
Rian sedang bersiap-siap hendak ke rumah sakit, siang nanti dirinya ada operasi besar dan kemungkinan akan membutuhkan waktu yang sangat lama. Suara bel menghentikan aktivitas Rian yang sedang merapikan kemejanya. Pria itu mengernyit, bertanya-tanya siapa gerangan yang datang berkunjung di pagi hari. Seharusnya Alice bekerja hari ini, tapi jika itu adalah gadis itu, mengapa tidak langsung masuk saja?
“Ckck,” decak Rian menyunggingkan senyumnya mengingat kejadian kemarin malam.
Rian segera bergegas menuju pintu depan untuk menyambut tamu dengan wajah sumringahnya, berharap tamu itu adalah sosok yang diharapkannya. Namun begitu membuka pintu, mata Rian membulat melihat pemandangan didepannya.
“Akh!” pekik Alice.
Sandra tersenyum puas setelah menampar pipi Alice dengan seluruh kekuatannya. Sementara Alice merasakan ada darah yang keluar dari sudut bibirnya.
“Sandra! Apa yang lo lakuin!” bentak Rian geram juga menatap Sandra dengan tajam.
“Dia dulu yang…”
“Pergi lo dari sini dan jangan pernah muncul lagi dihadapan gue maupun Alice!”
“Ta…”
“Pergi atau gue panggil keamanan!”
Sandra menghentakkan kakinya dan pergi darisana, tapi wanita itu sengaja menyenggol bahu Alice hingga gadis itu oleng. Beruntung dengan sigap Rian menangkap tubuh mungil itu.
...🦋🦋🦋...
Alice menahan nafas saat Rian sedang mengobati lukanya dengan lembut pria itu menyentuh sudut bibir Alice yang terluka. Kini jarak keduanya sangat dekat, bahkan Alice bisa merasakan deru nafas milik Rian. Sementara Rian belum menyadari kegugupan gadis didepannya ini, matanya masih fokus pada sudut bibir Alice.
“Sakit, Al?” tanya Rian masih belum menjauhkan wajahnya.
“Hmmm, ng… nggak, Mas,” jawab Alice gugup, reflek ia menjauhkan wajahnya saat Rian mencoba mendekat dengan tujuan bibir merah muda Alice.
Rian mendengus melihat Alice yang menjauhkan wajahnya. Rencana untuk meraup bibir Alice gagal.
“Alice mulai kerja, ya?” pamit Alice dan segera berlalu pergi sebelum Rian membuka mulutnya.
Rian terkekeh geli melihat sikap Alice yang malu-malu kucing itu, terlihat menggemaskan dimatanya. Ah dirinya jadi tidak bersemangat pergi ke rumah sakit.
“Kenapa kamu sangat menggemaskan dan menggoda, Al?” gumam Rian yang masih memperhatikan Alice dari kejauhan, “Aku jadi ingin cepat-cepat memilikimu,” lanjutnya.
__ADS_1
“Mas Rian nggak kerja?” tanya Alice mengernyitkan dahinya melihat Rian masih diam mematung dan melotot kearahnya tanpa berkedip.
Pria itu berjengkit kaget dan spontan melihat jam di dinding, matanya melebar melihat waktu yang sudah beranjak semakin siang.
“Aku berangkat dulu, Al. Hati-hati di rumah ya? Kalo ada apa-apa telpon aku.”
“Iya, Mas. Hati-hati di jalan.”
Rian menghentikan langkahnya, ia berbalik dan dengan secepat kilat mengecup pipi Alice. Membuat gadis itu mematung.
“Lupa, I Love You,” ucap Rian tersenyum manis dan benar-benar keluar dari apartemen.
Sementara Alice masih mematung, ia merasakan detak jantungnya berdegub kencang. Pipinya juga memanas bersemu kemerahan. Tangan gadis itu spontan mengipasi wajahnya yang terasa panas.
“Ya Tuhan, lama-lama gue bener-bener bisa baper,” pekik Alice.
“Ayo, dong. Uang cepatlah terkumpul.”
Di lain tempat, Rian yang sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit tidak bisa melepaskan senyum manisnya. Wajah manis dan menggemaskan Alice masih terus terngiang di dalam kepalanya. Membayangkan wajah Alice, membuatnya tidak sadar jika ternyata pria itu sudah sampai di basement rumah sakit.
“Tumben lo telat, Yan?” tanya salah seorang rekan Rian, mereka kini berada di depan mesin absen.
“Ada apa nih? Tumben lo betah di rumah, Sandra, ya?”
Senyum Rian luntur seketika, ya… dirinya lupa hendak membuat perhitungan dengan wanita itu.
“Gue udah nggak ada hubungan sama dia,” ucap Rian dingin, mereka berjalan bersama menuju ruangan khusus dokter.
“Loh? Terakhir lo anter dia ke Dokter Widi, 'kan?” tanya rekan Rian yang bernama Arka itu menyebutkan nama salah satu dokter spesialis kandungan, “Bukannya lo sebentar lagi jadi seorang ayah?”
“Sandra nggak hamil anak gue, dia nggak cuma tidur sama gue,” jawab Rian tajam.
Langkah kedua pria itu terhenti saat ada kehebohan di UGD. Rasa kepo yang terlalu tinggi membuat dua pria itu berjalan menuju UGD yang berada tepat di depan mata. Rian melihat seorang wanita dengan memakai pakaian sederhana dan menggunakan sepasang sandal jepit sedang menangis sesenggukkan dipojokkan. Seorang perawat yang melihat Arka langsung menghampiri pria itu dengan tergesa.
“Dok, ada pasien yang harus segera melakukan operasi. Dokter Bayu masih ada perjalanan dinas keluar kota, tidak ada lagi dokter bedah di UGD,” jelas perawat itu dengan panik.
“Bagaimana riwayatnya?” tanya Arka.
__ADS_1
“Nama pasien Arjuna dengan luka tembak di punggung…”
“Yan, gue duluan ya?” pamit Arka segera berlari meninggalkan perawat yang masih belum selesai menjelaskan.
Rian menggelengkan kepalanya melihat tingkah Arka, dirinya pun memutuskan untuk menuju ruangannya. Siang nanti Rian ada sebuah operasi besar, sehingga menyebabkan kemungkinan ia tidak akan pulang.
“Kenapa baru sebentar berpisah sudah rindu?” gumam Rian.
Sebenarnya Rian sadar jika dirinya menjadi lebay semenjak jatuh hati pada Alice. Apakah dirinya termasuk penganut bucin? Sepertinya iya. Rian menggeleng dramatis dan segera masuk ke ruangannya. Namun belum pantatnya menyentuh kursi empunya, ponsel milik Rian berdering.
“Halo?”
...🦋🦋🦋...
Rian berlari menuju UGD saat seseorang di seberang sana memberi kabar seseorang yang pria itu sayangi berada di UGD. Perasaan cemas menghinggapi pria itu. Suasana UGD sangat ramai hari ini. Rian melihat melalui ekor matanya, wanita dengan sandal jepit itu masih duduk dipojokkan dengan kepala tertunduk. Ia menggelengkan kepala dan segera masuk ke UGD.
“Mana Nyokap gue?”
“Di bed ujung sana, dok,” tunjuk seorang perawat magang.
“Oke, thank’s.”
Rian segera berjalan menuju bed di ujung sana dengan tirai yang menyekati. Pria itu membuka tirai dan melihat Reni terbaring di sana dengan selang infus terpasang di pergelangan tangan kirinya.
“Ibu kenapa?” tanya Rian pada seorang gadis yang diketahuinya merupakan salah satu karyawan sang mama.
“Tadi Mbak Sandra datang ke kedai, Pak. Saya juga nggak tau apa yang dibicarakan. Nah, pas saya mau mengantar pesanan Ibu, saya lihat Ibu sudah tidak sadarkan diri.”
Rian mengepalkan kedua tangannya. Lagi-lagi Sandra berulah, apalagi yang gadis itu bicarakan pada Reni hingga beliau kembali drop?
“Tolong jaga Ibu sebentar, ya? Setelah ini Ibu akan dipindah ke kamar rawat. Saya tinggal dulu,” pamit Rian.
“Iya, Pak.”
Karyawan Reni itu melihat kepergian Rian, pria itu tadi sempat berhenti di meja dokter jaga dan mengobrol sebentar. Setelahnya Rian langsung keluar dari UGD, entah kemana perginya dokter tampan itu. Namun seketika karyawan Reni teringat sesuatu, gadis itu mencari ponsel di dalam kantongnya. Mencari-cari nomor telepon seseorang dan mendialnya.
“Halo, Mbak?”
__ADS_1
...🦋🦋🦋...
Si Mbak nelpon saha? 🤔🤔