
Aroma harum menyeruak ke dalam indera penciuman Alice yang matanya masih terpejam. Lenguhan serta pergerakan dari tangan Alice menandakan bahwa wanita itu sudah terjaga dari tidurnya. Tangannya jatuh ke sisi ranjang, tapi kernyitan di dahi muncul. Seharusnya di sebelah ada seseorang. Namun, nihil. Tidak ada siapa pun di sana. Alice membuka matanya menoleh ke samping.
“Ke mana Mas Rian?” gumam Alice.
Alice mencoba mengingat apa yang semalam terjadi. Ah benar, semalam Rian terlibat baku hantam dengan Kevin dan mereka berakhir di kantor polisi. Alice segera bangun dan keluar dari kamar saat bau harum kembali tercium dari hidungnya. Wanita itu menemukan Rian sedang berdiri membelakanginya di dapur sana. Alice pun berjalan mendekat untuk melihat apa yang sedang Rian kerjakan saat ini.
“Mas Rian ngapain?” tanya Alice.
Rian membalikkan tubuhnya ketika mendengar pertanyaan itu. Pria itu menggaruk tengkuknya melihat ternyata Alice sudah bangun. Sementara Alice, matanya menatap pada Rian yang memakai apron berwarna biru muda dan melirik pada sebuah wajan yang berada di atas kompor. Lalu tanpa sadar wanita itu mengangguk, sudah mendapat jawaban dari rasa penasarannya tadi.
Kini keduanya duduk di meja makan dengan piring berisi nasi goreng di depan mereka. Asap masih mengepul karena nasi goreng itu baru saja diangkat dari penggorengan. Alice menelan ludahnya, dari tampilannya nasi goreng itu terlihat sangat menggiurkan. Apalagi aroma yang menguar membuat perutnya menjerit minta agar dia segera menyantap nasi goreng itu.
“Dimakan, Al. Aku nggak tau bagaimana rasa nasi goreng itu, tapi semoga saja cocok dengan lidahmu,” ucap Rian, pria itu meletakkan segelas air di dekat piring Alice.
Alice mulai menyendok nasi itu, memasukkannya ke dalam mulut. Lidahnya sedang merasakan rasa nasi goreng buatan Rian. Baru pertama kali ini Alice merasakan masakan Rian. Juga baru kali ini pria itu memasak masakan selain mie instan. Alice mulai mengunyah perlahan nasi di dalam mulutnya. Sementara Rian menatap sang istri dengan ekspresi harap-harap cemas. Bumbu nasi goreng buatan Rian memang terasa pas di lidah Alice, hanya saja ada satu rasa yang terlalu dominan.
“Kemanisan,” ujar Alice, “Tapi enak, Mas,” lanjutnya dan kembali menyendok nasi itu.
Rian menghembuskan napas lega, setidaknya masakannya masih bisa dimakan. Kemudian pria itu juga segera mencicipi hasil karyanya itu.
“Makan yang banyak, Al. Sejak semalam kamu belum makan, 'kan,” ucap Rian merasa bersalah. Akibat ulahnya, makan malam mereka harus hancur berantakan.
Alice mengangguk dan kembali menikmati nasi goreng itu. Benar apa kata Rian, semalam dia belum makan dan pagi tadi perutnya sangat lapar.
“Oh ya, kenapa tiba-tiba Alice bisa tidur di kamar? Bukannya semalam Alice tertidur di mobil?” tanya Alice.
“Aku yang gendong kamu, Al. Nggak mungkin aku biarkan kamu tidur di dalam mobil semalaman,” jawab Rian.
__ADS_1
“Mas Rian gendong Alice dari basement?” Alice membulatkan matanya, “Nggak ada yang lihat, 'kan?” tanya Alice khawatir.
“Tenang saja, semalam sudah sangat sepi,” jawab Rian.
Alice menghembuskan napas lega. Bukan masalah berat atau tidak tubuhnya yang dikhawatirkan Alice, karena ia yakin jika tubuhnya seringan bulu. Buktinya saja Rian kuat menggendongnya hingga ke kamar. Bukan apa-apa, Alice akan merasa malu pada tetangga jika dia dalam posisi seperti itu. Rian masih memperhatikan wajah Alice. Rasa sesal kembali muncul. Lalu matanya berpindah pada tangan yang terluka. Tangan yang semalam dia gunakan untuk berkelahi dengan Kevin. Luka itu tidak seberapa baginya, tapi melihat tatapan cemas dari Alice membuat Rian lebih merasa sakit.
“Maaf, Al. Lagi-lagi aku membuat kamu kecewa,” ucap Rian.
Alice menghentikan aktivitasnya yang hendak menyuap nasi ke dalam mulutnya. Dia meletakkan kembali sendok itu ke piring. Kini wanita itu juga menatap pada pria didepannya. Hembusan napas keluar dari mulut Alice.
“Mas, kita baru dua hari lho menikah. Coba hitung sudah berapa kali Mas Rian minta maaf sama Alice?”
“Maaf, Al.”
“Berhenti minta maaf, Mas. Alice sudah memaafkan. Alice percaya sama Mas Rian dan yakin jika Mas Rian tidak akan mengecewakan Alice. Memang sebelumnya sulit untuk percaya begitu saja. Namun sekarang, Alice sudah membuat keputusan. Alice sudah memutuskan untuk bersama dengan Mas Rian. Berarti Alice sudah mempercayakan Mas Rian. Jadi, Alice harap Mas Rian akan menjaga kepercayaan yang Alice beri,” ucap Alice matanya menatap lurus pada Rian.
Hingga saat ini Rian masih belum mempunyai keberanian untuk berkata jujur pada Alice. Pria itu berpikir jika lebih baik Alice tidak tahu dan berpikir bahwa Sandra benar-benar menghilang begitu saja.
“Bukan hanya sekedar janji yang Alice butuhkan. Namun, Mas Rian juga harus membuktikannya,” tutur Alice tersenyum tipis.
Senyum tipis Alice membuat Rian sangsi. Bahkan dia sendiri juga tidak tahu apakah bisa memenuhi semua janjinya. Namun, Rian bertekad untuk tidak membuat Alice mengeluarkan air matanya.
Alice mengakhiri sarapannya. Nasi goreng di piringnya sudah tandas tak bersisa dan kini perutnya juga sudah kenyang. Alice meneguk habis air di dalam gelasnya. Semua tingkah Alice tidak terlewat dari mata tajam Rian.
“Hari ini apa rencana kamu?” tanya Rian menopang dagunya, masih asyik menikmati paras cantik sang istri.
“Belum tau, paling cuma beres-beres rumah,” jawab Alice.
__ADS_1
“Kalau gitu mau ke…,” ucapan Rian terpotong saat dia mendengar dering ponselnya.
Rian segera mengambil ponsel yang berada di atas kulkas. Dahinya mengernyit melihat siapa yang menelponnya. Pria itu segera menjawab panggilannya.
“Halo? Ada apa?” tanya Rian.
Sementara dari meja makan Alice memperhatikan gerak-gerik snag suami. Penasaran juga siapa yang menelpon sepagi ini. Alice mendengar Rian berbicara dengan bahasa medis yang tidak dia mengerti.
“Oke, gue ke sana sekarang. Siapin aja ruang operasinya, setengah jam lagi gue sampai.”
Obrolan mereka selesai, Rian menoleh pada Alice yang ternyata sedang memperhatikannya. Pria itu berjalan menghampiri sang istri.
“Hari ini ada operasi darurat. Tadinya aku mau ajak kamu jalan-jalan.”
“Nggak apa-apa, Mas. Ya udah sana siap-siap dulu.”
Rian mengangguk dan segera bersiap menuju rumah sakit dengan dibantu Alice. Dia benar-benar beruntung memiliki seorang wanita seperti Alice yang dapat mengerti. Setelah persiapan selesai, Rian segera pamit untuk pergi.
“Hati-hati di jalan,” ucap Alice berpesan pada Rian.
Rian mengangguk dan meninggalkan kecupan di bibir Alice sebelum benar-benar pergi dari sana. Setelah keluar dari unit apartemennya, wajah Rian berubah masam.
“Sial,” umpat Rian dan masuk ke dalam mobilnya.
...🦋🦋🦋...
Duh, gagal uwu-uwuan deh 🤧🤧🤧
__ADS_1