
Warning! Area 🔞 harap bijak dalam membaca, yang merasa belum cukup umur skip dulu.
...🦋🦋🦋...
Pelukkan Rian terlepas, hal itu digunakan Alice untuk segera menyelesaikan pekerjaannya. Semua piring dan alat lain sudah selesai dicuci bersih. Namun, Rian masih terdiam ditempatnya. Alice melambaikan tangannya di depan wajah Rian untuk menyadarkannya. Pria itu terkesiap dan menatap Alice dengan pandangan bingung.
“Kenapa reaksi Mas Rian gitu?” tanya Alice mengernyitkan dahinya.
Alice tidak habis pikir, kenapa reaksi suaminya itu sangat berlebihan. Sangat terkejut saat mengetahui dirinya dan Reni tadi bertemu dengan Luna. Sebenarnya ada apa dengan pria itu hingga membuat ekspresi syok seperti itu.
“Tadi Luna sama siapa?” tanya Rian.
“Sendiri kayaknya, tadi kata Mbak Luna rumahnya di sekitar toko buah.”
Rian kembali terdiam setelah mendengar jawaban dari Alice. Jika memang benar rumah Luna disekitaran toko buah, berarti wanita itu memang tinggal bersama Kevin saat ini.
“Mas Rian mau ketemu Mbak Luna lagi?” tanya Alice dengan tatapan menyelidik.
“Aku mau ketemu dia karena ada yang mau kubicarakan.”
“Apa?”
“Nanti aku ceritakan kalau sudah bertemu dengan Luna.”
Alice mendengus mendengar ucapan Rian itu. Lalu dia pergi dari dapur. Memutuskan untuk segera beristirahat. Kegiatannya seharian ini lumayan menguras tenaganya. Mengitari toko buah untuk berbelanja buah yang jumlahnya tidak sedikit. Sementara itu, Rian yang melihat sang istri meninggalkannya pun mengekor dari belakang.
“Kamu mau langsung tidur?” tanya Rian saat melihat kemana arah langkah Alice.
“Memangnya mau ke mana?” Alice berbalik tanya dengan kernyitan di dahi.
“Nggak baik setelah makan langsung tidur.”
“Waktu makan sampai sekarang udah cukup lama, Mas,” kata Alice memutar bola matanya.
__ADS_1
“Lebih bagus kalau olahraga dulu.”
Alice mendengus saat paham kemana arah pembicaraan Rian. Cepat sekali pria itu mengubah arah pembicaraan? Padahal menurut Alice tadi pembahasan mereka tentang Luna belum selesai.
“Bukannya tadi kita sedang membahas tentang Mbak Luna?” tanya Alice mengernyitkan dahinya.
“Aku sudah nggak mau bahas wanita lain. Sekarang bahas hidup kita saja,” jawab Rian dengan menaik-turunkan alisnya.
Alice menggeleng tak percaya dengan tingkah suaminya ini. Sangat pandai bicara dan tentu saja sangat pandai membuatnya senang.
Akhirnya Alice mengangguk menuruti kemauan sang suami. Melihat hal itu membuat wajah Rian kembali berseri. Pria itu seakan lupa dengan pikirannya tadi. Kekhawatiran terhadap Luna yang kini tinggal bersama Kevin. Dia sangat tahu bagaimana perangai Kevin yang belakangan ini sangat berubah.
Kevin yang Rian kenal tidak berperilaku seperti sekarang ini. Entah apa yang terjadi pada pria itu hingga berubah menjadi seorang yang urakan seperti ini. Fokus Rian kembali pada Alice yang berada dalam dekapannya.
Benar, untuk sekarang dia hanya harus fokus pada sang istri. Jangan ada lagi yang menganggu pikirannya saat ini. Rian mengabsen wajah cantik Alice yang matanya sedang terpejam.
Sementara itu, Alice menikmati tiap sentuhan yang Rian berikan. Hal yang mereka lakukan bukan yang pertama kali, tetapi menurut Alice tiap sentuhan yang suaminya itu berikan selalu berhasil membuainya. Sementara tangan Rian sedang mengabsen tiap inci tubuh istrinya. Bermain-main di dua gundukan milik Alice yang terlihat sangat menggoda di mata Rian.
“Lagi?” bisik Rian tepat di telinga Alice, membuat wanita itu merinding. Namun, ada sebuah senyum terbit dari bibir wanita itu.
Pria itu menggantikan bibir yang digigit oleh Alice. Mengecup pelan dengan cecapan untuk memberikan sang istri kenyamanan, sementara di bawah sana masih berusaha untuk masuk lebih dalam lagi.
‘Olahraga malam’ Rian dan Alice dilakukan cukup lama. Kini keduanya sama-sama terkulai lemas tak berdaya. Napas Alice ngos-ngosan dengan keringat mengucur deras membasahi seluruh tubuh.
Padahal suhu ruangan di kamar ini sudah sangat rendah, tetapi tetap saja Alice merasa kegerahan. Sementara itu, Rian sepertinya sudah jatuh tertidur. Memang hari sudah sangat larut, bahkan sudah hampir dini hari. Alice pun mulai menyusul sang suami ke alam mimpi, tetapi sebelumnya dia membenarkan letak selimut terlebih dulu untuk menutup tubuh mereka.
Saat ini keduanya sama-sama berharap untuk cepat diberi momongan. Harapan yang pastinya sangat didamba oleh kebanyakan pasangan suami istri.
...🦋🦋🦋...
Suara alarm membangunkan Alice dari tidurnya. Mata wanita itu masih terasa sangat berat. Dia menguap sebelum benar-benar bangun dari tidurnya. Matanya melirik pada sosok di sebelahnya, ternyata Rian sama sekali tidak terganggu dengan suara alarm itu. Padahal asal suara alarm itu juga dari ponsel Rian.
Alice meraih ponsel Rian untuk mematikan alarm yang masih berbunyi. Namun, gerakan Alice terhenti saat melihat sebuah notifikasi chat yang baru saja masuk. Memang ada beberapa chat yang masuk ke dalam ponsel milik sang suami. Namun, ada satu yang mencuri perhatian Alice. Sebuah nama sang pengirim yang menjadi fokus Alice.
__ADS_1
Alice kembali meletakkan ponsel Rian di atas meja. Lalu dengan perlahan, dia bangkit dari posisinya dan berjalan masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri. Saat ini perasaannya campur aduk setelah membaca nama seseorang di ponsel milik sang suami.
Alice memang tidak membaca chat itu, tetapi dari nama si pengirim sudah banyak memunculkan tanda tanya dalam benaknya. Setelah selesai mandi, Alice memulai kegiatannya. Dia sengaja tidak membangunkan Rian terlebih dulu. Namun, Alice juga tidak tahu jadwal suaminya hari ini.
Tidak ingin membuat kegaduhan yang tidak perlu, akhirnya Alice membangunkan Rian dari tidurnya. Pria itu bukan sosok yang sulit untuk dibangunkan, mungkin karena terbiasa dengan pekerjaannya. Jadi hanya dengan tepukan pelan di pipi atau usapan lembut saja sudah dapat membuat Rian kembali kea lam nyata.
“Jam berapa, Al?” tanya Rian dengan suara serak khas bangun tidur.
“Baru jam enam. Mas Rian berangkat jam berapa nanti?”
“Setengah delapan,” jawab Alice yang masih duduk di sebelah Rian, “Mas Rian mau tidur lagi? Sekarang masih pagi, sih,” lanjutnya.
Rian menggeleng. “Nggak, aku mau olahraga saja. Kamu mau ikut?”
Ganti Alice yang menggelengkan kepalanya. Dia memang tidak pernah mau jika diajak olahraga pagi dengan Rian. Alice lebih memilih untuk memasak sarapan di rumah juga membereskan rumah daripada nanti semua pekerjaan rumahnya keteteran.
Rian segera bangkit dari posisinya dan memunguti pakaiannya yang masih berserak di lantai. Sementara Alice sudah keluar dari kamar mereka, melanjutkan aktivitas memasak sarapan. Selesai mengenakan pakaiannya, Rian meraih ponsel yang berada di atas meja.
Dia ingin mengecek apakah ada panggilan penting yang masuk. Gerakan Rian menggulir layar terhenti ketika melihat satu notifikasi chat dari seseorang. Mata Rian spontan menatap pintu kamar.
“Apa Alice tau?” gumam Rian.
Pasalnya tadi pagi dia tidak mendengar suara alarm, padahal tiap hari Rian selalu memasang alarm agar bangunnya tidak kesiangan. Kini hanya satu hal yang terpikirkan oleh Rian saat ini, pasti Alice yang mematikan alarmnya pagi tadi juga sudah dipastikan wanita itu tahu chat yang masuk ke ponselnya.
“Coba nanti gue tanya dia,” gumam Rian.
Pria itu bangkit dari duduknya dan segera keluar untuk berolahraga. Dia memutuskan untuk lari pagi di sekitaran apartemen saja, karena hari sudah siang.
Namun disela-sela olahraganya, Rian berhenti sejenak untuk menelpon seseorang. Hanya membutuhkan waktu beberapa detik saja hingga panggilan itu tersambung. Suara seseorang dari seberang terdengar ke telinga Rian.
“Halo?”
...🦋🦋🦋...
__ADS_1
Terima kasih atas dukungan serta semangat kalian 🤗🤗🤗 terima kasih juga sudah sabar menunggu cerita ini 😘😘😘