Butterfly

Butterfly
BAB 3


__ADS_3

“ Halo semua!!!!”, seru Hana penuh semangat. “ Namaku Hana, kalian masih ingatkan? ya...ya...kalian pasti ingat, aku suka kalian”, ujarnya.


Revan hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah Hana yang super duper aneh. “ Dia memang sudah gila”.


“ Siapa yang gila?”, ujar Aldo sahabat Revan.


“ Emangnya ada yang ngomong kayak gitu?”. Mereka pun saling melihat dan tertawa setelah itu. “ Dasar gila!!!”.


“ Udah tahu jadwal tanding uji coba kita?”, tanya aldo, Revan pun menggelengkan kepalanya. “ Nih”. Revan pun mengambilnya dan mulai membacanya.


“ Disekolah mereka lagi ada event, jadi pertandingan kita disatuin sama event mereka”.


“ Benarkah”, ujar Revan tersenyum.


“ Kenapa? senang banget kayaknya”.


“ Ya...kayaknya ini benar-benar keajaiban”.


“ Keajaiban??”, ujar Aldo penuh kebingungan dengan ucapan Revan. “Ngomong apaan sih”. Revan hanya senyum melihat reaksi Aldo.


“ Thanks ya udah ngasih tahu”.


“ Eh.....mau kemana?”.


“ Ada deh, penting soalnya”, ujar Revan meninggalkan Aldo yang masih bingung dengan ucapan Revan. Revan pun berlari mencari Hana yang kemungkinan ada diloteng sekolah, biasanya, tapi kali ini Revan melihat Hana berdiri menatap kearah luar gedung. “ Kenapa?”, tanya Revan tiba-tiba.


“ Itu”, jawabku menunjuk kearah orang-orang yang sedang berkumpul. Revan hanya mengernyitkan dahinya menandakan kalau dia tidak mengerti kenapa Hana menunjuk kearah itu. “ Kamu kenal dia tidak?”.


“ Memang kenapa?”.


Aku menggelengkan kepalaku. “ Aku tidak mengerti kenapa mereka melakukan itu”.


“ Maksudnya?”.


“ Wanita itu, dia selalu sendiri, baik dikelas atau diluar kelas, aishhh aku selalu melihatnya seperti itu dan terlebih lagi dia selalu diganggu sama mereka itu, kenapa mereka melakukan itu?”, tanyaku. “ Ahhh... benar-benar tidak bisa dimengerti”.


“ Lalu, kamu mau apa?”.


Mendengarnya mengucapkan kata-kata itu kontan aku menatapnya. “ Bukankah harus membantunya”.


“ Haaa.....”. Revan menghela nafas. “ Aku rasa kamu sudah tidak waras, ahh....tidak, memang tidak waras, gila”.


“ Aku tidak gila, bukankah harus begitu”.


“ Benarkah”, ujar Revan sambil menyilangkan kedua tangannya. “ Apa kamu selalu melakukannya saat kamu masih hidup? menjadi pahlawan?”.


“ Itu....”. Aku pun kehilangan kata-kata bukan karena kalah oleh ucapannya, tapi karena aku tidak ingat apa yang terjadi saat aku masih hidup, benarkah aku pernah melakukannya atau....sebenarnya aku juga seperti dia karena aku merasa aku tidak jauh beda dengannya. “ Bukankah kita hidup harus selalu menolong”.


“ Wahhh....”, Revan pun bertepuk tangan mendengar ucapanku. “ Apa aku tidak salah dengar. Kamu pikir hidup itu sesederhana itu, kalau kamu membantunya, apa akan selesai atau sebaliknya malah menjadi semakin rumit, untuknya dan juga untuk dirimu sendiri. Aku sarankan lebih baik tidak usah ikut campur dengan urusan orang lain”.


“ Kamu benar-benar tidak punya hati, dasar kejam. Bagaimana kalau itu menimpa temanmu, adikmu, orang-orang terdekatmu, apa kamu akan diam saja!!!!!. Aku tidak mengerti dengan orang sepertimu!!”.


“ Kamu memang tidak mengerti, jadi jangan bicara seenaknya. Tidak semuanya bisa kamu anggap gampang hanya dengan bicara seperti itu, tidak segampang itu”.


“ Paling tidak sedikit membantunyakan?? dia pasti sangat kesepiaan, dia pasti ingin ada orang yang membantunya, seharusnya kamu mengerti”.


“ Dia??”, ujar Revan tersenyum sinis. “ Aku sudah bilangkan hidup itu tidak sesederhana yang kamu pikirkan”.


“ Jangan-jangan....kamu mengenalnyakan??”.


“ Lalu???”.


“ Haaaa.....”. Aku menghela nafas karena emosiku semakin meninggi dan aku berusaha untuk menahannya. “ Dasar laki-laki pengecut”. Revan benar-benar terkejut mendengar ucapanku dan raut wajahnya pun berubah. “ Beraninya kamu menyebut dirimu laki-laki tapi melihat wanita sedang kesulitan seperti itu, kamu hanya diam, aku benar-benar merasa kasihan dengan dirimu”. Revan memalingkan wajahnya menahan emosinya setelah mendengar ucapanku.

__ADS_1


“ Wah...ucapanmu benar-benar menusuk, terima kasih sudah mengatakan itu padaku, aku benar-benar sangat tersanjung”, ujar Revan kesal. “ Kalau kamu ingin membantunya, lakukan dengan kekuatanmu seperti waktu itu, kamu tidak lupakan”, ujarnya berlalu pergi meninggalkanku yang terdiam terpaku mendengar ucapannya.


 


Sekali lagi aku menghela nafas. “ Kenapa aku melakukannya???kenapa mulutku mengeluarkan kata-kata itu....wah....aku benar-benar sudah gila”.


Semenjak kejadian itu aku tidak pernah bertemu dengan Revan secara terang-terangan, aku hanya melihatnya dari jauh, aku tahu dia pasti sangat marah denganku, seharusnya aku tidak pernah mengatakan hal-hal seperti itu, apalagi mengatakan hal-hal yang menyakitinya hatinya. “ Bukankah aku seharusnya minta maaf??? tapi aku takut, apa dia mau memaafkanku, arghhhhhh!!! aku tidak tahu harus bagaimana”.


“ Apa itu sulit untukmu”, ujar seseorang yang membuatku terkejut dan lebih terkejut lagi orang yang mengatakan itu padaku adalah Revan. “ Kenapa? seperti melihat hantu saja”.


“ Kamu bicara padaku?”.


“ Memangnya manusia mana yang bisa melihatmu”.


“ Ahh...benar”, ujarku sedikit kacau. “ Jadi....maafkan aku”. Mendengar ucapanku Revan tiba-tiba tertawa. “ Apa tidak bisa lebih normal lagi”, ujarnya menyindirku. Aku hanya terdiam tidak tahu harus berkata apa, sesekali aku menatapnya.


“ Kamu benar”, ujar Revan tiba-tiba yang membuatku terkejut. “ Hana, ucapan yang kamu katakan waktu itu ada benarnya, tapi....ada sesuatu yang tidak kamu ketahui”.


“ Aku....seharusnya tidak bicara seenaknya dan berpikir dulu sebelum bicara, kata-kata itu seharusnya aku pertimbangkan. Tapi, tahukah kamu setiap aku melihatnya entah mengapa aku seperti melihat diriku sendiri, bayangan itu tiba-tiba muncul dikepalaku. Apa aku seperti dia? walaupun ingatanku sangat payah soal itu, aku ingin ada yang membantunya, terlepas kamu mengenalnya atau tidak”.


“ Aku mengerti, tapi......”. Revan terdiam sejenak. “ Haaaa...., kita lihat saja nanti”.


“ Maksudnya??”.


“ Lihat saja, hanya lihat jangan bertanya lagi”. Setelah mengucapkan kata-kata yang membingungkan itu, Revan pergi meninggalkanku dengan sejuta pertanyaan dikepalaku. Apa dia sedang bercanda? apa dia sedang membalasku? atau ada sesuatu yang dilakukannya tanpa sepengetahuanku? haaaa......ini benar-benar sangat membingungkan.


Walaupun begitu aku tetap mendengarkan ucapannya, berhari-hari aku mengikuti wanita itu, dia terus sendiri tapi....yang anehnya sekumpulan wanita itu tidak pernah terlihat lagi. Ini benar-benar sangat aneh, tapi juga sangat bagus karena dia tidak harus merasakan sakit karena mereka. Tiba-tiba terpikir dibenakku apa ini yang dimaksud oleh Revan? Lihat...hanya lihat, itulah yang dikatakannya, lalu sebenarnya apa yang sudah dilakukannya?.


“ Revan”. Hana yang mendengar nama Revan tiba-tiba menoleh melihat siapa yang memanggil Revan itu. “ Wanita itu....”, gumamku.


“ Boleh bicara sebentar?”. Revan hanya menganggukkan kepalanya tanda setuju. “ Terima kasih”.


“ Untuk apa?”.


“ Apa tidak salah”.


“ Aku tahu kamu yang melakukannyakan?”, ujarnya. “ Kamu yang sudah membantuku, berkatmu aku tidak diganggu oleh mereka lagi dan sedikit demi sedikit aku mulai memberanikan diriku, setidaknya untuk melindungi diriku sendiri”.


“ Haaaa....”. Revan hanya menghela nafas.


“ Pak guru yang memberitahukanku, itupun karena aku yang memaksanya. Sebenarnya aku sangat terkejut begitu namamu terucap dari mulut pak guru, kamu tahukan kenapa, hubungan kita benar-benar tidak baik sejak kejadian itu”.


“ Sira, kenapa kamu melakukannya, waktu itu kenapa kamu melakukannya? kenapa hanya diam, kamu tahukan, aku sangat membutuhkanmu waktu itu”.


“ Itu.....”. Diapun terdiam. “ Karena aku takut”.


“ Takut”. Diapun mengangguk. “ Kamu melihatnya, semua terjawab, selama ini aku berpikir apa aku salah melihatmu waktu itu”.


“ Aku minta maaf, begitu mendengarmu pindah sekolah, aku benar-benar merasa bersalah. Aku berusaha mencarimu, tapi kamu sudah pindah, aku ingin minta maaf padamu waktu itu, aku benar-benar ingin menebusnya, tapi semuanya tidak bisa diulang lagi, semuanya sudah terjadi, apapun yang aku katakan tidak akan pernah membawamu kembali lagi dan kamu tahu....bertemu denganmu disini lagi sepertinya aku sedang dihukum oleh Tuhan, tapi aku masih tidak bisa berbuat apa-apa, berbicara denganmupun aku tidak sanggup karena rasa bersalah itu. Aku....walaupun itu aku, kamu masih mau membantuku, aku benar-benar berterima kasih padamu”.


“ Aku tidak berniat membantumu karena aku ingin kamu merasakan apa yang aku rasakan waktu itu, itu yang ada dibenakku, aku berpikiran jahat padamu. Tapi, ada yang bilang padaku, kenal atau tidak, ada orang yang tersakiti, bukankah kita harus membantunya. Apa itu benar menurutmu?”. Sira hanya terdiam mendengar ucapan Revan. “ Dulu aku melakukannya, membantu seseorang apalagi orang yang dekat denganku, tapi aku mendapat balasan yang buruk dari kalian, apa aku harus berpikiran yang sama seperti dulu? sulit, tapi aku melakukannya. Karena kalian wanita, aku melakukannya dengan hati-hati agar kamu tidak menjadi lampiasan lagi, agar apa yang aku lakukan tidak sia-sia, agar kamu bisa menjadi dirimu sendiri. Kita lupakan apa yang terjadi dimasa lalu”.


“ Kita lupakan apa yang terjadi dimasa lalu??”. Sira pun mengangguk dan air matanya menetes dipipinya. “ Maafkan aku dan terima kasih, mulai sekarang aku akan menjaga diriku baik-baik”.


“ Itu lebih bagus”.


Sira pun tersenyum. “ Aku harus kembali ke kelas”. Revan pun mengangguk. “ Jaga dirimu baik-baik”, ujar Revan dan Sira pun tersenyum lalu berlalu pergi. “ Sampai kapan kamu bersembunyi disitu? Hana”. Hana terkejut begitu tahu kalau Revan tahu dia sedang bersembunyi dan mendengarkan obrolan mereka.


“ Bagaimana kamu bisa tahu?”.


“ Tentu saja aku tahu, aku bisa merasakannya, kamu lupa kalau aku yang bisa melihatmu disini”.


“ Ohhh..., kamu benar”. Sesaat aku terdiam.“ Apa kamu ingin bertanya sesuatu?”.

__ADS_1


“ Apa????”.


“ Ekspresi wajahmu itu sangat menggangguku, penuh pertanyaan”.


“ Kamu ini!! . Aku pernah bilang padamukan kalau aku kenal dia”. Aku pun mengangguk. “ Namanya Sira, dulu kami satu sekolah sebelum aku pindah kesini”.


“ Kalian teman sekolah?”.


“ Iya, walaupun aku tidak terlalu kenal dengannya”.


“ Lalu...aku dengar pembicaraan kalian kalau hubungan kalian tidak baik, kenapa?”.


“ Kamu ini! jangan suka menguping”.


“ Bukan menguping, aku tidak sengaja mendengarnya”.


“ Baiklah...baiklah, terserah apa yang kamu katakan”, ujarnya. “ Waktu itu aku tidak sengaja melihat temanku dikeroyok oleh orang-orang yang mengaku dirinya orang yang berkuasa disekolah, bisa dibilang mereka itu sangat ditakuti satu sekolah. Aku berlari dan menolong temanku itu, aku bilang pada mereka kalau mereka itu banci karena hanya berani main keroyok, mereka mendekatiku dan mulai memukulku, aku tidak tinggal diam dan juga memukul mereka dan disaat itu keadaan jadi ramai dan tiba-tiba guru datang menghampiri kami. Dia bertanya pada kami, apa yang sedang terjadi. Aku bilang kalau temanku itu sedang dikeroyok oleh mereka dan aku datang membantu, tapi karena mereka tidak senang mereka mulai memukulku, itulah yang aku katakan. Saat guruku menanyakan balik pada mereka, mereka menyangkalnya dan berkata kalau mereka hanya main-main dan aku salah paham pada mereka. Aku terus menyela, aku benar-benar melihatnya, aku selalu berkata seperti itu dan mereka pun tidak mau kalah berargumen denganku karena keadaan sudah tidak terkendali, guruku menanyakan pada temanku itu apa benar yang aku katakan itu atau mereka yang benar. Dia hanya menatap kami, dia menatapku lama dan kamu tahu apa yang dia katakan “ tidak ada yang terjadi, Revan tiba-tiba datang dan mengejek lalu memukul mereka duluan”. Aku seperti tersambar petir begitu mendengar ucapannya. Aku datang membantu dan dia berkata seperti itu padaku. Disaat itulah aku tidak sengaja melihat Sira disana, aku yakin dia ada disana sejak tadi, aku melihat kearahnya, tapi dia memalingkan wajahnya lalu pergi, benar-benar keadaan yang sangat sempurna untukku. Setelah itu kami diproses, mereka selamat dan aku....diberi pilihan dikeluarkan atau pindah, apa menurutmu itu sebuah pilihan? sungguh tidak adil”.


“ Sira tidak melakukan apa-apa?”.


“ Tidak, aku terus menunggunya untuk berkata yang sebenarnya, tapi penantianku sia-sia sampai akhirnya aku dikeluarkan dari sekolah. Tidak apa-apa untukku dikeluarkan dari sekolah, tapi orangtuaku bagaimana dengan mereka. Walaupun mereka tidak menyalahkanku, terutama ayahku, dia bilang kalau tindakanku baik karena menolong orang lain hanya saja aku sedang tidak beruntung saja, lalu ibuku, aku tidak suka melihatnya menangis karena aku, aku tahu dia kecewa, aku bertanya-tanya kenapa hal ini bisa terjadi padaku”.


“ Lalu kalian pindah kesini”.


“ Iya, kami tidak ingin mengingat tempat itu, sebenarnya lebih tepatnya mereka tidak ingin aku melihat orang-orang itu. Aku sangat beruntung punya orangtua seperti mereka, makanya....seperti yang aku pernah bilang, aku tidak ingin terlibat dengan urusan orang lain dengan kata lain aku tidak ingin terlibat seperti dulu, aku tidak ingin mereka sedih karena aku. Tapi, yang Hana bilang juga benar, apa aku harus menutup mataku melihat keadaan seperti ini terlepas itu Sira atau bukan”.


“ Kamu melakukan hal yang benar dengan membantunya, dengan kata lain kamu berbeda dengannya atau dengan temanmu itu”.


“ Aku rasa juga begitu”.


“ Aku juga ingin minta maaf padamu, bicara seenaknya tanpa tahu situasi sebelumnya. Aku tidak tahu kenapa aku bersikeras berkata seperti itu, aku pernah bilangkan, melihat Sira seperti aku melihat diriku sendiri, aku tidak bisa menjelaskannya sepertinya dikepalaku ada bayangan aneh dikehidupanku dulu, itu sangat menyakitkan, karena itu aku ingin ada yang membantunya. Aku benar-benar minta maaf padamu”.


“ Aku mengerti, aku rasa gaya bicaramu yang selalu blak-blakan terkadang diperlukan. Aku berterima kasih padamu untuk ini”.


“ Benarkah, baguslah”.


“ Oh ya, sebenarnya sudah lama aku ingin mengatakan ini, tapi karena situasi yang tidak memungkinkan, baru sekarang aku mengatakannya padamu”.


“ Tentang apa?”.


“ Akan ada pertandingan di SMA Harapan Nusa”.


“ Benarkah???”.


“ Iya, walaupun itu hanya satu hari”.


“ Tidak apa-apa yang penting kita bisa masuk kesekolah itu”.


“ Baiklah, lebih tepatnya kita punya waktu satu harian karena ditempat mereka sedang ada event, jadi setelah bertanding kita bisa berkeliling mencari adikmu, bagaimana?”. Aku menganggukkan kepalaku aku tidak bisa berkata apa-apa lagi karena mendengar ucapan Revan saja aku benar-benar merasa senang. “ Revan terima kasih, aku benar-benar berterima kasih”.


“ Aku sudah bilangkan akan membantumu”.


“ Aku juga akan membantumu seperti janjiku”.


“ Sudahlah, aku harus kembali latihan, kamu tidak ikut?”.


“ Nanti aku menyusul”.


“ Baiklah, aku pergi”.


Aku pun menjerit sekuat-kuatnya karena senang. Akhirnya aku bisa bertemu dengan adikku, aku benar-benar ingin bertemu dengannya disekolah, apa yang dilakukannya disana, apa yang aku khawatirkan selama ini, aku ingin membantunya. “Rena, tunggu kakak disana”.


 

__ADS_1


__ADS_2