Butterfly

Butterfly
Mengunjungi Sandra


__ADS_3

Mbok Inem sempat terkesima dengan wanita yang sangat cantik dihadapannya. Beliau belum pernah melihat wanita secantik ini. Walaupin menurutnya Sandra juga termasuk ke jajaran wanita cantik tersebut.


"Apa benar ini rumahnya Sandra?" tanya sosok tersebut.


Mendengar pertanyaan itu membuat Mbok Inem was-was, pasalnya belum pernah ada seseorang datang kemari dan mencari Sandra. Beliau memperhatikan penampilan wanita tersebut.


'Apa mbak ini istrinya Mas Rian, ya? Tapi, memangnya istri Mas Rian kenal sama Mbak Sandra?' Berbagai pertanyaan muncul dalam benak Mbok Inem.


"Mbak ini siapa, ya?" tanya Mbok Inem yang tidak serta merta menjawab pertanyaan wanita itu.


"Nama saya Luna, saya temannya Sandra. Waktu itu kita ketemu di kota dan Sandra sempat menuliskan alamat rumahnya," jelas wanita tersebut yang tak lain adalah Luna, dia menunjukkan secarik kertas berisi tulisan alamat beserta nomor telepon.


Walaupun masih sedikit waspada, tapi Mbok Inem mempersilakan Luna masuk terlebih dulu. Melihat pembawaan Luna yang sopan dan anggun membuat Mbok Inem sedikit luluh.


"Sekarang Mbak Sandra ada di rumah sakit ...."


"Di rumah sakit? Sandra sakit apa?" potong Luna dengan ekspresi terkejut.


"Mbak Sandra baru melahirkan kemarin," jawab Mbok Inem.


"Melahirkan?" tanya Luna membulatkan matanya.


Mbok Inem mengangguk sebagai jawabannya, lalu beliau pamit untuk membuat minuman. Luna mempersilakan beliau, karena dia juga cukup haus setelah menempuh perjalanan yang tidak dekat.


Sembari menunggu Mbok Inem, Luna melihat-lihat sekitar ruang tamu ini. Di ruang tamu ini tidak ada benda-benda istimewa. Hanya ada perabot saja, tidak ada foto atau hal-hal lainnya.


Tidak beberapa lama kemudian Mbok Inem kembali dengan nampan yang diatasnya ada segelas air dan setoples kue kering. Beliau meletakkannya di atas meja. Luna kembali duduk.


"Silahkan, Mbak. Seadanya, ya? Ini Mbok juga baru pulang dari rumah sakit, belum sempat beres-beres rumah."


Luna mengangguk dan meminum minuman dingin tersebut. "Lalu, apa hubungan Mbok dan Sandra?"


"Saya bekerja di rumah ini," jawab Mbok Inem.

__ADS_1


"Kalau Mbok di sini, yang menunggu Sandra siapa?" tanya Luna mengernyitkan dahinya.


"Ada Mas Rian," jawab Mbok Inem cepat tanpa berpikir panjang.


"Jadi, nama suaminya Sandra itu Rian?"


"Eh? Ah, itu ...." Mbok Inem bingung harus menjawab apa.


Beliau merasa resah karena keceplosan tadi. Namun, sebuah dering telepon rumah mengalihkan perhatian kedua orang itu. Mbok Inem bergegas menjawab panggilan itu.


Luna memperhatikan Mbok Inem yang sedang mengobrol dengan lawan bicaranya dari seberang sana. Hanya sebentar beliau mengobrol.


"Maaf, Mbak. Saya harus beres-beres rumah dan nanti harus ke rumah sakit lagi. Mbak Luna kalau masih mau di sini silahkan, tapi saya tinggal membereskan rumah dulu."


"Iya, Mbok. Tidak apa-apa. Tapi, boleh nanti saya ikut ke rumah sakit? Saya mau menjenguk Sandra," pinta Luna dengan penuh harap.


Mbok Inem mengangguk tanda memperbolehkan, hal itu membuat Luna tersenyum senang. Karena hanya hari ini kesempatan yang dimilikinya bisa keluar rumah dengan bebas.


Kevin sedang melakukan perjalanan dinas selama satu hari ini. Walau begitu, tadi pria itu sudah memintanya untuk tinggal di rumah dan segera menghubungi orang kepercayaannya jika ada situasi darurat. Seperti biasa, Luna akan menurut.


Di tengah membereskan rumah, Mbok Inem beberapa kali diam-diam memperhatikan Luna. Namun, beliau tidak menemukan gelagat mencurigakan dari wanita itu. Ada sedikit perasaan lega karena kekhawatiran yang sejak tadi menghinggapi tak akan menjadi nyata.


Setelah semua beres, Mbok Inem kembali menemui Luna yang masih duduk tenang ditempatnya. Ekspresi wajahnya terlihat senang ketika mengetahui pekerjaan Mbok Inem telah selesai.


"Berangkat sekarang?" tanya Luna bersemangat, dia sudah tidak sabar bertemu dengan Sandra.


"Iya, Mbak. Saya hubungi dulu majikan saya, katanya beliau yang mau memesankan taksi."


Luna mengangguk patuh, sayang sekali dia tidak memiliki ponsel. Jadi, tidak bisa memesan taksi online agar mereka dapat lebih cepat sampai.


Kini mereka menunggu di depan rumah hingga taksi yang dipesan oleh Rian tiba. Tidak membutuhkan waktu lama hingga mobil yang merupakan taksi pesanan Rian memasuki pekarangan rumah.


Keduanya segera masuk dan mobil itu melaju menuju rumah sakit. Selama perjalanan suasana terasa hening. Sebenarnya Luna sedikit merasa tegang, sudah sangat lama dia bepergian sejauh ini seorang diri.

__ADS_1


"Mbak Luna kenapa? Mabuk darat?" tanya Mbok Inem yang dari tadi mengamati gerak-gerik Luna yang terlihat kurang nyaman.


"Nggak, Mbok," jawab Luna memaksakan sedikit senyumnya.


Beruntung jarak antara rumah dengan rumah sakit tidak begitu jauh. Mereka sudah sampai di depan rumah sakit. Keduanya turun dari mobil. Mbok Inem tidak sengaja melihat Rian yang berjalan menuju tempat parkir rumah sakit.


"Mbak, saya mau menemui majikan dulu. Mbak Luna kalau mau langsung masuk menemui Mbak Sandra boleh. Nanti bisa tanyakan pada perawat atau minta diantarkan saja," kata Mbok Inem.


"Iya, Mbok. Saya masuk dulu, ya?"


Luna pun masuk ke dalam, sedangkan Mbok Inem menghampiri Rian. Sesuai dengan instruksi Mbok Inem tadi, Luna bertanya pada perawat dan meminta untuk diantarkan.


"Ini kamarnya, mohon untuk tidak berisik karena lorong ini banyak bayi," ucap perawat itu.


Luna mengangguk dan setelah perawat itu pergi, dia mengetuk pintu pelan. Wanita itu melongokkan kepalanya ke dalam. Wajahnya berbinar melihat sosok yang dikenalnya duduk di atas ranjang.


Sandra terkejut melihat kedatangan Luna. Sementara Luna segera masuk dan duduk di sebelah tempat tidur.


"Kenapa kamu bisa ada di sini?" tanya Sandra.


"Tadi aku ke rumah kamu, tapi tidak ada orang. Terus tadi ketemu Mbok Inem di sana, aku dengar kamu baru melahirkan. Jadi, aku ikut ke sini mau jenguk kamu, San."


Sandra menundukkan kepalanya, kedua tangannya dia remas. Luna tidak menyadari hal tersebut, dia sibuk mengedarkan pandangannya. Lalu, berhenti pada box bayi yang berada tidak jauh darinya.


"Bayi kamu laki-laki?" tanya Luna melihat bayi yang sedang tidur itu.


Mendengar pertanyaan Luna, Sandra makin merasa cemas. Dia menggigit bibirnya kembali merasa cemas.


"Anak kamu sangat tampan. Wajahnya mirip sekali denganmu, San," kata Luna tersenyum sembari menatap Sandra.


"Eh?" kaget Sandra mendongakkan kepalanya, "Benarkah mirip aku?"


Luna mengangguk antusias. "Iya, sangat mirip denganmu."

__ADS_1


Seperti ada angin segar yang berhembus pada Sandra setelah mendengar perkataan Luna padanya. Entah kemana perginya rasa cemas dan sedih yang sejak kemarin menghinggapinya. Kini senyum tercetak pada bibir Sandra. Wajahnya terlihat berseri.


...🦋🦋🦋...


__ADS_2