Butterfly

Butterfly
Harapan Mertua


__ADS_3

Rian mengajak Alice masuk ke ruang kerjanya. Pria itu menyuruh sang istri untuk duduk di salah satu kursi yang ada di ruang ini. Alice menurut, matanya mengamati setiap sudut ruangan ini.


"Diminum, Al," kata Rian memberikan gelas kertas berisi teh hangat.


Alice menerimanya dan menyesap tehnya. Rian berdiri dengan bersandar pada meja yang ada di depan Alice. Pria itu memperhatikan paras sang istri.


"Temen kamu kenapa?" tanya Rian.


"Magh-nya kambuh, ditambah lagi ada masalah sama Dokter Teo juga," jawab Alice menggenggam gelas kertas.


Tangannya yang sejak tadi dingin sudah cukup hangat berkat teh buatan Rian. Sementara Rian mengangguk mendengar penuturan Alice. Memang beberapa hari ini Teo terlihat sangat uring-uringan dan menjengkelkan.


"Al, maaf malam ini aku ada operasi. Aku nggak bisa antar kamu pulang."


"Nggak papa, Mas. Alice tadi juga ke sini naik motor kok."


"Kamu masih mau di sini? Atau pulang sekarang?"


"Alice mau ketemu Fia dulu sebelum pulang."


Rian mengangguk dan mengantar Alice ke ruang rawat Fia. Ternyata di dalam ruang rawat tersebut masih ada Teo. Alice pun mengurungkan niatnya untuk langsung masuk. Dia akhirnya menunggu hingga Teo keluar ditemani Rian.


"Teo pasti lama di dalem," ucap Rian menggenggam tangan kanan Alice dan memasukkannya ke dalam saku snelinya.


"Mereka pasti juga butuh waktu buat selesaiin masalah. Alice bakal tunggu."


"Tapi, kamu jangan pulang terlalu malem. Bahaya."


Alice hanya mengangguk sebagai jawabannya. Dia terdiam, benaknya kembali memikirkan kembali chat dari Sandra yang masuk ke ponsel sang suami. Hingga saat ini Rian masih bungkam.


"Mas, kemarin Al ...."


Alice tidak melanjutkan perkataannya karena tiba-tiba pintu terbuka dan muncul sosok Teo yang terkejut melihat keberadaan Alice dan Rian.


"Kenapa, Al?" tanya Rian.


Alice menggeleng. "Nanti aja, Mas. Alice masuk dulu, ya?"


Rian mengangguk dan memperhatikan Alice yang masuk ke dalam kamar rawat Fia. Sedangkan Teo duduk di sebelah Rian menggantikan Alice.


"Udah selesai masalah kalian?" tanya Rian memperhatikan ekspresi Teo yang terlihat lebih berseri.

__ADS_1


Teo berdehem mendengar pertanyaan Rian. Sementara Rian melihat Teo dengan pandangan jijik.


"Bagus kalo masalah kalian bisa diselesaiin baik-baik," gumam Rian menyenderkan kepalanya pada dinding.


"Kenapa? Lo juga lagi ada masalah?" tanya Teo mengernyitkan dahinya.


"Masalah gue banyak," jawab Rian tersenyum simpul dengan mata terpejam.


Rian mengantar Alice hingga tempat parkir setelah urusan sang istri bersama dengan temannya itu selesai. Pria itu tiba-tiba menahan tangan Alice yang hendak memgambil helmnya. Ia berbalik menatap Rian dengan pandangan bertanya.


"Kasih aku energi biar nanti semangat operasi," kata Rian.


"Hah? Gimana?" tanya Alice dengan dahi berkerut.


Rian tersenyum dan meraih tengkuk Alice. Mendaratkan sebuah kecupan di bibir sang istri, bermain sebentar di sana.


Pria itu menjauhkan wajahnya dan menatap Alice yang sedang mengatur napasnya. Tangannya terulur mengusap bibir merah muda milik Alice yang kini terlihat mengkilap.


"Energiku udah full sekarang," kata Rian terkekeh.


Sementara Alice tersipu malu mendengar perkataan pria didepannya ini. Alice pun segera pamit pada Rian.


Wanita itu melajukan motornya membelah jalanan kota yang masih padat walau hari sudah cukup larut. Alice sampai di apartemen dan segera berganti pakaian. Lalu, ia segera merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.


Wanita itu membawa sebotol minuman dan meletakkannya di meja depan televisi. Ia menyalakan televisi itu sebagai pemecah kesunyian. Menonton sembarang acara. Namun, fokus Alice ada pada minuman di botol kaca itu.


Alice meneguk beberapa kali, membiarkan rasa keras lewat di tenggorokannya. Walau tidak dapat menyembuhkan rasa hausnya, tapi cukup membantu meringankan kepala yang tadi terasa berat.


Alice termenung sambil sesekali menenggak minuman beralkohol itu. Hingga akhirnya ia tidak sadarkan diri dengan wajah yang memerah akibat mabuk.


...🦋🦋🦋...


Suara ketukan pintu dan bel berbunyi silih berganti membuat tidur Alice terganggu. Ia perlahan membuka matanya dan memperhatikan sekitarnya. Spontan Alice memegang kepalanya yang terasa sangat pening.


Lagi, suara bel dan ketukan pintu kembali terdengar. Alice berusaha mengontrol dirinya dan mengumpulkan semua kesadarannya. Dia melihat jam di dinding. Matanya seketika membulat melihat jarum pendek jam itu berhenti di angka sepuluh.


Alice segera bangkit ketika mendengar lagi suara bel. Namun, sebelumnya dia membuang sampah yang berserakan di atas meja dan dengan kilat merapikan rambutnya yang berantakan.


"Iyaaaa," ucap Alice.


CEKLEK!

__ADS_1


Alice terkejut melihat sosok yang berdiri didepannya. Reni berdiri di depan pintu dengan membawa paperbag yang entah apa isinya. Beliau berdehem pelan.


"Mama sengaja nggak langsung masuk, takut nanti ganggu," kata Reni.


"Masuk dulu, Ma," ucap Alice mempersilakan mertuanya itu masuk ke dalam.


Reni pun segera masuk dan matanya menelisik sekitar. Alice yang langsung tanggap pun segera menjelaskan pada beliau.


"Mas Rian belum pulang, semalam ada operasi," jelas Alice segera pergi ke dapur untuk membuat minuman.


"Hmm? Belum selesai operasinya?" tanya Reni duduk di kursi meja makan.


"Alice juga nggak tau, belum ada kabar lagi dari Mas Rian," jawab Alice fokus pada cangkir didepannya.


"Rian masih sering nginep di rumah sakit? Dia jarang pulang?"


Alice menggeleng dan berjalan menghampiri Reni, meletakkan cangkir berisi teh hangat di meja.


"Mas Rian pulang kok. Kebetulan memang semalam ada operasi dan sepertinya akhir-akhir ini Mas Rian sibuk," jelas Alice duduk di depan Reni.


Reni hanya mengangguk dan meminum teh buatan Alice, sementara Alice memainkan jarinya di ujung cangkir teh miliknya. Reni melirik Alice dan meletakkan cangkirnya kembali di meja.


"Oh ya, Mama dapat dari teman. Katanya bagus buat kesehatan, kalian minum rutin, ya?"


Reni memberikan paperbag itu pada Alice. Wanita itu melihat isi dari paperbag. Ada kernyitan di dahi Alice melihat sebuah kardus berukuran tanggung berwarna merah dengan sebuah tulisan yang ia duga merek dari produk tersebut. Namun, Alice tidak tahu produk apa ini.


"Ini apa?" tanya Alice masih dengan kernyitan di dahi.


"Kamu bisa tanyakan pada Rian nanti. Pokoknya ini bagus buat kesehatan kalian."


Tiba-tiba Reni menggenggam kedua tangan Alice dengan senyuman hangat. Mendadak perasaan Alice menjadi was-was melihat ekspresi mertuanya itu. Entah mengapa Reni bersikap tidak seperti biasanya.


"Mama sangat berharap pada kalian," ucapnya disertai senyum lembut dengan tatapan penuh harap.


Namun, Alice masih gagal paham dengan ucapan Reni. Akhirnya Alice hanya bisa mengangguk dan tersenyum kikuk.


...🦋🦋🦋...


Hai .... Alice hadir lagi nih. Maaf Othornya ngilang lama. Kali ini Othor akan berusaha untuk menyelesaikan karya ini.


Dukung terus karya Othor, ya?

__ADS_1


Salam hangat dari Othor kyut 😘


__ADS_2