Butterfly

Butterfly
Membuka Kembali Hatinya


__ADS_3

Warning! Area 🔞 harap bijak dalam membaca, yang merasa belum cukup umur skip dulu.


...🦋🦋🦋...


Cukup lama Alice bertahan pada posisinya, ia tidak bisa tidur malam ini. Banyak sekali pikiran yang mengganggu gadis itu. Alice bangkit dari duduknya, membuka tirai itu dan membuka jendela. Merasakan angin yang berhembus menerpa wajahnya. Kembali melamun dengan mata tertutup, entah kemana pikirannya melayang. Alice tersentak kaget saat tiba-tiba ada sebuah tangan melingkar pada perut ratanya. Memeluk dari belakang dan menumpukan dagu pada bahunya.


“Belum tidur?” bisik orang itu.


Tanpa menoleh Alice sudah tau siapa itu, dari wangi tubuhnya ia sudah hapal sekarang. Alice menggelengkan kepala sebagai jawaban, ia masih membiarkan pria itu memeluknya. Jujur, Alice pun merasa nyaman dalam dekapan pria itu.


“Kenapa, hmm?”


“Nggak tau. Alice nggak bisa tidur, Mas,” jawab Alice, matanya terpejam menikmati semilir angin yang menerpa wajahnya.


“Dingin, Al. Tutup jendelanya!” pinta Rian, tangannya mengusap perut Alice berirama.


Alice menurut, benar juga apa kata Rian. Semakin lama angin itu terasa menusuk wajahnya. Rian memutar tubuh Alice agar menghadapnya. Tangan pria itu menangkup wajah Alice. Sementara Alice tidak berani menatap sorot mata tajam itu, ia sudah salah tingkah sendiri. Membuat Rian terkekeh geli.


“Wajah kamu dingin, Al. Lain kali jangan diulangi lagi. Angin malam nggak bagus untuk kesehatan,” pesan Rian masih menangkup wajah Alice.


“Iya, sekarang lepasin, Mas. Alice mau tidur.”


“Kamu udah ngantuk?”


“Hmm, belum sih,” jawab Alice, ia semakin salah tingkah karena sedaritadi ditatap Rian, “Mas Rian tadi nggak ketuk pintu dulu, ya? Kenapa langsung nyelonong masuk?” tanya Alice mencoba mengalihkan.


“Aku tadi udah ketuk pintu, Al. Tapi kamu nggak jawab, eh ternyata lagi melamun,” jawab Rian terkekeh.


“Huh, ya udah sekarang Mas Rian keluar,” ucap Alice cemberut.


CUP!


Kecupan di pipi kanan Alice membuat gadis itu terdiam mematung, sementara Rian merasa gemas dengan reaksi gadis manis itu. Kembali kecupan mendarat di pipi kiri Alice, membuatnya mengerjap.


Setelahnya kecupan-kecupan itu berlanjut, pipi kanan dan kiri Alice menjadi korban. Membuat wajah Alice semakin cemberut dibuatnya. Rian tertawa melihat wajah lucu Alice. Namun, seketika tawanya terhenti, tangan pria itu menangkup rahang Alice. Jantung Alice sudah berdegub kencang, ia tau kemana arah Rian selanjutnya. Namun, kali ini Alice menerimanya.


Dua bibir itu sudah terpagut, menciptakan gerakan lembut di sana. Mata Alice terpejam menikmati sentuhan yang Rian ciptakan. Sementara Rian menuntut lebih, tangannya kini berpindah ke tengkuk Alice. Memperdalam pagutan mereka. Tangan kiri Rian pun mulai bergerilya mengabsen satu-persatu tubuh Alice. Mendarat pada bukit kembar milik Alice, menyentuhnya lembut.


Hingga membuat erangan lolos dari mulut manis Alice. Rian tersenyum samar, menuntun gadis itu untuk berbaring. Alice bahkan tidak sadar dengan posisi mereka saat ini. Rian berada di atas Alice yang masih memejamkan mata, ah sepertinya gadis itu masih malu-malu. Pria itu meneliti setiap inci wajah manis itu, lalu selanjutnya kembali meraup bibir manis milik Alice.

__ADS_1


Malam dingin di luar sana menjadi saksi atas perbuatan Rian saat ini. Tangan pria itu mulai membuka kancing baju milik Alice satu-persatu. Namun, seketika akal sehat Alice segera kembali, ia tersadar jika perbuatan mereka ini salah. Alice menahan tangan Rian yang hampir saja meloloskan baju dari tubuhnya. Sementara pria itu mengernyit, menatap Alice tidak mengerti.


“Jangan sekarang, Mas!” ucap Alice dengan suara serak, “Tunggu setelah kita menikah,” lanjut Alice.


Pernyataan Alice barusan masih berusaha dicerna oleh otak Rian. Pria itu masih terdiam dengan posisi di atas Alice. Namun setelahnya, Rian membulatkan matanya dan menatap Alice untuk meminta penjelasan.


“Jadi… kamu mau…”


Alice tersenyum dan mengangguk, lalu setelahnya ia melotot saat Rian memeluknya erat. Mengajaknya berguling-guling di atas ranjang.


“Ayo kita menikah besok!” seru Rian semangat.


PLAK!


Sebuah geplakan maut mendarat di punggung lebar Rian, membuat sang empunya meringis merasa panas di punggungnya.


“Udah sana Mas Rian tidur, Alice juga mau tidur,” ucap Alice mengusir Rian.


“Aku nggak ada tenaga buat bangun, Al.”


“Ckck, sana keluar!”


“Nice dream, Dear,” pesan Rian sebelum benar-benar keluar dari kamar itu.


Setelah kepergian Rian, buru-buru Alice membenarkan bajunya. Wajah gadis itu merah padam membayangkan kejadian tadi. Benar-benar memalukan. Ia memukul-mukul bantal untuk meluapkan rasa malunya.


“Hish, untung nggak kebablasan,” gumam Alice.


“Gue tambah nggak bisa tidur. Gimana dong?”


Alice menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut tebal, wajahnya kembali memerah ketika teringat kejadian yang hampir saja merenggut masa depannya jika ia tidak cepat sadar. Alice membuka selimut hingga sebatas dagunya, tiba- tiba wajahnya kembali murung.


“Kenapa perasaan gue nggak enak?” gumamnya.


Ada perasaan gelisah yang tiba-tiba menghinggapinya. Apakah keputusannya menerima tawaran Rian sudah tepat? Bagaimana jika kejadian beberapa tahun lalu kembali terulang? Memori itu kembali muncul ke permukaan membuat Alice diliputi rasa takut.


Gadis itu berusaha memejamkan matanya berharap memori itu segera hilang dari ingatannya sekarang juga.


...🦋🦋🦋...

__ADS_1


Keesokkan harinya, Alice berkumpul bersama Reni dan Rian untuk sarapan. Semalam gadis itu benar-benar tidak bisa tidur, Alice terlihat amat lelah dan wajahnya pucat. Setiap memejamkan matanya, bayang-bayang Satria selalu menghantui. Hingga Alice berusaha tetap terjaga agar bayang-bayang itu segera menghilang. Reni yang memperhatikan wajah Alice mengernyit.


“Kamu sakit, Al?” tanya Reni menatap Alice cemas.


“Nggak, Ma. Cuma semalem kurang tidur,” jawab Alice berusaha tersenyum.


Rian yang tadinya hendak menggoda terdiam melihat wajah pucat dan keringat dingin yang mengucur deras di dahi Alice. Tangannya segera terulur menyentuh dahi Alice.


“Al, kamu sakit. Ayo ke rumah sakit!” ucap Rian cemas ketika merasakan tangannya menghangat tadi.


“Alice nggak sakit, Mas. Nggak perlu cemas…”


“Mana bisa aku nggak cemas sama calon istriku yang lagi sakit. Ayo ke rumah sakit!”


Reni terdiam mendengar ucapan putranya tadi. Beliau menatap dua muda-mudi didepannya itu.


‘Apakah mereka berdua akan benar- benar menikah? Atau Rian hanya sedang berakting?’ batin Reni dengan pandangan menyelidik.


“Apa kalian benar-benar akan menikah?” tanya Reni, membuat Rian dan Alice spontan menoleh ke arah beliau.


“Iya, Ma. Alice sudah setuju. Benarkan, Sayang?” tanya Rian pada Alice.


Alice mengangguk samar dengan senyuman yang ia tampilkan sebaik mungkin. Namun, pandangan menyelidik Reni masih membuatnya takut. Ia sendiri masih terus meyakinkan diri agar bisa membuka kembali hatinya.


...🦋🦋🦋...


Ayo Alice, kamu pasti bisa 😤😤😤ㅤ



Dirgahayu Republik Indonesia yang ke-76


Indonesia Bangkit


Indonesia Tumbuh


Indonesia Sembuh


MERDEKA ✊✊🇲🇨🇲🇨

__ADS_1


__ADS_2