
Alice sedang berkemas di kos Fia. Wanita itu mengemasi barang-barang yang jumlahnya tak seberapa itu. Mulai hari ini Alice akan resmi tinggal bersama dengan Rian. Fia yang sejak tadi menonton sahabatnya yang sedang sibuk itu berkali-kali menghembuskan napasnya. Padahal baru kemarin Fia melihat wajah Alice berlinangan air mata saat berpapasan dengannya di hotel.
Entah apa yang pria itu perbuat hingga sahabatnya terlihat sangat kacau saat itu. Namun, Fia juga bersyukur jika masalah antara sahabatnya dengan Rian sudah selesai dan sepertinya sekarang kedua pasangan yang sedang dimabuk asmara itu baik-baik saja.
“Kenapa wajah lo melas gitu sih?” tanya Alice menatap wajah Fia.
Fia hanya merasa sedih karena Alice kini harus tinggal bersama dengan Rian. Memang sebelumnya Fia tinggal seorang diri di kos, tapi ketika Alice mulai memutuskan tinggal bersamanya Fia merasa sangat senang. Setidaknya dia tidak merasa kesepian, walau pertemuan mereka bisa dihitung dengan jari. Keduanya sama-sama sibuk dengan pekerjaan masing- masing.
“Nggak bisa ditunda dulu kepindahan lo, Al?” tanya Fia.
Alice hanya menggelengkan kepalanya. Dia sangat paham apa yang dirasakan oleh sahabatnya itu. Alice juga merasakan hal yang sama. Walau sebentar tiggal bersama Fia, tapi Fia adalah sosok yang sangat berarti dalam hidupnya. Ah, Alice benci dengan situasi seperti ini. Alice mendongakkan kepala, berusaha agar air mata yang sudah menggenang itu tidak lolos keluar.
PLAKK!
Sebuah geplakan di punggung Alice membuat wanita itu spontan menoleh pada sang pelaku kekerasan. Protes ingin dilayangkan, tapi terpaksa tertahan saat mendengar ucapan Fia.
“Nangis aja elah, nggak usah ditahan kayak gitu. Wajah lo jadi jelek kayak lagi nahan mau berak,” ucap Fia tertawa, tapi air matanya sudah mengalir keluar dengan deras.
“Gue benci sama situasi kayak gini, berasa kita bakal pisah selamanya. Astaga, gue cuma pindah rumah. Lagipula apartemen Mas Rian juga deket dari sini.”
Fia menyeka air matanya dan dia mengangguk. “Gue cuma pengen nangis, Al.”
Mendengar hal itu Alice mendengus. Sahabatnya ini benar-benar selalu bisa membuatnya hilang kata-kata juga pandai sekali merusak momen yang seharusnya menyedihkan.
“Lo udah telpon suami lo?” tanya Fia.
“Udah chat tadi, mungkin lagi di jalan,” jawab Alice.
“Lo harus bahagia, Al. Jangan lupa selalu kabarin gue tentang keadaan lo.”
__ADS_1
“Iya, Fi. Terima kasih selama ini lo udah selalu ada buat gue.”
“Kalau gue denger Pak Dokter nyakitin lo, gue akan langsung maju paling depan.”
Alice mengangguk-anggukkan mendengar nasehat Fia yang memang sudah sangat sering dia dengar. Bukan tanpa alasan Fia selalu mengatakan hal yang sama setiap saat. Gadis itu hanya tidak mau peristiwa yang bagaikan mimpi buruk itu terulang kembali.
Trauma itu bukan hanya berlaku untuk Alice, tapi juga Fia. Fia menjadi lebih waspada setelah peristiwa itu. Menjaga Alice dengan semua tenaga yang dia punya. Tidak hanya itu, bahkan jika harus menyerahkan nyawanya pun Fia akan segera maju paling depan.
“Suami lo udah dateng kayaknya,” ucap Fia yang melihat keberadaan Rian berdiri di depan pintu kamar kosnya.
“Iya, gue pergi dulu. Lo boleh dateng main ke apartemen Mas Rian kapan aja.”
“Bener gue boleh main kapan aja nih?” tanya Fia tersenyum.
“Eh? Jangan pas malem tapi,” jawab Alice gelagapan dengan pipi merona.
Melihat tingkah sahabatnya itu membuat Fia tidak bisa menahan tawanya. Fia paham apa maksud Alice. Gadis itu pun sudah tahu jika Rian dan Alice telah melakukan hal ‘itu’. Melihat cara berjalan Alice saat datang tadi, Fia sudah dapat menduganya.
“Doain aja, Al,” balas Fia tersenyum.
Alice benar-benar pamit dari kos Fia. Fia mengantar keduanya hingga depan gang, bahkan gadis itu membantu membawa beberapa barang milik Alice yang tidak dapat masuk ke dalam koper. Pelukan hangat Alice berikan pada Fia, cukup lama mereka berpelukan. Tidak ada air mata kali ini, hanya sutas senyum di bibir masing-masing.
“Gue pergi dulu, Fi. Jaga diri lo, ya?”
“Ckck, harusnya gue yang bilang gitu ke lo,” ucap Fia memutar bola matanya malas, “Lo harus jaga sahabat gue. Kalau gue denger Alice tersakiti karena ulah lo. Pak Dokter harus siap tinggalin Alice,” lanjut Fia menatap tajam pada Rian.
“Fi, jangan serius-serius gitu dong. Lo tenang aja, Mas Rian sangat baik,” kata Alice menepuk bahu Fia. Dia berusaha mencairkan suasana yang mendadak tegang setelah ucapan yang terlontar dari mulut Fia.
“Gue janji akan selalu menjaga dan melindungi Alice. Lo bisa pegang janji gue,” kata Rian tegas membalas tatapan Fia.
__ADS_1
Fia hanya mengangguk, cukup puas dengan jawaban yang pria itu berikan. Sementara Alice hanya menggelengkan kepalanya. Sahabatnya ini benar-benar terlalu kelewat khawatir. Sebenarnya Fia tidak harus begitu, Alice sudah dewasa dan tentunya akan bisa menjaga dirinya sendiri.
Fia menatap kepergian Alice dan Rian. Mobil pria itu sudah berjalan makin menjauh dari penglihatannya. Fia menghembuskan napasnya dan kembali berjalan menuju kosnya. Memori-memori masa lalunya kembali berputar di dalam kepalanya. Memang terkadang seorang sahabat bisa menjadi keluarga bak keluarga kandung. Namun, belum tentu keluarga bisa menjadi sahabat.
Memang darah lebih kental dari air, tapi pada dewasa ini hal-hal seperti itu sudah sangat jarang ditemukan. Tidak jarang sesama anggota keluarga saling menusuk dari belakang dan tidak peduli dengan anggota keluarga yang lain. Saat ini, bahkan seseorang yang bukan bagian dari keluarga kandung bisa lebih memahami daripada keluarga kandung, yaitu orang-orang yang telah menjabat sebagai sahabat. Sahabat yang sudah bagaikan keluarga terdekat kita.
...🦋🦋🦋...
Beberapa menit kemudian, Alice dan Rian sudah sampai di apartemen milik pria itu. Keduanya turun dari mobil dan Rian membantu sang istri membawa semua barang bawaan. Keduanya berjalan bersama memasuki lift.
“Masih sakit, Al?” tanya Rian menoleh pada Alice.
“Udah nggak terlalu sakit, Mas,” jawab Alice menundukkan kepalanya, jujur saja dia masih malu dengan kejadian pagi tadi.
“Kenapa wajah kamu merah gitu?” tanya Rian memperhatikan wajah Alice.
“Jangan ditanya, Mas. Alice malu,” jawab Alice, wajahnya bertambah merah.
Tawa Rian pun pecah, istrinya ini memang benar-benar menggemaskan di matanya. Pintu lift terbuka dan mereka sudah sampai di unit apartemen milik Rian. Suasana lorong sepi dan sedikit remang-remang.
“Sepertinya lampu lorong rusak,” gumam Rian.
“Sepertinya gitu, Mas,” ucap Alice membenarkan ucapan Rian.
DUKK!
“Ah, Maaf. Saya tidak sengaja,” ucap Alice terkejut saat bahunya tidak sengaja menubruk tubuh seseorang.
Orang itu hanya diam dan segera pergi dari sana. Alice mengernyitkan dahinya, dia menoleh ke belakang memperhatikan orang tadi yang ternyata telah menghilang entah kemana.
__ADS_1
...🦋🦋🦋...