Butterfly

Butterfly
Melahirkan


__ADS_3

Ekspresi kesakitan sangat kentara, peluh yang membasahi dahi keluar begitu derasnya. Air mata juga tak mampu dibendung. Sandra sedang menunggu kedatangan Mbok Inem yang pergi untuk memanggil seorang bidan desa. Karena tidak mungkin jika Sandra turut serta, akhirnya dia diminta untuk menunggu.


Sandra masih ingat bagaimana wanita sepuh itu terlihat kebingungan serta khawatir melihat keadaannya. Sandra meraih ponselnya dan berencana untuk memberitahu Rian mengenai kondisinya saat ini.


"Sabar, Nak," gumam Sandra lirih disertai ringisan.


Tangis Sandra makin pecah ketika panggilannya tak kunjung terjawab. Merasa kesal karena Rian memgabaikan telpon juga chat darinya, Sandra membuang ponselnya ke sembarang tempat.


"Sakit," rintih wanita itu dengan derai air mata.


Sandra merasakan sesuatu mengalir pada kakinya. Rasa panik kini menghinggapi wanita itu. Dengan susah payah Sandra berjalan menuju pintu untuk meminta bantuan pada siapa pun seseorang yang lewat.


Deru napas dan jantung berdetak kencang. Sandra mengerang merasakan rasa mulas yang begitu hebat.


"Kamu harus bertahan, Nak. Tunggu sebentar lagi," lirih Sandra yang terus menyemangati dirinya sendiri.


Namun, dia juga tidak bisa berbohong jika sebenarnya ia sudah tidak kuat lagi menahan rasa sakit ini. Sandra terduduk di lantai ruang tamu, ia hanya mampu berjalan hingga tempat ini.


Sayup-sayup Sandra mendengar suara langkah kaki yang datang mendekat. Mata Sandra menatap sayu pada wajah Mbok Inem yang masuk ke dalam diikuti dua orang dibelakangnya.


"Nduk, Mbok sudah panggil Bu Bidan. Kamu tidak perlu khawatir," kata Mbok Inem berderai air mata.


Sosok wanita yang dipanggil 'Bu Bidan' tersebut segera mengecek keadaan Sandra saat ini. Beliau menatap orang yang datang bersamanya tadi.


"Ini sudah waktunya, Mbok saya minta tolong siapkan air hangat. Kamu bantu saya pindahkan ibunya ke kamar, lalu hubungi puskesmas buat jemput," kata bidan tersebut.


Mbok Inem segera melakukan instruksi dan berlari menuju dapur untuk merebus air. Kemudian, Sandra dipindahkan ke kamar dengan bantuan bidan dan perempuan yang datang bersama tadi.


Sandra ditidurkan di tempat tidur, ada sedikit rasa lega melihat kedatangan Mbok Inem tadi. Bidan tadi segera menyiapkan peralatan yang dibutuhkan untuk proses persalinan.


"Duh, sebenarnya saya nggak boleh praktek di sini. Tapi, karena darurat semoga pak kepala bisa maklum," ucap bidan tersebut sembari menyiapkan segala peralatan, " Kamu sudah hubungi pihak puskesmas? Saya minta ambulans ke sini," lanjutnya pada perempuan disebelahnya.

__ADS_1


"Sudah, Bu. Ambulans sudah dalam perjalanan."


Tidak lama kemudian Mbok Inem membawa air panas yang tadi diminta. Setelah menyerahkan air tersebut, Mbok Inem berdiri di sebelah Sandra. Memegang tangan wanita itu untuk menjadi penopangnya. Beliau sudah tidak menghiraukan kuku-kuku tajam Sandra yang mencengkeram kulit keriputnya.


"Bu, ayo mulai mengejan. Saya akan pandu, ibu bisa relaks. Permisi, kakinya dibuka lebih lebar lagi," ucap bidan tersebut.


Sandra menurut dan mulai mengikuti instruksi bidan tersebut. Dia akan mulai mengejan ketika beliau menyuruhnya dan kembali mengatur napas ketika diminta.


"Bagus, Bu. Ayo sedikit lagi! Lebih kuat mengejan, kepalanya sudah mulai keluar."


Sandra mengerahkan semua tenaganya untuk mendorong agar bayinya dapat keluar. Wanita tersebut terkulai lemas dibarengi suara tangis bayi yang menggema memecah suasana mencekam yang terjadi beberapa saat lalu.


Hembusan napas serentak terdengar dari sang bidan, Mbok Inem, dan perempuan yang ternyata seorang asisten dari bidan tersebut. Setelah bidan tersebut memotong tali pusar, beliau mengangkat tubuh sang bayi yang masih menangis itu. Tujuannya adalah untuk memperlihatkannya pada Sandra.


"Kamu sudah berjuang. Kamu hebat, Nduk," puji Mbok Inem yang masih berderai air mata.


Sandra memejamkan matanya dan mengangguk setuju dengan perkataan wanita tersebut. Sang bayi segera dibersihkan, kemudian diberikan pada Sandra untuk diberikan ASI.


Air mata haru menetes dari mata Sandra. Wanita itu menatap wajah bayinya yang seorang laki-laki. Mbok Inem tersenyum bahagia, jelas nampak guratan bahagia dari wajah sepuh itu.


...🦋🦋🦋...


Suara bising terdengar dari indera pendengaran Sandra. Dahinya berkerut, matanya terasa sangat berat untuk terbuka. Padahal Sandra sangat ingin tahu apa yang sedang terjadi disekitarnya.


Sebuah sentuhan hangat membuat Sandra merasa tenang. Dengan perlahan matanya berhasil dibuka. Cahaya lampu terasa sangat menyilaukan. Pertama kali yang netranya lihat adalah langit-langit sebuah ruangan yang berwarna putih.


"Sudah bangun, Nduk? Ada yang sakit? Mbok, panggilkan dokter dulu,"


Sandra yang hendak mengeluarkan suara untuk menjawab pertanyaan Mbok Inem, suaranya sama sekali tidak keluar. Tenggorokannya terasa sangat kering dan kepalanya pening. Dia pun kembali memejamkan matanya untuk mengurangi rasa peningnya.


Tidak lama kemudian, Mbok Inem kembali bersama dengan seorang dokter. Dokter tersebut segera memeriksa keadaan Sandra dan sempat bertanya apa yang dirasakannya saat ini. Setelah memeriksa keadaan Sandra dan tidak ada yang dikeluhkan lagi, dokter tersebut pamit dari sana.

__ADS_1


"Mbok, Sandra haus," kata Sandra dengan suara serak.


Mbok Inem segera sigap dan mengambilkan air minum untuk Sandra. Sandra bernapas lega ketika merasakan tenggorokannya tidak kering lagi.


"Kenapa Sandra di sini?"


"Tadi kamu pingsan, terus bu bidan bawa kamu ke rumah sakit. Katanya biar sekalian kamu dicek kesehatannya."


"Bayi Sandra mana, Mbok?"


"Ini, di sebelah kamu. Tadi juga bayi Mbak Sandra sudah diperiksa. Mbak Sandra tenang saja, bayinya sehat dan tidak ada cacat sama sekali."


Sandra tersenyum samar dan memgangguk mendengar ucapan Mbok Inem. Ada rasa bahagia yang membuncah setelah persalinannya. Namun, ketika netranya melihat tangan Mbok Inem ada rasa bersalah. Dia meraih tangan Mbok Inem.


"Mbok, maafkan Sandra. Gara-gara Sandra, tangan Mbok jadi luka."


"Nggak papa, Nduk. Mbok malah senang bisa berbagi rasa sakit dengan Mbak Sandra. Mbok sangat tau bagaimana sakitnya melahirkan itu. Mbok tau rasanya," ucap Mbok Inem menggenggam tangan Sandra.


"Terima kasih, Mbok. Mbok sudah mau terus nemenin Sandra sampai saat ini," kata Sandra menahan tangisnya.


"Nduk, kamu sudah Mbok anggap anak sendiri. Mbok sangat bahagia bisa bersama dengan Mbak Sandra, ditambah sekarang cucu Mbok baru saja lahir."


Senyum Mbok Inem menular pada Sandra. Beruntung sekali dirinya memiliki Mbok Inem disisinya yang sama sekali tidak pernah mengeluh. Selalu telaten merawat dan terus memberinya semangat.


"Mbok, Sandra mau melihat bayinya," pinta Sandra.


"Mbak Sandra sudah kuat? Biar Mbok gendongkan, ya?"


"Nggak perlu, Mbok. Sandra sudah kuat sekarang."


Mbok Inem pun menurut dan mengambil bayi yang sedang tidur itu dari dalam box bayi. Sandra menggendong bayinya dengan senyum sumringah. Ia mengamati wajah tidur bayinya. Namun, perlahan senyumnya sedikit demi sedikit pudar.

__ADS_1


Deg!


...🦋🦋🦋...


__ADS_2