Butterfly

Butterfly
Pengen Cucu


__ADS_3

Dari hari ke hari, bulan ke bulan perlakuan Satria makin menjadi. Tentu hal itu membuat Alice sangat ketakutan dan mengalami trauma yang mendalam. Hidupnya seolah hancur seketika, hanya dijadikan boneka oleh kekasihnya sendiri.


Tepat lima tahun mereka menjalin hubungan, seketika menjadi mimpi buruk untuk Alice. Gadis itu kabur dari pria itu dan mengasingkan diri bersama Fia. Namun naas, Alice ketahuan. Ia di paksa untuk ikut bersama dengan Satria. Sementara Fia yang panik juga khawatir dengan keadaan sahabatnya langsung menghubungi polisi.


“Tolong lepasin aku,” pinta Alice dengan wajah memelas.


Satria melempar tubuh Alice ke ranjang pria itu, emosinya sudah meledak. Sementara Alice sudah menggigil ketakutan. Satria mengambil tali dan bersiap mengikat tangan juga kaki Alice.


“Jangan membantah, Al!” bentak Satria saat Alice mencoba memberontak.


Alice sudah kehabisan tenaga untuk memohon, tapi air matanya masih terus mengalir membasahi pipi. Gadis itu memekik kesakitan saat Satria menggoreskan belati di pergelangan tangan hingga lengan. Darah segar mengalir merembes pada seprai putih bersih itu. Alice memejamkan matanya merasakan sakit di tangannya. Tidak hanya tangan kanan, tangan kiri Alice juga di sayat oleh pria itu.


“Sabar, Sayang. Sebentar lagi selesai,” ucap Satria yang masih sibuk dengan tubuh Alice yang sudah bersimbah darah.


Alice sudah sangat pasrah, bahkan dalam hati dirinya berdoa agar Tuhan segera mencabut nyawanya sekarang juga. Dia sudah tidak sanggup menjalani hidup jika masih dibayang-bayangi oleh sosok Satria. Anggota tubuhnya sudah mati rasa dan Satria masih asyik memainkan belatinya.


“Nah, selesai,” sorak Satria tersenyum bahagia melihat hasil karyanya.


Pria itu keluar kamar yang Alice yakini hendak mengambil kotak P3K untuk luka-lukanya ini. Bahkan luka-luka di tubuh Alice baru saja kering, tapi kini ada luka baru lagi yang Satria ciptakan. Benar dugaan Alice, Satria kembali dengan bertelanjang dada juga kotak P3K ditangannya.


“Sssttt.”


Satria membuka ikatan di tangan dan kaki Alice, lalu ia menyeka air mata yang menetes di kedua sudut mata kekasihnya itu. Baru akan mengeluarkan kapas, tiba-tiba terdengar suara pintu di dobrak secara paksa oleh seseorang.


“Ckck,” decak Satria.


“Tunggu sebentar, Sayang.”


Satria keluar untuk melihat siapa yang menyebabkan keributan di apartemennya. Namun, betapa terkejutnya pria itu saat mendapati beberapa polisi sudah mengepung apartemennya, bahkan penghuni unit apartemen sebelah juga ikut menonton.


“Jangan bergerak! Angkat kedua tangan di atas kepala!” perintah polisi itu.


Namun, Satria tidak menyerah semudah itu, pria itu merogoh saku celananya hendak mengambil sebuah pisau kecil. Sayang, gerakan Satria terbaca oleh polisi. Pria itu segera di ringkus oleh polisi.


“Ya Tuhan Alice!” pekik Fia melihat keadaan sahabatnya yang sudah berlumuran darah.


Sementara Alice sudah tidak sadarkan diri. Gadis itu segera dilarikan ke rumah sakit dan menjalani perawatan intensif.

__ADS_1


“Hiks, Dokter! Tolong selamatkan sahabat saya,” pinta Fia pada seorang dokter yang berada di UGD.


“Jangan khawatir, Mbak. Kami akan berusaha semampu kami,” jawab dokter itu mencoba menenangkan Fia.


Namun, tidak lama Fia bisa bernafas lega saat mengetahui luka Alice tidak terlalu serius. Sahabatnya itu sudah dipindahkan ke kamar rawat inap.


Setelah diringkus oleh polisi, Satria pun dinyatakan bersalah atas penganiayaan dengan hukuman kurungan selama lima tahun penjara. Mengetahui putra semata wayangnya mendekam di penjara, membuat kehidupan kedua orang tua Satria diambang kebangkrutan. Kedua orang tuanya benar-benar tidak menyangka putranya sangat keji.


Kejahatan Satria juga berpengaruh pada korban, yakni Alice. Gadis itu mendapat cemooh dari teman-teman kampusnya hingga menyebabkan dirinya cuti selama satu semester. Hanya Fia yang terus berada di sisinya, selalu menemani dan menyemangatinya. Bahkan Fia rela izin kerja untuk menemani Alice ke psikolog.


Flashback Off…


...🦋🦋🦋...


Alice terbangun dari tidurnya dengan keringat mengucur deras, ia baru saja bermimpi buruk. Masa lalunya kembali menghantui. Alice menatap sekitar, dirinya merasa asing dengan ruangan ini. Gadis itu pun memutuskan untuk keluar dari ruangan itu.


“Lho? Sudah bangun, Al?” tanya seseorang membuat Alice menghentikan langkahnya.


“Mas Rian?”


Alice bernapas lega saat menyadari jika ternyata dirinya berada di ruang milik Rian. Sementara Rian mengernyit melihat wajah Alice yang pucat.


“Nggak, Mas. Alice nggak sakit,” jawab Alice menurunkan tangan Rian dengan perlahan, ia merasa tidak enak karena mendapat tatapan dari beberapa dokter dan perawat yang lewat.


“Yakin? Wajah kamu pucat lho, kamu juga berkeringat dingin,”


“Yakin, Mas. Alice sehat.”


“Hmm, oke. Ayo ke ruang mama, tadi aku beli sarapan buat kamu.”


Alice mengangguk dan berjalan mengikuti langkah Rian. Lagi-lagi dengan pandangan menunduk, gadis itu tidak nyaman diperhatikan orang-orang.


Bu Reni tersenyum senang menyambut kedatangan Alice dan Rian. Alice pun menyunggingkan senyum manisnya dan berjalan menghampiri bed Reni.


“Masih ada yang sakit, Ma?” tanya Alice.


“Nggak Sayang, Mama sudah sehat sekarang,” jawab Bu Reni dengan senyum bahagia.

__ADS_1


“Al, sarapan dulu,” interupsi Rian.


“Iya, sarapan dulu. Biar nanti kuat pas malam…”


“Eherm,” Rian sengaja berdehem agar Reni tidak melanjutkan perkataannya.


Sementara Reni tersenyum menggoda putranya, Alice menatap heran sepasang ibu dan anak ini.


“Dimakan, Al. Nanti kalau sudah dingin nggak enak.”


Alice mendengus sebal dan akhirnya duduk di sebelah Rian dan mulai memakan sarapan yang pria itu beli tadi. Tidak lama seorang perawat cantik masuk dan hendak mengajak Reni berjemur.


“Saya ingin berjemur di taman,” ucap Reni.


“Lho? Kenapa tidak di balkon kamar saja?” tanya perawat itu mengernyitkan dahi dengan sesekali mencuri pandang pada Rian.


“Saya bosan di kamar terus, pengen jalan-jalan,” kata Reni yang masih terus berusaha.


“Dok…”


“Saya sudah sehat lho,” potong Reni sebelum perawat itu menyelesaikan ucapannya.


Lama-kelamaan Reni gemas dengan perawat muda ini yang tidak memahami kodenya. Rian mengernyitkan dahi mendengar perdebatan mamanya dengan seorang perawat. Wajah Reni terlihat sangat dongkol.


“Katanya Mama mau berjemur? Kok belum keluar?” tanya Rian heran, Alice menghentikan makannya dan menatap Reni juga si perawat secara bergantian.


“Mama mau berjemur di taman, tapi Mbak ini nggak mau nganter,” adu Reni.


“Eh?” kaget perawat itu, “Bukan begitu, Bu. Saya tidak berani kalau belum ada persetujuan dari dokter,” lanjut perawat itu membela diri.


“Nggak apa-apa, tapi jangan terlalu lama. Mama masih harus banyak istirahat,” ucap Rian.


Dalam hati Reni bersorak bahagia, sementara si perawat wajahnya terlihat masam. Mau tidak mau perawat itu mendorong kursi roda untuk Reni.


“Alice, Mama pengen cucu dari kamu,” pinta Reni sebelum keluar dari kamar.


“Uhuk…”

__ADS_1


...🦋🦋🦋...


Nah lho 😳😳 keselek, 'kan 🤧🤧


__ADS_2