Butterfly

Butterfly
Keputusan Fia


__ADS_3

Setelah mendapat chat dari Teo, Fia segera datang ke tempat di mana mereka janjian. Fia yang sampai terlebih dulu, dia pun memutuskan untuk memesan sembari menunggu kedatangan Teo. Hingga pesanan datang, Teo masih belum datang. Namun, Fia masih berpikiran positif. Mungkin saja Teo masih sibuk di rumah sakit sehingga terlambat.


Minuman yang berada di gelas Fia sudah tersisa setengah saat ini. Jam makan siang sudah terlewat dua jam yang lalu, tetapi Fia masih ingin menunggu Teo. Suara bel kecil di pintu tempat ini berbunyi, tanda ada pengunjung yang baru saja masuk. Fia sama sekali tidak tertarik dan penasaran siapa seseorang yang baru masuk. Dia asyik melamun menatap jendela di sebelahnya.


“Maaf, Fi. Kamu sudah nunggu lama, ya?”


Suara itu membuat Fia spontan menoleh, di depannya berdiri sosok yang sedang ditunggunya. Benar, dia adalah Teo. Pria itu terlihat ngos-ngosan, sepertinya habis berlari jauh. Fia memperhatikan penampilan Teo, pria itu hanya memakai kaos dan celana panjang. Apakah berarti Teo tidak ke rumah sakit?


“Fia,” panggil Teo menyentuh bahu gadis itu.


“Ah iya, Dok. Dokter, mau pesan apa?” tanya Fia setelah dia tersadar dari lamunannya.


“Nanti aku sekalian pesan makan saja. Fi, kamu minum kopi lagi?”


“Maaf, karena tadi sedikit mengantuk jadi pesan kopi.”


Teo menghembuskan napasnya, dia pun memutuskan untuk memesan makan siang. Begitu juga dengan Fia, ternyata gadis di depannya ini sengaja menunggunya untuk memesan makanan. Teo yang bersiap mengomel mengurungkan niatnya setelah melihat Fia yang sejak tadi hanya diam dan asyik melihat keluar jendela.


“Fi, maaf. Aku terlambat datang, tadi aku mampir terlebih dulu ke klinik dan ternyata bertemu dengan teman. Kita keasyikan mengobrol, jadi ….”


“Tidak apa-apa, Dok. Fia juga tidak menunggu terlalu lama, tadi juga Fia mampir dulu,” potong Fia, dia tidak mau berpikir yang macam-macam saat ini.


Fia tahu siapa teman yang di maksud oleh Teo, jika pria itu tadi mengatakan bahwa dia mampir ke klinik berarti hanya satu teman itu yang Teo temui. Si desainer pemilik bangunan yang berada beberapa blok dari klinik. Ternyata mereka masih sering bertemu, mengingat hal itu membuat ada sedikit rasa tidak nyaman dalam hati Fia. Apa yang dikatakan Alice tadi benar? Dirinya sedang cemburu.

__ADS_1


“Silahkan pesanannya, selamat menikmati,” ucap pelayan itu setelah meletakkan semua pesanan mereka di atas meja.


Mereka mulai menyantap makan siang yang terlambat ini dalam diam. Sebenarnya Teo sudah sangat ingin bertanya pada gadis itu, sebenarnya apa yang terjadi hingga membuat Fia saat ini terlihat berbeda.


Karena sama sekali tidak ada obrolan apapun, acara makan mereka sangat singkat. Piring keduanya sudah kosong yang tersisa hanya minuman saja. Fia menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya secara perlahan. Sepertinya ini waktu yang tepat untuk berbicara mengenai hubungan mereka.


“Dok, ada yang mau Fia bicarakan pada Dokter,” kata Fia, di bawah meja kedua tangan Fia saling menggenggam. Dia benar-benar gugup saat ini.


“Ada apa?” tanya Teo mengernyitkan dahinya.


“Apakah Dokter Teo benar-benar mencintai Fia?” tanya Fia, dia benar-benar gugup saat ini.


“Kenapa kamu menanyakan hal itu? Bukankah jawabannya sudah jelas?”


“Maaf, tapi Fia tidak merasa seperti itu. Semenjak Dokter Teo bertemu dengannya, Dokter terlihat berbeda. Mungkin ini hanya asumsi Fia saja. Apakah Dokter Teo masih menyimpan perasaan padanya?”


Fia paksakan seulas senyum. Diamnya Teo sudah menjawab semuanya. Pria itu masih diam dengan pikirannya sendiri. Entah apa yang dipikirkan Teo saat ini sehingga mengabaikan Fia.


“Fia paham. Sepertinya untuk sekarang, kita jangan bertemu dulu. Dokter pikirkan secara matang akan bagaimana lanjutan hubungan ini. Fia akan menunggu,” ucap Fia akhirnya.


Fia pun segera pamit dari hadapan Teo. Bahkan dia membayar terlebih dulu pesanannya sebelum pergi. Sementara Teo masih terpaku ditempatnya, tiba-tiba otaknya ngelag. Namun, melihat Fia yang berjalan keluar dari tempat ini membuat Teo seketika tersadar. Pria itu meninggalkan beberapa lembar uang di atas meja dan segera mengejar Fia yang sudah berjalan keluar.


“Fia tunggu!” panggil Teo.

__ADS_1


Fia mendengar teriakan itu, tetapi dia lebih memilih untuk tidak berhenti. Dia masih terus berjalan, hingga sebuah tangan menghentikan langkahnya. Teo berhasil menggapai Fia.


“Tunggu, Fi. Kamu salah paham, aku tidak … kamu menangis?”


Teo terkejut melihat air mata berlinang di wajah Fia. Ada perasaan bersalah menghinggapi diri Teo saat ini. Pria itu segera membawa Fia ke dalam pelukannya.


“Maaf. Semua ini salahku,” ucap Teo.


Perlahan Fia melepas pelukan Teo. Dia tetap ingin pada pendiriannya. Sepertinya untuk saat ini hal yang benar untuk tidak bertemu sementara waktu. Mendengar permintaan Fia itu, Teo pun menyanggupi. Benar kata Fia, dia juga harus memastikan bagaimana sebenarnya perasaannya saat ini.


Teo akan memikirkannya secara matang dan akan memberi waktu pada Fia. Mereka berpisah, Fia tidak mau diantar pulang. Pria itu masih memperhatikan punggung Fia yang berjalan menjauh darinya. Teo mengacak rambutnya frustasi, sebenarnya apa yang telah dia lakukan saat ini?


Bagaimana bisa dia membuat seorang gadis menangis? Baru kali ini ia melihat air mata keluar dari mata Fia. Teo memutuskan untuk pulang ke rumah. Hari ini benar-benar terasa sangat melelahkan baginya.


Sementara itu, Fia masih berada dalam perjalanan pulang ke kosnya. Air mata sudah tidak keluar dari matanya. Namun, ada rasa mengganjal dalam dadanya. Fia memejamkan matanya dan menghembuskan napasnya perlahan, tiba-tiba ada rasa sesak yang menghinggapi rongga dadanya.


Lagi-lagi Fia bertanya pada dirinya sendiri, apakah keputusannya tadi sudah benar? Jujur saja, Fia juga tidak ingin berpisah dengan pria itu. Fia teringat bagaimana pertemuan pertama mereka dahulu. Mereka bertemu di rumah sakit saat dia mengantar Alice yang ketika itu tidak sadarkan diri akibat perbuatan Satria.


Ketika itu Teo masih menjadi dokter magang di rumah sakit dan dialah yang menghibur Fia saat itu, memintanya untuk tetap tenang dan mengatakan bahwa Alice akan baik-baik saja. Perkataan Teo benar-benar menenangkannya saat itu. Setelah kejadian itu memang Fia sudah tidak bertemu lagi dengan Teo, dia kembali bertemu ketika mengantar Alice untuk melepas benang.


Dia tidak menyangka jika bisa bertemu dengan Teo kala itu dan hubungan mereka berlanjut hingga memutuskan untuk menjalin hubungan. Fia menyenderkan kepalanya pada jendela dengan mata menatap jalanan.


...🦋🦋🦋...

__ADS_1


Bab ini melipir ke Teo sama Fia dulu, ya 🤭


Tetap dukung karya Othor. Jangan lupa mampir ke karya Othor yang lain juga 😉


__ADS_2