Butterfly

Butterfly
Dingin


__ADS_3

Warning! Area 🔞 harap bijak dalam membaca, yang merasa belum cukup umur skip dulu.


...🦋🦋🦋...


Alice sudah resmi menjadi mahasiswa di kampus yang sama dengan Satria, tapi sayang mereka berbeda fakultas. Alice berada di fakultas ekonomika dan bisnis, sementara Satria di fakultas teknik. Satria tidak melanggar janjinya untuk membiayai semua kebutuhan Alice di kampus ini.


Sebenarnya Alice merasa tidak enak dengan Satria, walau bagaimana pun pria itu menggunakan uang pemberian orang tuanya. Maka dari itu, diam-diam Alice melakukan part time untuk mengganti uang yang Satria keluarkan untuknya.


“Al, habis ini mau kemana?” tanya Hani pada Alice, mereka baru menyelesaikan kelas terakhir.


“Gue ada part time,” jawab Alice yang sedang membereskan semua buku-bukunya.


“Al, lo sama Satria bener-bener pacaran?”


“Iya, kok lo kenal dia?”


“Siapa sih yang nggak kenal playboy cap badak kayak dia? Beritanya udah ke sebar di seluruh kampus. Bahkan anak-anak FK juga udah tau siapa dia,” cerita Hani.


“Masa’ sih dia begitu?”


“Lo belum tau karena masih baru di sini.”


"Ehrm,” dehem seseorang membuat dua gadis itu menoleh ke arah pintu. Di sana Satria dengan tas di bahu berdiri di depan pintu.


“Gue duluan ya, Al,” pamit Hani buru-buru.


Akhirnya Alice izin untuk tidak masuk part time, dirinya tidak mau ketahuan oleh Satria. Kini mereka sedang menuju salah satu resto milik ama Satria yang baru buka. Tidak ada obrolan sama sekali selama perjalanan menuju resto itu, entah mengapa Alice merasakan aura dingin milik Satria.


“Udah sampai, ayo turun!” ajak Satria.


“Eh? Ayo,” jawab Alice tersentak, tanpa sadar dirinya sejak tadi melamun.


“Sebentar,” tahan Satria, tangannya terulur untuk merapikan rambut panjang Alice. Satria tersenyum yang menular juga pada Alice. Tangan Satria menangkup wajah Alice membuat gadis itu terlihat menggemaskan.

__ADS_1


CUP!


Satria mengecup bibir manis Alice dengan cecapan singkat, setelahnya pria itu menjauhkan wajahnya. Mengusap bibir Alice dan mengajak gadisnya keluar dari mobil. Sementara wajah Alice memerah, jantungnya berdegub kencang. Satria menggandeng Alice memasuki resto yang sangat ramai itu. Tadi di depan resto masih terpajang banyak karangan bunga, ucapan selamat dari rekan-rekan orang tua Satria.


Alice dan Satria duduk di ruang privat. Sejak tadi Alice belum melihat mama Satria, entah kemana beliau berada. Mereka berdua sudah memesan menu dan sedang menunggu pesanan datang. Alice berdiri di balkon dan menatap pemandangan di depan. Resto ini berada di pinggir kota dengan banyak pohon di tanam di sekitar resto, membuat udara sejuk. Alice membuka matanya saat merasakan ada tangan kekar melingkar di sekitar perutnya. Dia mendongak untuk melihat wajah Satria yang sedang tersenyum menatap pemandangan di depan.


“Mau foto bareng?” tanya Alice.


Satria menggeleng sebagai jawaban. Alice mengernyit heran, menagapa setiap di ajak berfoto bersama kekasihnya itu selalu menolak? Padahal dulu ketika SMA mereka sering mengabadikan momen bersama dengan berfoto. Jadi, hanya foto masa-masa SMA yang Alice miliki.


“Permisi, silahkan pesanannya,” interupsi seorang pramusaji, membuat dua sejoli itu menoleh.


Buru-buru Alice melepaskan pelukan Satria, wajahnya sudah memerah menahan malu karena terciduk oleh pramusaji itu.


“Ayo makan, Al,” ajak Satria yang sudah menuju meja terlebih dulu, “Kayaknya masih enak masakan kamu,” lanjut Satria.


“Mana mungkin? Masakan mama kamu juga enak, kok. Aku yakin tempat ini pasti bakal sukses."


“Siapa cewek-cewek itu?” tanya Alice suatu ketika karena merasa terusik.


“Mereka teman-temanku, Al,” jawab Satria singkat.


“Kenapa kamu berubah?” lirih Alice.


Namun, saat Alice yang terlihat dekat dengan salah satu teman laki-lakinya, Satria pasti akan marah. Padahal mereka hanya sedang membuat tugas kelompok, juga Alice tidak hanya berdua dengan laki-laki itu.


“Kamu kenapa sih? Aku cuma kerjain tugas, kita nggak berdua ada teman-teman lain juga,” jelas Alice.


“Kamu harus dapat hukuman, Al,” ucap Satria dingin.


Alice mengernyit, hukuman apa? Mengapa dirinya harus di hukum atas kesalahan yang tidak diperbuatnya?


“Akh!” Alice memekik kesakitan saat Satria menjambak rambutnya dan menyeretnya menuju kamar pria itu.

__ADS_1


Mulut Alice sudah lelah memohon ampun pada Satria yang masih menyakitinya. Pria itu menyayatkan pisau kecil pada lengan Alice. Gadis itu menangis merasa perih di lengan kanannya, kedua tangan dan kakinya di ikat di sisi ranjang. Alice tidak menyangka jika Satria sangat kejam, mengapa pria itu berubah?


“Sssst.”


Setelah puas mengukir luka di lengan Alice, pria itu melepas ikatan di tangan dan kaki Alice. Gadis itu terengah dan meringis merasakan perih di lengannya. Satria keluar dari kamarnya tanpa sepatah kata pun. Namun, tidak lama pria itu kembali dengan bertelanjang dada dan membawa sebuah kotak entah apa isinya. Alice beringsut mundur ketakutan, ia tidak menghiraukan darah yang masih mengalir mengotori seprai. Gadis itu kembali menangis ketakutan.


“Kenapa kamu begini? Apa salahku?” gumam Alice lemas.


“Kamu membantah perkataanku, Al. Aku nggak suka di bantah, kamu tau itu,” jawab Satria yang masih terus mendekat.


Alice menggeleng panik, dirinya segera berdiri dan melangkah mundur. Namun, lama-kelamaan pandangannya mengabur dan dia ambruk. Entah apa yang dilakukan Satria terhadapnya, Alice benar-benar pasrah.


Suara gemericik air mengganggu indera pendengaran Alice. Ia membuka matanya dan mengernyit merasakan ruangan asing. Alice mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Ah, ternyata ia berada di kamar milik Satria. Gadis itu terdiam mengingat kejadian semalam, dia memperhatikan lengannya yang sudah terbalut perban.


“Eh?” kaget Alice saat ada sepasang tangan kekar memeluknya erat.


“Morning, sayang,” ucap Satria dengan suara serak khas orang bangun tidur.


Alice membalikkan badan untuk melihat wajah Satria. Pria itu masih memejamkan matanya, tapi sebuah senyuman indah terukir di bibir. Perlahan ia membuka matanya dan melihat wajah cantik gadisnya.


“Maaf,” ucap Satria penuh penyesalan. “Aku nggak akan jahat jika kamu tidak membantah,” tambahnya.


Alice memejamkan matanya saat merasakan usapan lembut jemari Satria di pipinya. Seketika rasa takut dan kecewa pada pria itu sirna entah ke mana. Gadis itu mengeratkan pelukannya pada Satria, membenamkan wajahnya di dada bidang pria itu. Suasana pagi yang dingin di tambah dengan hujan deras di luar sana, membuat Alice malas untuk bangun.


“Kamu nggak dingin?” tanya Alice mendongak, pasalnya Satria hanya memakai celana pendek.


Selimut yang menutupinya pun hanya sebatas pinggang, begitu juga dengan Alice. Gadis itu sudah berganti dengan kaos milik Satria. Entah kemana baju yang dipakainya kemarin.


“Dingin,” jawab Satria yang selanjutnya meraup bibir merah muda Alice.


...🦋🦋🦋...


Dasar Satria kejam 🤧🤧 bukan anak Emak pokoknya 🤧🤧

__ADS_1


__ADS_2