
Sandra terbangun ketika ia mendengar suara handphone nya berbunyi. Ia terkejut ketika melihat hari sudah gelap. Ia bangun dan melihat handphonenya. Dean menghubunginya.
"Halo, Kamu dimana Sandra?" tanya Dean
"Aku ketiduran di apartemen. Aduh, aku pulang sekarang." jawab Sandra cepat-cepat. Ia menutup telponnya dan bersiap-siap.
"Apartemen?" tanya Dean bingung. Iapun menghubungi Calvin. "Halo, udah gak usah dicari lagi. Dia lagi dijalan pulang." seru Dean.
Calvin menghentikan mobilnya. "Kata siapa?"
"Barusan aku telepon Sandra. Dia lagi di jalan." jawab Dean. "Udah ya, jangan ganggu lagi. Aku ada ujian besok. Kamu pulang aja Vin.."
Calvin membalikkan kembali mobilnya dan pulang.
Sandra turun dari taxi ketika jam sudah menunjukkan hampir pukul 12 malam. Ia melihat rumah, sudah gelap. Untung saja hanya Dean yang tahu ia pulang terlambat. Ketika ia berjalan mendekati pintu, ada tangan seseorang yang menariknya.
"Mau kamu apa, Sandra!" tanya Calvin marah. Matanya membesar.
Sandra menatap Calvin bingung. "Maksud kamu apa?"
"Kenapa kamu pulang malam? Dari mana?"
"Bukan urusan kamu!" jawab Sandra sambil berjalan. Calvin dengan cepat menarik lengan Sandra dan membuat mereka berdiri saling berhadapan.
"Urusan aku karena kamu tinggal disini." jawab Calvin tegas.
"Aku mau pindah."
"Gak bisa. Mama gak akan ngijinin."
__ADS_1
Sandra sudah malas untuk berdebat. "Aku gak mau debat sama kamu! Please, lepasin aku."
Namun Calvin semakin kencang memegang tangannya. "No. Sampe kamu bilang, kamu pergi kemana? Sama siapa? Kenapa kamu menghindar dari aku. Emangnya aku gak ngerasain kalo kamu berubah? Kamu salah Sandra."
"Aku pulang ke rumah. Kamu puas?" seru Sandra kesal. "Aku menghindar karena aku gak mau punya perasaan lagi sama kamu! Puas! Aku menghindari Andre dan menghindari kamu. Karena kalian berdua sama-sama nyakitin. Aku terganggu sama kalian!" jawab Sandra dengan airmata tertahan dimatanya.
Calvin sedikit terkejut dengan kejujuran Sandra. "Aku gak akan nyakitin kamu, Sandra. Semua pikiran kamu salah." jawab Calvin sambil memegang kepala Sandra. Ia mengelus rambut Sandra perlahan sambil menatapnya.
"Kamu pernah ngelakuinnya dulu. Waktu kamu nolak aku bahkan sebelum surat itu nyampe ditangan kamu." jawab Sandra dengan bibir bergetar.
"Itu dulu. Sekarang beda, Sandra. Kita udah sama-sama dewasa. Aku mau kita berteman. Jangan ada prasangka buruk lagi. Aku mau kita melupakan kejadian buruk waktu kita sekolah menengah dulu."
Sandra terdiam.
"Kamu mau kita berteman? Apa kamu mau kedua orangtua kita tau tentang kita?" tanya Calvin.
Sandra menatap Calvin. Ia menggelengkan kepalanya dengan cepat.
Sandra tersenyum. "Ok, kita temenan. Jangan dibahas lagi tentang kejadian sekolah dulu." ucap Sandra sambil mengangkat salah satu tangannya. Mereka berjabatan tangan.
"Mulai besok dan seteerusnya kita pulang bareng. Kita harus bantu Alena sama Dave. Mereka mau nikah bulan depan." ucap Calvin.
Kedua mata Sandra membesar. Ia begitu antusias. "Mendadak? Apa Alena hamil?"
"Walaupun Dave nakal, tapi ia gak mungkin bikin Alena hamil. Yang aku tau nenek Siska yang rencanain ini."
Seseorang berdiri dibalik pintu. Senyumannya melebar. Akhirnya ia tahu apa yang terjadi diantara mereka berdua. Ternyata mereka memang saling mengenal sejak sekolah menengah dulu. Dan ada sesuatu yang harus Dean konfirmasi ulang. Jadi siapa yang jatuh cinta terlebih dahulu? Pantas saja Sandra seperti menghindar dari Calvin. Ternyata ada sesuatu. Ia tersenyum licik. Waktunya sudah tiba.
****10 tahun yang lalu.
__ADS_1
Sandra menatap surat yang ia pegang sejak beberapa hari yang lalu. Ia membuatnya penuh pertimbangan karena ia takut ditolak oleh Calvin. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi nanti setelah lulus sekolah. Sekarang ini saat-saat terakhir mereka bersama-sama. Daripada penasaran lebih baik Sandra memberikan surat itu pada Calvin.
"Surat apa itu?" tanya Dinda ketika ia berada dibelakangnya.
Sandra langsung menyimpan surat itu dibelakangnya. "Bukan surat apa-apa." jawabnya gugup.
Dinda langsung merebut amplop surat berwarna pink itu. Ia melihat nama yang tertera di amplop itu. Calvin? Ia melirik sekilas pada Sandra.
"Aku bantuin kamu buat ketemu sama Calvin. Gimana?"
Sandra menatap Dinda antusias. "Bisa?"
"Bisa. Daripada kamu penasaran." jawab Dinda sambil terus menatap surat itu.
Calvin sedang menunggu teman-temannya ketika mereka berada didalam bis menuju tanah lot. Dinda menghampirinya. Kebetulan ia dan Dinda berbeda bis. Sejak pertemuan mereka di pertandingan basket itu, mereka menjadi dekat. Setiap latihan, Dinda biasa membawa makanan kesukaannya yang mungkin saja ia beli di kantin sekolah.
"Vin, nanti disana ada yang mau ketemu."
Calvin menatap Dinda. "Siapa?"
"Kamu tau kan Sandra. Cassandra. Perempuan yang sok cantik itu."
Calvin menatap Dinda. "Kenapa lagi sama Sandra?"
"Tau gak kalo dia mau nyatain cinta sama kamu sore ini? Padahal dia kan udah punya pacar. Yang aku tau Vin, pacarnya aja ada 2. Dia pernah bilang sama aku, dia gak bisa pacaran cuma sama satu laki-laki aja. Apalagi kamu cakep. Terkenal di seluruh sekolah. Kamu jadi target dia selanjutnya. Hati-hati aja Vin.." hasut Dinda.
Calvin kecewa. Ternyata gadis paling tenang itu gadis paling menyebalkan yang ia tahu. Padahal beberapa bulan ini gadis itu yang menjadi penyemangatnya. Gadis itu tidak pernah lewat untuk menonton dirinya latihan. Namun sejak Dinda datang dan mengatakan tentang perlakuan Sandra kepada siswa-siswa disekolah, perlahan ia mulai membencinya. Malahan ia malas saat tau Sandra ikut touring terakhir mereka.
Sandra meneteskan airmata saat melihat Calvin pergi dengan mengucapkan kata-kata kebencian padanya. Ia pertama kali jatuh cinta pada pria dan pria itu menolaknya sebelum ia menyatakan cinta. Rasanya sakit dibenci seperti itu. Sandra melihat surat yang ia pegang. Perlahan ia menggenggamnya dengan kuat. Ombak tanah lot mulai membasahi pakaiannya. Ketika ia berjalan menuju bis, ia melihat Dinda sedang berjalan dengan Calvin. Mereka berdua tertawa. Sandra hanya menunduk. Rasanya ia ingin cepat pulang kerumah. Ia ingin melupakan 2 tahun yang sudah ia lalui**.
__ADS_1
p.s yang mau tau apa yang dilakukan Calvin bisa dibaca di prolog bab satu.