Butterfly

Butterfly
Juga Darah Dagingnya


__ADS_3

Suara dering ponsel mengalihkan fokus Sandra yang sedang menyiram bunga di halaman depan. Wanita itu menghentikan aktivitasnya sejenak untuk melihat siapa yang menelponnya. Ada senyum terbit yang hadir dari bibir wanita itu saat tahu siapa yang menelponnya. Dia segera duduk di kursi yang ada di teras untuk menjawab panggilan telepon ini.


“Ternyata papa yang menelpon,” ucap Sandra mengelus perut buncitnya, “Harusnya dia sudah selesai di rumah sakit,” lanjutnya.


Sandra menggulir layarnya dan menempelkan benda pipih itu ke telinga kirinya, sementara tangan kanannya masih mengelus perutnya. Beberapa bulan lagi Sandra akan melakukan persalinan, sungguh waktu sangat cepat berlalu. Itu yang Sandra rasakan saat ini.


“Halo?” sapa Sandra.


Senyum lebar Sandra sedikit demi sedikit memudar setelah mendengarkan perkataan Rian dari seberang sana. Senyum lebarnya digantikan oleh senyum getir sekarang. Ternyata Rian menelpon untuk memberi tahu bahwa pria itu tidak dapat memenuhi permintaannya.


Mulut Sandra mengucapkan kata ‘tidak apa-apa’, tetapi dalam hatinya sungguh merasa kecewa. Namun, lagi-lagi Sandra harus sadar diri. Sekarang dia bukan lagi menjadi prioritas bagi pria itu. Kini Rian sudah memiliki seorang istri dan tentu saja seseorang yang bertahta paling tinggi bagi pria itu adalah sang istri.


Percakapan diakhiri oleh Rian. Sandra masih ditempatnya, ada air mata yang menggenang di pelupuk matanya. Namun, sekuat tenaga dia menahannya agar tidak membuat Mbok Inem khawatir padanya. Memang akhir-akhir ini Sandra sangat cengeng, diam-diam dia selalu menangis saat tidak mendapatkan apa yang dia mau.


Walau ada sesuatu yang sangat Sandra inginkan, tetapi dia tidak pernah bercerita pada Mbok Inem. Sandra tidak mau merepotkan beliau, sehingga biasanya dia akan memendamnya sendiri. Namun kali ini, Sandra sungguh ingin makanan itu dan terpaksa meminta tolong pada Rian.


“Sabar, Nak. Besok Mama akan ke kota dan beli sendiri,” ucap Sandra berusaha menghibur diri.


Wanita itu sedang mengidam sesuatu dan kebetulan di sekitar tempat tinggalnya tidak ada yang menjual. Sebuah makanan yang hanya ada di kota besar. Sebenarnya Sandra juga sudah berusaha dengan memesan online, tetapi tidak ada yang mau mengantar hingga ke perkampungan ini. Sandra pun kembali berdiri dari duduknya, melanjutkan aktivitas yang tadi sempat terhenti.


Pekarangan yang tadinya hanya ada rerumputan liar, sekarang terlihat lebih terawat semenjak Sandra tinggal di sini. Wanita itu memang senang dengan tanaman juga berbagai jenis bunga. Alhasil dia memanfaatkan kesendiriannya dengan menanam bunga. Uang dari Rian disisihkan untuk membeli bibit bunga. Sandra tersenyum puas melihat pekarangan yang sekarang terlihat lebih hijau dan penuh warna.


“Ian pasti kaget kalau datang kemari lagi, rumahnya sudah terlihat lebih hidup,” gumam Sandra.

__ADS_1


“Mbak Sandra,” panggil Mbok Inem.


“Iya, Mbok? Sudah mau pulang, ya?”


“Iya, Mbak. Saya pamit pulang sekarang, rumah sudah bersih dan makan malam sudah ada di meja. Nanti kalau ada apa-apa telepon saya saja.”


“Iya, Mbok. Terima kasih, hati-hati di jalan.”


Sandra melihat kepergian Mbok Inem dengan sepeda tuanya. Setelah wanita paruh baya itu menghilang di persimpangan jalan, barulah Sandra memutuskan untuk masuk ke dalam rumah. Semakin lama, Sandra merasakan bahwa tubuhnya makin cepat lelah dan terasa berat.


Namun, Sandra sangat menikmati perubahan itu. Walau hal ini menjadi hal baru untuknya, Sandra sangat merasa bahagia. Terkadang jika Sandra sedang ingin melihat bagaimana rupa calon buah hatinya, dia akan melihat foto hasil USGnya.


“Astaga, Mbok Inem. Kenapa masaknya banyak sekali?” gumam Sandra saat melihat meja makan.


“Kalau tidak ada bayi di dalam perut Mbak Sandra silahkan Mbak nggak makan seharian pun saya tidak akan mengomel. Tapi saat ini di dalam perut Mbak Sandra ada kehidupan lain, darah daging Mbak sendiri. Mbak Sandra harus bertanggung jawab, jadi sekarang Mbak harus berpikir bukan demi Mbak Sandra, tetapi demi anak di perut Mbak Sandra.” Begitulah kata-kata yang terlontar dari mulut Mbok Inem.


Beliau benar-benar marah saat itu. Sandra tersenyum tipis mengingat saat-saat itu. memang benar, ketika itu dia kembali terpuruk dengan keadaannya saat ini. Jujur saja snagat berat untuknya dapat menerima anak di dalam perutnya. Sandra juga sempat berpikir untuk menggugurkan kandungannya, tetapi rasa sayangnya terhadap calon buah hatinya terlalu besar.


Sandra harus berperang dengan ingatan kelamnya bersama dengan Kevin juga dosanya ketika mengkhianati Rian dahulu. Jika teringat anak di dalam perutnya juga darah daging pria brengsek itu, Sandra masih sering kembali terpuruk. Kembali menyesali semua perbuatannya.


Namun, dibalik semua itu. Sandra memiliki Mbok Inem yang selalu berada di sampingnya, menemaninya kala dia terpuruk dan memiliki pikiran ngawur. Mbok Inem selalu sabar menghadapi Sandra yang terkadang menjadi seorang wanita yang keras kepala.


Sebenarnya Sandra ingin bersikap egois, menahan Mbok Inem untuk menginap di rumah ini. Namun, dia tidak bisa. Mbok Inem juga masih memiliki tanggung jawab di rumahnya, masih ada anak-anak yang membutuhkan hadirnya Mbok Inem.

__ADS_1


Lalu di saat seperti inilah Sandra akan merasakan sepi yang memeluknya. Makan malam seorang diri tanpa ada teman bercengkerama. Ingatan kelam itu terkadang kembali mampir dibenaknya. Namun, saat ini Sandra sudah dapat mengontrolnya. Dia selalu menekankan hal ini dalam pikirannya.


“Walau anak ini juga darah dagingnya, tetapi gue nggak akan pernah mengakuinya sebagai ayah dari anak ini.”


“Ingat, Nak. Papa kamu adalah Rian,” ucap Sandra mengusap perutnya.


Ya, Sandra hanya dapat bercengkerama dengan calon buah hatinya ketika malam. Menumpahkan semua keluh kesah padanya. Juga menyelipkan doa di akhir sesi curhatnya. Doa terbaik untuk buah hatinya kelak.


Setelah menyelesaikan makan malam seorang diri dan mencuci semua peralatan makan yang digunakan, Sandra memutuskan memasuki kamarnya. Duduk di atas ranjang dan meraih sebuah buku. Wanita itu membaca beberapa buku untuk mengurangi rasa bosannya.


Walau hanya mampu menghabiskan beberapa halaman saja, hal itu sangat ampuh untuk membuatnya merasa cepat mengantuk. Besok Sandra berencana hendak ke kota untuk membeli makanan yang sangat dinginkannya selama beberapa hari ini. Jadi dia harus tidur lebih awal malam ini.


Sandra tidak mau menunggu lebih lama lagi, bahkan hanya membayangkan aromanya saja air liur Sandra hampir menetes keluar. Wanita itu berharap semoga besok dirinya dapat menemukan makanan itu dan menyantap sepuasnya. Sandra meletakkan buku yang dibacanya ke meja yang berada di sebelah tempat tidurnya. Dia mulai berbaring, menaikkan selimutnya, dan mulai memejamkan matanya.


“Selamat tidur,” gumam Sandra.


Hanya membutuhkan waktu beberapa menit hingga wanita itu memasuki alam mimpi. Suasana malam yang hening serta udara sejuk membuat Sandra cepat tertidur.


...🦋🦋🦋...


Jangan lupa tinggalkan jejak 😉


__ADS_1


__ADS_2