
Malam ini, Rian mengajak Alice untuk makan malam bersama di sebuah resto mewah. Pria itu berencana melamar Alice secara resmi dengan bunga dan cincin permata. Rian terpana melihat penampilan Alice malam ini. Alice terlihat sangat cantik dengan dress selutut berwarna biru muda, rambut sebahunya dia gerai, dan dengan polesan riasan tipis.
Sederhana, tapi mampu menghipnotis Rian untuk tidak berkedip beberapa saat. Sedangkan Alice yang ditatap oleh Rian menundukkan wajahnya malu. Penampilannya ini berkat bantuan dari Fia, bahkan pakaian yang dikenakannya milik sahabatnya itu.
“Mas? Mas Rian?” panggil Alice melambaikan tanagnnya di depan wajah pria yang masih bengong itu.
“Eh? Iya?”
“Kita jadi keluar?”
“Jadi. Ayo!”
Mereka berdua pun memasuki mobil dan mobil itu mulai berjalan menjauh dari kos Alice. Hingga saat ini Alice belum tahu kemana Rian akan membawanya.
“Kita mau kemana, Mas?” tanya Alice yang tidak bisa membendung rasa ingin tahunya.
“Nanti kamu juga tau,” jawab Rian menampilkan senyum misterius.
Tidak lama kemudian mereka sampai di tempat yang tadi masih menjadi rahasia itu. Alice memperhatikan sekitarnya setelah turun dari mobil. Sebuah resto mewah, Alice terpana melihat bangunan di depannya. Keterpanaannya tidak berlangsung lama karena Rian sudah mengajaknya untuk masuk ke dalam, genggaman tangan hangat Rian menuntun Alice masuk ke resto itu.
“Kita mau apa di sini?” tanya Alice berbisik.
“Ya? Kita mau makan di sini. Kenapa? Kamu nggak suka tempatnya?”
Alice menggeleng. “Bukan itu, Mas. Apa nggak mahal makanannya? Sayang uangnya.”
“Tenang aja, uangku masih banyak. Ayo!”
Alice mendengus mendengar jawaban Rian itu. Akhirnya Alice hanya menurut, berjalan beriringan dengan Rian yang masih menggenggam tangannya.
“Kamu mau pesan apa?” tanya Rian setelah mereka duduk di kursi yang sudah dipesannya jauh-jauh hari.
Rian memang sudah merencanakan momen ini. Momen yang tidak akan pernah pria itu lupakan sepanjang hidupnya.
“Samain kayak pesanan Mas Rian aja,” jawab Alice, dia sendiri pun bingung dengan nama-nama makanan di resto ini.
“Oke,” jawab Rian dan memilihkan menu untuk mereka berdua.
Sembari menunggu pesanan, dua sejoli itu menghabiskan waktu dengan mengobrol. Entah Rian atau Alice saling menceritakan keseharian mereka jika tidak bertemu. Alice sudah mulai yakin dengan perasaannya, jantungnya akan berdegub lebih cepat ketika melihat senyum di wajah tampan Rian. Juga wajahnya yang akan bersemu ketika pria itu melontarkan gombalannya.
__ADS_1
“Selamat menikmati pesanan anda,” interupsi pelayan yang mengantar pesanan mereka.
Ternyata Rian memesan steik untuk mereka. Alice melihat makanannya, sudah sangat lama dia tidak memakan makanan ini. Namun dalam hati, Alice tidak yakin dengan porsi makanannya.
‘Apa kenyang, ya? Nggak ada nasinya,’ batin Alice.
Alice mendongak ketika ada piring tersodor di depannya. Di atas piring itu daging steik sudah terpotong-potong menjadi beberapa bagian dengan ukuran satu gigitan. Pelakunya Rian, pria itu sudah memotong daging steik untuk Alice dan menukarnya dengan piring Alice.
“Dimakan, Al,” ucap Rian tersenyum.
“Iya. Terima kasih, Mas,” jawab Alice dan segera melahap makanannya.
‘Lumayan,’ batin Alice ketika merasakan daging itu di mulutnya.
Setelah makan malam, Rian mengajak Alice berjalan-jalan di sebuah taman yang tidak jauh dari resto itu. Alasan Rian mengajak Alice jalan kaki untuk menurunkan makanan yang tadi mereka lahap. Sebenarnya Alice masih merasa lapar, daging yang berukuran kecil itu tidak cukup untuk membuatnya kenyang.
“Duduk dulu, Al. Capek,” ucap Rian dan menuntun Alice untuk duduk di salah satu bangku di taman itu, “Aku beli minum dulu, ya? Kamu tunggu di sini, jangan ke mana-mana.”
Belum sempat Alice menjawab, Rian sudah pergi dari sana. Alice yang ditinggal seorang diri memejamkan matanya, menikmati semilir angin malam ini. Angin yang berhembus terasa sejuk menerpa wajah Alice.
“Alice, buka matanya,” ucap Rian.
“Kok cep…” Alice tidak melanjutkan perkataannya, didepannya berdiri Rian dengan membawa sebuket bunga mawar merah.
“Aku belum melamar kamu secara resmi kemarin. So, will you marry me?” tanya Rian mengulurkan sebuah kotak kecil berisi cincin yang sangat cantik.
Alice membulatkan matanya, jantungnya pun berdegub kencang. Semburat merah muncul di kedua pipi Alice dan berikutnya gadis itu hanya mampu mengangguk disertai senyuman manisnya. Pertanda jika dia menerima lamaran Rian.
“Kamu menerima lamaranku?” tanya Rian kembali memastikan.
“Iya, Mas,” jawab Alice.
Rian tersenyum lebar, dia meraih tangan Alice dan memasangkan cincin itu di jari gadisnya. Cincin itu sangat manis berada di jari Alice.
Selepas adegan melamar itu, Rian pun mengantar Alice pulang ke kos gadis itu. Malam sudah sangat larut, besok pagi Rian ada jadwal operasi. Sebenarnya pria itu masih ingin berlama-lama dengan sang kekasih, tapi apalah daya waktu yang harus memisahkan mereka.
“Tidur yang nyenyak, ya?” ucap Rian. Kini mereka sudah berada di depan kos Alice.
“Iya, Mas Rian juga. Kalo sudah sampai rumah kabarin Alice, ya?”
__ADS_1
“Iya. Aku pulang dulu, ya?”
“Hati-hati di jalan,” jawab Alice melambaikan tangannya.
“Dadah,” ucap Rian, tapi masih belum beranjak dari tempatnya.
Alice mengernyit bingung melihat Rian yang masih belum beranjak dari sana. Dia kira mungkin Rian menunggunya sampai masuk kamar kos. Namun dugaan Alice salah, ketika hendak berbalik, lengannya ditarik oleh Rian. Tubuh Alice limbung, tapi berhasil jatuh kepelukkan Rian.
“Hish, aku nggak rela berpisah denganmu,” gerutu Rian memeluk Alice erat.
Alice tertawa kecil dan membalas pelukan hangat Rian. “Besok kita ketemu lagi.”
“Ketemu tapi cuma sebentar,” jawab Rian dengan mulut manyun.
“Mas Rian jelek kalo manyun gitu,” ucap Alice melonggarkan pelukan mereka dan menatap wajah Rian yang cemberut.
CUP!
“Udah ganteng belum?” tanya Rian tersenyum setelah memberikan kecupan di pipi kanan Alice.
“Belum,” jawab Alice jahil.
CUP!
Lagi, kecupan di pipi kiri Alice menjadi sasaran Rian. Alice tertawa melihat wajah Rian dan tawa itu menular juga pada Rian. Pria itu mencubit hidung Alice dengan gemas.
“Aku pulang, ya? Have a nice dream, Dear,” ucap Rian.
Alice masuk ke kamarnya setelah Rian benar-benar pergi dari sana. Bersenandung dengan wajah ceria. Ternyata Fia sudah pulang, sejak tadi berada di dalam kos. Fia yang melihat wajah bahagia sahabatnya tersenyum jahil.
“Utututu yang baru kencan romantis. Bahagianya,” ledek Fia.
“Apa sih lo?”
“Huekk, nggak usah sok malu-malu garong gitu. Nggak cocok banget.”
“Sialan lo.”
“Lo pantas bahagia, Al,” ucap Fia dengan senyum tulus.
__ADS_1
...🦋🦋🦋...
Bener kata si Pia, Alice pantas untuk bahagia 😇😇