lagi.



Aku sangat senang saat Maika menceritakan tentangmu dulu, aku senang kalau kamu mencariku, aku senang karena kamu masih mengingatku, inilah yang ingin aku katakan padamu, aku adalah orang yang kamu cari selama ini, Hana, aku adalah Ezu.



“ Tapi...dia ada dimana sekarang”.


Revan pun menghela nafas. Sesaat matanya melihat seseorang yang mirip dengan Hana. Perlahan-lahan Revan mendekati sosok itu dan benar saja itu adalah Hana, tapi sepertinya Hana tidak sendiri karena dia terlihat sedang berbicara dengan seseorang. “ Viran”. Revan pun berpikir sesuatu karena akhir-akhir ini Viran selalu ada bersama Hana, ada hal-hal yang Viran tahu tapi tidak dengannya, ia sama sekali tidak tahu dan Viran sangat mudah bertemu dengan Hana sedangkan dirinya sama sekali tidak tahu Hana ada dimana.


“ Revan”. panggil Hana. Mendengar Hana memanggilnya Revan pun bergegas pergi. “Revan ”, panggil Hana lagi tapi Revan tidak menghiraukannya sepertinya Revan sedikit marah pada Hana.

__ADS_1


Tiba-tiba Viran menghadang jalan Revan begitu cepat sehingga membuatnya terkejut melihat Viran sudah ada didepannya.


“ Revan, Hana memanggilmu”.



“ Lalu?”.



“ Revan, ada yang ingin aku katakan padamu”.



“ Tapi aku tidak ingin mendengarnya”.



“ Apa?”.



“ Sekarang ini aku sibuk, aku tidak ada waktu”, ujarnyameninggalkan Hana.



“ Kalau tidak mau mendengarnya sekarang, aku akan menunggumu ditempat biasa, jam 3, aku akan menunggumu, kamu dengarkan Revan”, teriak Hana tapi Revan berlalu pergi tanpa menghiraukan ucapannya. “ Kenapa dia bersikap seperti itu padaku”.



“ Sepertinya dia kesal”.



“ Kesal?”.



“ Kesal karena cemburu”.



“ Kenapa?”.



“ Kamu tidak sadar kalau kamu menghilang, dia terus mencarimu, begitu melihatmu, dia malah melihatku bersamamu juga, bukankah itu namanya cemburu”.



“ Kalau reaksinya seperti tadi, apa dia akan datang?”.



“ Aku akan pastikan dia akan datang kalau perlu aku bisa menyeretnya datang kehadapanmu”.



“ Wah...Viran, apa kamu sudah gila”.



“ Mungkin”, ujarnya yang membuat Hana tertawa dan Viran pun ikut tertawa.

__ADS_1


__ADS_2