
Sandra duduk menunggu seseorang mengantarnya ke tempat pernikahan. Ruangan sebesar apapun tidak bisa membuatnya tidak memikirkan apa yang akan terjadi padanya nanti. Ventilasi udara terlihat normal dan angin yang keluar dari air conditioner tampak tidak ada masalah. Tapi kenapa ia merasa sesak? Ia melihat gaun pernikahannya, tidak ada yang aneh.
"Calon pengantin pasti lagi deg-degan." ucap seseorang yang masuk.
Sandra menoleh. Ia melihat Alena datang bersama Firly. Mereka terlihat cantik. Iapun tersenyum pada keduanya.
"Temen kamu yang satu lagi mana?" tanya Sandra.
"Dia gak bisa ikut. Lagi sakit." jawab Alena.
Sandra hanya mengangguk sambil tersenyum. Ia kemudian berkata "Sayang ya dia gak dateng."
Alena duduk disamping Sandra dan menatapnya dengan mata berbinar. "Liat kamu pake baju gini, aku pengen nikah lagi." bisiknya.
Tiba-tiba Firly tertawa mendengar ucapan Alena. "Al, kasih kesempatan buat yang jomblo kayak aku!"protesnya sambil tertawa.
"Rubah dulu sikap kamu, Firly sayang." jawab Alena.
Firly langsung tersenyum malu. Ia menatap Sandra. "Kamu emang cantik, Sandra."
"Makasih." jawab Sandra sambil tersenyum malu.
"Harusnya Calvin menyesal karena baru dapetin kamu sekarang. Padahal kata Dave, waktu jaman dia kuliah dulu dia ngebet nyariin kamu." ucap Alena.
Sandra langsung menatap Alena. "Apa maksud kamu jaman kuliah?"
Alena langsung gugup. Ia berdiri dan menarik lengan Firly. "Biar dia yang cerita. Ayo Firly, kita kedepan." ucapnya.
Firly langsung berdiri. "Kita keluar dulu ya,sampe ketemu diluar." ucapnya cepat.
Mereka meninggalkan Sandra dengan tanda tanya besar.
Pernikahan itu nyaris sempurna. Tidak pernah terbayangkan oleh Sandra dan Calvin jika acara seindah itu hanya dipersiapkan dalam waktu beberapa minggu saja. Makanan, dekorasi, tamu undangan, semuanya tampak seperti telah dipersiapkan dalam waktu lama. Kebun itu telah disulap dengan sempurna oleh wedding organizer. Beberapa ornamen dan bunga-bunga alami senada dengan tema pernikahan mereka. Sandra dan Calvin harus berterima kasih kepada kedua orangtuanya. Semuanya terasa seperti mimpi bagi mereka. Dan yang pasti Sandra tidak mau bangun dari mimpinya.
Calvin terlihat sangat tampan dengan setelan jas. Begitu juga dengan pengantin perempuan. Gaun yang digunakan Sandra tidak terlalu mewah karena Sandra menolak tegas ketika ibunya memberikan contoh gaun paling mahal yang ia pesan. Ketika bersanding pun Sandra dan Calvin layak disebut pasangan sempurna. Mereka seperti telah ditakdirkan untuk bersatu. Walaupun undangan tidak terlalu banyak, tapi acara itu berlangsung dengan ramai dan meriah.
__ADS_1
Musik romantis mulai menggema, beberapa pasangan mulai berjalan didepan pelaminan. Walaupun malam hari, tapi suasana begitu panas ketika para muda mudi mulai mulai bergoyang mengikuti irama lagu. Dave dan Alena ikut bergoyang. Mereka teringat ketika sedang melakukan pesta pernikahan beberapa waktu yang lalu. Semuanya seperti dejavu.
Hanya saja acara malam ini sedikit kurang pas karena orang yang jadi tersangka untuk membuat Calvin menikahi Sandra tidak ada. Ia tadi mengirimkan karangan bunga super besar diluar. Edward absen datang ke pernikahannya karena ia sedang mengurus kepindahannya ke Indonesia. Karena itulah ia tidak bisa pulang. Ditambah pekerjaannya sedang padat dan ia tidak bisa meninggalkannya. Tapi sebelum acara berlangsung, Calvin sudah melakukan video call dengan sahabatnya itu. Ia memang terlihat sangat sibuk.
"Kamu mau ikutan joget?" bisik Calvin pada Sandra.
"Enggak!" seru Sandra cepat. Matanya melotot pada Calvin. Ia paling tidak suka acara seperti itu. Calvin hanya tertawa. Ia terus menggenggam tangan Sandra. Tiba-tiba mereka berdua dipanggil oleh Dave dan Alena. Calvin menggiring Sandra ketengah untuk berbaur dengan Dave dan Alena.
"Kamu cantik, Sandra." ucap Alena sambil menatapnya.
"Aku emang cantik." Jawab Sandra sombong.
"Kalo gak cantik mana mau Calvin sama kamu." Ucap Dave sambil melirik Calvin.
"Oh ya?" jawab Sandra sambil menatap Calvin.
"Aku suka apa adanya." Jawab Calvin gagap. Ia langsung menatap Dave tajam.
"Keliatan kok dari tadi kamu terpesona sama Sandra." bisik Dave.
"Enggak ada bulan madu. Besok aku udah mulai sibuk ketemu produser."jawab Sandra cepat.
Calvin hanya mengangguk sambil tersenyum getir.
"Trus malam ini kalian kemana? Ke hotel?" tanya Alena lagi. Ia begitu penasaran dengan kedua orang didepannya.
"Enggak. Langsung ke apartemen aku. Kita tinggal disana." ucap Sandra cepat.
Dave berbisik pada Calvin. "Pantes Sandra milih pulang langsung ke apartemen. Dia mau berduaan sama kamu. Jangan lupa malam ini kalian malam pertama jadi suami istri." godanya.
Calvin melihat Dave. Ia bahkan mengingatnya. Ia sendiri tidak mengingat jika malam ini adalah pertama kalinya mereka tidur bersama. Jantungnya berdebar dengan kencang.
"Udah disiapin belum?" bisik Dave lagi.
"Apa?" tanya Calvin polos.
__ADS_1
"Itu, Emm.. masa kamu gak ngerti!" seru Dave.
"Kalian ngobrol apa sih? Dari tadi bisik-bisik terus.." protes Sandra.
"Acaranya udah mau beres. Orangtua kalian udah siap-siap tuh."ucap Dave.
"Vin, jangan aneh-aneh ya!" seru Sandra.
"Suamiku, bukan Calvin" protes Alena. "Kalian itu udah nikah beberapa jam yang lalu. Kok gak ada romantis-romantisnya."
"Sama aja Al." ucap Sandra. Ia menoleh untuk melihat kedatangan orang-orang yang baru saja datang. Ia membelalakkan kedua matanya.
"Vin! Mereka dateng!" seru Sandra senang.
Sandra tidak menyangka Calvin akan mengundang team basketnya ketika sekolah dulu. Dan yang lebih menhejutkan, teman-teman satu kelasnya datang.
"Kamu seneng?" bisik Calvin. "Aku sengaja undang mereka."
"Aku udah lama gak ketemu mereka." ucap Sandra gemas. Tiba-tiba ia memeluk.Calvin. "Makasih Vin. Aku seneng." ucapnya.
Calvin memegang bahu Sandra. "Ya, aku juga seneng." bisiknya.
Ia dan Calvin pun menghampiri mereka. Alena dan Dave terlihat berbaur dengan tamu yang lain.
“Sandra.. Calvin, kalian akhirnya....” sahut salah seorang temannya. Acara itu membuat suasana pernikahan seperti reunian sekolah. Hampir semua teman-temannya datang kecuali sahabat Sandra ketika itu. Dia lah yang paling berjasa dalam percintaannya dengan Calvin, walaupun pada akhirnya ia ditolak. Setidaknya Sandra pernah merasakan bagaimana jatuh cinta saat SMA.
“Sandra, waktu di bali kamu kan ditolak Calvin. Kenapa sekarang bisa nikah? Tau gitu aku yang duluan nembak kamu.” Seru temannya dibalas seruan dari teman-temannya. “Aku juga gak nolak kalo sama Sandra.” Ujar yang lainnya.
“Aku juga. Sayang Sandra maunya sama Calvin. Aku sih kalah cakep.”.
“Nanti kalau kamu ada niat pisah sama Calvin kasih tau aku ya San.”
“Ehem..” Calvin sudah berada dibelakang mereka sambil berkacak pinggang. “Aku denger kalian ngomong apa barusan.”
Semuanya tertawa mendengar candaan yang tak pernah hilang itu.
__ADS_1